Istri yang Benar-Benar Istri

1464 Words
Alra mengerjakan tugas yang sebentar lagi deadline. Pusing tentu saja, tapi dia tetap harus mempertanggungjawabkan semuanya. "Masih banyak?" Diyo bertanya karena waktu telah menunjukkan pukul 23.00. Alra menguap sebentar, lalu menggeleng. "Lanjut besok saja," saran Diyo. Ia merasa kasihan melihat istrinya lelah. Alra menatap Diyo, sebelum akhirnya mengangguk. Setelah membereskan benda-benda yang menjadi media belajarnya, ia berdiri menuju tempat tidur.Namun, rasa kantuknya mendadak memudar. Mungkin karena Diyo menatapnya terus-menerus. "Apa, Om?" Diyo menggeleng. Ia hanya ingin menatap istrinya sebelum terlelap. Kali ini Alra tak ragu untuk menghadap ke arah Diyo. Jadi, mereka tatap-tatapan dengan Alra yang memasang senyuman. "Aku kepikiran, deh, Om." "Hm?" "Aku mau jadi istri yang benar-benar istri. Masakin Om sarapan, nganterin makan siang ke kantor Om, buatin makan malam," ungkap Alra dengan senyum lebar.. “Pasti seru, kan?” tambahnya. "Kamu tahu? Ucapan kamu barusan cukup sensitif." "Kenapa?" tanya Alra bingung. "Istri, tugasnya bukan hanya menyiapkan makan." Alra mulai merasa aneh. Apakah ia salah membahas hal ini sekarang? Tatapan Diyo berubah. Senyumnya yang tipis seolah mengisyaratkan sesuatu. ”A-apa lagi?” Bukannya menjawab, Diyo justru menarik Alra kepelukannya, membuat gadis itu terperangah. Ia membelalakkan mata terkejut. "Om nga---" Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Diyo sudah membungkam bibir kecil Alra dengan bibirnya. Alra tak bisa menolak, lebih tepatnya mulai menyukai kebiasaan Diyo ini. Sedangkan Diyo mulai tak bisa menahan diri. Tak peduli caranya masih lembut atau kasar, ia mencium bibir Alra tanpa henti. Menyecap setiap rasa yang ada di sana. Alra tanpa sadar mengeluarkan suara yang tidak seharusnya keluar dari mulutnya. Hal itu membuat Diyo semakin bersemangat. Diyo menindih Alra, menciumnya lebih leluasa. Tak ada balasan, tapi Diyo sangat bersemangat. Tangannya mulai liar, meraba tubuh kecil Alra, membuatnya terbelalak. Kaget. Apa ini malam pertama sesungguhnya? Tapi ia takut. Alra akan mengelak, tapi Diyo lagi-lagi mendahului. "Selain masak, tugas istri juga ini," ucapnya serak. Diyo kembali mencium bibir Alra, setelahnya turun ke leher , berusaha membuat tanda kepemilikan di sana. Hal itu membuat Alra benar-benar merasa janggal. Dengan kasar ia mendorong Diyo dari atas tubuhnya. "Apa itu tadi?" Diyo tersadar, paham situasinya, dan tak lagi dikuasai nafsu seperti sebelumnya. Ia menatap Alra dengan tatapan bersalah. "Maaf." "Bukan, Om. Aku hanya belum siap." "Maaf, ya. Kita tidur saja," Ucap Diyo seraya mengangguk. Alra hanya mengangguk pelan, lalu mulai memejamkan matanya. Diyo tak lagi memeluknya, membuat Alra merasa kecewa. *** Seperti yang Alra katakan, ia benar-benar bangun lebih awal. Bayangkan saja, ia tidur tengah malam, tapi harus bangun pagi buta. Namun, ini demi Diyo. Demi keinginnanya menjadi istri sesungguhnya. Lagipula, harus ada satu orang yang bertindak, agar kecanggungan berkurang dan lenyap. Malam itu, memikirkannya saja berhasil membuat Alra memerah dan malu. Ia kesal dengan dirinya yang masih saja takut dengan hal seperti itu. Padahal ia sadar, Diyo adalah pria dewasa. Daripada repot memikirkan itu, Alra mulai menyiapkan bahan untuk sarapan. Ia akan memasak nasi goreng dengan bantuan resep dari internet. Selesai dengan urusan memasak, Alra berniat mandi. Ternyata Diyo belum bangun. Ia mengambil seragam, lalu berjalan menuju kamar mandi. Tak butuh waktu lama, ia selesau dan terkesiap melihat Diyo sudah berdiri di depan pintu. Diyo tersenyum, lalu pergi tanpa berkata-kata. Meskipun terasa aneh, Alra tetap memilih untuk tidak peduli. "Om langsung turun. Aku udah masakin sarapan," teriak Alra. "Iya." Alra menunggu Diyo di meja makan. Ia melihat sekali lagi hidangan yang tersaji di depan seraya tersenyum. Semoga Om Diyo suka. Tak lama Diyo muncul. Duduk di kursi dekat Alra, menatap hidangan yang tak begitu menarik minatnya. Ia mengambil sendok, lalu mencoba menyuapkan nasi goreng itu ke mulutnya. ."Gimana, Om? Enak?" tanyanya pelan sekaligus was-was. . "Masih layak makan," jawabnya. “Meskipun rasanya hambar,” lanjut Diyo, berhasil membuat Alra yang tadi merasa bangga meredup seketika. Meskipun dikatakan masih layak makan, Alra sudah bangga dan merasa bisa masak, tapi disebut hambar, itu membuatnya kecewa. "Hambar?" Dengan cepat Alra menyendokkan nasi goreng buatannya itu dan merasa aneh sendiri saat memakan nasi goreng di depannya. "Udah, Om. Enggak perlu dilanjut. Rasanya bener-bener enggak keruan." "Saya tidak mungkin menolak masakan pertama istri saya." Istri? Alra tersenyum. Ini pertama kalinya Diyo mengatakan hal itu pada Alra. Tak dapat dipungkiri, ia senang. "Nanti aku bawain Om makan siang. Enggak menerima penolakan pokoknya." *** Alra menghela napas. Memasak bukanlah keahliannya, tapi punya Elis. Walau tomboi, dia cukup andal dalam memasak. "Lis?" panggil Alra. "Apa?" "Nanti gue ke rumah lo, ya. Gue mau belajar masak." "Tiba-tiba?" tanya Marta yang baru saja tiba. Entahlah dari mana. "Gue udah bertekad. Gue mau jadi istri yang baik." ucap Alra bersemangat. Ia berusaha mengecilkan suaranya agar tidak membuat yang lain heran. "Oke,” jawab Elis seraya mengangguk, yang juga diikuti oleh anggukan Marta. Tepat seperti yang sudah dibahas, ketiganya pergi ke rumah Elis. Tadi Alra sudah menghubungi Diyo,mengatakan bahwa dirinya tidak perlu dijemput. "Lo mau masak apa?" "Yang gampang, Lis. Sederhana, tapi enak." Elis paham. Menurutnya, ayam kecap adalah masakan sederhana, tapi enak. Apalagi dimakan dengan tempe goreng. Sepakat, mereka akan memasak itu. Saat Alra menggoreng ayam, ia berkata, "Tadi malam, Om Diyo kayaknya mau 'itu'. Tapi gue takut. Gue dorong, deh," jelas Alra, membuat kedua sahabatnya menoleh sebentar. "Wajar sih. Lo masih SMA," sahut Marta. "Tapi enggak wajar kalau lo terus nolak. Selain murid SMA, lo juga istri orang. Artinya, tanggung jawab lo bertambah. Lagian, Ra, Om Diyo udah terlalu pengertian ke lo. Bayangin aja, cowok mana yang mau di kamarnya ada banyak foto-foto bias istrinya? Lo sekali-kali harus mikir, Ra. Jangan egois," jelas Elis sedikit kasar. Alra sadar, apa yang Elis bilang adalah kebenaran. "Jadi, gue harus lepas semua fotonya?" tanya Alra tidak rela. "Iya. Lo bisa simpan, kan? Tapi lo juga harus mikirin soal keinginan Om Diyo. Gimanapun, lo itu istrinya. Jarang tahu, ada pria kayak dia. Lo enggak tahu, Ra, pria di luar sana kayak gimana. Mereka bilang cinta ke cewek, cuma gara-gara fisiknya doang. Makanya lo harus bersyukur, Om Diyo bukan salah satu dari mereka," Jelas Marta, melanjutkan ucapan Elis tadi. Alra mengangguk. Benar juga. Selama ini Om Diyo selalu minta maaf setiap kali Alra menolak. Itu pertanda Diyo merasa bersalah. "Iya. Gue akan usahain biar gue enggak ngerasa takut lagi." Marta dan Elis mengangguk seraya tersenyum. Mereka kembali melanjutkan masak-memasak yang lebih didominasi oleh Elis. *** "Akhirnya siap," ucap Alra lega. "Sekarang giliran lo yang didandanin," ucap Elis langsung menarik Alra ke kamar. Di sana Alra dipermak habis. Mulai dari rias wajah natural, baju yang dikenakan, sampai aksesoris. "Enggak terlalu berlebihan?" "Enggak. Udah, sekarang lo pergi." Alra mengangguk. Dengan dress berwarna merah, membuatnya terkesan lebih dewasa. Ia sudah memantapkan hati akan pergi ke kantor Diyo untuk mengantarkan makan siang. *** Alra menatap sekeliling. Perusahaan ini lebih besar dari perusahaan ayahnya. Dengan segera ia berjalan ke meja resepsionis. "Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita dengan pakaian formal di hadapan Alra. "Saya mau bertemu dengan Om Diyo." "Dari divisi mana?" "Divisi? Om Diyo bukannya CEO, ya?" "Apa maksud Anda Pak Diyo?" "Ya." Wanita itu terlihat bingung. Gadis di depannya terlihat seperti gadis SMA. Apa rumor yang beredar tentang CEO perusahaan menikah dengan anak SMA itu benar adanya? "Maaf. Tapi Anda siapanya Pak Diyo?" "Saya istrinya." Sementara di ruangan Diyo, sekretarisnya masuk membawa kabar. "Pak, ada keributan di lantai bawah. Seorang gadis SMA mengaku istri Bapak. Apa---" "Suruh masuk!" "Apa?" "Saya bilang suruh masuk!" Walaupun sekretarisnya itu bingung dan mulai was-was, ia tetap menghubungi resepsionis untuk mengantarkan gadis itu ruangan atasannya. "Dia benar istri Bapak?" tanyanya harap-harap cemas. "Kalau iya, kenapa?" tanya Diyo dingin. Sekretaris itu menggeleng lalu pamit keluar. Tak lama setelahnya, seorang gadis dengan dress merah memasuki ruangannya. "Om!" "Saya pikir kamu hanya bercanda." "Enggak dong. Aku serius. Aku mau jadi ...." Alra berhenti saat Diyo menatapnya seperti tadi malam. Sudah. Jangan mengatakan apa pun lagi. Alra pun masih belum siap dengan hal itu. "Ini Om makan siangnya," ucapnya menyodorkan rantang berisi makanan. Diyo membukanya senang. Tampilannya lebih baik. Harum. Sepertinya enak. "Kamu yang buat?" "Bisa dibilang bukan. Soalnya Elis yang lebih banyak ngerjain." Diyo mengangguk. Ia mulai menyuapkan makanan itu. Enak. Diyo tersenyum kecil. Dengan isyarat tangan, ia menyuruh Alra mendekat. Tentu saja Alra langsung melakukannya. "Kamu dandan?" "Elis dan Marta yang dandanin. Aku mana bisa." Diyo hanya mengangguk. "Cantik," pujinya membuat Alra tersipu. Belum sempat mengucapkan terimakasih, Diyo mengecup bibirnya. "Hadiah." "Eh. Om?" Diyo tersenyum kecil. Gadis itu begitu menggemaskan, bukan? "Om? Om itu kan udah dewasa, pasti kepikiran soal 'itu', kan?" tanya Alra pelan. "Itu apa?" tanyanya menggoda seraya terkekeh pelan. "Itu aja pokoknya. Om pasti ngerti," Jawab Alra tersipu malu. Wajahnya sudah memerah. "Hmm. Iya. Saya juga pria normal, tapi kalau istri saya tidak mau, saya tidak ingin memaksa." Alra mengangguk mengerti. "Om sabar sebentar lagi. Aku belum siap kalau sekarang." Diyo terkekeh lagi. Ia mengecup kembali bibir Alra, sudah tidak ragu untuk melakukannya.. Kecupan kali ini lebih lama. Ia bermain sebentar di sana. "Saya selalu sabar."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD