Tidak semua harus dikatakan lewat ucapan. Harus terungkap melalui suara. Terkadang hanya hati yang harus saling memberitahu. Mereka jatuh cinta, mulai nyaman satu sama lain, mulai peduli, dan mulai saling memiliki. Mereka mulai paham, bahwa mereka memang ditakdirkan.
****
Alra masih terjaga, sekalipun sekarang sudah jam tidurnya. Ada perasaan bersalah karena Diyo harus bekerja lembur. Belum lagi pesan aneh tadi, membuat Alra sangat penasaran. Setelah menerima pesan itu, ia dan Daniel masih bercengkrama selama satu jam sebelum akhirnya pulang.
Sekarang, Alra memilih duduk di sofa seraya menonton drama di ponselnya. Hal itu dilakukan untuk mengusir rasa bosan.
Selama menunggu, dua episode berdurasi 1 jam sudah selesai ditonton. Tepat saat akan melanjutkan episode selanjutnya, matanya menangkap sosok Diyo datang. Alra lantas berdiri. Rasa bersalah itu semakin menjadi, saat Alra melihat wajah lelah Diyo .
"Duduk, Om!" ajak Alra mempersilakan.
Diyo duduk menyandarkan badan di sandaran sofa, sambil menutup matanya, tapi tidak terlelap. Ia hanya berusaha meredakan lelah. Alra yang menatap itu jadi teringat sesuatu. Dulu, setiap kali ayahnya pulang larut atau pulang dengan keadaan penat, pastilah bunda langsung memijatnya. Terkadang, Alra juga melakukannya.
Jadi, akhirnya Alra berdiri, berjalan menuju rak untuk mengambil minyak.
Alra kembali duduk di sofa dan menawarkan. "Buka baju, Om," pinta Alra pelan.
Diyo yang mendengar permintaan aneh itu membuka mata, menatap Alra dengan bingung.
"Biar aku pijitin. Gini-gini aku cukup ahli."
Tanpa pikir panjang Diyo membuka kemejanya. Terpampanglah tubuh Diyo yang atletis, cukup berotot, tapi tidak berlebihan. Dadanya bidang, dengan perut rata dan kencang. Belum lagi yang membuat Alra menatap tak berkedip, perut Diyo yang menonjolkan enam tonjolan berbentuk kotak-kotak.
Diyo yang menyadari diamnya Alra semakin bingung saja, dan sukses membuatnya bertanya, "Bukannya kamu mau pijit saya?"
Alra terkesiap. Dengan cepat ia mengambil posisi di belakang. Alra mengoleskan minyak ke bahu Diyo, lalu memijatnya perlahan, tapi pasti. Diyo merasa ototnyatidak sekaku sebelumnya.Ia sama sekali tidak menyangka, gadis kekanakan seperti Alra pintar dalam hal memijat.
"Tadi maksud pesan Om apa, ya?"
Diyo terdiam. Bingung harus menjawab apa. Karena ia sendiri pun kurang paham kenapa pesan itu terkirim begitu saja.
"Om?" tanya Alra ketika sadar jika Diyo hanya diam membisu.
"Bukan apa-apa," jawab Diyo singkat dan tenang.
Alra menghela napas. Apa sesulit itu menjawab pertanyaanya? Pada akhirnya Alra memilih untuk bungkam sambil masih mengurut Diyo.
Diyo yang menyadari diamnya Alras mulai merasa aneh. Semakin hari, ia semakin tidak paham akan sesuatu yang selalu mengganjal di hatinya. Ketika Alra senang, rasanya sangat menenangkan. Ketika Alra sedih, rasa untuk menghibur muncul deras. Ketika Alra diam seperti sekarang, rasanya ia ingin memulai obrolan.
Itu aneh. Perubahan yang tidak Diyo pahami. Apakah ia tengah jatuh cinta Alra? Atau ia hanya menyayangi Alra sebagai anak kecil yang butuh perhatian? Entahlah.
"Alra?"
Panggilan itu mengejutkan Alra. Tangannya masih lihat mengurut berhenti. Pertama kalinya seorang Diyo menyebut namanya. Untuk pertama kalinya seorang Diyo memulai percakapan.
"Iya?"
Tak ada jawaban lagi.
"Apa, Om?" tanya Alra mengeraskan suaranya.
"Jangan dekati dia," Ucap Diyo pelan dan tenang.
"Maksudnya?"tanya Alra bingung.
"Yang barusan kamu temui."
"Daniel?
Diyo hanya mengangguk menanggapi.
"Kenapa emangnya?" tanya Alra lagi.
"Saya ...."
"Hm?"
"Sudahlah. Lupakan!"
Alra mulai kesal. Penjelasan menggantung seperti itu adalah hal yang tidak ia sukai. Karena pada saat itu, rasa penasarannya semakin besar.
"Om cemburu?" tanya Alra polos.
"Cemburu? Saya cemburu sama kamu?"
Alra tidak tahu harus bagaimana merespons pertanyaan Diyo. Ia memilih memijat Diyo lebih keras, hanya untuk menghilangkan rasa malunya. Namun, itu malah membuat Diyo merasa tidak keruan, karena Alra memijatnya asal-asalan.
"Pelan-pelan," ucapnya pelan, tidak dapat didengar Alra.
"Apa?" tanya Alra keras, seraya mendekatkan kepalanya ke arah Diyo.
"Saya bilang pelan," jawab Diyo seraya memutar kepalanya ke samping.
Hal itu membuat jarak wajah keduanya semakin dekat. Mereka terpaku untuk kesekian kalinya dengan moment yang sama.
"Muka Om dekat banger!" seru Alra keras seraya menggeser wajah Diyo. Alra berpindah posisi ke hadapan Diyo dan merasa bersalah, saat melihat pria itu memegangi mata sebelah kiri. Apa tangan Alra tidak sengaja mengenainya?
"Maaf, Om. Aku enggak sengaja," ujar Alra menahan tangis.
Diyo menurunkan tangannya dari mata yang masih terasa perih. Bahkan membuka mata saja rasanya enggan. Dia yakin matanya pasti memerah dan akan segera meneteskan air mata.
Namun, melihat gadis di depanya merasa bersalah sampai hampir menangis, membuatnya tidak enak. Diyo memegang kepala Alra, menatap gadis itu lekat walau hanya sebelah mata.
"Saya baik."
"Pasti sakit."
Alra mendongak menatap Diyo dengan mata berkaca-kaca. Ia tak lagi duduk mencoba menyamakan tinggi dengan kepala Diyo. Perlahan Alra membuka mata pria itu. Diyo diam saja, menerima setiap sentuhan lembut Alra.
Perlahan tapi pasti, Alra meniup pelan mata Diyo. Bagaimanapun ialah pelaku dari insiden yang menyebabkan mata Diyo kesakitan.
Jarak yang begitu dekat, membuat napas Alra terasa hangat di wajah Diyo. Entah bagaimana menjelaskannya, tapi itu cukup menenangkan. Melihat Alra dengan telaten berusaha menyembuhkan matanya, membuat Diyo tanpa sadar menerbitkan senyuman.
Tanpa sadar jarak keduanya semakin dekat, keduanya semakin terbiasa,terasa saling melengkapi. Alra yang cerewet dapat mengubah hidup Diyo yang monoton. Sifat dingin Diyo memberikan Alra pengertian baru, bahwa berbicara tidak harus jadi satu-satunya jalan untuk mengutarakan. Ya, semuanya terjadi tanpa mereka sadari. Bahwa mereka telah jatuh, sejatuh-jatuhnya.
"Jangan dekati dia lagi. Saya tidak suka melihatnya."
Alra terkesiap, berhenti meniupi mata Diyo saat kalimat sederhana berhasil melululantahkan jantungnya. Mata Diyo yang berubah teduh, seolah menghipnotisnya untuk segera menganggukkan kepala.
Diyo yang melihat itu tersenyum kecil. Ia memegang tengkuk Alra, mendekatkan kepala gadis itu perlahan. Kali ini tidak dengan serangan tiba-tiba, tapi penuh perasaan. Alra pun tampaknya tak ingin menolak.
Perlahan tapi pasti, mereka semakin dekat. Alra mulai menutup matanya, seolah sudah tahu kisah selanjutnya. Diyo pun melakukan hal yang sama.
Napas keduanya bercampur di udara, terasa hangat satu sama lain. Jantung keduanya menjadi suara pengiring adegan romansa itu. Bibir Diyo menyentuh lembut bibir Alra. Hanya menyentuhnya sekilas, sekalipun jiwa lelaki Diyo memaksanya melakukan hal yang lebih.
Ciuman singkat penuh kasih itu berakhir setelah 10 detik berlalu. Masih dengan senyum di bibir, Diyo mengecup sekali lagi bibir Alra yang mungkin akan menjadi candunya. Alra hanya diam saja. Masih sibuk menetralkan detak jantung yang berlebihan itu.
"Terima kasih."
"Aku yang terima kasih, Om."
Kejadian malam itu benar-benar mengubah semuanya. meski aura canggung masih terasa, tapi keduanya sama-sama bahagia. Ya, bahagia karena berhasil menemukan rasa terselubung. Bahagia, karena telah menemukan pengisi hati.
Pagi ini seperti biasa Diyo mengantar Alra ke sekolah. Selama perjalanan, tak ada yang membuka suara. Sampai tiba di sekolah pun, keadaan sama saja. Tepat saat Alra akan membuka pintu mobil, Diyo menghentikannya. Alra menatapnya dan bertanya ada apa, tapi Diyo diam saja. Ia hanya balas menatap wajah Alra lamat-lamat. Matanya turun pada bibir mungil Alra, mengorek kejadian malam itu, dan tanpa sadar ia tersenyum.
"Ada apa, Om?" tanya Alra bingung.
Diyo hanya menggeleng, lalu mempersilakan Alra keluar.
Alra menelusuri lorong kelas. Seperti hari lalu, ia bertemu dengan Daniel. Jika biasanya ia akan gembira tanpa alasan, tapi sekarang terasa biasa saja saat bertemu Daniel.
"Ra!"
"Iya?"
Daniel tersenyum manis seperti biasa. Lagi-lagi jantung Alra berdebar cepat. Apa ini? Tidak mungkin kan, ia mencintai dua lelaki di waktu yang sama? Daniel mengulurkan tangannya untuk mengacak rambut Alra. Sepertinya itu hobi baru untuknya.
Berjalan bersama Daniel seperti ini membuat Alra merasa ada yang janggal. Seperti telah mengingkar janji pada seseorang. Alra menghela napas. Diyo dan Daniel. Sebenarnya hatinya untuk siapa? Kenapa ia harus selabil ini?
***
"Mar, Lis!" panggil Alra.
Marta dan Elis hanya bergumam. Karena mulut mereka dipenuhi makanan.
"Gue bingung. Kayaknya gue suka sama Om Diyo, tapi gue juga suka sama Daniel," kata Alra curhat.
Elis mendengar itu hanya menatap Alra, menelan makanannya dahulu kemudian berbicara, "Itu biasa. Lo kan orangnya baperan."
"Menurut gue, rasa lo ke Daniel cuma sebatas kagum doang. Beda kalau ke Om Diyo." Marta memberi pendapat yang diangguki Elis.
"Gitu?" tanya Alra semakin bingung.
"Gini, deh. Lo suka sama Daniel karena apa?" tanya Elis berusaha meluruskan jalan pikir temannya yang polos itu.
"Ganteng? KayakOppa?"
"Nah. Kalau Om Diyo?"
Alra tampak berpikir. Kenapa, ya? Om Diyo dingin, cuek, tapi juga bisa romantis. Ah, mengingat kejadian malam itu membuatnya tersenyum tiba-tiba. Elsa dan Marta melihat reaksi Alra ikut mesem-mesem.
"Lo suka Om Diyo!" kata Marta akhirnya.
"Jadi, maksud kalian perasaan gue ke Daniel cuma kagum doang?"
Marta dan Elis mengangguk semangat. Entahlah, Alra pun tak berniat mengelak. Mungkin benar, perasaannya untuk Daniel tak sedalam itu. Debar yang kerap ia rasakan hanya debaran biasa, karena diperhadapkan dengan sosok idaman yang selalu ada dalam khayalannya.
***
Waktu berlalu dengan cepat. Baik Alra atau Diyo, belum ada satu pun mengutarakan rasa. Tak ada dampak berbeda dari ciuman itu. Semua masih sama. Monoton. Diyo masih dingin. Alra dibuat bingung. Apakah Diyo suka atau tidak kepadanya? Apakah perasaannya hanya sepihak?
Saat ia memikirkan itu, sebuah pesan masuk ke ponselnya. Tertera nama Daniel. Sekarang waktu menunjukkan pukul 17.00.
Aku di depan rumah kamu.
Alra kaget, dengan cepat ia berlari keluar. Benar saja, Daniel ada di sana, tengah duduk di atas motornya seraya menatap Alra dengan senyuman.
"Ngapain?" tanya Alra cepat. Jangan sampai Daniel tahu rahasianya.
"Aku mau ngajak kamu jalan. Mau?"
Alra bingung. Daripada membuat Daniel ada di sini, lebih baik ia menurut saja. Takutnya Diyo pulang saat Daniel masih ada di sini, dan hancur sudah semua.
"Ok. Kamu tunggu sebentar."
Tak butuh waktu lama Alra keluar dengan penampilan sederhana, tapi masih membuat wajahnya cantik dengan riasan natural. Alra bukan tipe gadis yang hobi berdandan.
Alra menaiki motor Daniel. Mereka pergi, entah ke mana.
***
"Akhirnya." Diyo bernapas lega. Pekerjaannya selesai. Ia akhirnyaa bisa pulang. Dengan tidak sabar, Diyo berkendara cepat. Ingin segera bertemu dengan istri kecilnya.
Saat akan memasuki jalam menuju rumahnya, matanya menangkap bayangan seseorang yang ia kenali tengah dibonceng oleh seorang lelaki. Diyo kesal. Alra, apakah ia masih berhubungan dengan laki-laki 'cantik' itu? Diyo memilih mengikuti mereka. Ternyata, lelaki itu membawa Alra ke sebuah kafe.
Diyo mengamati dari jarak aman. Saat mereka duduk, Diyo juga ikut duduk dari jarak yang tak akan disadari keduanya. Ia mengamati mereka dengan tatapan tajam andalannya. Matanya terbelalak saat ia melihat lelaki bernama Daniel itu menggenggam tangan istrinya. Apa-apaan itu?
Di sana Alra tampak kaget dengan perlakuan Danielkepadanya. Apalagi senyumnya seolah mengatakan maksud terselubung. Alra menelan ludah. Keadaan macam apa ini? Daniel merogoh saku celananya, mengambil sesuatu yang ternyata sebuah kalung dengan liontin hati. Alra mulai panas-dingin.
Semua penghuni kafe mulai menatap ke arah keduanya. Tak ayal, beberapa dari mereka memotret diam-diam. Lagipula, siapa yang tidak tertarik dengan kehidupan orang ganteng?
Daniel menunjukkan kalung itu pada Alra dengan senyuman yang tak pernah hilang dari wajaahnya.
"Alra …."
Suara lembuat Daniel menggema. Entah kenapa, semua penghuni kafe tiba-tiba diam, menambah kesan romantis. Namun, tidak untuk Diyo. Ia menatap tajam, tapi belum berkutik.
"Kamu tahu aku suka sama kamu? Sejak ketemu kamu pertama kali." Suara Daniel berhasil membuat banyak orang tersentuh. Gadis-gadis pecinta Korea meleleh mendengarnya. Mungkin mereka merasa sedang menonton drama secara langsung.
"Kamu mau kan jadi pacarku?"
Semua orang bersorak, kecuali Diyo. Mereka meneriaki kata 'terima'. Daniel tersenyum menikmati sorak-sorai itu. Namun, Alra merasa itu tidak benar dan membuatnya semakin merasa bersalah kepada Daniel. Ia tidak bisa menerimanya, tapi tidak tega untuk menolak. Apa yang harus Alra lakukan?
"Ra?" panggil Daniel.
Alra menatap lelaki itu sekilas Dengan senyuman yang masih terbentuk di bibirnya. Namun, Alra tak bisa membohongi perasaannya. Hatinya bukan untuk lelaki ini.
Perlahan Alra melepas genggaman tangan Daniel, membuat senyum lelaki itu luntur. Semua orang berhenti bersorak. Diyo tersenyum tipis. Dalam hatinya ia merasa lega.
"Aku bukan gadis yang cocok untukmu. Mungkin terdengar basa-basi, ya kalau aku banyak alasan. Maaf. Aku suka kamu sebatas kagum, enggak lebih. Maaf, Daniel."
"Aku ditolak nih ceritanya?" Daniel kecewa, tapi tetap ia paksakan tersenyum.
"Maaf."
Daniel terkekeh. Ia mengacak rambut Alra. "Kamu enggak salah."
Alra mendongak menatap Daniel. Hampir saja ia menangis kalau saja tak ditarik seseorang secara tiba-tiba.
"Apaan, sih?" tanya Alra.
Ia menatap orang yang menariknya itu cepat, membuat matanya terbelalak. "Om ngapain di sini?"
"Kita pulang!"
Alra ingin sekali menolak, tapi tak bisa. Tenaganya tak cukup kuat. Sebelum berjalan pergi, Diyo melihat Daniel yang tengah menatap bingung ke arahnya. Daniel berdirikarena kaget tadi. Diyo mendekat dan mendekatkan kepalanya kepada Daniel.
"Dia milik saya."
Daniel melongo. Milik? Bukan keponakan?
***
"Om bilang apa sama Daniel? Dia kayaknya kaget banget." Alra bertanya saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Bukan apa-apa."
"Enggak mungkin. Om bilang apa?" Alra memaksa.
Diyo menghela napas pelan. "Peringatan."
"Peringatan apa? Maksud Om apa? Om kalau ngomong jangan setengah-setengah. Aku susah buat paham. Om---." Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Alra terlempar ke depan, menghantam dashboard. Diyo menghentikan mobilnya tanpa aba-aba. “Om apaan, sih? Bilang kek kalau mau berhenti.”
Diyo tak peduli ocehan gadis itu. Ia melepas seatbelt-nya, mendekatkan tubuh ke gadis di sebelahnya. Alra terkesiap, tertegun melihat Diyo mendekatinya dengan sorot tajam..
"O-om. Nga-nga-pain?" Alra terbata. Ia gugup.
Diyo mendekat, mengecup sekali bibir Alra. Benar. Sekarang ini adalah candunya. "Om?" tanya kaget.
"Peringatan, bahwa kamu milik saya."
Alra terbelalak mendengar jawaban Diyo. Alra tersenyum kecil. Jantungnya berdegup tidak keruan. Inilah perasaan nyaman sesungguhnya. Namun, itu tak berlangsung lama, sampai tiba-tiba Diyo mencium bibirnya lagi.
Bukan hanya mengecup seperti sebelumnya, tapi Alra bisa merasakan bibir Diyo seolah menelan habis bibirnya. Alra memejamkan mata, menikmati sensasi baru yang ia rasakan. Lidah Diyo menelusup ke mulut Alra, membuatnya terkejut. Namun, Alra hanya bisa diam menerima semua yang Diyo lakukan kepadanya. Ciuman itu penuh sensasi aneh untuk Alra.
Diyo benar-benar tidak bisa menahan diri lagi. Ia melepas kancing teratas milik Alra. Namun, aksinya dihentikan oleh pertanyaan Alra yang tampak masih terkejut.
"Om?"
Suara lembut itu berhasil Membuat Diyo berhenti. Ia melepas ciumannya, dan segera menjauhkan badannya. Apa yang ia lakukan? Diyo kesal dengan dirinya.
Sementara hanya bisa Alra terpaku. Dengan gerakan perlahan dan canggung ia mengancingkan kembali pakaiannya. Apa ini? Ia menginginkan lebih, tapi terlalu dikuasai rasa takut. Alra tidak sepolos itu untuk paham apa yang Diyo maksudkan, tapi saat ini ia masih SMA. Hubungan seperti itu tak pernah terpikirkan sebelumnya.
Diyo memakai lagi seatbelt-nya. Sebelum kembali mengemudikan mobil, ia menoleh kearah Alra. Gadis itu ternyata menatapnya.
"Maaf."
Alra terkesiap. Dia hanya mengangguk, tidak tahu apa yang harus dikatakannya sekarang.
"Alra," panggil Diyo pelan.
"Hm?"
"Kamu milik saya. Dan akan tetap seperti itu."
***
Kejadian di mobil itu terlihat seolah tidak pernah terjadi. Ya, baik Alra maupun Diyo tidak ada yang membahas. Benar-benar lenyap. Alra akan segera tidur, tapi canggung menaikkan selimut ke tubuhnya. Alhasil, ia pura-pura mengelus Coco yang sudah tidur sejak tadi. Sesekali melirik ke arah Diyo yang tengah bekerja, sibuk seperti biasanya.
Diyo tidak sebodoh itu untuk tidak menyadari kelakuan Alra. Ia menoleh, membuat mata keduanya bertubrukan. Namun, hanya berlangsung sebentar karena Alra segera mengalihkan pandangannya. Hal itu terjadi beberapa kali, membuat Diyo sedikit jengah. Ia menghela napas pelan.
"Ada apa?""Emm ... itu ..."
"Ya?"
"Aku mau tidur," ucap Alra cepat. Ia menggaruk tengkuknya canggung. Tersenyum aneh, lantas berdiri meninggalkan Diyo di sana sendiri.
Alra memukul pelan keningnya, mengumpat karena mempermalukan diri sendiri. b**o kamu, Ra.
Alra tiba di kamar, lalu membaringkan tubuhnya di ranjang. Alra berusaha memejamkan mata, tapi saat mendengar suara langkah kaki mendekat, ia kembali membuka mata. Melihat Diyo berjalan pelan ke arahnya,Alra berusaha tidak peduli. Namun, lagi-lagi ia terkesiap. Pembatasyang sudah ada di tempat itu sejak awal, seolah dipindahkan. Dengan cepat Alra menoleh., dan mendapati pembatas itu telah tiada.
"Om ngapain?"
"Saya risi dengan itu," jawabnya seraya menatap Alra.
"Tapi Om ..." Alra tampak tidak terima.
"Saya tidak akan menyentuhmu tanpa seizinmu. Paham?"
Diyo menatap Alra lembut, melelehkan istrinya yang balas menatapnya. Ah, kenapa harus luluh di waktu yang tidak seharusnya? Sudahlah, Alra angkat tangan. Ia mengangguk, kemudian membalikkan badan membelakangi Diyo. Tampaknya ia harus tidur seperti itu. Sementara Diyo yang merasa diabaikan, hanya tersenyum kecil. Menggemaskan.
***
Alra tidak sabar ingin keluar kelas, lalu menghambur menuju kantin. Ia sudah bosan berada di kelas.
"Tugas kelompok itu harus dikumpulkan minggu depan. Jangan ada bantahan." Suara bu Hanum menggelegar. Guru sastra yang juga seorang penulis itu memberikan tugas kumpulan cerpen secara berkelompok. Syukur, siswa bebas memilih kelompoknya.
"Saya keluar sekarang. Sepuluh menit lagi bel, saat itu kalian punya waktu menentukan kelompok. Ingat, minimal tiga orang, maksimal lima."
"Iya, Bu."
Alra melirik Marta dan Elis. Mereka saling melempar senyum, yang artinya tiga gadis itu akan ada dalam satu kelompok.
Setelah menemukan kelompok, Alra bingung mau melakukan apa. Ia hanya ingin cepat ke kantin, tapi seseorang mengalihkan niatnya.
"Gue sekelompok bareng lo, ya?"
Alra menoleh. Dia Reynal, berambut ikal, pipi tembem, tinggi, kulit sawo matang, dan tubuh berisi. Meskipun terbilang ganteng, tapi tak pernah pamer. Ia pendiam. Makanya Alra cukup kaget saat Reynal mengajukan diri.
"Gimana ya?" jawab Alra bingung.
"Lo tanya Marta atau enggak Elis aja deh," ucapnya kemudian.
Reynal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal . Sesekali melirik Marta dan Elis yang duduk kursinya.
"Malu gue," Ucap Reynal cengengesan.
"Malu?"
"Hmmm. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa, ya?"
"Iya, iya."
"Sebenernya gue tuh suka sama Marta. Udah lama sih, tapi enggak berani bilang."
Pengakuan Reynal barusan membuat Alra tersenyum . Tanpa pikir panjang, ia segera memanggil Marta juga Elis, membuat Reynal sedikit terkesiap.
"Reynal boleh masuk kelompok kita, enggak?"
"Boleh-boleh aja."
Reynal tersenyum senang. Ia berterimakasih lantas pamit pergi. Sementara Alra justru tidak sabar menunggu reaksi Marta nanti.
***
Keempat manusia itu sudah memutuskan untuk mengerjakan tugas itu di rumah Reynal. Tentu saja setelah mengalami perdebatan panjang. Setibanya mereka di sana, ketiganya cukup kaget. Reynal yang pendiam ternyata punya rumah semegah ini.
"Lo kok enggak pernah bilang lo anak orang kaya?" tanya Elis tak berbobot. Terdengar tidak sopan, tapi itulah Elis, berbicara selalu apa adanya tanpa peduli lawan bicara.
"Apasih Lis. Enggak sopan tahu! Emang dia harus bilang ke semua orang soal hidupnya?" Seperti biasa, Marta jadi orang paling dewasa.
"Enggak papa kok. Gue oke," jawab Reynal. Padahal wajahnya memerah karena baper.
"Lo semua tunggu di sini. Gue ganti baju dulu."
"Oke."
Ketiganya duduk di sofa, menunggu Reynal selesai berganti pakaian. Tak lama, Reynal turun dengan baju kasual yang membuat dia semakin terlihat manis.
"Gila ganteng banget, njir," ucap Elis dengan mata tajam .
***
"Yo, lo capek banget kayaknya?" Geri bertanya khawatir.
"Gitulah."
"Ke rumah gue aja yok? Udah lama juga kita enggak quality time," ajak Doni.
"Boleh tuh," balas Geri.
Diyo mengangguk saja. Bagaimanapun, ia tetap manusia yang butuh istirahat. Mereka berangkat ke rumah Doni dengan mobil masing-masing. Setibanya di sana, mereka langsung masuk karena sudah menganggap rumah sendiri, dan Doni tidak mempermasalahkan hal itu. Mereka berniat ke kamar untuk bermain PS, tapi terhenti saat mendengar gelak tawa di ruang tamu.
=
Diyo sedikit terkejut melihat istrinya juga ada di sana. Duduk bersisian dengan Reynal, menatap laptop yang sama, seraya tersenyum. Apa yang mereka lakukan?
Tepat saat Alra menatapnya, ia membelalak kaget.
"Om?" tanyanya kaget .
Semua mata tertuju padanya sekarang. Alra jadi malu.
"Om? Siapa?" tanya Reynal sebagai orang paling tidak tahu.
"Eh ... eggak. Itu ...." Alra gugup, tidak tahu harus bagaimana menjawabnya.
"Kalian sedang belajar?" Doni bertanya untuk mengalihkan kebingungan Reynal.
"Iya, Kak."
"Yaudah. Kita ke at---"
"Gue di sini." Diyo berucap datar. Matanya menatap tajam, membuat Alra kelimpungan. Kenapa lagi?
"Tapi ...."
Diyo menatap Geri, mengisyaratkan hal ini tidak bisa diganggu-gugat. Akhirnya kedua pria itu menyerah. Mereka duduk di sofa yang tepat menghadap Reynal dan teman-temannya.
Alra berusaha tetap fokus meski ia sadar Diyo selalu menatapnya. Ia mengetik dengan tangan yang rasanya kaku, menulis cerita yang diucapkan Reynal.
"Tipo, Ra." Reynal memegang lengan Alra untuk berhenti sejenak. Diyo yang melihat itu berdeham keras.
Semua mata tertuju pada Diyo. Pria itu tak peduli. "Lanjut," ujarnya pelan.
"Suami lo keknya cemburu, deh," bisik Elis pada Alra dengan mulut barbarnya.
"Apa sih, Lis. Udah fokus."
"Gue bilangin. Dia cemburu."
Alra tak lagi menanggapi. Ia melihat ke arah Diyo yang masih menatapnya. Benarkah? Diyo cemburu? Tanpa sadar Alra tersenyum kecil.
***
Waktunya bagi mereka untuk pulang. Meskipun belum selesai sepenuhnya, tapi tetap saja mereka tak mungkin menginap.
"Gue bareng Om Diyo, ya. Lo berdua enggak papa sendiri?"
"Gue, sih oke, tapi Marta ...," ujar Elis menggantung.
"Enggak papa. Gue bisa sendiri," jawab Marta.
"Enggak usah sok, deh. Bisa?" tanya Elis.
"Yaudah, gue antar temen lo yang satunya." Doni berucap seraya menatap Marta.
Reynal yang mendengar itu angkat suara. "Gue aja, Bang."
"Oh. Oke."
Diyo akhirnya menarik Alra menjauh. Permasalahan sudah tuntas dan dia ingin segera pulang."Bye," Ucap Alra melambaikan tangan.
"Lain kali, kelompok itu enggak harus ada lakinya."
"Kenapa?"
"Pokoknya enggak boleh."
Melihat Alra akan membuka mulut, Diyo lantas mengecupnya pelan. "Diam! Dengar saya saja."
Alra memerah. Oke. Dia akan diam.
***
Reynal ebnar-benar senang saat harus mengantar Marta pulang.
"Yaudah, yok!" ajak Elis tidak sabar.
"Lo sendiri?" tanya Geri memegang lengan Elis. Elis melirik sinis tangan yang menggenggamnya. Dengan kasar ia menepisnya.
"Sorry. Gue enggak demen orang tua."
"Orang tua? Gue belum nikah."
"Kalau gitu, nikah sana. Emang mau jadi bujang lapuk?"
"Apa?"
"Udah, Lis. Maaf, ya. Temen saya emang gitu. Kita pulang aja sekarang. Kalian enggak perlu khawatir sama dia. Nanti pacarnya jemput, kok," ucap Marta mencoba melerai.
"Emang ada yang mau sama dia?" tanya Geri meremehkan.
"s****n," ucap Elis kesal.
"Elis, enggak boleh ngumpat tahu."
Elis tak peduli. Perkataan Geri membuatnya kesal. Apa ia terlihat seperti gadis kotor untuknya?
"Yok!"
Marta dan Reynal juga pergi, sementara Geri melihat wajah gadis itu jadi merasa bersalah.
"b**o. Lo tahu enggak, perkataan kayak gitu yang buat cewek enggak percaya diri."
"Bodo!"