16

1019 Words
Dua puluh lima tahun silam, Syakira hadir atas sebuah kesalahan. Kesalahan dua orang insan yang saling mencinta dan mendamba satu sama lain. Tujuan kesalahan ini diciptakan adalah untuk membuat restu dari orang tua pihak laki-laki terbuka lebar-lebar untuk ibu Syakira. Tetapi sayangnya alih-alih menerima Rani–ibu Syakira, keluarga besar pihak laki-laki jutsru menolak mentah-mentah kehadiran sosok itu dengan janin dalam perutnya. Mereka semakin membenci Rani dan melarang Rizal menemui Rani sampai kapanpun itu, karena usut punya usut, Rizal sudah dijodohkan oleh seorang perempuan yang mana sosok itu merupakan anak seorang teman dari orang tuanya. Tidak ada pilihan, Rizal pasrah karena demi keselamatan Rani. Terpaksa mengikuti keinginan orang tuanya demi kelangsungan hidup Rani dan calon bayi mereka. "Aku harus membuat perempuan itu enyah dari muka bumi ini," Ayah dan Ibu Rizal tengah berbincang di ruang tamu. Mereka duduk sembari memindai beberapa lembar surat undangan yang siap disebar. "Jangan begitu. Kita sudah berjanji untuk melepaskan perempuan itu, setelah Rizal menerima perjodohan ini, Ma." "Tapi, Pa ... Mama hanya takut kalau dia nanti jadi biang masalah di dalam rumah tangga anak kita. Kita nggak tahu bagaimana kedepannya nanti." Jangan terlalu over thinking. Nggak baik!" Ayah Rizal berusaha membuat istrinya berhenti berpikir untuk menyingkirkan perempuan tak bersalah itu. Ayah Rizal sebetulnya tidak pernah ingin menyudutkan Rani dari segi manapun, hanya saja demi masa depan Rizal, ia memang tidak bisa membiarkan Rizal menikahi wanita yang tidak jelas asal usulnya. "Gimana nggak overthinking, Mama ini juga seorang perempuan, Pa. Insting perempuan pada perempuan lain itu biasanya kuat." Ayah Rizal hanya menghela napas berat, tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan ibu dari anaknya itu, alhasil ia pun memasrahkan semuanya pada sang istri. "Ya sudah, Mama maunya gimana?" "Nikahkan perempuan itu, Pa. Nikahkan agar dia tidak ada celah untuk menganggu rumah tangga Rizal suatu hari nanti." "Dinikahkan dengan siapa, Ma? Jangan mengada-ada. Jangan asal menikahkan anak orang sembarangan," ayahnya Rizal tidak setuju atas usulan ini, masalahnya tidak mudah juga mencari laki-laki yang manu menerima calon istri yang sudah lebih dulu hamil di luar nikah. "Mama ada ide. Bagaimana kalau kita nikahkan Rani dengan Wilgar." "Mama jangan ngawur! Wilgar itu anak kita, Ma." "Lebih tepatnya anak pungut. Biar saja Wilgar yang menjadi suami Rani. Mama yakin Rani nggak masalah untuk ini, asal masuk dalam keluarga kita, dia mungkin sah-sah saja mau dinikahkan sama yang mana." Kepala ayahnya Rizal semakin berdenyut, usual itu benar-benar di luar logika. "Udahlah, Pa. Nggak usah pikir panjang. Itu ide paling bagus menurut Mama. Ya, Barangkali aja habis nikah, si Wilgar jadi berhenti mabuk-mabukan dan mau kerja bener. Mama sedih banget lihat itu anak, kerjaannya ga jelas. Cuma tau mabuk, mabuk, mabuk aja. Ya gitulah kalau kita nggak lihat dulu bibit, bobot, dan bebetnya saat adopsi. Gede-gede cuma bisa nyusahin orang tua." Ocehan sang istri hanya membuat ayahnya Rizal kembali mengambil napas dan membuangnya. "Ya sudah, Ma. Nggak apa-apa. Kalau itu baik menurut Mama. Papa bisa apa? Kita temui Wilgar nanti malam. Bawa juga Rani sekalian." "Jadi ... Syakira anaknya Om Rizal?" Fattah benar-benar terpukul setelah mengetahui fakta mengejutkan ini, fakta yang baru diketahui setelah selama belasan tahun terbelenggu oleh dendam yang salah? Seluruh persendian lemas seketika. Sungguh Fattah merasa berdosa untuk semuanya, terlebih lagi Rizal wafat karena ulahnya. Meski yang terjadi merupakan sesuatu yang secara secara tidak sengaja dilakukan, tetap saja dialah penyebab utamanya. "Ya! Syakira bukan anak Wilgar seperti yang kamu pikir selama ini. Itu kenapa pada akhirnya Rizal mengambil alih hak asuh Syakira dari tangan Rani dan Wilgar, ya karena Rizal berhak atas Syakira, dia anak kandung Rizal. Rizal tentu tidak rela membiarkan anaknya rusak mental karena berada dalam lingkungan toksik. Kamu tidak tahu ketika itu Syakira sangat rapuh dan rentan. Lalu mengembalikan senyum yang hilang sejak lama itu bukan hal yang mudah, baru-baru ini saja Rizal berhasil membuat Syakira merasa aman. Tetapi apa yang kamu lakukan setelah banyak perjuangan Rizal padanya? b******k kamu! Ayah benar-benar kecewa sama kamu, Fat." "Kalau aku tahu, aku tidak melakukan ini, Yah. Semua terjadi karena aku tidak tahu. Kenapa Ayah merahasiakan ini, Yah?" "Ayah merahasiakan ini ya karena atas permintaan Rizal. Memangnya apa lagi? Seharusnya kamu tidak perlu menaruh dendam sekalipun seandianya Syakira adalah anak kandung Wilgar. Toh kematian ibumu itu bagian takdir Yang Kuasa, bukan keinginan siapapun." Fattah memejamkan mata, harus apa dia sekarang? Kembali pada masa lalu untuk memperbaiki semuanya jelas bukan hal yang mungkin, waktu tidak bisa diputar mundur untuk mengulang yang sudah terjadi. "Aku minta maaf, Yah." "Minta maaf? Pada ayah? Kamu begok atau bagaimana? Hei! Yang seharusnya kamu lakukan minsa maaf pada Syakira, kembalikan keutuhan rasa senangnya seperti sedia kala. Kamu yang membuat dia hancur berantakan Fattah." Chandra benar-benar emosi menghadapi Fattah. Bisa-bisanya dia memiliki anak yang dungu. "Pergi dan minta maaf padanya." "Beri aku alamat rumah sakit tempat dia dirawat." "Rumah Sakit Medikal Pratama." __________ Baru saja keluar dari rumah sakit dan berniat untuk pulang ke rumah, Syakira kembali dihadapkan oleh ujian berat yang seakan tidak ada habisnya. Rumah satu-satunya harapan untuk pulang kini hangus terlalap api, dia tidak tahu kapan ini terjadi yang jelas hanya tinggal tumpukan puing-puing tak berarti yang tersisa di sana. "Bagaimana ini bisa terjadi, Bu?" "Sepetinya konsleting pada listrik, soalnya malam-malam banget rumah Pak Rizal sudah terbakar sebagian. Kami para warga yang baru mengetahui ini pun langsung melapor pada pemadam kebakaran, Pak." "Jadi belum tahu kronologi pastinya ya? Ini baru asumsi saja?" Beberapa warga mengangguk. Levin, untung saja pria itu masih setia berada di sisi Syakira yang tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi semua ini. Dia sedang berada di mobil dalam keadaan lemas. Sementara Levin bergerak turun tangan menanyai perihal rentetan kejadian dari sebelum Syakira pulang dari rumah sakit sampai sekarang kepada warga sekitar rumah Rizal. "Terima kasih, Pak, Bu. Atas keterangan yang Bapak dan Ibu berikan. Saya permisi dulu." Levin memutar tubuh, berjalan maju ke arah mobil untuk menghampiri Syakira. Ia juga ingin mengetahui bagaimana keadaan perempuan itu di dalam sana setelah melihat rumahnya hangus menjadi abu. "Sya ..." "Kamu–" "Saya baik-baik saja, Mas. Jangan khawatir. " Syakira berujar lirih, berusaha tegar dan menyembunyikan ratusan luka yang tiba-tiba muncul dan menggerogoti hati. Rasa sabar dari sudut mana lagi yang harus dipertaruhkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD