12

1073 Words
Ada apa? Meski beragam pertanyaan menyeruak di atas permukaan kepala, tampaknya Chandra tidak ingin mengulik apa pun dari menantunya. Masalah dalam rumah tangga memang rentan terjadi, itu mengapa agar lebih baik Chandra tidak terlalu berlarut mengintervensi, kecuali hanya memberi solusi. Dulu ketika ia masih muda, hubungan dengan Yasmin juga mengalami fluktuasi. Mungkin lebih parah dari ini karena Yasmin tipikal orang yang berani dan bar-bar. "Begitu, ya? Tapi apakah tidak lebih baik jika masalah jangan dihindari melainkan diselesaikan dengan cara berdiskusi. Itu kalau memang kalian ada masalah. Tapi kalau dari Ayah pribadi itu semua terserah sama kamu, Sya. Mau tinggal di mana aja asal suamimu sudah rida." Bibirnya bungkam beberapa saat. Perkataan Chandra benar adanya, Syakira tidak boleh lari dari masalah yang sedang membelenggu, apa pun dan sebesar apa pun rasa marahnya, Syakira harus tetap menemui Fattah. Bersikap tegas terhadap apa yang diinginkannya. Memang mau sampai kapan ia berlari dan bersembunyi? Membiarkan hubungan rumah tangganya tak aja kejelasan karena pihaknya berlari dari situasi ini. Perempuan berhijab hitam itu pun menghela napas sebelum akhirnya mengangguk pelan. "Yang Ayah bilang benar, tapi–" Syakira mengarahkan tatapan matanya yang teduh, tetapi dipenuhi oleh air mata. "Yah, boleh aku tanya sesuatu?" "Apa itu?" "Seandainya suatu hari terjadi apa-apa dalam rumah tanggaku. Aku mohon agar Ayah tetap bersikap bijaksana." "Maksudnya bagaimana?" Syakira menjatuhkan satu butir air mata . Buru-buru ia mengusap dengan gerakan kasar. Seharusnya ia lelah menangis, seharusnya jangan lagi ada air mata setelah sedari kemarin tak berhenti membuang percuma kristal beningnya. "Itu cuma perandaian aja, Yah. Nggak ada apa-apa kok sebenarnya. Ya sudah, sesuai saran dari Ayah. Aku akan membicarakan ini sama Mas Fattah." Syakira mengukir senyum sedikit, meski di balik senyum itu terdapat sebongkah luka yang ingin segera ia akhiri. Sementara di tempat lain, Fattah tengah termenung di dalam kamar. Kesepian tengah melanda ketika sosok yang biasa ada di sana tak pernah lagi menapakkan kaki semenjak tiga hari lamanya. Sekali pernah perempuan itu pulang, hanya sebentar dan hanya membawa suasana buruk untuk hatinya yang tak baik-baik saja. Pandangannya beralih pada benda pipih yang tersimpan di atas nakas, benda itu berkedip-kedip tanda ada panggilan masuk dan menampilkan satu nama di sana. Fattah tetap bergeming, tidak berminat mengangkatnya atau sekadar meraih benda tersebut. Padahal yang seharusnya terjadi adalah, ia mengangkat panggilan yang setiap hari ditunggunya dengan euforia meledak-ledak. Persis seperti seorang remaja yang jatuh cinta. Tetapi, sejak kejadian di mana ia tahu jika kematian Rizal ada hubungannya dengan dirinya, ia menjadi sedikit murung. Merasa begitu jahat dan b***t karena telah mengingkari janji. Om doakan semoga hubungan kalian langgeng, Om titipkan Syakira sama kamu, ya. Kalau semisal kalian merasa tidak ada kecocokan, kembalikan langsung Syakira ke Om, kedatangannya selalu Om tunggu di pintu yang terbuka lebar. Jangan pernah mengabaikannya ketika kamu sudah tidak ingin bertahan. Kenapa Om bilang kayak gitu? Om hanya mengingatkan saja, bukan berniat berdoa yang tidak-tidak pada hubungan kalian. Fattah menghela napas berat, seberat beban yang melingkupi perasaannya. Kenapa sepenggal kalimat yang bahkan tak dianggap lagi, justru mengapung? Hah, sial! **** "Assalamualaikum." Fattah yang baru saja datang dari rumah sakit dan sedang menyiapkan secangkir kopi untuk menemani kerjanya nanti, menghentikan sebentar kegiatannya. Ia segera berbalik badan, mendekati pintu. Klek ... Pintu terbuka lebar, hal pertama yang dilihat oleh Fattah di balik pintu adalah seorang wanita yang dirindukan, apa? Dirindukan? Fattah merasa tidak berhak merindukan perempuan ini. Oh ayolah! Jangan sampai menunjukkan jika selama beberapa hari ini ia hampir gila karena ulahnya sendiri. "Waalaikumsalam," Fattah memasang mode dingin, seperti biasa. "Maaf menggangu waktu kamu, Mas. Kedatanganku ke sini, karena mau bicara." Apa katanya? Hanya ingin bicara? Bukan ingin pulang dan tinggal? "Bicara soal apa?" Mereka sudah duduk di sofa yang berseberangan. "Tentang aku," ujar Syakira bergetar. Kemudian ia membuang napas demi menanggalkan rasa gugup. "Aku ingin tinggal di rumah Om Rizal, sampai batas waktu yang aku mau," imbuh Syakira. "Mana bisa begitu? Lalu mengabaikan suamimu di sini?" Syakira tersenyum sinis, "Sejak kapan aku memiliki suami yang harus aku pedulikan?" Syakira melontarkan kalimat yang cukup mengejutkan. Perempuan itu, perempuan yang dikenalnya dengan penuh lemah lembut sudah berani melontarkan kalimat begini. Berguru pada siapa? Atau semua perubahan ini ada kaitannya dengan Levin? Awas saja nanti! "Kamu kenapa, Sya? Kenapa tiba-tiba ..." "Berubah?" potong Syakira cepat. Ia menghela napas, berusaha kuat ketika hati sebetulnya meronta-ronta ingin menyudahi pertemuan ini. Dia sudah tidak tahan. "Aku hanya ingin mengakhiri semua. Ini kedua kali aku minta, tolong ceraikan aku! Jangan tahan keinginan ini. Demi kebaikan kita bersama. Demi Mas Fattah dan aku juga." "Kebaikan bersama apanya?" Fattah mendengkus. Kenapa harus minta cerai? "Jangan pernah minta yang aneh-aneh, kita nggak akan pernah cerai, Sya," ucap pria itu lugas. "Asal Mas Fattah tahu, aku bukan perempuan yang dinikahi hanya sebagai pajangan, aku punya hati dan perasaan. Dan ya– aku nggak mau hidup dilingkupi oleh kebohongan." "Kebohongan apa sih? " Fattah memijat kepalanya yang mendadak pening, permintaan Syakira jelas tidak bisa ia terima begitu saja. Meski tahu ia terpaksa menikahi Syakira karena suatu tujuan, tetapi bukan berarti permintaan Syakira bisa dikabulkan. Fattah masih belum selesai dengan misinya. Semua belum dimulai, kenapa harus sudah kacau duluan? "Kalau ternyata ... Laras itu bukan sepupu kamu, Mas. Kenapa kamu bilang Laras itu sepupumu? Biar pertemuan kalian nggak membuatku curiga? Melazimkan interaksi kalian karena status kalian adalah sepupu? Begitu?" Fattah nyaris menjatuhkan rahangnya ketika Syakira bicara panjang lebar dan cenderung ... menunjukkan sisi emosionalnya. "Sya ..." "Cukup, tolong jangan siksa aku lebih banyak, aku bahkan sudah kehilangan satu-satunya keluarga yang kupunya hanya karena ... kamu dan Laras. Kenapa? Kenapa Mas ngelakuin ini sama aku? Kenapa? Apa salahku? Bilang terus terang itu jauh lebih baik daripada menyembunyikannya." "Kamu mau tahu alasannya? Kamu mau tahu alasan kenapa saya menikahi kamu?" "Kamu adalah sumber masalah, Sya." Fattah menunjuk-nunjuk figurasi Syakira. Tak kalah emosi. Biar saja jika ia harus membuka semuanya sekarang, membuka tujuannya menikah bukan sekadar mengikuti keinginan Chandra yang nyatanya itu hanyalah sebuah kedok, tetapi lebih kepada alasan utamanya. "Aku ...?" Ujung jari telunjuk itu menunjuk d**a sendiri. "Ya, kamu! Kalau kamu tahu, penyebab kematian ibuku adalah ayahmu! Ayahmu yang pemabuk itu, dia lalai dalam berkendara sampai ibuku yang jadi korban. Coba jelaskan, bagaimana cara ayahmu membayar nyawa ibuku sementara dia juga sudah mati? Itu sebabnya aku dendam sama kamu." Fattah berteriak, di depan Syakira. Wajah perempuan itu berubah merah, air matanya kontan mengalir deras. Padahal sejak tadi ia telah menahan diri untuk tetap kuat. Tapi apalah daya ketika sebuah realita memukul keras seluruh tubuhnya. Jadi, inilah sebetulnya? Inilah sesungguhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD