"Sikap kamu kenapa akhir-akhir ini aneh? Sakit apa gimana? Kok kayak diem aja gitu?" Perempuan yang tiba-tiba datang tanpa diundang bertepatan dengan perasaan yang tak baik-baik saja membuat laki-laki itu merasa sedikit gusar. Dari situ juga Fattah lekas menggamit tangan Laras dan memindahkannya dari permukaan kening yang disentuh.
Tidak ada raut gembira saat disambangi oleh tambatan tercinta, sebab sebilah hati yang lain sedang terpuruk dalam kubang penyesalan.
"Nggak kok, aku baik-baik aja," ujarnya singkat. Dijauhkan rokok dari lipatan bibir dan membuang abunya dalam asbak. Fattah merokok? Ya, dia merokok hanya sesekali ketika otaknya butuh di- refresh.
Ia benar-benar kalut dan frustasi berat, bohong kalau tak merasa kehilangan setelah sepakat untuk mengakhiri semuanya, karena setelah malam itu Syakira tak lagi datang kemari. Apakah benar pernikahan tidak bisa terselamatkan? Jika ia bagaimana dengan misi–ah, bukan. Bagaimana dengan kehidupannya di masa mendatang?
Sungguh tak dapat dipungkiri, selama dua hari–usai malam itu–Fattah terjebak dalam belenggu sunyi dan hampa dalam ruang sendiri.
"Omong-omong katanya kamu mau bicara, bicara apa?" imbuh Fattah berusaha mencairkan suasana. Tidak ingin membuat Laras kecewa dan berpikir jika sikapnya berubah pada perempuan itu, meski sebetulnya ia sadari bahwa perlahan demi perlahan rasa itu mulai terkikis.
"Mau bilang kalau aku kangen banget. Makanya aku datang ke sini, rasa-rasanya aku mendapatkan angin segar karena Syakira nggak ada di rumah ini. Aku jadi bebas kapan aja datang ke mari." Fattah bergeming, seharusnya ia membenarkan ucapan itu, seharusnya banyak letusan kembang api dalam hati ketika Laras meluapkan rasa rindu padanya. Seharusnya ia berbunga-bunga merasai euforia yang bereksplorasi di dalam rongga d**a.
Tapi, kenapa semua malah merasa hambar? Kenapa ucapan Laras hanya terdengar justru serupa desau angin yang mudah berlalu.
"Kalau kamu sendiri gimana? Kangen nggak?" Perempuan itu menyandarkan kepala pada bahu yang seharusnya bukan untuk tempat bersandar kepala wanita lain alih-alih istri sahnya.
Sedang kedua tangan Laras bergerak melingkar pada lengan kokoh dan liat, yang hanya dibungkus oleh kaos berwarna navy press body.
Gerakan itu membuat Fattah menghela napas.
"Seharusnya kamu nggak ke sini, Ras." Alih-alih menjawab, Fattah jutsru menyampaikan hal lain. Menyampaikan rasa keberatan yang tiada tara.
"Lho, kenapa?" Laras menautkan dua ujung alis, menegakkan kepala dan condongkan badan padanya
Fattah menghela napas lalu membawa tatapan pada perempuan di sampingnya.
"Aku cuma khawatir ayahku tahu. Bagaimana kalau tiba-tiba beliau datang kemari? Karena beliau nggak akan memberikan pesan apa pun ketika akan kemari, ya, tiba-tiba aja muncul gitu," tukasnya beralasan. Semenjak Fattah menikah, laki-laki tua itu jarang datang ke rumah itu, alasannya adalah Chandra tidak mau sering merepotkan anak menantunya sebab seringnya Chandra berkunjung.
"Beneran cuma karena ayah kamu kan? Bukan karena ada hal lain?" Fattah mengangguk ragu, bukan, bukan itu alasan utamanya, melainkan Fattah merasa segumpal sesal sedang merongrong di setiap jejak langkah. Menyesali keputusan membuka tabir kebenaran yang selama ini tersembunyi pada Syakira, membiarkan perempuan itu memonopoli dengan mengambil keputusan bercerai.
"Semua akan baik-baik saja, percayalah! Yang penting sekarang, kita bisa berdua sebebasnya. Jujur, aku bahagia banget sekarang, bisa kembali merajut hubungan yang sempat terbengkalai."
"Please ... jangan begini!" Fattah menjauhkan tangan perempuan itu dari lengannya. Merasa risih oleh sentuhan kulit keduanya.
"Kenapa?"
"Apa yang kita lakukan ini salah, Ras. Nggak seharusnya kita begini, aku berstatus suami dan kamu– calon istri temanku."
"Lho, bukannya waktu di rumah sakit hari itu kita sepakat kalau kita akan diam-diam. Terus kenapa kamu bicaranya sekarang beda?"
"Ya, itu–anggap aku khilaf saat mengatakannya."
"Jangan main-main, ya! Aku bahkan sudah memutuskan untuk mengembalikan kamu dalam hatiku," Laras mulai tersulut.
"Itu salahmu! Bisa tidak kita kembali ke mode awal di mana kamu akan berusaha membuka hati untuk Yorda dan menerimanya menjadi masa depan? Begitupun dengan aku. Aku akan menjalani kehidupanku dengan baik."
"Apa? Kamu nggak lagi ngelantur kan? Lagian kamu ini kenapa sih? Sadar nggak omongan kamu aneh, dulu waktu aku mulai mau menyerah dan menerima takdir. Kamu malah nahan, seakan-akan kamu nggak bisa tanpa aku. Sekarang kenapa? Kenapa ucapan itu malah berbalik seratus delapan puluh derajat? Apa Jangan-jangan kamu mulai suka sama Syakira? Iya?" Fattah hanya diam, tidak melakukan penyangkalan apa pun seakan apa yang dikatakan Laras benar adanya.
________
"Seharusnya Mas nggak usah repot-repot mengantar saya ke sini. Saya jadi merasa tidak enak. Harus ada orang lain yang saya repotkan."
"Tidka perlu berterima kasih, sesama manusia kita harus saling membantu bukan? Saya minta maaf ya kalau tindakan saya membuat kamu nggak nyaman."
Syakira tidak menyahut, ia hanya membawa pandangannya pergi mengarah pada jendela kaca yang menampilkan view sore hari. Indah sekali.
Sehari penuh sudah dia berada di ruang rawat inap ini, dengan Levin yang setia menemaninya di sini.
"Saya yang seharusnya minta maaf, sudah membuat Mas repot untuk segalanya."
"Saya nggak pernah merasa direpotkan sama kamu. Jangan berpikir terlalu jauh. Lekas sembuh Sya." Syakira menipiskan bibir membentuk lengkungan bulan sabit.
"Boleh saya tanya?
"Selagi bisa dijawab, saya akan menjawabnya."
"Kalau boleh tau, kamu kenapa? Kenapa nekad pergi di tengah malam. Apa–" Levin menjeda sebentar kalimatnya, sebelum akhirnya kembali melontarkan pertanyaan yang tertunda, "Kalian bertengkar?"
Syakira tak kunjung memberi jawaban, tetap bergeming membuat Levin merasa tidak enak hati.
"Maaf, seharusnya saya nggak bertanya terkait itu."
"Nggak apa-apa, Mas. Seharusnya saya yang minta maaf karena nggak bersedia menjawab pertanyaan Mas."
"Tolong jangan sampaikan apa-apa sama Mas Fattah tentang ini, anggap aja Mas Levin nggak tahu menahu tentang kondisi saya."
Dari penuturan yang didengar, Levin yakin ada masalah yang terjadi antara Syakira dengan Fattah. Tapi apa? Tendang perselingkuhan Fattah di belakangnya?
Levin jadi penasaran. Tapi, apakah rasa penasarannya boleh menemukan jawaban?
"Saya akan melakukannya jika memang itu yang kamu minta, Sya." Syakira mengangguk beberapa kali, tak kuasa menahan hingga menjatuhkan air mata.
"Terima kasih."
Fattah menghela napas, ia berada di depan pintu rumah Rizal sekarang. Egonya terpaksa merendah demi meminta maaf pada Syakira tujuannya ingin menyelesaikan masalah ini dengan kepala dingin. Fattah bukan tidak mau menceraikan Syakira, meski bibirnya mengatakan dengan lantang akan mengurusnya segera. Tetapi, pertimbangan utamanya terletak pada sang ayah. Ayahnya hidup tanpa pendamping, sehingga mendesak Fattah untuk berbeda menikah dan mendapatkan keturunan untuk meramaikan ruang lingkup sepi selama bertahun-tahun lamanya. Tentu aja harapan itu hanya diperuntukkan pada Fattah, jika perceraian yang diinginkan terwujud seperti keinginan istrinya, apa jadinya kedepannya nasib Chandra?
Pikirannya berlarian ke mana-mana, memikirkan kemana perginya Syakira, jika bukan pulang ke rumah ini, lantas kemana perempuan itu berada?