19

1013 Words
"Kamu yakin tetap tinggal di sini?" Syakira mengangguk pasti, ia sudah memikirkan ini secara matang. Toh, tempat tinggalnya tidak begitu buruk dibanding sebelum ini, asal damai dan dapat menentramkan, apa salahnya? Sebetulnya sudah berkali-kali Levin menawarkan tempat tinggal sementara yang lebih layak dibanding ini, tetapi berkali-kali itu pula Syakira menolak. Meski surat perceraian sudah di layangkan ke pengadilan agama, dan sebentar lagi akan resmi menyandang status sebagai seorang janda, tetapi Syakira harus tetap menjaga marwahnya sebagai seorang perempuan. Selain itu, ia merasa jika sudah cukup banyak merepotkan Levin selama beberapa hari terakhir ini, dan tidak ingin terus merepotkan laki-laki itu meski Levin memaksanya. Biar saja tinggal di sebuah indekos sederhana dengan harga ekonomis, yang penting ia jauh dari gosip miring apabila harus bergantung pada laki-laki yang bukan mahram. "Maaf saya hanya tidak ingin terus merepotkan Mas Levin. Bantuan Mas sudah cukup banyak untuk saya, Mas," Syakira menolak halus, berharap setelah ini tidak ada lagi tawaran-tawaran yang pernah menjamah telinga. "Saya nggak pernah merasa direpotkan padahal." Laki-laki itu berdecak, membuat Syakira langsung membawa pandangannya turun menatap lantai, ia kira Levin akan marah padanya, tetapi dugaannya salah ketika laki-laki itu kembali bersuara. "Ya sudah kalau tidak mau, nggak apa-apa. Tapi kalau kamu butuh bantuan segera hubungi saya ya," imbuh Levin dengan lemah lembut. Syakira tersenyum singkat, lalu mengangguk. "Oh ya, silakan tehnya mas, mumpung masih hangat." Disodorkannya cangkir tersebut kepada pria di depannya. Dan selagi memandangi sosok yang bergerak meraih gagang cangkir dan meminum isinya, Syakira menghela napas panjang. Sungguh dia tidak pernah bermimpi mengalami ini semua, apalagi sampai dekat dengan laki-laki yang merupakan tetangga suaminya itu. Siapa yang menyangka kalau takdir membawa arus hidupnya sampai ke tahap ini. Syakira takut, kedekatan mereka nanti menjadi sebuah bumerang. Apalagi keluarga Levin merupakan orang yang over terhadap pergaulan anak-anaknya, bagaimana jika Levin ketahuan dekat dengannya dan orang tua Levin justru berspekulasi yang tidak-tidak padanya? "Terima kasih, tehnya enak." Kembali mengukir senyum, Syakira hanya mengangguk tanpa membalas ucapan Levin. "Rencana kamu ke depan apa? Kerja atau buka usaha?" Syakira belum menjawab, ia belum memiliki wacana apa-apa dalam kepalanya. Semua masih terasa crowded. "Mungkin bekerja, Mas. Mungkin saya akan kembali pada pekerjaan saya yang lama." Ya, itu jawaban bagus. Kalau dia buka usaha, uang tabungannya tidak akan cukup, sebab ia tidak lagi memiliki uang lebih untuk bertahan hidup pada beberapa hari ke depan. "Ya, itu bagus. Nanti saya yang akan antar jemput–" "Nggak perlu, Mas. Saya akan berangkat sendiri saja. Bantuan Mas selama beberapa hari ini sudah lebih dari cukup." "Naik apa?" Syakira memandang sekilas Levin yang menatap ke arahnya, lalu membuang pandangan ke arah lain. Syakira bingung, Levin terlalu banyak ingin tahu tentangnya, terlalu memperhatikannya sampai Syakira merasa sangat tidak nyaman karena dianggapnya tindakan Levin lumayan berlebihan. "Naik angkot." "Oh, oke. Saya nggak maksa. Saya pulang dulu, ya. Nanti kalau ada waktu saya hubungi kamu." Syakira mengangguk singkat. Ia bangkit dari posisinya, mengantar Levin sampai ke pintu gerbang berwarna hitam. Setelah Levin pergi dari sana, ia kembali menutup pintu gerbang itu dan kembali masuk ke kamarnya. Syakira menaruh tubuhnya pada permukaan ranjang dan mengambil guling untuk dipeluk. Syakira mulai berpikir keras, bagaimana cara membuat Levin berhenti bersikap impulsif? Syakira merasa sedikit terusik dengan sikap pria itu padanya, masalahnya sekarang status Syakira sedang menggantung, sangat tidak etis jika membiarkan laki-laki mendekati seperti ini. Levin baru saja turun dari motor, dia mendapati Fattah berdiri di depan pintu gerbang miliknya. "Ada apa?" "Di mana Anda menyembunyikan Syakira?" "Saya tidak tahu apa-apa. Jangan asal menuding yang tidak-tidak," ujarnya sembari membuka helmnya. "Saya tahu, saya tahu Anda menyembunyikan istri saya. Tindakan ini benar-benar tidak bermoral, jangan sampai saya melaporkan tindakan Anda ini pada pihak berwajib." Ancaman Fattah, membuat Levin terkekeh alih-alih takut. "Melaporkan?" tanya Levin sembari menyimpan helmnya. "Anda ingin melaporkan saya?" Tawa Levin menguar untuk beberapa saat sebelum akhirnya redup. Tatapannya menajam pada pria di hadapannya. "Jangan mengada-ada, siapa yang percaya dengan omong kosong Anda? Mungkin yang terjadi nanti justru pihak berwajib akan tertawa melihat Anda melakukan hal ini," pungkas Levin mencemooh. Kesabaran Fattah mulai menipis. Tangannya mengepal di sisi tubuh masing-masing dan mengeratkan rahang. Secara impulsif, ia langsung menarik kerah kemeja Levin, tentu saja Levin terkesiap mendapat serangan mendadak seperti ini. "Beraninya Anda–" "Apa? Jangan buat keributan di sini, Pak Fattah, lihatlah situasi kita sedang di mana. Ingatlah reputasi Anda sebagai seorang dokter profesional, jangan hanya karena tersulut emosi, muka dan tindakan Anda ini menjadi tontonan masyarakat." Levin menangkis tangan pria yang semula menggenggam erat kerahnya. Tertawa sinis sebelum akhirnya pergi begitu saja. ______________ "Maaf, Ayah baru bisa datang menjenguk kamu, Sya." Syakira tersenyum, selain Levin yang tahu tempat tinggalnya, Syakira juga memberikan alamat tempat tinggal sekarang pada ayah mertuanya. Ia merasa tidak sopan jika menghilang dari radar begitu saja, walau bagaimanapun Chandra banyak berjasa dalam hidupnya, membenci anaknya, tidak membuat Syakira turut membenci ayahnya. Chandra berbeda dengan Fattah, sangat jauh berbeda kendatipun mereka memiliki hubungan darah. "Nggak apa-apa, Yah. Gimana kabar Ayah? Sehat?" "Alhamdulillah, sehat." "Maaf, waktu ayah sakit kemarin, aku nggak bisa datang jenguk." "Ayah mengerti, Sya. Jangan kamu pikirkan tentang ini. Yang penting sekarang kita sama-sama sehat." Syakira mengangguk, tangannya bergerak membuka tutup toples dan menyodorkan toples berisi kacang bawang tersebut kepada mertuanya. "Kemarin aku iseng-iseng bikin kacang bawang. Hasilnya lumayan sih kalau menurutku, coba ayah cicipin. Apa kacangnya enak?" "Ini kamu buat untuk siapa emang? Kenapa banyak sekali? "Untuk ayah. Semoga ayah suka, ya." "Makasih, Nak, kamu sama seperti ibu mertuamu, dia sering banget buat cemilan kayak gini untuk ayah," ujar Chandra sembari menangkup tumpukan kacang di dalam toples kaca. "Oh ya?" Chandra mengangguk, menanggapi pertanyaan Syakira yang cukup excited. "Apakah ibu mertuaku sosok sang menyenangkan, Ayah?" "Sangat, Sya. Dia banget sekali, lemah lembut, dan penuh perhatian. Sama siapapun itu, dia selalu bersikap ramah dan tamah. Cuma sdikit bar-bar saja." Chandra terkekeh mengingat sosok almarhumah sang istri yang sudah berpulang beberapa tahun silam. Sosok Yasmin yang tak pernah mati dalam sanubari Chandra meski raga sudah melebur menjadi satu dengan tanah. "Gimana perkembangan kamu soal perceraian kalian?" Tiba-tiba pertanyaan Chandra yang mengudara, membuat Syakira spontan mengangkat pandangan, menatap sekejap netra mertuanya lalu menghela napas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD