1. Nikah, Njas!
“Pokoknya Mama nggak mau tahu, Njas! Kamu harus nikah tahun ini!” geram Maharani kepada Anjas, anak laki-laki semata wayangnya yang sudah menginjak usia tiga puluh lima tahun itu. Sedangkan yang diajak bicara tidak merespon sama sekali. Anjaswira Kinan Ardiyaksa, laki-laki berpostur tinggi tegap bak abdi negara itu tetap fokus pada layar monitor laptopnya yang menampilkan susunan-susunan garis warna-warni yang membentuk gambar desain sebuah rumah. Maharani lantas menghela napas panjangnya. Gejolak kesal bercampur marah melebur menjadi satu di dalam hati perempuan paruh baya itu. “Astaga! Anjaaaas!” Maharani kemudian menghentak-hentakkan kakinya persis seperti anak kecil yang marah karena mainannya direbut. Dengan langkah kaki yang menghasilkan dentuman nyaring, Maharani berjalan ke arah Anjas, kemudian mengangkat laptop kepunyaan Anjas. “Mama baru ngomong! Dengerin dulu!”
Melihat tingkah mamanya yang sudah dikuasai emosi, Anjas hanya bisa menghela napas pelan sembari memejamkan kedua matanya sejenak. “Mama,” panggil Anjas dengan suaranya yang merendah. “Udah Anjas bilang berapa kali, sih. Anjas belum mau nikah.” Maharani meletakkan laptop Anjas ke atas meja kebesarannya. Dengan cepat ia berbalik memutar tubuh dan kembali menghunuskan sorot matanya yang tajam kepada Anjas. “Siap nggak siap lama-lama juga pasti bakal siap, Njas. Mama yang nggak siap kalau perusahaan baru milik Papa jatuh ke tangan Azzam sama Husna!” Maharani menyilangkan kedua tangannya ke depan d**a.
Anjas menyandarkan punggungnya ke sofa. Menatap langit-langit ruangan mamanya itu dengan tatapan sendu. “Jadi Anjas disuruh nikah cuma biar perusahaan Papa nggak jadi milik Azzam?” mendengar ucapan sang anak membuat bahu dan punggung Maharani menegap seketika. Ia menelan ludahnya sendiri susah payah. “Em,” gumam Maharani pelan, ia seakan bingung bagaimana membalas Anjas. “Bu-Bukan, bukan gitu, Njas,” Maharani lantas mengambil duduk persis di sebelah anak laki-lakinya itu. “Maksud Mama tuh, kalau kamu menikahkan –” tanpa basa-basi Anjas berdiri beranjak dari duduknya. Dengan gerakan yang presisi ia menggulung bagian lengan kemejanya hingga siku. “Anjas masih banyak kerjaan, Ma. Kalau Mama nyuruh Anjas ke sini cuma buat maksa Anjas nikah sama bahas perusahaan baru Papa,” Anjas menjeda menunduk menatap mamanya. “Maaf. Sampai kapan pun Anjas nggak akan merubah keputusan Anjas.” dan Anjas melangkahkan kakinya berlalu dari hadapan Maharani.
Maharani mulai panik, ia pun kelabakan. “Lho, lho. Anjas! Kamu mau kemana? Anjas!” Anjas tidak gentar. Ia tetap melangkah. Membuka pintu ruangan kerja mamanya dan menutup pintu dengan sedikit kencang. “Anak itu,” gerutu Maharani. “Harus gimana lagi aku bujuk dia supaya mau menikah?” ucapnya bermonolog kepada dirinya sendiri.
Saat Anjas berjalan menuju ke mobilnya yang terparkir di halaman butik mamanya, dari arah berlawanan terlihat seorang gadis yang sedang berjalan terburu-buru. Gadis itu tidak lain adalah salah satu karyawan yang bekerja di butik mamanya ini. Gadis itu nampak berjalan setengah berlari sembari menempelkan ponsel ke salah satu telinganya. Mata gadis itu sedikit merah, seperti habis menangis. “Iya, Dokter. Saya sebentar lagi ke rumah sakit,” ucap gadis itu yang memakai nametag di d**a sebelah kanannya bertuliskan nama Ayana Kharisma Mentari. Ayana berjalan melewati Anjas begitu saja, tanpa ia ketahui bahwa Anjas adalah anak dari pemilik butik tempat ia bekerja.
Langkah Ayana berhenti tepat di depan ruangan Maharani. Entah kenapa Anjas merasa ada yang membuatnya ingin tahu apa gerangan yang terjadi kepada Ayana. Ayana mengetuk pintu ruangan Maharani beberapa kali, lalu ia masuk dan menghilang di balik pintu. Saat Anjas hendak berbalik, ingin menguping, tiba-tiba ponselnya yang berada di dalam saku kemeja berdering. Satu panggilan masuk. Romi Adrian Martadinata. Yang tak lain adalah asisten pribadinya. “Iya, Rom?” tanya Anjas tanpa basa-basi. Anjas lantas kembali melangkahkan kakinya. Melupakan niatnya menguping jauh-jauh.
Sementara itu di ruangan Maharani, Ayana berdiri menghadap bosnya itu dengan jemarinya yang bertaut dan saling meremas. Ayana atau yang kerap dipanggil Ana nampak menunduk, seperti menyembunyikan bekas air matanya yang membasahi kedua matanya. Sesekali bahu gadis itu bergetar. Suaranya teredam, tetapi isak tangisnya samar terdengar. Maharani menghela napas pelan. Wajahnya yang ayu di tengah usianya yang sudah menginjak usia lebih dari setengah abad itu menilik penampilan Ana dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. “Kamu mau izin lagi?” tanya Maharani sambil menyandarkan punggung ke kursi kebesarannya yang berbahan kulit impor itu.
Ana tidak langsung menjawab. Mulutnya bergetar: antara takut mengiyakan dan takut akan keadaan ibunya harus segera mendapat tindakan. Pelan, akhirnya Ana mengangguk. “Iy-Iya, Bu.” Lalu dengan hati-hati Ana melanjutkan. “Dokter yang menangani Ibu saya barusan telepon. Dokter bilang, kalau kondisi Ibu menurun, dan.. harus segera mendapat penanganan.” Maharani mengulum bibirnya yang terpoles lipstik berwarna merah bata. “Kamu bulan kemarin juga kasbon, kan?” lagi Maharani melempar tanya. Seketika punggung Ana menegap, wajahnya langsung terangkat dan memberanikan diri menatap sang bos. Dengan sisa keberanian yang Ana miliki, gadis itu pun mengangguk meski terbata. “Iy-Iya.”
Helaan napas kembali terdengar dari bibir Maharani. Namun kali ini helaan napas itu terasa begitu berat. “Kamu itu masih terbilang baru di sini, Ana. Baru lulus training. Tapi sudah beberapa kali izin mendadak. Dan juga kasbon dalam jumlah yang tidak sedikit. Kalau saya lepas kamu, saya masih butuh karyawan, tapi kalau saya biarkan, saya takut yang lain akan merasa ada kesenjangan. Haduh,” Maharani menggelengkan kepala dengan mata yang terpejam sejenak. “Jujur saya bingung, Ana,” lanjutnya. “Maaf, Bu.” hanya itu yang bisa Ana ucapkan. Tentu dengan rasa sungkan dan rasa bersalah yang menguasainya.
Hening sejenak. Hanya deru suara pendingin ruangan yang terdengar. Maharani terlihat menilik penampilan Ana dari ujung kaki hingga ujung kepala. “Tapi.. kalau dilihat-lihat, kamu cantik juga ya, Ana,” ucapnya yang kemudian berdiri. Ana tidak menjawab. Ia kembali menundukkan wajah, tetapi entah kenapa jantungnya terasa berdebar lebih cepat. Suara hak dari sepatu Maharani terdengar begitu nyaring beradu dengan lantai dari marmer itu. “Berapa biaya pengobatan Ibumu?” tanya Maharani sambil menyilangkan kedua tangannya ke depan d**a. “Apa?” Ana mengerutkan keningnya, dengan hati-hati kembali menatap Maharani. “Saya tanya, berapa biaya pengobatan Ibumu?”
Susah payah Ana menelan ludahnya sendiri. Merasa sedikit heran karena bosnya itu melempar pertanyaan di luar pekerjaan. Namun pada akhirnya Ana menjawab. “Ku-Kurang lebih, empat.. puluh juta, Bu.” Maharani menghentikan langkahnya tepat di belakang Ana. Sudut bibirnya terangkat sedikit ke atas, menampilkan sebuah senyum yang tidak bisa diartikan. “Saya bisa bantu kamu, Ana. Bahkan saya bisa tanggung seluruh biaya pengobatan Ibumu sampai sembuh.” Maharani berhenti sejenak. Ia kembali melangkah dan semakin mendekatkan diri ke arah Ana. Lalu tepat di telinga Ana, Maharani melanjutkan perkataannya. “Dengan satu syarat. Rayu anak saya, buat dia mau menikahi kamu.”
Bersambung..