15

1072 Words
Harus bagaimana cara Syakira menghentikan laki-laki di depannya ini? Sejak dirawat di rumah sakit, Levin tak berhenti datang untuk mengunjunginya, menemani kesendirian bahkan sampai matahari tenggelam. Bukan bagaimana, Syakira hanya tidak enak karena harus merepotkan Levin setiap hari. Sementara Syakira sendiri yakin tak dapat membalas jasa laki-laki yang notebene tetangganya itu. "Biar saya saja Mas." Syakira mengambil alih roti dari tangan Levin. Sungguh pria itu tidak berhenti memperlakukan dirinya bak seorang putri raja, melayaninya dari mengupas cangkang telur, mengupas buah, membuka seger tutup botol air mineral, dll. Seandainya saja Fattah yang berada di posisi Levin. Mungkin situasi tidak akan canggung seperti ini mengingat Fattah adalah suami sendiri. Benarkah tidak canggung? Ah, entahlah... "Bisa bukanya?" "Hanya sekadar menyobek plastik roti, tidak akan sulit, saya bisa," sahut Syakira sembari membentang senyum. "Oke, saya percaya kamu," ujar Levin sembari mengangguk. Hari ini Levin sengaja absen dari kantor hanya demi datang lebih awal ke sini. Tiba-tiba laki-laki itu teringat sesuatu–semalam ia sempat melihat kedatangan Laras ke rumah Fattah. Dalam otaknya bertanya-tanya, untuk apa perempuan itu datang menemui Fattah apa lagi cukup malam? Apa mereka sudah janjian sebelum ini? Kalaupun iya, untuk apa mereka bertemu? Bukannya sudah jelas bagaimana status mereka bedua sekarang? Segala spekulasi mulai mencuat dari kepala Levin. "Terima kasih, Mas. Sudah banyak membantu saya." Terhenyak, Levin mengambil alih kesadaran yang sempat tenggelam dalam lamunan panjang. Laki-laki itu bergegas tersenyum lalu mengangguk kecil. "Nggak masalah. Sebanyak apa pun kamu butuh bantuan saya, saya akan siap membantu." Syakira kembali tersenyum dan menggigit kembali roti berisi selai coklat di tangannya. "Saya boleh tanya sesuatu?" "Mas mau tanya apa?" Tatapan Syakira mengarah pada pria di ujung kakinya. "Apa ada yang kamu ketahui soal Laras? Eh–kalau kamu nggak berkenan menjawab, nggak usah dijawab." Mulanya Syakira hanya bergeming, bahkan memelankan kunyahan pada roti. Levin mengira Syakira akan tersinggung, tetapi hal yang menakjubkan perempuan itu justru menjawabnya. "Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mencintai. Sampai sekarang pun masih," sahut Syakira usai menelan habis roti dalam mulutnya. Ucapan itu mengudara begitu ringan, seperti "Kalau begitu ... bagaimana tanggapan kamu?" "Ya sudah, biarkan saja. Urusan dosa, biar Mas Fattah sang menanggungnya karena sudah membiarkan hatinya terus terpaut pada wanita yang bukan miliknya." Levin mengangguk setuju. Akhirnya dia mendapatkan alasan mengapa Syakira memilih pergi dari rumah Fattah tengah malam suntuk. Mungkin inilah penyebabnya, Syakira tidak ingin terus berada dalam hubungan penuh duri. Ya, itu hanya praduganya saja. "Setelah sembuh nanti, kamu mau tinggal di mana?" Syakira membuang bungkus roti yang sudah habis ke dalam tong sampah di sisi bed hospital. "Di rumah Om Rizal." Entah harus apa dia sekarang, bersimpati untuk hal ini atau justru merasa bahagia lantaran memiliki celah untuk mendapatkan hati Syakira? Toha dibanding Fattah, Levin tidak lebih buruk. Usia matang, dewasa, mengayomi, penyayang dan untuk urusan finansial–dia juga terbilang cukup kaya. _______ "Apa-apaan ini Fattah?" Fattah yang masih bergulung di balik selimut, terkejut bukan main. Buru-buru ia melompat menuruni ranjang dan menghampiri ayahnya di ambang pintu. "Bisa-bisanya kamu enak-enakan tidur, sedangkan Syakira tidak ada. Ke mana dia? Kenapa tidak ada di seluruh sudut ruang?"Fattah mengucek matanya, memastikan jika pria berpakaian serba hitam itu merupakan ayahnya. Sungguh, hal yang di luar dugaan, Fattah tidak tahu jika Chandra akan datang sepagi ini ke rumahnya. "Di mana Syakira?" Ketiga kalinya, Chandra mengajukan pertanyaan. "Dia ... dia eum ..." Fattah terbata-bata, terlalu bingung harus menjelaskan bagaimana karena ia belum menyiapkan jawaban ada-ada di kepalanya. "Pergi dari rumah?" Chandra langsung memotong ucapan yang belum usai, terperangah, Fattah terperangah hingga kembali mengatupkan mulut. "Ikut ayah sekarang!" Fattah menurut, mengikuti jejak langkah sang ayah yang lebih dulu berjalan di depan. Jangan tanya bagaimana perasaan Fattah, jantung laki-laki itu berdegup kencang–masih terkejut. "Duduk!" Fattah awalnya bergeming, hingga kedua mata pria itu melotot ke arahnya. "Iya, Yah," ujar Fattah lesu, kedua kaki melangkah ke arah sofa dan duduk tepat di depan sang ayah. Posisi mereka tidak terlalu jauh hanya berbatas meja segiempat berbahan kaca. "Jelaskan sesuatu sama Ayah?" Tanpa berbasa-basi, Chandra langsung menodongkan pertanyaan. "Apa yang harus aku jelaskan, Yah"? "Semua yang terjadi, semua yang kamu sembunyikan dan di luar sepengetahuan Ayah." Fattah menghela napas, dibawanya pandangan itu menunduk menatap lantai. Tidak langsung bicara, ia seperti sedang menyeleksi kalimat yang hendak dilontarkan. "Fattah!" "Sejak beberapa hari lalu Syakira pergi dari rumah. Kami habis bertengkar hebat beberapa hari yang lalu. Dan aku sempat datang ke rumah Om Rizal kemarin untuk memperbaiki hubungan kami yang renggang ini. Tapi–" kepala Fattah diangkat perlahan, menatap wajah garang sang ayah dengan perasaan takut. "Tapi Syakira nggak ada di rumahnya, " sambungnya gugup. "Jelas saja tidak ada! Posisi Syakira sedang dirawat di rumah sakit sekarang." Jujur saja, Fattah terkejut. Apa yang menyebabkan Syakira masuk rumah sakit? Semua baik-baik saja kan? Dan dari mana Chandra tahu? Semua terlalu rumit untuk dijawab satu persatu. "Bagaimana kondisi–" "Kamu bertanya sama ayah? Tidak ingin melihat dan bertanya sendiri bagaimana keadaannya? Pengecut sekali kamu." Kemarahan Chandra benar-benar tergambar jelas, bisa dilihat dari bola mata pria itu tampak berbeda dari biasanya. "Sudahlah! Tidak penting! Ini-" "Syakira menitipkan ini sama Ayah. Dia–" Chandra memicing mata tetapi begitu tajam ketika sampai di netra Fattah. "Minta kamu tanda tangan surat cerai ini," imbuh Chandra dan seketika itu juga Fattah menelan saliva kelat. Bukan karena takut ketika harus membubuhkan tandan tangan di atas permukaan kertas, tetapi ia takut ketika di sini, masalah mereka justru melibatkan Chandra. "Maaf ..." "Katakan! Apa yang membuat dia minta cerai dari kamu? Tidak mungkin hanya karena pertengkaran biasa, Syakira sampai harus melayangkan surat cerai ini." "Aku akui ... aku penyebabnya, Yah," ujar Fattah dengan intonasi rendah. "Jelaskan!" "Sebenarnya aku menikahi Syakira, bukan karena aku punya perasaan sama dia, Yah. Bukan pula karena ayah yang menjodohkan kami berdua. Tapi..." "Tapi karena aku punya niat untuk membalas dendam pada Syakira, balas dendam atas kematian ibu." "Karena ayahnya dia, Ibuku meninggal. Aku kehilangan kasih sayang yang masih aku butuhkan dan itu sangat menyesakkan. Di mana teman-teman masih berada dalam dekapan ibu sampai sekarang, tetapi tidak denganku. Aku benci berada dalam situasi di mana aku hidup tanpa ibu. Karena itulah aku ingin membalas dendam padanya." Penjelasan panjang lebar yang menguar dari bibir Fattah membuat Chandra tercengang. "Kamu pikir ini hebat?" Chandra spontan melempar stofmap di atas meja. Melihat itu Fattah langsung meneguk saliva susah payah lalu semakin menenggelamkan kepala pada d**a sendiri. "Seharusnya sebelum kamu melakukan sesuatu, cari dulu sumber yang valid. Jangan mengambil tindakan gegabah yang mana malah mengakibatkan kerugian."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD