Pukul 19:30 Diyo membawa Alra pulang, setelah menghabiskan waktu cukup lama di toko buku berdua. Nyatanya butuh waktu lama bagi Alra memilih novel . Ia harus membaca blurb, dan memberi komentar, membuat Diyo bosan.
Namun, Diyo menyukuri hal itu. Karena dengan begitu Diyo bisa membawa Alra tepat waktu.
Setelah menempuh perjalanan salama 45 menit, akhirnya mereka tiba di rumah. Alra dan Diyo masuk bersamaan. Biasa saja, tidak ada yang berubah sama sekali. Itu tanggapan pertama Diyo ketika masuk dan melihat rumahnya sama saja. Sebenarnya apa yang dilakukan temen-temannya?
"Om aku duluan, ya. Gerah banget."
Diyo hanya mengangguk. Rasanya ia ingin mengumpati teman-temannya. Ia mengambil ponsel dari saku celana, dan mendapati pesan dari Rian.
Kita udah selesai buat kejutannya. Gue yakin lu suka. Btw, makan malam juga udah siap
Have fun, Man.
Diyo semakin mengernyit. Pesan yang dikirim pukul 20.01 itu membuatnya bingung. Apanya yang sudah selesai? Apanya yang kejutan? Diyo seperti kambing bodoh melihat rumahnya tidak ada perubahan.
Diyo memilih menaiki tangga saja. Ia juga gerah dan harus mandi setelah bepergian seharian. Namun, langkahnya terhenti kala telinganya mendengar suara teriakan dari arah kamarnya. Dengan cepat ia menaiki tangga. Setibanya di kamar, lagi-lagi Diyo dibuat melongo. Bagaimana tidak, dinding kamarnya saat ini dihiasi foto-foto pria yang dikiranya pacar gadis yang tengah melompat-lompat kegirangan di depannya.
Apa ini? Norak sekali.
Alra masih dengan wajah riangnya mendekat ke arah Diyo. Tanpa sadar, ia memeluknya dari samping, membuat Diyo mematung.
"Makasih banget, Om. Kalau begini, serasa kamar sendiri. Dulu, Bunda enggak bolehin aku buat kamar aku kayak gini. Tapi berkat Om, aku bisa lihat Oppa tiap hari."
Diyo hanya mengangguk pelan. Ia berjalan menuju nakas, untuk meletakkan ponsel dan dompetnya. Di situlah ia menemukan benda yang membuatnya terkejut bukan main. Kali ini Diyo gagal mengontrol ekspresinya.
Di sana terdapat kertas bertuliskan, “Pakai ini kalau mau 'itu'. Bini lu kan masih sekolah.”
Tanpa sadar Diyo menepuk jidatnya. s****n sekali mereka, pikirnya. Sementara Alra yang melihat tingkah Diyo , mengernyit heran. Ia mendekat perlahan, membuat Diyo tidak sadar. Dengan polos, Alra menunjuk benda di genggaman Diyo.
"Itu apa?"
Diyo gelagapan. Ia segera menyembunyikan benda itu di belakang tubuhnya, membuat kadar kekepoan Alra semakin tinggi.
"Bukan apa-apa. Mandi sana!" perintah Diyo untuk mengalihkan perhatian.
Namun, Alra bukanlah gadis penurut. Sebelum kadar penasarannya hilang, ia akan terus mencari tahu.
Alhasil Alra menjulurkan tangannya ke belakang tubuh Diyo, membuat keduanya terlihat tengah berpelukan. Keadaan ini mengingatkan Diyo kejadian di rooftop kafe malam itu.
"Om lepasin. Aku cuma mau lihat doang."
"Enggak."
Diyo bergerak entah ke mana. Namun, saat akan melanjutkan langkah mundurnya, ia justru terjerembab ke belakang, membuatnya terhempas ke atas kasur. Tentu saja Alra yang sedari tadi berusaha keras mengambil barang di genggaman Diyo, ikutan terhempas ke atas tubuh pria itu.
"Ah," rintih Alra sedikit kaget.
Ia membuka mata seketika. Netranya lantas bertemu dengan mata Diyo. Situasi ini lagi-lagi menghentikan waktu di sekitar mereka. Diyo merasakan hal sama. Tubuhnya seolah tak ingin beranjak. Tatapan mereka terkunci.
Dalam keheningan yang melanda, tiba-tiba suara kejut membuat mereka menoleh bersamaan menuju asal suara.
Cekrek
Di sana, ketiga teman Diyo ditambah Naya, istri Rian tengah menatap keduanya dengan senyuman menggoda.
Dengan cepat Alra beranjak. Ia malu bukan main. Diyo berusaha bersikap biasa saja, sambil menatap keempat manusia itu dengan tatapan datar andalannya. Padahal jantungnya sedang berdegup tidak keruan saat ini. Ia merasa malu untuk pertama kalinya di depan teman-temannya.
***
Duduk di antara orang-orang dewasa membuat Alra gugup tidak keruan. Apalagi empat manusia asing itu menatapnya dengan senyum yang membuat Alra benci. Namun, Alra hanya bisa menunduk.
Diyo yang menyadari ketidaknyamanan gadis di sampingnya,hanya menghela napas pelan. Dia menoleh ke arah teman-temannya dengan tatapan tajam.
"Pulang sana!"
"Santuy dong," ujar Doni.
"Lihat lu berdua, bikin gue pengin cepet-cepet kawin," ucap Geri sedikit tidak nyambung.
"Lah, lu kan udah kawin? Sering malah," sambar Rian makin menjadi.
Alra yang mendengar itu mendongak, menatap Rian dengan bingung. "Sesering apa? Masa sering kawin?"
Kelima manusia dewasa itu saling tatap sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak, kecuali Diyo. Hal itu menambah kadar kebingungan Alra bertambah. Apanya yang lucu?
"Gila-gila. Bukan kawin yang itu, tapi---"
Rian belum sempat menyelesaikan ucapannya, sampai Diyo lebih dulu menyela. "Diam. Kalian lebih baik pulang!"
"Iya iya. Kita emang udah mau balik. Kasian anak ditinggal di rumah sama bibinya," ujar Naya.
"Yah. Penonton kecewa." Doni mulai bersikap dramatis.
"Udah. Kita pulang aja. Btw, Yo, ini fotonya dikirim enggak?" tanya Naya lagi.
Diyo kembali ingat kejadian tadi. Mereka memang sempat memotretnya. Tanpa pikir panjang Diyo bilang, "Hapus aja!"
Naya mengangguk. Ia mengalihkan tatapan kepada Alra yang lebih banyak diam. Ia hanya menatap dengan senyuman, sebelum akhirnya pamit diikuti ketiga pria itu.
Setelah terdengar suara mobil, Diyo menghela napas lega. Dia sudah akan berdiri, tapi tangan kecil Alra mencekalnya. Diyo menatapnya bingung.
"Aku masih belum paham. Maksudnya Kak Rian apa? Masa sering?"
Diyo paham apa maksud Alra. Namun, tidak mungkin ia menjelaskannya.
"Saya mau tidur."
Diyo melepaskan tangan Alra dari lengannya, lalu berdiri. Sedangkan Alra masih terpaku sambil masih mengernyitkan dahi, pertanda tengah berpikir keras.
"Kawin? Sering?"
***
Sekolah hari ini terasa lebih ringan dari kemarin. Alra tidak lagi bersedih, dan tampil dengan wajah berseri. Hal itu menarik perhatian Daniel yang sedari tadi memperhatikannya. Ia melangkah cepat menghampiri Alra.
"Kayaknya ada yang lagi seneng nih?" godanya.
Alra melirik Daniel sebentar. Masih dengan senyum yang mengembang, ia berkata, "Gitu deh. Masalah udah kelar soalnya."
Daniel mengangguk. "Aku seneng dengernya. Tapi kamu masih punya utang sama aku, ingat?"
Alra berhenti, diikuti Daniel. Sekarang mereka tengah berjalan di koridor menuju kelas masing-masing.
"Iya juga."
"Nanti aja gimana? Kamu sibuk?"
Alra menggeleng. "Enggak."
"Bagus. Nanti aku jemput."
"Jangan. Aku bisa pergi sendiri. Kamu tinggal kirim alamatnya aja."
Daniel mengangguk mengerti. Keduanya melanjutkan perjalanan menuju kelasnya masing-masing.
Saat Alra tiba di kelas, seperti biasa, kedua sahabatnya sudah ada di sana. Alra mendekat, menatap kedua sahabatnya dengan tatapan riang. "Coba tebak apa yang terjadi?" tanya Alra sok misterius.
Elis menatap Alra malas. "Elah. Langsung bilang aja kali. Enggak perlu sok misterius gitu lah."
Alra memberengut kesal. Ia duduk, menyandarkan badan pada sandaran kursi, seraya menatap Elis garang.
"Kenapa emangnya? Kayaknya bukan hal buruk deh," ujar Marta.
"Gue udah baikan sama Om Diyo. Dan yang paling penting, dia kasih kejutan. Gila, keren banget tahu," jelas Alra heboh.
Elis dan Marta tentu saja penasaran. Kejutan seperti apa yang bisa dilakukan seorang pria dingin macam Diyo.
"Kejutan apa?"
Alra mengambil ponselnya lalu memperlihatkan foto-foto dinding kamar yang dihias gambar-gambar idolanya. Kedua sahabatnya saling tatap, antara bangga dan pengin tertawa.
"Yakin itu suami lo yang buat?" tanya Elis ragu.
"Yakinlah."
"Kayaknya enggak, deh. Bayangin aja, suami lo dingin, cuek gitu. Masa buat yang beginian?
“Sumpah gue nggak bisa bayangin," tambah Marta seraya membayangkan hal yang baru saja dikatakan Elis barusan.
Di situlah Alra mulai berpikir hal yang sama. Ucapan mereka ada benarnya juga. Diyo tidak terlihat terkejut kemarin. Apa mungkin semua itu ulah teman-temannya ? Entah kenapa, Alra sedikit kecewa.
***
Diyo memijit pelipisnya kuat-kuat. Sejak memasuki kantor, banyak hal yang harus diurusnya. Hal ini dikarenakan ia tidak masuk kemarin. Meski begitu, ada rasa senang yang terbersit kala mengingat senyuman Alra.
Tanpa sadar Diyo ikut tersenyum kecil.
"Ada apa, Pak?" tanya sekretarisnya bingung melihat tingkah atasannya yang seperti itu.
Diyo menatap wanita dengan pakaian minim itu sekilas dan menjawab, "Bukan apa-apa. Siang nanti apa saya ada jadwal?"
Wanita itu melihat sesuatu di tablet-nya sebelum akhirnya mengatakan jika Diyo memiliki jadwal penting yang tidak bisa dilewatkan.
Diyo menghela napas pelan. Untuk hari ini, ia tidak bisa menjemput istrinya.
***
Seperi yang dijanjikan, sore ini Alra akan bertemu dengan Daniel. Alra mematut dirinya di cermin cukup lama untuk memastikan penampilannya. Ia hanya mengenakan t-s**t biru muda dan rok payung berwarna senada. Benar-benar penampilan anak SMA sederhana.
Alra teringat kejadian tadi siang. Ia menunggu hampi satu jam, tapi Diyo tak juga datang. Sampai sebuah pesan masuk,berhasil membuat senyumnya hilang begitu saja.Saya tidak bisa jemput.
.
Alra pergi ke tempat yang dijanjikan dengan ojek online. Pertemuan itu dilakukan di sebuah kafe yang kebanyakan diisi oleh para remaja seusianya. Ia pun masuk seraya menerawang, mencari sosok yang jadi tujuannya datang ke situ. Di sana, di meja paling pojok, matanya menemukan Daniel dengan penampilan keren. Hal itu membuat Alra berdebar. Ganteng banget. Beneran kayak Oppa.
"Lama, ya?" tanya Alra seraya duduk.
"Enggak. Emang akunya aja yang kecepetan. Makan yuk."
Di mejasudah terhidang makanan ala kafe. Alra menanggapi dengan senyuman, karena memang sedang tidak lapar.
"Ra?"
"Iya?"
"Kamu punya pacar?"
Alra tertegun. Bingung harus menjawab apa. Ia memang tidak punya pacar, tapi ia adalah gadis bersuami. Mungkin, Alra akan dengan cepat bilang 'tidak' seandainya Diyo tidak pernah ada. Namun, sekarang lain cerita. Setelah dua bulan bersama, Alra mulai terbiasa dengan kehidupannya.
"Ra?"
Alra sedikit kaget dengan suara Daniel yang sedikit lebih keras.
"Apa?"
"Aku nanya. Kamu udah ada pacar?" ulang Daniel.
"En-ngngak," jawab Alra ragu.
Daniel tersenyum. "Baguslah."
"Emangnya kenapa?"
Daniel manatap Alra mengulurkan tangan untukmengacak-acak rambut panjang Alra. "Nggak papa."
Tanpa ada yang sadar,kedua remaja itu tengah dipotret diam-diam.
***
Diyo mengetikkan sesuatu di laptopnya. Sudah lama ia tidak bekerja sampai seperti ini. Karena biasanya, bekerja setiap hari. Jika ada yang belum beres, ia pasti membawa pulang pekerjaannya ke rumah. Namun, , hanya untuk menyenangkan gadis itu, ia harus merelakan waktunya.
Ting
Sebuah notifikasi pesan masuk terdengar. Diyo sejujurnya malas membukanya, tapi melihat nama Gery tertera mengirim foto, akhirnya ia penasaran juga.
Dia mengambil ponselnya,. Dan membukanya dengan malasTatapannya berubah dingin ketika melihat gadis kecilnya disentuh lelaki lain, membuatnya merasa sangat kesal dan marah. Diyo langsung mencari kontak istrinya, mengetikkan sesuatu dengan huruf besa-besar, tanda dirinya tengah marah.
Sementara Alra di sana tengah asik bercengkerama, seketika menghentikan ocehan saat sebuah pesan masuk dari orang yang membuatnya tersenyum senang-. Isi pesan itu membuatnya mengernyit tiba-tiba.
“PULANG! CEPAT!”
***