"Sudah keluar sejak satu hari lalu, Pak." Fattah membasahi bibir bawah mendengar penjelasan suster di meja resepsionis. Kedua bahunya merosot jatuh, putus asa. Ia terlambat, terlambat untuk datang. Seharusnya ucapan Chandra kemarin menjadi pecut untuknya agar segera pergi ke rumah sakit sehingga kedatangan dengan penuh harapan tidak sia-sia belaka seperti sekarang. Sialnya alih-alih datang kemarin, ia justru membuang waktu berpikir.
"Satu hari lalu, ya?" Usia menyugar rambut, ia melayangkan tanya.
"Betul, Pak. Kalau boleh tahu Bapak siapa ya?" Seharusnya perawat itu Tidka perlu bertanya banyak, apalagi terkait status yang disandang oleh pria tersebut.
Tetapi, tak apalah, Fattah tidak keberatan menjawab pertanyaan tersebut.
"Saya suaminya,"ujarnya lugas.
"Suami? Jangan bercanda, sebab yang saya tahu suami Bu Syakira bukan Bapak."
"Maksudnya apa? Saya suaminya, dia perempuan yang saya nikahi beberapa Minggu silam kalau andayingin tahu."
"Oh, saya pikir laki-laki tampan dengan tinggi proporsional itu adalah suaminya."
"Siapa maksud Anda?" Jangan ditanya, setumpuk rasa marah sudah menggunung di dalam kepalanya.
"Bapak Levin Adrial Atmajaya. Anda kenal?" Memang agak ceriwis perawat satu ini, sepertinya melihat kegundahan di dalam rut wajah Fattah merupakan hiburan tersendiri bagi perempuan berkepala tiga itu.
Fattah tampak tertegun mendengar nama yang tak asing itu menjamah telinga.
Levin? Ketahuilah, kekeruhan di wajah tercetak sangat jelas.
Dari sekian banyak manusia di muka bumi, haruskah Levin yang ikut berperan di sini? Laki-laki yang sudah ia perkirakan menaruh hati sejak lama pada sosok Syakira? Hah ... benar-benar.
"Apa kedatangannya kemari cukup intens?"
"Pak Levin datang di siang hari dan pulang menjelang petang. Terkadang sampai malam beliau masih ada di sini."
"Anda sangat tahu ya, Sus?"
"Tentu saja. Bukannya itu wewenang saya selama bertugas, mengamati satu persatu keluarga pasien sehingga meminimalisir kecolongan?"
Fattah menjadi sedikit kesal pada perawat ini, sepertinya dia sangat pro pada Levin. Menyebalkan.
Kembali lagi membahas tentang Levin. Kemana rasa malunya ketika bersedia menjadi penanggung jawab seorang perempuan bersuami? Tidak ada bebankah datang setiap haru hanya untuk cari perhatian? Cih ... yang benar saja.
Spontan kedua tangan Fattah mengepal erat di sisi tubuh masing-masing. Levin benar-benar keterlaluan, mengambil kesempatan di saat semua sedang kacau balau.
"Masih ada lagi yang perlu saya bantu, Pak?"
Fattah bergegas menggeleng pelan, ia memilih segera melenggang dengan tidak sabaran setelah mengucapkan kalimat terima kasih pada seorang perawat tersebut.
Tujuannya sekarang sudah jelas harus ke mana, ia akan pergi ke tempat di mana Levin berada pagi ini, tak peduli mau pria itu sedang berada di kantor atau tidak, ia akan tetap datang untuk menuntut penjelasan.
Memang siapa Levin yang berani sekali mendekati Syakira? Dasar laki-laki tidak tahu malu.
Dipacunya mobil tesla itu keluar dari area rumah sakit dan membawa kendaraan tersebut dalam keadaan ngebut. Fattah sangat tidak sabar untuk secepat mungkin membuat pelajaran pada Levin, dia harus membuat tetangganya itu mengerti apa posisinya di sini.
"Pak, ada tamu di bawah. Beliau ingin bertemu Anda."
"Oh, tamu? Siapa ya? Saya merasa tidak sedang membuat janji dengan siapa pun hari ini." Levin membuka kaca matanya dan menyimpan di atas tumpukan kertas. Dialihkannya sejenak pekerjaan yang sedari tadi menyita banyak waktu, dan beranjak dari kursi.
"Ssaya kurang tahu, beliau hanya titip pesan agar Bapak berkenan menemuinya."
"Laki-laki atau perempuan?"
"Laki-laki, Pak." Levin mengangguk, mengerucutkan bibir sebelum akhirnya meminta asistennya keluar dari ruangan itu setelah mendapatkan persetujuan.
Levin sama sekali tidak berekspektasi jika yang datang adalah Fattah, yang mendadak jadi rival dalam beberapa hari belakangan ini. Hingga kemudian, setelah beberapa menit menunggu, pintu ruangan diketuk dari luar.
"Silakan masuk!" ujarnya.
"Selamat pagi, Bapak Levin Adrial Atmajaya."
"Oh, Dokter Fattah rupanya. Suatu kehormatan besar kantor ini dikunjungi oleh Anda." Levin tersenyum dan itu sedikit menyebalkan di mata Fattah.
"Maksud Anda apa?"
"Tunggu! Silakan duduk dulu, biar saya meminta OB membuatkan minuman untuk Anda."
"Tidak usah repot-repot. Langsung pada intinya saja karena saya tidak punya banyak waktu di sini."
"Ah, ya ... saya lupa, berprofesi sebagai dokter memang tidak pernah banyak waktu luang, kecuali untuk seseorang special, benar begitu, kan?"
"Berhenti omong kosong!" Fattah tersulut, dia tahu jika ucapan Levin barusan mengacu pada sebuah sindiran atas dirinya. Ya, Fattah akan meluangkan banyak waktu jika itu berkaitan dengan Laras, sementara pada Syakira ia hanya mengabaikan perempuan itu.
"Jauhi Syakira, kalau Anda ingat, statusnya masih menjadi istri saya."
"Oh ya? Setelah surat gugatan turun dari pengadilan agama, apa Anda masih menganggap Syakira seorang istri?"
"Anda ini ..."
"Hei, jangan emosi, Pak. Santai ..., di sini semua orang didik untuk tidak mengedepankan emosi. Jadi, tolong jaga sikap."
"Anda yang menyulut emosi!"
"Saya hanya bertanya, apakah pertanyaan saya terlalu keras sehingga membuat Anda tersulut?"
Fattah menebalkan rasa sabar, sepertinya mendatangi kantor milik Levin, bukan hal yang benar. Lihat! Dia malah dipermainkan oleh laki-laki di depannya ini.
___________
Fattah menggenggam erat setir kendaraan, berusaha menurunkan kembali kemarahan yang menggebu-gebu di kepala dengan cara menyandarkan kepala ke punggung jok.
Sialan, pikirnya.
"Saran saya lebih baik Anda saja yang menjauhi Syakira, kasihan dia, berhenti membuatnya semakin kalut dan terpuruk. Lepaskan dia seperti apa yang diinginkan."
"Apa maksudnya?"
"Harus disakiti dari sisi mana lagi, perempuan rapuh itu?" Levin terkekeh pelan, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya, "Setelah semua yang terjadi, Anda datang seakan-akan tidak merasa bersalah, padahal Anda lah pemicu segalanya."
"Apa maksudnya?"
"Anda tidak tahu atau berlagak tidak tahu? Rumahnya terbakar setelah Syakira pulang dari rumah sakit, hancur lebur sehingga ia kehilangan tempat tinggal yang merupakan harapan satu-satunya. Siapa pelakunya kalau bukan Anda?"
"Jaga mulut Anda ya. Jangan menuduh saya sembarang!"
"Memang kenyataannya begitu kan? Penderitaan Syakira, kesedihannya, kehancurannya. Itu yang Anda tunggu bukan? Itu yang menjadi titik tujuan utama Anda menikahinya bukan?"
Fattah terhenyak mendengar semua ucapan Levin. Sungguh, dia merasa menjadi manusia paling biadab di muka bumi ini setelah Levin secara terang-terangan menyudutkannya begini.
"Cukup! Tudingan Anda tidak berdasar."
"Oh ya? Lalu apakah menurut Anda Syakira yang berbohong di sini?"
"Dia–"
"Dia menceritakannya setelah sekian banyak luka bernanah di dalam hatinya. Mungkin ia akan lebih bisa bersabar jika semua hanya terjadi padanya, tidak dengan kehilangan Om Rizal juga rumah milik Om Rizal. Semoga setelah ini, hidup Anda baik-baik saja, Pak. Pintu keluar ada di sebelah sana!"
"Saya belum selesai!"
"Dan saya tidak peduli, karena di sini, saya akan tutup telinga atas permintaan Anda!"
"Sialan!" Fattah benar-benar emosi.