"Hah ...," Syakira meniup napas ke udara, ia sepertinya sudah mulai bosan setelah sedari tadi menekuni layar monitor, terlalu bingung bagaimana cara membunuh waktu sebab mata masih terbuka lebar, hingga akhirnya memilih untuk berselancar di media sosial sampai tak terasa sudah melewati empat jam lamanya. Perlahan ekor mata bergeser menatap jam dinding lalu berdecak.
Jarum pendek sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi entah mengapa matanya sulit terpejam. Seharusnya yang terjadi adalah ia tidur lebih awal agar esok datang lebih pagi ke kantor guna menemui atasannya.
Digigitnya pipi bagian dalam kala kembali ingat permintaan Fattah, sebetulnya mengambil langkah resign bukan hal mudah karena kantor tempatnya bekerja merupakan saksi bisu bagaimana perjuangannya tertatih dalam memulai segalanya dari nol. Syakira belum siap, ini terlalu mendadak.
Dibawanya punggung lelah itu bersandar pada kursi berwarna cream dan bergerak mengurut pelipis dengan pijatan ringan demi mengurangi pening yang mendadak melanda.
Apa harus seperti ini akhirnya? Menikah membuatku harus kehilangan hak? Astagfirullah...
Berasa sama kemelut hati yang gundah gulana, Syakira memutuskan untuk pergi ke dapur. Ia butuh minuman hangat untuk menurunkan kadar stress dalam pikirannya.
Selagi menunggu air panas mendidih di kompor, ia
menyandarkan pinggang pada tepian meja keramik, tatap matanya memang sangat fokus memandangi teko di depan sedang pikirannya pergi berkelana melanglang buana.
Klek!
Atensinya mendadak beralih begitu mendengar suara pintu terbuka, dan tak lama setelah itu sosok Fattah muncul keluar dari kamar. Meski ia tampak dalam mood yang hancur, tetapi berusaha tidak memperlihatkannya pada Fattah.
"Mau minum, Mas?" tanyanya sopan ketika jarak mereka cukup dekat.
Alih-alih merespon dengan baik, pria itu justru hanya berdehem singkat, diabaikannya keberadaan Syakira di sekitarnya. Syakira hanya diam memerhatikan kegiatan Fattah di sana.
Cuinggg ....
Teko air itu berbunyi, menyadarkan Syakira yang sedari tadi tenggelam memandangi punggung Fattah di meja makan, karena terlampau terkejut tanpa sengaja kulit tangannya bersinggungan dengan permukaan teko panas, membuat gadis itu spontan menjerit.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Mas. Makasih." Perlahan tapi pasti, Fattah mengendurkan genggamannya dan memalingkan pandangan.
"Lain kali hati-hati!" ujar pria itu kemudian berlalu begitu saja.
Di belakang punggung tegap dan lebar milik Fattah, Syakira kontan meraba d**a yang tiba-tiba saja berdebar kencang, senyumnya pun berkembang sempurna. Meski kalimat yang terlontar tersebut terdengar datar tanpa nada, tetapi hal tersebut cukup membuat Syakira merona. Seluruh darahnya seakan berpusat di satu titik yaitu bagian pipi.
Berbeda dengan respon Syakira–berbunga-bunga, Fattah justru sangat menyesal melakukan kontak fisik dengan perempuan itu.
__________
"Silakan diminum ..." Syakira memindahkan cangkir teh buatannya dari baki dan meletakkannya di atas meja kaca. Petang ini Fattah sedang kedatangan tamu yang tak lain adalah Laras dan ibunya. Syakira tahu siapa Laras, ia pernah beberapa kali berjumpa dengan perempuan itu sebelum pernikahan mereka berlangsung. Laras dikenalnya sebagai sepupu Fattah, tetapi, ada yang aneh dari gelagat keduanya. Karena dipandangan Syakira, antara Laras dan Fattah–mereka tak ubahnya sepasang kekasih yang saling mencintai, bukan saudara.
"Apa kabar, Sya?" Syakira menarik kedua sudut bibir ke atas ketika perempuan muda itu bertanya padanya. Kalau diperkirakan usianya dengan Laras sebaya, sama-sama dua puluh lima tahun tetapi lebih tua dirinya tiga bulan.
"Aku baik, kamu sendiri?"
"Aku juga baik. Makasih tehnya." Syakira mengangguk sebelum akhirnya beranjak dari ruang utama.
Syakira tidak berminat bergabung, rasanya sangat rikuh jika harus ikut nimbrung di sana apalagi dalam keadaan tidak terlalu akrab.
Dibawanya tubuh itu duduk di kursi meja makan, dalam keadaan seperti ini tiba-tiba saja perasaannya menjadi gelisah. Sebenarnya apa tujuan Laras datang kemari? Apa hanya sekadar menyerahkan surat undangan atau lebih dari pada itu? Jujur saja ia tidak bisa menaruh pikiran positif pada perempuan itu, pasalnya setiap berjumpa, Syakira selalu memergoki kemesraan mereka.
"Sya ... Tante numpang toiletnya ya." Itu Rita, ibu dari Laras. Syakira yang semula tenggelam oleh kecemasan pun berusaha tersenyum dan mengangguk.
"Silakan, Tante," tuturnya lembut.
"Oke, Makasih." Perempuan itu berlalu, kembali menyisakan Syakira sendiri di sana.
Pikirannya kembali berperang hebat apakah sebaiknya ia menghampiri Fattah atau lebih baik tidak? Ia menatap bergantian pada ruang utama dan kamar mandi di ujung sana.
Karena tak kuasa menahan diri, Syakira memilih bangkit dan menghampiri ruang utama, ia sengaja melakukan ini lantaran tidak ingin suaminya berduaan dengan perempuan lain.
Begitu langkah kaki sampai di tempat tujuan, Syakira tak mendapati keberadaan Laras maupun Fattah, di sana perasaannya bertambah gusar tak menentu.
Kemana mereka? tanya dalam hati. Sepintas ia menoleh ke belakang, menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat.
Bersamaan dengan itu sayup-sayup telinganya mendengar percakapan di teras rumah.
Apa itu mereka? Meski hatinya tak punya nyali sekuat itu untuk menguping pembicaraan mereka, tetapi tekad kuat memaksanya untuk melakukan hal yang sebetulnya tidak boleh. Syakira kembali berperang dengan pikirannya, beragam pertanyaan mulai timbul menghantui hingga keringat dingin keluar dari seluruh tubuh.
"Bismillah, aku harus berani. Ya, harus!" Tungkainya berjalan perlahan pijaki lantai granit hitam yang tertanam. Hingga ia berhasil mencapai pintu dan melihat punggung dua manusia berbeda gender di depan sana.
"Aku yakin, Syakira adalah perempuan yang tepat buatmu. Terbukti Om Chandra nggak ragu menikahkan kamu sama dia. Padahal usia perkenalan kalian baru terjadi dua tahun."
"Ya, bisa jadi alasannya adalah benar. Tapi meski begitu aku nggak bisa menerimanya. Hatiku masih terpaut sama kamu, Ras. Aku masih cinta sama kamu."
Deg!
Detak jantung Syakira seakan berhenti berfungsi seketika begitu mendengar apa yang dibicarakan oleh mereka.
Tangannya spontan meraba d**a yang berdenyut hebat.
Jadi, spekulasinya benar? Antara Fattah dan Laras ...
"Tapi kita nggak bisa sama-sama, aku dan kamu, kita udah punya jalan yang berbeda, Fattah. Seperti yang kamu tahu, kedatanganku ke sini mau mengabarkan tentang pertunangan aku sama Yorda. Jadi, aku mohon berhenti membahas tentang perasaan kita."
Syakira menitikkan air mata, tak hanya meraba d**a, tangannya bergerak impulsif meremas bandul kalung pemberian Fattah kala mereka melakukan ijab qobul seminggu lalu.
"Kamu menerima lamaran Yorda?"
"Iya, karena putus asa. Kita ini nggak bisa bersama, Fat. Hubungan kita nggak ada restu dari ayah kamu. Lantas aku harus apa selain akhirnya menerima Yorda?" Laras tiba-tiba saja menangis usai mengeluarkan unek-uneknya dan dengan sigap Fattah memberikan rengkuhan pada perempuan yang kini terisak di d**a bidangnya. Mereka berpelukan cukup lama dan nyaman satu sama lain, tanpa peduli ada hati yang terkoyak memerhatikan merek berdua di belakangnya.
Bukan sekadar setitik dua titik bulir bening yang meluncur dari pelupuk mata, bahkan tumpah ruah membanjiri pipi.
Jadi, ini alasannya? Syakira membatin dan bergegas pergi dari tempatnya berdiri.