Matahari pagi menyapa dengan hangat lapangan tenis yang lengang. Di tengahnya, Kia melangkah lincah, kakinya menari di atas tanah liat merah. Raket di tangannya bagaikan tongkat magis, memukul bola tenis dengan presisi dan kekuatan yang luar biasa. Bola kuning itu melesat bak kilat, tak mampu dibalas oleh lawannya.
Di tribun penonton, Asher duduk dengan senyum bangga. Matanya tak lepas dari Kia, kekasihnya yang selalu memukau di lapangan. Setiap pukulan, setiap gerakan, Asher saksikan dengan penuh kekaguman. Kia bagaikan seorang ratu di kerajaannya, mengendalikan permainan dengan penuh d******i.
Namun, Asher bukan satu-satunya yang terpesona oleh Kia. Rain diam-diam mengamati setiap gerakannya. Rain terkadang heran dengan adiknya. Apa yang kurang dari wanita itu? Cantik, cerdas, pandai memasak, pintar juga di bidang olahraga, Kia juga orang yang asyik. Kenapa Asher sampai kepikiran untuk berselingkuh dengan Devina?
"Biasa aja ngelihatnya! Kayak pernah lihat Kia telanjang aja, sampai sedalam itu pantenginnya!" celetuk Asher tak suka. Spontan, Rain yang sedang meminum air mineral tersedak dan terbatuk.
"Salah siapa dia ada di depan mataku?" sahut Rain santai, masih dengan tatapannya yang terfokus pada Kia.
"Tidak boleh! Carilah kekasih sendiri dan pandangi kekasihmu sendiri!" ujar Asher ketus seraya menarik kepala kakaknya agar menoleh ke arah lain.
"Padahal sejak tadi kamu juga memandangi Devina. Apa kamu menyukainya? Kamu pernah melihatnya telanjang? Tatapanmu juga cukup dalam!" tanya Rain yang spontan membuat Asher tergagap.
"Bagaimana aku tidak memandanginya, dia sedang bermain dengan Kia! Ada di depan mata!"
"Aku juga sama, Kia ada di depan mata maka dari itu aku melihatnya. Jangan negatif thinking! Dan, kenapa kamu kelihatan panik seperti itu? Kamu tidak menyembunyikan sesuatu, kan?"
"Sudahlah Kak, kamu ini membosankan sekali! Diajak bercanda malah ngajak serius! Nggak asyik!" Asher meninggalkan Rain untuk menghampiri kekasihnya, membawakan minum dan tisu untuk mengelap keringatnya.
Rain cemberut seraya meminum air mineralnya lagi. Tatapannya tidak bersahabat kali ini. Apa dia sedang cemburu?
Saat Kia melihat Asher mendekat, ia segera menyeka keringat dan tersenyum tipis. "Terima kasih," katanya singkat, menerima minuman dari Asher.
"Permainanmu luar biasa!" puji Asher sambil mengelap keringat di dahi Kia.
"Terima kasih," balas Kia lagi, kali ini dengan nada yang lebih dingin.
Perasaannya campur aduk; di satu sisi, ia menikmati perhatian Asher dan membuat Devina kebakaran jenggot. Tapi di sisi lain, ia merasa sakit hati dengan pengkhianatannya. Terkadang Kia ingin menendang wajahnya hingga babak belur.
"Kia, aku mohon tinggalkan pria itu. Kita tetap pada rencana pernikahan!" Asher memohon dengan suara penuh emosi. Ia mengambil tangan Kia dan menggenggamnya erat, seakan tidak ingin pernah melepaskannya. "Kita sudah melewati banyak hal bersama. Aku yang menyelamatkanmu saat tenggelam malam itu. Kurang apa pembuktian cintaku padamu?"
Mata Kia berkaca-kaca mendengar kata-kata Asher. Kenangan pahit itu kembali menghantam pikirannya.
Beberapa tahun lalu, saat keluarga mereka liburan bersama, Kia terjatuh dari kapal pesiar yang mereka naiki. Ketika ia bangun, Kia mendapati dirinya telah koma selama tiga hari. Semua orang berkata bahwa Asherlah yang menyelam ke dalam laut yang ganas untuk menyelamatkannya, mempertaruhkan nyawanya sendiri. Sejak saat itu, Kia merasa berhutang budi yang tak terhingga padanya.
Saat Kia tak menjawab, Asher langsung memeluknya. Asher mencium keningnya dan menatapnya lekat-lekat. "Tidak ada yang mencintai kamu sedalam aku, Kia! Tolong, tetaplah bersamaku! Tolong jangan berpaling padaku!"
"Aku akan pikirkan lagi." Kia berkata pelan, lalu membiarkan Asher memeluknya. Memang, Asher sangat berjasa. Tapi Kia ragu tentang cinta yang dikatakannya. Jika benar sedalam itu, kenapa dia selingkuh bersama Devina?
Rain yang melihat interaksi itu dari kejauhan, hanya bisa menghela napas panjang. Pelukan mesra yang dilakukan Kia dan Asher membuat hatinya tak nyaman. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia segera merogoh saku jaketnya dan menyalakan rokok, berharap kepulan asapnya dapat menenangkan pikirannya yang kalut.
"Kenapa aku merasa aneh seperti ini saat melihat mereka bersama?" lirihnya dengan gelisah, sembari menghembuskan asap rokok. Rain memejamkan mata sejenak, berusaha mencari jawaban dalam kepulan asap yang menghilang di udara.
Setiap kali melihat Kia dan Asher bersama, ada sesuatu yang menyakitkan di dalam hatinya, sesuatu yang tak bisa diabaikan begitu saja. Ia merasa terjebak di antara perasaan yang tak terungkapkan dan kenyataan yang tak bisa dihindari.
Meski awalnya hanya menganggap Kia sebagai sumber kesenangan sementara, kini ada perasaan yang lebih dalam yang perlahan muncul di hatinya.
Rain menghela napas lagi, lebih dalam kali ini. Asap rokok berputar di sekitar wajahnya, menciptakan tirai tipis antara dirinya dan kenyataan yang menyakitkan di depan matanya. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini hanyalah sebuah fase, bahwa perasaan ini akan berlalu seiring waktu. .
Namun, semakin keras ia mencoba, semakin kuat perasaan itu mencengkeram hatinya.
"Dia bukan untukmu, Rain. Kalian hanya teman ranjang, kenapa kamu jadi cengeng seperti ini?" gumamnya kepada diri sendiri, seakan mencoba meyakinkan hati yang mulai bimbang. "Kamu tidak akan cukup dengan satu wanita, kamu dan Kia hanyalah bermain-main!" ujarnya meyakinkan diri.
Namun, kata-kata itu terdengar hampa. Setiap kali ia mengucapkannya, perasaan aneh itu justru semakin kuat, semakin nyata. Rain sadar bahwa perasaannya terhadap Kia tidak bisa diabaikan atau disangkal begitu saja.
Ia mematikan rokoknya dengan gerakan cepat, seakan berharap rasa gelisah itu akan hilang bersamanya. Tatapannya kembali terfokus pada Kia yang masih berada di pelukan Asher. Rasa cemburu yang tak bisa ia kendalikan membakar hatinya, membuatnya semakin gelisah.
"Ayo Asher, bermainlah. Kamu mau olahraga atau pacaran?" Rain berteriak dengan tajam, suaranya menggelegar di lapangan tenis.
"Makanya, cari pacar! Ganggu adiknya aja!" Andrea, sang ibu, menyindir putra tertuanya sembari menenggak infus water dari botol minumnya. Matanya berkilat penuh humor.
John, yang sudah tahu tentang cinta segitiga di antara mereka, tertawa kecil di sisi lapangan. Apalagi saat Kia dan Rain saling mencuri pandang, meski berusaha keras untuk tidak ketahuan.
Namun, John sangat berharap Kia dan Rain bisa bersama. Dia bisa melihat dengan jelas bahwa Rain lebih bisa diandalkan untuk menjaga putrinya dan juga perusahaan.
Rain memiliki paket lengkap sebagai menantu yang diidam-idamkan, seseorang yang bisa diandalkan baik dalam urusan keluarga maupun bisnis.
Kia tersenyum saat menyadari Rain cemburu dan memasang wajah masam. Baguslah jika Rain mulai masuk dalam perangkapnya. Kini Kia hanya tinggal memberinya bumbu-bumbu agar Rain semakin terikat padanya. Dia tahu betul bagaimana memanipulasi emosi Rain, membuat pria itu semakin terjerat dalam pesonanya.
Tidak peduli bagaimana pengorbanan Asher untuknya dulu, Kia akan tetap membalas dendam. Selingkuh tetap selingkuh! Baginya, pengkhianatan Asher tak bisa dimaafkan. Ia tidak akan berhenti sampai melihat Asher merasakan sakit yang sama.
*****