"Saya rasa seharusnya Anda cukup tahu diri untuk tidak terlalu menggebu-gebu dalam mendekati wanita yang sudah bersuami." Hendak menekan handle pintu mobil, Levin menoleh sekejap ke belakang, tepat di mana laki-laki yang merupakan suami Syakira berujar penuh penekanan terhadapnya. Levin tidak berekspektasi jika Fattah akan menegurnya di tempat umum begini. Tetapi tidak apa? Levin suka tantangan.
Tangannya ditarik kembali, ia pun memutar tubuh hingga posisi keduanya saling berhadapan. Sesungging senyum miring terbit pada Fattah.
"Lantas bagaimana dengan Anda sendiri?" Levin membalas, "Saya rasa seharusnya Anda tidak perlu susah payah memberikan perhatian kepada calon istri orang sementara status Anda adalah sebagai suami orang."
Damn it!
Fattah merasa kalah telak, tak dapat berkata-kata lebih banyak selain hanya mengeratkan rahang.
"Itu bukan urusan Anda."
"Kenapa bukan urusan saya? Jelas itu menjadi bagian dari urusan saya, masalahnya perempuan yang Anda dekati adalah calon adik ipar saya," Levin menjawab dengan tenang.
"Tujuan saya ke sini bukan untuk membahas tentang hal lain, saya hanya ingin Anda jauhi Syakira! Dia istri saya." Mendapat peringatan tegas seperti itu, Levin mengangguk beberapa kali sembari menjatuhkan kedua sudut bibir ke bawah. Setengah mencemooh.
"Bagaimana kalau seandianya saya tidak mau? Lagi pula kenapa saya harus menjauhi Syakira di saat hubungan dengan suaminya sedang berada di ujung tanduk Bukannya mengambil start lebih awal sebelum perceraian, bukannya itu jauh lebih baik?"
Fattah semakin terpancing, tangannya sudah gatal sekali ingin melayangkan bogem pada Levin yang dianggapnya terlalu pongah.
"Apa maksud Anda berkata seperti ini? Jangan coba-coba memancing emosi saya ya!" Tungkainya melangkah cepat dan bergegas mencengkram erat kerah kemeja milik Levin. Kedua matanya melirik pada kerah yang digenggam erat dan terkekeh, alih-alih takut, Levin justru menangkis kasar tangan tersebut. Dirapikan kembali kedua kerah yang kusut oleh perbuatan Fattah barusan.
"Kenapa harus marah? Yang perlu Anda tahu, Anda terlalu sibuk dengan perasaan wanita lain sementara di rumah istri Anda begitu menarik perhatian pria lain." Usai mengatakan hal demikian, Levin bergerak berbalik badan, ujung lidahnya menusuk-nusuk bagian dalam pipi, bangga lantaran berhasil membuat Fattah bergeming di posisinya.
Beberapa jam lalu, percakapan antara Levin dengan Syakira tidak banyak, Levin yang lebih dominan dalam mengisi obrolan random, sementara Syakira menjadi penyimak saja.
Tetapi dari satu dua kalimat yang keluar dari bibir berwarna pink ketika menjawab pertanyaan yang dilontarkan, dapat Levin simpulkan jika sesungguhnya Syakira sudah tidak sanggup bertahan dalam rumah tangga seumur jagung ini. Ya, meski tak mendapatkan penjelasan secara gamblang dari perempuan tersebut, tetapi Levin bukan laki-laki bodoh yang tidak memahami artikulasi mimik wajah.
Setiap kali bertemu, ada ekspresi sendu yang tercetak di sana. Sebagai pengantin baru, apa arti ekspresi tersebut jika hubungan dalam rumah tangganya harmonis? Ah baiklah! Levin terlalu banyak menyelami tentang Syakira.
Syakira meluruhkan tubuh ketika semua perangkat medis dilepaskan dari permukaan Rizal. Bukan karena pria tua itu sembuh, melainkan sudah meregang nyawa, tak terselamatkan. Hatinya benar-benar terpukul karena kehilangan Rizal, apalagi kepergian Rizal karena didasari oleh sesuatu yang tak pernah terbayangkan akan terjadi, baginya ini seperti mimpi buruk di siang bolong.
Tangis Syakira pecah ketika seluruh tubuh laki-laki yang telah membesarkannya itu ditutup oleh kain.
Kepalanya tertunduk sembari memejamkan mata, di saat kehilangan, di saat kesedihan sedang melingkupi perasaan yang rapuh, siapa yang akan menjadi tempatnya bersandar? Siapa yang akan menjadi wadahnya berkeluh kesah demi mengosongkan beban di ruang dadanya. Tidak ada! Tidak ada yang peduli terhadap keadaannya!
Kedua tangan Syakira terangkat menutup wajah yang sudah banjir air mata.
_____________
Fattah mendatangi kediaman Rizal yang penuh sesak oleh para pelayat, datang silih berganti. Terlihat juga di netranya, beberapa di antaranya duduk rapi memutari jenazah yang siap dikubur hari ini juga. Syakira sedang khusyu membaca surat yasin, tetapi sebetulnya menyadari kedatangan suaminya dan tengah berdiri tak jauh dari pintu.
Alih-alih menyambut, Syakira tetap fokus pada kegiatannya.
Pria yang sedari tadi berada di samping Syakira pun menepuk pundak Syakira, membuat perempuan itu berhenti membaca ayat-ayat Alquran, "Sebentar, ya. Ayah keluar dulu." Syakira mengangguk lugas, menggeser tubuh sedikit guna memberikan akses pada Chandra.
"Dari mana saja kamu? Kenapa baru datang?" tanya Chandra begitu berada di dekat putra semata wayang.
"Maaf, Yah. Jadwalku padat dan ya ... baru sempat datang sekarang karena terakhir baru selesai ambil tindakan." Chandra berdecak mendengar penuturan Fattah. Sejak dulu, Fattah tidak pernah berubah, terlalu work a holic.
"Kamu benar-benar tidak becus jadi suami. Istri sedang kena musibah masih saja sibuk di rumah sakit." Meski suara Chandra terdengar berbisik, Fattah yakin beberapa orang yang berada di dekat mereka mendengarnya.
"Maaf, yah. Aku minta maaf," ujarnya seraya menundukkan kepala.
Sampai sekarang, Chandra belum tahu apa penyebab kematian Rizal, dan belum pulang tahu kebejatan apa yang dilakukan putranya di belakang.
"Ya sudah, sekarang samperin Syakira, dia sedih sekali karena kehilangan keluarga satu-satunya. Hibur istrimu." Perintah itu, membuat Fattah ingin tenggelam saat ini juga. Sebetulnya Fattah tak sanggup melakukan ini, ia merasa sangat bersalah pada Syakira atas semua yang terjadi. Dia menoleh, menatap Syakira yang kebetulan juga menatapnya penuh kebencian.
Fattah menelan saliva kelat, ia membuang muka dengan dilingkupi rasa sesal yang besar dari palung hati.
Apakah setelah ini tak ada tatapan teduh dan senyum dari kedua sudut bibir Syakira untuknya?
"Tunggu apalagi? Kenapa malah melamun, ck." Fattah mengangguk pelan, memasuki ruang utama seperti perintah sang Ayah.
Ia mengambil posisi duduk tepat di sebelah Syakira, lalu tangannya terulur meraih satu buah buku Yasin. Apa pun yang dilakukan, Syakira tidak sama sekali merespon. Perempuan itu seperti sedang membutakan mata untuk sekadar menyadari eksistensinya di sini.
Malam hari setelah acara pemakaman usai, Syakira duduk bersama Chandra di ruang tamu. Mereka hanya berdua sembari menatap kesibukan orang-orang yang berada di sana.
"Yah? Boleh tanya sesuatu?" tanya Syakira, mengalihkan pandangan Chandra.
"Mau tanya apa, Sya?"
"Kalau boleh, aku mau tinggal di sini untuk beberapa hari ke depan, Yah. Aku butuh waktu menerima semua yang terjadi."
"Apa sudah diskusi sama Fattah?" tanya Chandra.
Syakira diam. Tidak menyahut ketika tiba-tiba nama Fattah menjadi sasaran utama. Kenapa harus pamit? Tujuannya ia menginap di sini kan mau menghindari laki-laki itu.
"Nak, dengerin ayah! Bukan karena dia anak Ayah terus Ayah seakan menjunjung tinggi harkat dan martabatnya. Enggak. Cuma, alangkah baiknya kalau untuk hal ini kalian diskusi dulu. Mana tahu Fattah keberatan karena harus jauh-jauh dari kamu. Hmm."
Syakira menundukkan kepala, air matanya nyaris jatuh jika tak buru-buru dilenyapkan dari pelupuk mata.
"Aku, aku nggak sanggup kalau harus pamit, Yah."
"Kenapa?" Syakira menghela napas ketika mertuanya melayangkan pertanyaan.
"Karena sebetulnya alasan utama di antara beberapa baris alasan yang kupunya, adalah untuk menghindari Mas Fattah."