"Kenapa baru pulang? Udah lupa di mana tempat tinggalmu?" Syakira yang tidak sengaja bertemu dengan Fattah di ruang utama hanya membuang muka. Menghindari kontak mata antara dirinya dengan Fattah, yang sempat terjadi beberapa detik lamanya. Tak berminat menjawab, dikuncinya rapat bibir tersebut, benar-benar tak bicara apa pun sebab terlalu crowded. Padahal di dalam kepalanya banyak sekali yang ingin terucap, terluapkan demi mengosongkan beban dalam d**a.
"Kenapa diam?" Meski suaranya datar, tetapi cukup mengguncang perasaan Syakira.
Kendati begitu, ia berusaha mengabaikan pertanyaan tersebut, menulikan telinga dan tetap berjalan seolah tidak melihat apa pun di sekelilingnya. Syakira tak mau lagi kalah dan diperalat dengan perasaan yang begitu mendamba pada sosok suaminya. Ia harus bisa mengendalikan diri sendiri sebelum diambil alih oleh kegilaan yang membelenggu.
"Jawab Syakira!" Di saat itulah, Syakira memejamkan mata, langkahnya berhenti tepat di depan pintu kamar yang tak jauh dari kamar milik suaminya.
"Apa yang harus aku jawab?" sahutnya pelan, tanpa intonasi. Berusaha menyamai setiap kalimat dari bibir Fattah yang biasa didengar.
"Kemana dua hari ini kamu pergi?"
"Aku pergi karena ada banyak urusan penting, bukan seperti seseorang yabg beradalih sibuk tetapi malah mengurusi wanita lain, maaf kalau belakangan ini nggak bisa duduk manis di rumah saja," sahutnya tanpa memandang lawan bicaranya, tangannya terulur maju lalu mendorong tuas pintu. Syakira masuk ke dalam tanpa mau melihat sedikit saja pria yang mengejar langkahnya barusan.
Tidak berselang lama ...
Klek!
Siapa sangka, jika Fattah berani sekali membuka pintu kamar Syakira setelah selama ini tidak pernah lancang. Awalnya Syakira terkesiap, tetapi begitu tahu pelakunya adalah sang suami, ia pun mengalihkan tatapan ke tempat semula.
"Apa maksud kamu bersikap seperti ini? Dan apa maksud dari ucapan kamu barusan?" Darah Fattah sepertinya sedang mendidih sampai pada akhirnya nekat melanggar konsistensi yang dibuat sendiri.
"Jangan tanya apa-apa! Aku nggak pingin bahas apa pun sama kamu, Mas." Fattah terkejut, entah dari mana Syakira mempelajari kalimat seperti ini, setelah seperti biasa perempuan itu selalu bertutur lembut. Ini janggal. Dua hari pergi tanpa pulang, perempuan ini sudah berani melawan? Apa yang terjadi?
Sedang Syakira, tak peduli dipandang seperti apa oleh Fattah tetap mempertahankan sikap apatis, tangannya tergesa memasukkan beberapa dokumen dari dalam lemari dan memasukkan ke dalam tote bag yang diambil dari dalam laci.
"Untuk apa membawa semua itu?"
"Bukan urusan kamu." Syakira berdiri melewati begitu saja tubuh Fattah, tangan laki-laki itu pun menggenggam erat di sisi tubuh, menghalau keinginan untuk mencegah kepergian Syakira. Masih menjadi pertanyaan besar dalam kepala, apa yang mendasari perempuan itu berubah sikap?
Sepertinya, Fattah harus menyelidiki ini, ia tidak bisa diam saja.
Dikejarnya langkah Syakira yang tergesa-gesa ketika menaiki taksi. Tak mau menunggu lebih lama, Fattah pun bergegas memasuki mobilnya untuk mengejar taksi yang dinaiki Syakira.
Fattah mengernyitkan dahi, begitu melihat taksi di depannya menepi di rumah sakit yang beberapa hari terakhir dikunjungi terus menerus, dalam hatinya bertanya-tanya, untuk apa Syakira bertandang ke sini? Demi membunuh rasa penasaran, ia terus mengekor.
Setelah kendaraan roda empat diparkir rapi di parkiran, ia berlari kecil menyusul agar tidak kehilangan jejak Syakira, perempuan itu tampak mempercepat langkah menyusuri lorong panjang dan berakhir di depan sebuah ruang bertulisan IGD.
Untuk apa Syakira masuk ke ruang IGD? Laki-laki itu keluar dari persembunyian dan kembali mengambil langkah lebih dekat pada pintu tersebut.
Di sana, ia melihat dengan jelas Syakira berdiri memunggungi pintu menghadap pada seorang pria yang terbaring lemah dengan banyak perangkat alat medis menempel di permukaan kulit.
"Aku mohon, bertahan untuk aku, Om. Tolong Om harus sembuh." Syakira menarik kedua sudut bibirnya melengkung ke bawah, tangisnya pecah. Bagaimana mungkin ini harus terjadi ketika Rizal sudah hampir sembuh.
Seandianya saja, Rizal tidak melihat keberadaan Fattah dengan Laras di tempat ini, mungkin jantung Rizal tidak akan separah sekarang. Apa yang harus dilakukan sekarang setelah semua dinyatakan terlambat? Diluar wewenangnya, Rizal mengetahui fakta ini. Fakta menyakitkan yang selama beberapa hari sengaja disembunyikan dengan susah payah.
Sementara di luar ruangan, Fattah menelan saliva kelat, ia mundur beberapa langkah ke belakang dengan tungkai yang lemas, mencari kursi untuk diduduki. Perasaannya mendadak bercampur aduk sekarang, ia menumpukan siku di atas paha, menjadikan tapak tangannya sebagai alas rahang.
"Apa dua hari dia menginap di sini? Di rumah sakit ini?" gumam Fattah cemas.
Kekhawatirannya semakin meningkat ketika mengingat Syakira bersikap ketus padanya beberapa saat lalu.
Nggak! Nggak mungkin. Hatinya bersuara lantang berusaha menyakinkan diri jika apa yang ada dalam pikirannya hanya overthinking belaka.
_________
Syakira termenung menatap rerumputan hijau di belakang rumah sakit. Keramaian sore hari, terlihat jelas di matanya, tetapi tidak dengan hati yang terasa hampa. Hatinya mencelus sekarang, menatap takdir yang bertolak belakang dari mimpinya di masa dulu. Dulu ia selalu berharap jika kesedihan yang dilalui, menjadi berbuah manis di masa mendatang. Ternyata hal tersebut pupus bersamaan dengan kisah cinta yang tragis. Sesakit ini mencintai sendirian?
Seandianya kemarin ia tidak membiarkan sang paman pergi seorang diri keluar dari bangsal karena alasan bosan berbaring terus, seandainya Syakira lebih protektif pada Rizal, seandianya ...
Syakira menepuk kepalanya beberapa kali.
Segala perandaian yang memuakkan berputar-putar di kepala. Bersamaan dengan itu, Levin menghampiri.
"Minum, Mbak." Syakira menurunkan tangan dan membawa kepalanya menengadah.
"Mas Levin?" Pria itu tersenyum, masih mempertahankan posisi mengulurkan sebotol air mineral yang masih tersegel.
"Ambil, jangan sungkan." Syakira menerima pemberian Levin, sebetulnya bukan air yang diberikan Syakira, ia tidak sedang haus atau lapar sekarang. Tetapi demi menghargai tetangganya itu, ia terpaksa menerima sebelum akhirnya mengucapkan terima kasih.
"Boleh saya duduk di sini?" Syakira meliarkan pandangan, menggeser posisi sedikit menjauh lalu mengangguk.
Levin tersenyum kecil melihat apa yang dilakukannya.
"Siapa yang sakit?"
"Om saya, Mas. Kalau Mas?"
"Jenguk Laras. Kebetulan Yorda nggak bisa datang ke sini buat antar makanan yang disuruh mama kirim."
Syakira membulatkan bibir tanpa menimpali apa-apa. Beruntung sekali ya menjadi Laras, banyak sekali yang sayang padanya. Seandianya saja ia juga bisa merasakan posisi ini.
"Gimana keadaan Omnya?"
"Kondisinya buruk. Sedang tidak sadarkan diri sejak kemarin." Syakira menunduk, menatap air yang berada dalam genggamannya di atas pangkuan.
Dalam kesempatan ini, Levin mengambil kesempatan emas sebanyak mungkin, meski Syakira tak mau menatap matanya saat berbincang, setidaknya ia bisa memandangi kontur wajah cantiknya.
Menurut sudut pandang Levin, dibanding dengan Laras yang senang berpakaian terbuka, Syakira jauh lebih cantik. Sangat cantik.
"Sabar, ya."
"Makasih, Mas."
Fattah yang baru saja tiba setelah sempat pergi beberapa jam untuk bekerja, mengepalkan tangan ketika Levin mengambil kesempatan di dalam kesempitan.