"Bagus, kamu datang padaku hanya di saat butuh kepuasan saja. Setelah kemarin kamu mengabaikanku dan bermesraan dengan Kia, kamu datang dengan tidak tahu malu seperti ini?!" Devina berkata dengan tajam, kembali mengenakan pakaiannya setelah pergulatan panas mereka.
Asher menarik Devina mendekat dan mencium bibirnya, mencoba meredakan amarahnya. "Aku hanya perlu meyakinkannya lagi. Sekarang aku tahu senjata yang pas untuk membuatnya luluh padaku."
Devina mendorong Asher menjauh, menatapnya dengan mata berkilat. "Kapan kamu akan memutuskannya?"
Asher menghela napas, suaranya meninggi karena frustrasi. "Aku belum bisa!" teriaknya.
"Apakah dari awal kamu hanya mau mempermainkanku? Sebenarnya apa mau kamu? Kamu mati-matian mempertahankan Kia, tapi meyakinkanku untuk terus bersamamu!" Devina menuntut penjelasan, suaranya penuh emosi.
Asher merengkuh Devina, memeluk wanita itu dengan erat di sisinya. Ia tampak ragu untuk bicara, tetapi akhirnya Asher mengungkapkan alasan terbesar mengapa ia tidak bisa melepas Kia begitu saja.
"Kamu tahu kan, jika aku menikah dengan Kia aku akan menjadi pemimpin perusahaan keluarga kalian?"
Devina menatapnya dengan penuh kebingungan. "Kamu itu kaya, kenapa---"
"Keluargaku selalu mempercayakan semuanya pada kakak! Kak Rain yang selalu menjadi nomor satu, aku diperlakukan seperti pesuruh! Jika aku menikah dengan Kia, aku akan menjadi pemimpin. Aku akan buktikan jika aku akan lebih sukses dari kakak!" Asher menjelaskan dengan nada penuh tekad.
"Jadi kamu hanya mengincar jabatan itu?" Devina menatap Asher dengan keterkejutan. Devina tidak pernah berpikir jika selama ini rasa cintanya pada Kia itu palsu.
"Dulu aku memang mencintai Kia, sangat. Tapi sifat manja dan menyebalkannya membuatku muak. Dia juga terus menolakku tanpa alasan yang jelas walau kita sudah lama menjalin hubungan. Aku seperti pengemis m***m kepada kekasih yang sangat aku cintai, dan aku muak dengan itu!" ujar Asher dengan nada pahit.
Devina menghela napas, kemudian memeluk Asher dengan mesra, menuntut jawaban yang meyakinkan. "Aku bisa mempercayaimu?"
Asher menatap mata Devina dalam-dalam, suaranya lebih lembut namun penuh determinasi. "Setelah aku menjadi pemimpin, mengambil alih semuanya, aku akan menceraikannya. Aku hanya memerlukan asetnya."
Devina mengangguk perlahan, tampaknya menerima penjelasan Asher. "Baiklah, aku akan tetap bersamamu. Tapi ingat, jangan pernah mencoba mempermainkanku lagi. Aku mencintaimu, Asher!" Devina memeluk Asher erat. Bagus, ini sangat bagus! Jika Asher bisa menguasai aset ayah tirinya, kehancuran yang Kia terima akan berkali-kali lipat. Ternyata mendekati Asher bukan sebuah kesalahan. Dengan begini, ia dan ibunya tidak perlu susah payah memikirkan berapa bagian yang akan mereka terima saat pembagian warisan nanti.
Asher mengangguk, memeluk Devina lebih erat. Dalam hatinya, ia tahu bahwa jalan yang ia pilih penuh dengan kebohongan dan manipulasi, namun ia merasa bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Yaitu pembuktian dirinya kepada keluarganya, dan terutama kepada kakaknya, Rain.
"Aku akan lakukan apapun yang diperlukan," bisik Asher di telinga Devina, suaranya rendah dan bertekad. "Kamu hanya perlu bersabar sedikit lagi."
Devina mengangguk, tersenyum dengan kepuasan. "Aku akan menunggu. Tapi ingat, Asher, jangan pernah meremehkan aku. Jika kamu mencoba mempermainkanku, aku bisa lebih kejam dari yang kamu bayangkan."
Asher tertawa kecil, mengecup kening Devina. "Aku tidak akan melakukan itu. Aku butuh kamu di sisiku."
*****
Sementara itu, di kamar lain, Kia memasangkan rokok di bibir Rain, lalu menyalakan korek api dan membakar ujungnya. Namun, Rain langsung mematikannya dan membuangnya ke tempat sampah.
"Kamu masih marah?" Kia memanyunkan bibir dan duduk di pangkuan pria yang terus berkutat pada laptopnya.
"Jangan menjadi perokok pasif, itu tidak baik." Ujarnya yang membuat bibir Kia spontan tersenyum. Ternyata Rain tidak buruk juga.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" Kia mengecup bibirnya, lalu menutup laptop yang Rain pandangi.
Rain menghela napas dan menatap Kia dengan mata yang sedikit melembut. "Bukan itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kamu terpengaruh hal-hal buruk karena aku."
Kia tertawa kecil dan membelai pipi Rain. "Kamu memang mengkhawatirkanku." Ia membungkuk lebih dekat, bibirnya nyaris menyentuh bibir Rain. "Kamu punya cara yang aneh untuk menunjukkan perhatian, Rain."
Rain menarik Kia lebih dekat, tangannya melingkar di pinggang wanita itu. "Mungkin kamu benar. Tapi aku tidak akan pernah mengakuinya."
Kia tersenyum, memanfaatkan momen itu untuk mempererat pelukan mereka. "Lalu, bagaimana caramu mengakuinya? Apa dengan cara seperti ini?" Kia mulai mengecup bibir Rain dengan lembut, tangan mereka saling menjelajahi tubuh masing-masing.
Rain merespons dengan lebih intens, menekan Kia lebih dekat ke dirinya. "Mungkin seperti ini," bisiknya di antara ciuman mereka yang semakin dalam.
Kia menghela napas puas, merasa kehangatan Rain memenuhi dirinya. "Kalau begitu, aku tidak akan pernah keberatan jika kamu terus mengkhawatirkanku."
Mereka tenggelam dalam momen itu, melupakan segala konflik dan permasalahan yang mengelilingi mereka. Dalam pelukan dan ciuman yang penuh gairah, keduanya menemukan kenyamanan yang selama ini mereka cari.
"Kamu istirahatlah, aku harus mengerjakan beberapa pekerjaan yang tertunda karena tenis bodoh yang keluarga kita lakukan hari ini," ujar Rain sambil tersenyum.
Kia mengangguk dan tersenyum kembali. "Ya sudah, lakukan saja. Aku masih ingin memelukmu," katanya seraya memeluknya semakin erat.
Rain mengusap punggung Kia dengan lembut, menikmati kehangatan tubuhnya. "Kamu memang pengganggu yang manis," bisiknya di telinga Kia.
Kia tertawa kecil. "Dan kamu, selalu sibuk. Aku suka melihatmu fokus seperti ini, tapi aku juga ingin kita punya waktu lebih banyak bersama. Kita tidak selalu bisa bertemu, harus sembunyi-sembunyi!"
Rain mencium dahi Kia. "Aku juga ingin begitu. Tapi sekarang, aku harus menyelesaikan ini. Nanti kita bisa menikmati waktu bersama lebih lama."
Kia melepaskan pelukannya dengan enggan. "Baiklah, aku akan beristirahat. Tapi jangan terlalu lama, aku menunggumu."
Rain mengangguk dan kembali membuka laptopnya. "Aku janji, tidak akan lama."
Kia menatap Rain yang sudah kembali tenggelam dalam pekerjaannya. "Aku jadi penasaran, Rain. Bagaimana dengan hubunganmu yang sebelumnya?" tanyanya dengan nada ingin tahu.
"Maksudmu?"
"Pacar kamu yang sebelumnya!"
Rain menghela napas, tetap fokus pada layar laptopnya. "Aku tidak pernah punya pacar, seperti yang kamu tahu, aku tidak butuh wanita dalam hidupku. Aku tidak butuh hubungan serius!"
Kia mendekat lagi, tidak membiarkan Rain menghindar dari topik. "Lalu menurutmu, aku ini apa?" tanyanya seraya bergelayutan pada Rain, mencium pipinya dan menuntut jawaban darinya.
Rain menoleh, menatap Kia dengan serius. "Seperti yang kamu katakan, kita hanya teman ranjang dan sebatas bermain-main. Kamu jatuh cinta padaku? Oh Kia, aku sudah ingatkan---"
"Lalu kenapa kamu cemburu padaku hari ini? Apa kamu yang telah jatuh cinta lebih dulu kepadaku?"
Ekspresi Rain berubah, ketegangan terlihat jelas di wajahnya. "Kapan aku cemburu?" ujarnya dengan mood yang mendadak berubah menjadi buruk.
Kia tersenyum tipis, merasa dia telah menemukan titik lemah Rain. "Saat kamu melihat aku dengan Asher di lapangan tenis. Kamu tidak bisa menyembunyikan tatapanmu, Rain. Kamu cemburu, bukan?"
Rain mengalihkan pandangannya, mencoba menghindari konfrontasi langsung. "Kamu salah, Kia. Aku tidak cemburu. Aku hanya tidak suka melihat Asher mempermainkanmu."
Kia tertawa kecil, matanya berkilat penuh tantangan. "Kamu bisa berkata apapun, Rain. Tapi aku tahu perasaanmu lebih dari yang kamu sadari. Aku akan membuktikan bahwa kamu sudah jatuh cinta padaku."
Rain menghela napas panjang, menutup laptopnya. "Kia, kamu tidak mengerti. Aku tidak bisa jatuh cinta. Perasaan seperti itu hanya membuat segalanya menjadi rumit."
Kia mendekat, menatap Rain dengan penuh keyakinan. "Kita lihat saja nanti, Rain. Siapa yang akan menyerah lebih dulu."
Rain menggelengkan kepala, merasa bingung dengan perasaannya sendiri. "Kamu memang keras kepala, Kia."
Kia tersenyum, puas dengan jawabannya. "Dan itulah yang membuat kita cocok. Jadi, jangan terlalu lama dengan pekerjaanmu. Aku masih menunggumu."
Rain menghela napas lagi, merasa sedikit lega sekaligus resah. "Baiklah, aku akan menyelesaikannya secepat mungkin."
Kia berbaring di sisi Rain, merasa nyaman dan tenang, sementara Rain mencoba fokus kembali pada pekerjaannya, meski pikirannya masih dipenuhi oleh perasaan yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
"Aku boleh tidur dengan pakaian terbuka? Udaranya sangat panas!" Kia melepas gaunnya dengan senyuman licik, tubuhnya hanya terbalut pakaian dalam yang tipis.
Rain tersenyum seraya mengangguk, mengerti apa maksudnya. "Kamu memang penggoda," ujarnya dengan nada menggoda pula, mencoba tetap fokus pada laptopnya.
Kia tertawa kecil, lalu berbaring lebih dekat kepada Rain. "Aku tahu kamu tidak bisa menolak godaan ini," bisiknya, lalu menempelkan bibirnya di telinga Rain.
Rain menghela napas dalam-dalam, berusaha mempertahankan konsentrasinya. "Kia, aku benar-benar harus menyelesaikan ini," katanya, meski suaranya terdengar sedikit goyah.
Kia tidak menyerah begitu saja. "Baiklah, aku akan tidur di sini, di sampingmu. Jika kamu butuh istirahat, aku siap menemani." Dia menyentuh leher Rain dengan lembut, lalu berbaring dengan posisi yang lebih menggoda.
Rain menggigit bibirnya, berusaha keras untuk tetap fokus. Namun, godaan dari Kia membuatnya semakin sulit. "Kia, kamu benar-benar tahu bagaimana membuat segalanya menjadi rumit," gumamnya sambil mencoba mengetik di laptopnya.
Kia tersenyum puas. "Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku di sini untukmu. Jika kamu butuh bantuan, aku selalu siap."
Rain menutup laptopnya dengan gemuruh hati yang tak tenang. "Kamu tahu, kamu tidak membuat ini lebih mudah."
Kia mendekat lagi, menatap Rain dengan mata penuh cinta dan godaan. "Siapa bilang aku ingin membuatnya mudah? Aku ingin kamu merasakan apa yang aku rasakan."
Rain menghela napas, lalu membuang laptopnya ke samping dan menarik Kia ke dalam pelukannya, menindihnya dengan rapat. "Kamu menang, Kia."
Dan malam itu, mereka tenggelam dalam gairah yang tak tertahankan.