Tiga

1130 Words
"Saya datang kemari karena bertujuan ingin melamar Syakira, Om." Syakira yang mendengar ucapan Fattah di balik tirai pintu tertegun untuk beberapa saat. Mereka mengenal tidak lama, baru sekitar dua tahun lalu. Pertemuan keduanya bermula ketika Rizal–paman Syakira–dirawat di rumah sakit. Perkenalan mereka juga cukup lazim karena di sini peran Fattah merupakan dokter yang menangani Rizal. Lalu lambat laun interaksi mereka semakin intens usai Syakira turut mengenal Chandra–ayah Fattah. Sepertinya Chandra jatuh cinta pandangan pertama pada seorang Syakira yang berkepribadian baik dan santun, hingga Chandra akhirnya memutuskan agar Fattah datang meminang Syakira dengan dalih perjodohan. "Waduh, Dok. Jujur saya merasa tersanjung sekali atas tujuan baik Anda kemari. Tetapi, apa Dokter sudah berpikir secara matang untuk meminang Syakira? Maksud saya, starta sosial kita berbeda," sahut suara ringkih tersebut, kesehatan Rizal akhir-akhir ini sering terganggu, itu sebabnya pria tersebut tidak memiliki banyak tenaga dalam berbicara. "Derajat kita sama di hadapan Tuhan, Om. Jadi, tidak masalah bagi saya." Syakira memejamkan mata sekejap di sana. Menyandarkan punggung pada dinding usang di rumah sang paman. Seluruh percakapan antara dua pria dewasa berbeda generasi diserap dengan baik di telinganya, dan di sini perasaannya menjadi bercampur aduk seketika. Ada rasa haru, terkejut, bahagia dan segala bentuk rasa berbaur. Fattah memang baik di matanya, sikapnya yang penuh perhatian dan dewasa dalam menyikapi segala masalah, membuat Syakira cukup terkesima. Sempat ia memiliki perasaan pada laki-laki berusia tiga puluh tahun itu, tetapi sebelum tumbuh semakin subur, Syakira cepat-cepat membabat habis perasaan yang dianggapnya salah. Dia sadar jika rasanya sangat tidak pantas berharap pada sosok paripurna seperti Fattah sementara dia merupakan pusat kekurangan. Namun, setelah hari ini kedatangan Fattah ke rumah ini, pemikiran tak pantas yang bersemayam seakan terpatahkan. Perasaan yang sempat dibunuh paksa lantas perlahan timbul kembali. Bolehkan Syakira bersyukur atas semua ini? Apakah ini merupakan balasan dari doa yang selama ini dipanjatkan? "Saya akan bicarakan ini pada Syakira terlebih dahulu, Dok. Karena keputusan ada padanya. Semoga saja Dokter berkenan menunggu jawabannya." Syakira kembali mengintip dari celah tirai. "Tidak masalah, sebanyak apa pun waktu yang diperlukan, maka saya siap menunggunya, Om." _____________ "Seperti yang saya janjikan tadi malam, kalau hari ini saya akan menjawab pertanyaan Anda." "Jadi, apa jawaban kamu?" Mereka berdua sedang duduk di taman dekat rumah Rizal, usai datang melamar Syakira beberapa pekan lalu, Fattah kerap kali datang ke rumah itu. Entah sekadar ingin menjenguk Rizal yang keadaan "Saya menerima lamaran Anda, Dok." Tanpa mengulur waktu lebih lama lantaran ini sudah memasuki Minggu ketiga, akhirnya Syakira memberikan jawaban lugas. Senyum berkembang dari kedua sudut bibir Fattah dan berterima kasih pada Syakira karena sudah berkenan menerima lamarannya. "Terima kasih, Sya. Saya akan segera memberi tahu kabar baik ini sama ayah." Syakira mengangguk kemudian tersenyum. _______________ Sepenggal ingatan tentang semua itu mengambang tanpa diminta, Syakira menangis dalam diam di kamar yang kini tertutup rapat, batinnya terluka parah, atau bahkan mungkin butuh perawatan intensif di IGD. Ditegakkan tubuh yang semula meringkuk di belakang pintu dan bergegas menghapus air mata. Ia berjalan mendekati jendela kamar, menerawang jauh ke depan memerhatikan udara lepas yang tak berwujud. Napasnya memburu, tangannya menggenggam kuat teralis besi di jendela kamar. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Satu Minggu jeadalah waktu yang sangat singkat untuk mengakhiri hubungan rumah tangga mereka. Tetapi untuk bertahan pun rasanya sangat mustahil setelah mengetahui ternyata Fattah masih menyimpan rasa pada wanitanya. Syakira tidak ingin berjalan pada seutas tali yang rapuh, yang sewaktu-waktu akan putus dan menjatuhkannya pada lubang penderitaan. Lebih baik sakit sekarang, tetapi jangan berlarut-larut karena bertahan. Bulir-bulir bening kembali menitik, jika memang Fattah masih mencintai Laras, kenapa justru dirinya yang dinikahi? Apa karena semua dilandasi paksaan dari Chandra? Mengingat pria paruh baya itu kerap kali menggodanya ingin menjadikan Syakira sebagai menantu. Kalaupun iya, kenapa tidak ada penolakan? Fattah seratus persen punya wewenang untuk menolak tanpa harus membuat perasaannya terlibat dalam konflik pelik ini. Dia tidak tahu sudah berapa lama berdiri melamun di sana, tak terasa malam datang menggantikan posisi petang. "Sya ..." Suara ketukan dari luar, menyadarkan Syakira dari keterpakuan. Ia bergegas membuka pintu meski sadar matanya sudah bengkak sekarang. "Ya, Mas?" Tidak berani menatap lawan bicaranya, ia tundukkan pandangan pada kedua kaki telanjangnya. "Tamunya sudah pulang, kenapa kamu mengurung diri di kamar?" Syakira menghela napas lalu mengucapkan kata maaf. Tak ingin berada dalam keadaan canggung, Syakira bergegas meninggalkan Fattah yang masih berada di ambang pintu kamarnya. Ia pergi ke rumah tamu untuk membersihkan meja. Di atas meja itu, ia menemukan surat undangan milik Laras. Kedua sudut bibir spontan tersenyum, tapi getir. Seharusnya bukan dia yang ada di posisi ini, seharusnya Laras yang dipinang oleh Fattah. Semua ini adalah salah, seharusnya yang terjadi dulu ia menolak lamaran Fattah. Hah ... Sungguh, terlambat untuk menghentikan perasaannya, karena sekarang Syakira sudah menyerahkan sepenuhnya cinta yang dimiliki pada sang suami. Tanpa ingin menyentuh apalagi membaca isinya, Syakira memilih mengabaikan selembar surat undangan itu, ia bergegas pergi membawa dua buah cangkir kotor ke belakang. Di dalam kamar. Fattah memikirkan tentang perbincangannya dengan Laras tadi, hatinya belum rela karena harus melepaskan Laras begitu saja. Menikahi Syakira, memang bukan keinginannya, tetapi di sini, ia memiliki misi kenapa harus sekali mengikat perempuan yang sejak awal mampu mengambil hati sang ayah. Kepalanya tiba-tiba merasa pening sekali, ia menoleh sekilas pada meja kerja di kamarnya demi menatap lembar coklat yang tak lagi terbungkus oleh plastik. Yorda Alaska ... Pria itu merupakan sahabat baik Fattah sejak masih anak-anak, putra semata wayang dari sepasang suami istri yang merupakan sahabat mendiang sang ibu– Yasmin Annora. Yorda memang memiliki perasaan pada Laras kala itu terhitung sejak mereka duduk di bangku SMA, tetapi memilih untuk menguburnya setelah tahu jika Fattah lebih mencintai Laras hingga mereka akhirnya berpacaran selama dua tahun lamanya. Yorda sangat baik, demi menjaga persahabatan dengannya, ia rela berkorban, rela sakit hati lantaran harus melepaskan Laras yang disukai sejak lama. Tetapi, saat ini ketika akan melihat Laras akan bersanding dengan Yorda di pelaminan nanti, membuat Fattah merasa sakit sekali. Fattah merasa ada letusan api tak kasat mata yang melelehkan seluruh hati hingga menyisakan arang tak berguna. "Oh, Laras ... kenapa semuanya harus seperti ini? Kenapa pada akhirnya aku nggak bisa milikin kamu?" Bayangan tentang Laras tiba-tiba saja berputar di atas kepalanya, kebersamaan mereka, kebahagiaan mereka hingga janji untuk saling menjaga selamanya. Baginya Laras adalah perempuan yang begitu pantas untuk mengisi kekosongan hati, karena Laras berkepribadian dewasa dan bersahaja, tak usah heran jika pada akhirnya betapa Fattah mencintainya begitu besar. "Apa kamu bahagia sama Yorda?" Fattah tertawa kecil lalu menggeleng pelan, "Kalau iya, itu artinya kamu membuatku semakin sakit, Ras, karena aku nggak bisa melepas kamu gitu aja, aku sayang kamu, demi apa pun." Gumaman itu mengudara di suasana yang sepi dalam ruang sendiri. Namun, sayang sekali bukan hanya Fattah yang dapat mendengarnya, tetapi ada sepasang telinga lain turut mendengar dengan perasaan yang sudah lebih dulu hancur berkeping-keping.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD