"Syakira!" Levin berseru cukup kencang, tidak ada embel-embel 'mbak' lagi ketika Syakira pernah menegurnya agar lebih baik memanggil nama saja. Toh usianya jauh lebih tua dari Syakira. Kendaraannya ditepikan, bergegas turun dan hampiri Syakira yang berjalan gontai di ruas jalan. Tengah malam begini perempuan bergamis Wardah itu melintasi lorong sepi tanpa membawa apa-apa. Apa yang sebetulnya sudah terjadi?
"Kamu–" Levin mengamati gesture Syakira dari samping.
"Kenapa jalan sendiri tengah malam begini?" imbuhnya, tetapi sayang sekali Syakira tidak menggubris. Langkah perempuan itu tetap berayun sementara pandangannya kosong lurus ke depan.
Dalam pikirannya Syakira tengah berpikir, apakah seharusnya lebih baik mati saja daripada menanggung beban seberat ini? Bayangkan, sejak kecil menjadi sasaran caci maki oleh orang-orang padahal ia tidak pernah berbuat dosa pada mereka, menjadi olok-olok teman sekolah karena kepribadian orang tua yang sangat memalukan, dan sekarang ia pun harus menanggung beban dendam seorang anak yang telah kehilangan ibunya akibat ulah almarhum ayahnya.
"Aaaaaaaghhh ..." Tiba-tiba Syakira berteriak, menekuk kedua kaki bersimpuh, menjadikan permukaan aspal basah akibat hujan sebagai tumpuan kedua lutut. Melihat tindakan impulsif itu membuat Levin kalang kabut. Tungkai kakinya berlari mendekat pada perempuan yang menjerit~
"Aku harus apa? Aku harus apa? Kenapa aku tidak pernah mengecap manisnya rasa bahagia? Kenapa?" Syakira berteriak histeris, masih bersikap apatis terhadap presensi Levin yang berusaha menolongnya untuk berdiri.
"Sya ... saya antar pulang, ayo!"
"Ini sudah sangat malam."
"Syakira ..." barulah Syakira menoleh ke samping, tangisnya mereda sebentar.
"Saya nggak punya siapa-siapa lagi, Mas, untuk apa saya pulang?" tukasnya miris.
"Tinggalkan saya!" imbuh perempuan itu lagi tetapi dengan nada lebih rendah nyaris berbisik.bv
"Sya ..."
"Tolong, jangan pedulikan apa pun, saya hanya akan menjadi beban untuk semua orang." Syakira membawa telapak tangannya menutupi wajah dan tergugu pilu di sana.
Seputus asa apa dia?
Di pendar mata, ada setumpuk rasa iba menyeruak dari dalam diri Levin ketika melihat ketidakberdayaan Syakira, sungguh ia ingin sekali memberikan sebuah rengkuhan hangat, demi menenangkan kerapuhan itu, akan tetapi pria tersebut mengafirmasi agar terus menahan diri untuk tidak melakukannya.
Logika masih sangat waras untuk melupakan siapa sosok Syakira ini.
"Ini sudah malam, saya nggak mungkin meninggalkan kamu, setidaknya berikan saya izin untuk–"
"Tolong ..." Kali ini, Levin tidak bisa berbuat lebih ketika tatap mata penuh air itu memandang nanar padanya...
"Oke. Saya pergi. Syakira, tapi jujur saya cemas."
"Terima kasih, tapi saya akan tetap baik-baik saja." Keteguhan Syakira membuat Levin pada akhirnya menyerah untuk tetap bertahan menunggui Syakira.
Laki-laki itu terpaksa berbalik badan dan meninggalkan perempuan yang masih dalam posisi sama.
Levin bingung, harus berbuat apa? Sementara niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh Syakira.
"Cewek! Kiw kiw ... wah, sendirian aja nih!" Tepat di persimpangan jalan, Syakira menemukan segerombolan orang yang tengah duduk di bawah silaunya cahaya lampu jalanan berwarna kuning keemasan.
Ia melangkah sejauh empat kilo meter dari rumah yang dikunjungi satu jam lalu, meski sudah sangat jauh berjalan, nyatanya kedua kaki telanjang itu masih kuat untuk tetap melangkah.
Tetapi, sayangnya ada hambatan yang menganggu konsentrasinya dalam melakukan perjalanan entah ke mana.
"Tetap di sana! Jangan dekati saya!"
"Memang punya hak apa kamu melarang kami? Enak saja suruh-suruh begitu." Segerombolan yang berisi empat sosok manusia itu tertawa terbahak-bahak kecuali Syakira yang masih mempertahankan ekspresinya.
"Saya bilang stop." Sembari berbicara, langkahnya berjalan mundur ke belakang.
"Sepi, nggak ada kendaraan kok di suruh stop sih? Ya nggak?"
"Yoi bro!"
Syakira memejamkan mata, jika ini memang sudah takdirnya ia mati dalam tangan mereka semua. baiklah, dia akan berpasrah diri. Tidak berusaha menyelamatkan diri karena kepalanya sekarang hanya berisi tentang kematian. Menyusul kepergian Rizal, orang yang paling berjasa dalam hidupnya.
"Kalian mau apa?"
"Mau kamu dong, masa masih nanya."
"Silakan bunuh saja saya! Tapi jangan lakukan hal lain selain ini!"
__________
Bugh ... Bugh ... Bugh ...
Entah sudah berapa kali kepalan tangan Levin melayang, menghantam rahang-rahang para penjahat itu hingga keempatnya terkapar di sana, meninggalkan jejak darah di kulit wajah mereka, hingga ruam kemerahan.
Setelah memastikan dengan baik bahwa mereka semua sudah tidak sanggup lagi melawan. Maka, atensinya kini tertuju pada Syakira yang sekarang sedang bersandar di tiang listrik dalam kondisi tak sadarkan diri, posisi mereka jauh dari jalan raya, sehingga rasanya mencekam sekali.
Levin berjongkok mengamati Syakira dengan saksama.
Entah apa yang dilakukan pada pria b***t itu sehingga banyak luka memar yang didapatkan. Tidak hanya luka memar, bahkan sudut bibir Syakira berdarah.
"Kurang ajar! Kasar sekali mereka," ujarnya.
"Maaf ... kalau saya lancang menyentuh kamu, Sya. Tapi saat ini, saya harus menolong kamu pergi dari sini," ujar Levin lalu menggendong tubuh Syakira masuk ke dalam mobil.
Sebetulnya tadi Levin tidak benar-benar pergi ketika Syakira mengusirnya, ia setia mengikuti kepergian perempuan dari belakang tanpa di sadari. Tetapi sialnya ketika di tengah perjalanan, mobilnya kehabsian bahan bakar sehingga Levin harus lebih dulu mencari pom bensin terdekat dan mengisinya. Siapa sangka, baru saja beberapa menit tak mengikuti jejak Syakira, sudah banyak hal yang terjadi pada Syakira–termasuk keadaan Syakira yang menegaskan. Lantas bagaimana sekarang? Levin menyandarkan kepala pada punggung kursi dan memejamkan matanya.
Sedangkan di alam bawah sadar, Syakira seperti tengah mengulang kejadian beberapa menit lalu, mimpi buruk yang mungkin akua terus menghantuinya karena rasa trauma.
"Lepaskan saya! Saya tidak terima jika kalian melakukan pembuatan menjijikkan ini!" Syakira berontak ketika kedua tangannya di tahan di belakang pinggang. Menjerit histeris berharap ada yang datang menolongnya sekarang.
"Kan sebelum dibunuh setidaknya dinikmati dulu, masa nggak boleh? Toh habis dinikmati juga kamu nggk bakal hidup lagi, jadi ya udah sih, pasrah aja." Salah satu laki-laki yang diperkirakan adalah ketua dari komplotan itu pun tertawa jenaka.
"Tolong jangan! Jangan lakukan apa pun pada saya! Jangan!"
Tangannya berusaha terlepas dari ikan yang membelenggu pergelangan. Sakit, urat-urat nya terasa nyeri ketika tali itu menekan cukup kuat.
"Halah sok suci lo, tau rasanya juga bakal minta nambah nanti."
Kehabisan kesabaran preman itu pun menampar pipi Syakira sebanyak dua kali. Karena tidak bisa melawan karena tangannya di pegang kuat oleh preman yang lain, ia gunakan kakinya untuk beraksi. Tetapi sayang, tenaganya tak cukup kuat untuk bisa menumbangkan satu saja dari mereka. Pada akhirnya mereka pun memukuli Syakira bertubi-tubi, hingga tak sadarkan diri.