18

1103 Words
"Fattah ... " Di tengah pening yang menjajah kepala, Laras datang menampakkan batang hidung dengan wajah berseri-seri, kedatangan perempuan itu, tentu bukan karena undangan Fattah, Laras berinisiatif datang sendiri entah untuk apa. Sungguh pemandangan seperti itu bukan lagi sesuatu yang dinanti. Karena sekarang perasaannya sudah menguap pergi menjauh sejak beberapa hari terakhir ini. Fattah membuang napas keras ketika sosok itu kian mendekat, suara heels perempuan itu terdengar memantulnkrtika beradu dengan petakan keramik membuat Fattah jengah bukan main. Dilarang datang ke rumah, Laras justru nekat mendatangi kantor. Benar-benar. "Kok mukanya asem gitu sih? Nggak mau sambut aku gitu? Ck. Nyebelin." Tangan Laras yang semula merentang ke samping, terpaksa diturunkan bersamaan dengan raut wajah yang diubah keruh. Senyumnya memudar dan bibirnya mengerucut. "Aku lagi capek, Ras, lagi nggak minat," sahut Fattah sembari menekan pangkal hidung. Laki-laki itu menghela napas beberapa kali guna mengusir kegusaran dalam rongga d**a. "Kenapa? Lagi ada masalah apa gimana?" Langkah kaki itu pun kembali berayun, mendekati Fattah yang masih bertahan dalam posisinya. Niatnya tentu saja ingin menghibur laki-laki yang terlihat jemu di sana. "Ras ... please, bukannya udah aku peringatkan kalau mulai sekarang nggak usah–" "Sstts ... stop!" Ujung telunjuk dengan kuku panjang dan bersih itu menepi di permukaan bibir Fattah, meminta laki-laki itu diam dan tak berkata apa-apa lagi. Tentu saja mendapati hal demikian Fattah pun membuang napas. "Udah, nggak usah sok-sok menolak kedatangan aku. Aku tahu kamu kayak gini cuma karena denial aja, ya kan? Kamu nggak sendiri, kok. Aku juga nggak memungkiri kalau sampai sekarang perasaanku sulit jauh dari kamu. Apalagi setelah sesuatu terjadi di antara kita saat di rumah sakit. Aku merasa jadi semakin menggebu-gebu." Fattah semakin pusing mendengar ocehan Laras tanpa jeda, membuat dua telinga seperti mendengung hendak pecah. "Kenapa dibahas lagi?" "Apanya?" "Soal di rumah sakit itu?" ujar Fattah meradang. "Salahnya di mana kalau masih dibahas? Kita bisa mengulangnya kalau kamu mau. Di sini." Wajah Laras mendekat tepat pada tepi telinga Fattah, berbisik dengan menciptakan napas menderu, merasai tiupan hangat nalas dari Laras, Fattah memejamkan mata. Tangannya terkepal di sisi tubuh masing-masing. Berusaha menormalisasikan sesuatu yang bergejolak. Tidak! Ini semua tidak boleh lagi terjadi. "Turun dari pangkuanku!" titah dengan suara dingin, akan tetapi penuh penekanan. "Kenapa emangnya? Biasa kamu suka, ya kan?" "Ck, tolong lihat situasi. Ini di kantor. Ayo, turun!" "Ras ..." Laras tak mengindahkan permintaan Fattah, dia tetap duduk di pangkuan pria itu dengan kedua tangan melingkar pada leher Fattah. Bahkan dalam posisi intim seperti ini, Fattah sudah seperti kehilangan gairah. Yang ada dalam pikirannya sekarang hanya Syakira, Syakira, dan Syakira. Dia bertanya-tanya di mana perempuan itu sekarang tinggal? Apakah kabarnya sehat? Apakah dia Tidka mengalami trauma setelah rentetan kejadian ironis telah menimpanya? "Fattah–" "Cukup! Turun dari sini!" Laras memekik, ketika kedua tangan yang melingkar tadi dipaksa untuk lepas. Hingga perempuan itu nyaris terjengkang jika saja tak mampu mengimbangi diri. Perlakuan Fattah memang sedikit keterlaluan, tetapi tidak ada pilihan ketika Laras berbuat semakin jauh setelah mendapatkan ultimatum. "Kenapa kasar banget sih? Salah aku apa sampai kamu berbuat kayak gini sama aku?" "Sudah aku bilang lebih baik kita balik ke mode awal. Berhenti melakukan kegilaan ini, Laras. Aku mohon." "Kenapa? Kenapa Nita harus berhenti setelah semua terjadi? Apa alasannya? Apa karena Syakira?" "Iya, alasannya adalah Syakira. Puas kamu." Karena sudah tidak tahan, Fattah menghardik Laras tanpa memikirkan bagaimana perasaan perempuan itu nantinya. Persetan! Fattah berharap setelah pengakuannya barusan, Laras berhenti merecoki lagi. Hidupnya sudah teramat pusing setelah kepergian Syakira, apalagi dengan rasa bersalah yang masih menggembung di dalam d**a. "Aku sudah duga ini dari awal, kamu ..." Tangan Laras terangkat, menunjuk-nunjuk di depan hidung Fattah dengan perasaan marah. "Kamu berubah karena dia, karena Syakira, mana janjimu? Mana janji yang katanya akan terus mencintaiku. Kamu jahat! Kamu membohongiku Fattah." "Perasaan nggak bisa ditebak, Laras. Mungkin dulu aku mendambakan kamu, tapi enggak untuk sekarang dan mungkin seterusnya. Aku sadar, kalau seharusnya aku mencintai istriku, hanya dia yang boleh mendapatkan bagian hatiku alih-alih kamu." Plak! Satu tamparan keras mendarat ke permukaan pipi Fattah. "Lihat saja nanti! Aku akan melakukan sesuatu yang nggak pernah kamu duga sama sekali. Satu langkah udah aku lakukan dan langkah-langkah berikutnya akan terus aku lakukan. Kamu akan menyesal Fattah." Laras menyambar tasnya sebelum akhirnya berlalu pergi dengan sejuta rasa kecewa yang menggelayuti hati. Sementara Fattah yang masih dikuasai oleh api amarah, lekas menyugar rambut ke belakang, napasnya memburu tak menentu. Ancaman Laras barusan tentu saja menggangu pikirannya. Fattah melempar punggungnya pada kursi dan kemudian menengadah. Masalah demi masalah datang silih berganti. Semua tentu saja membuat hari-hari Fattah tak pernah tenang sedikitpun. "Dari siapa?" tanya Laras ketika melihat kotak bekal berisi makan siang. "Oh, ini dari salah satu keluarga pasien." Bibir Laras mencebik, melongok sekilas pada kotak berwarna cream di hadapan Fattah. "Nasi goreng pakai telur dadar?" Laras menaikkan sebelas alis, menatap tak percaya pada benda yang teronggok siap disantap tersebut. "Ya, kenapa?" "Nggak apa-apa sih? Omong-omong keluarga pasien yang mana nih? Tumben ada yang seperhatian ini sama pacar aku?" "Ada pokoknya. Jangan cemburu ya kalau ada yang kasih aku perhatian lebih kayak gini, aku yakin mereka hanya ingin mengapresiasi hasil kerjaku aja." "Iya, nggak masalah, asal cukup tahu diri aja, kalau Dokter Fattah ini punya Laras." Fattah tersenyum kemudian mengangguk. Ia mengulurkan segelas air minum kemasan pada Laras dan menyiapkan untuknya sendiri. "Siapa namanya?" Fattah terkekeh, ternyata Laras masih digandrungi rasa penasaran terkait ini rupanya. "Keponakannya Om Rizal yang ngasih." "Yang cewek pakai hijab itu?" "Heem, ya ..." "Ck, hati-hati! Jangan terlalu deket dan open sama dia." "Kenapa?" Fattah menghentikan kegiatannya me-lap sendok dengan tisu. Kedua alis tebalnya menyatu penasaran. "Ada rahasia besar yang aku tahu, tapi kamu nggak tahu tentang dia." "Apa itu?" "Ini rahasia, mana mungkin aku bocorin sama kamu." "Oh, ya udah sih, nggak usah aja." Fattah melanjutkan kegiatannya, bersikap acuh tak acuh. Akan tetapi hal itu justru membuat Laras menjadi tidak nyaman. Tatapannya penuh cemas, bagaimana jika seandainya Fattah memiliki hubungan lebih dengan Syakira? Ya walaupun Fattah sudah memilikinya sebagai kekasih, tetapi bagaimana jika tanpa sengaja perasaan itu bercabang? Tidak! Laras tidak boleh membiarkan hal ini terjadi. "Tapi janji ya, jangan kamu kasih tau siapa-siapa? Cukup aku sama kamu yang aja yang tahu soal ini." "Jadi, mau cerita? Nggak rahasia lagi dong namanya? Nggak apa-apa?" Laras mengambil napas panjang lalu mengembuskan kasar. "Ya, nggak ada pilihan lain." "Oke, cerita aja!" "Yang aku tahu, keponakannya Om Rizal itu anaknya si bapak yang nabrak ibu kamu." Oh sial! Laras sudah mempengaruhi pikirannya, perempuan itu telah berhasil membuat Fattah membenci Syakira detik itu juga. Seandainya saja ia mencari tahu sumber yang benar, tentu semua tidak akan terjadi seperti ini. Ah bagaimana sekarang? Perempuan biadab! Fattah menjerit dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD