"Jika aku tidak menemukanmu di bar malam ini, entah jadi apa kamu." Rain memberi Kia air hangat dan obat untuk meredakan kadar alkohol dalam tubuh.
Kia tersenyum lalu menerima obat yang Rain berikan padanya. "Buktinya aku selamat karenamu. Sepertinya kita memang diciptakan untuk bersama."
"Apa kamu tahu, jika ayahmu menyadari hubungan kita?" ujar Rain.
"Papa?"
"Ayahmu menemuiku dan memberitahu jika dia tahu segalanya. Jika kita memiliki hubungan."
"Ya bagus. Berarti, dia tahu siapa calon menantunya yang sesungguhnya." Kia tertawa santai dan tak terintimidasi sama sekali.
"Kamu bahkan tidak takut?"
"Papa bukan tipe orang yang suka membocorkan rahasia. Dia sangat menyukaimu, tentu dia akan merestui hubungan kita." Kia dengan genitnya naik ke pangkuan Rain dan memeluknya seperti koala, menggoda seperti yang biasa ia lakukan.
"Tapi aku tidak akan menikahimu. Aku tidak akan menikah dengan siapapun! Bagiku, wanita hanyalah penghangat ranjang di saat aku membutuhkannya."
"Kamu boleh bicara seperti itu hari ini. Tapi ingatlah, suatu saat aku akan membuatmu jatuh cinta padaku!" Kia berbisik di hadapan bibirnya.
"Aku tidak akan jatuh cinta padamu. Hanya tubuhmu yang aku sukai!" Rain menindih Kia di atas ranjang tersebut lalu mulai memberinya ciuman. Bibir pucat nan tipis itu ia pagut dengan lembut hingga turun ke leher, dan d**a Kia yang hanya berbalutkan kemeja kebesaran miliknya.
"Aku akui, aku sangat menyukai kehangatanmu!" Rain berbisik seraya melucuti satu-satunya kain yang menutupi tubuh Kia.
"Jadi sekarang kamu sedang mengajakku menyalakan api?" Kia mengikuti gerakan Rain, melucuti apa yang pria itu kenakan. Ia membalas setiap kecupan yang Rain berikan.
"Aku memang suka berubah pikiran di saat butuh kepuasan." Rain menatap wajah Kia dengan kabut gairah yang tak tertahan, lalu menyatukan diri dalam sekali hentak, memberi Kia hujaman-hujaman lembut dan memabukkan.
"Rain---" Kia melenguh, menikmati dorongan-dorongan kenikmatan sembari meremas rambut Rain yang bertengger di dadanya. Rencana Anna berhasil! Kini Kia tahu bahwa Rain sudah masuk dalam perangkapnya. Ini merupakan tahap awal untuk membuat Rain bergantung padanya.
"Satu malam, satu wanita. Jadi benar bukan, aku pengecualianmu?" Kia berbisik dengan suara berat.
"Aku tidak mengerti kenapa kamu begitu memabukkan, Kia. Tapi jangan salah paham, mungkin aku hanya belum bosan!"
"Bagaimana jika kamu tidak akan pernah bosan?"
"Itu mustahil!" Rain memberi Kia hentakan yang cukup keras. "Mungkin kamulah yang ketagihan padaku nanti!"
"Kita lihat saja, siapa yang rindu lebih dulu. Siapa yang akan kecanduan dan tak bisa lepas!" Kia tersenyum smirk.
Malam itu berlanjut dengan penuh gairah dan keintiman, keduanya tenggelam dalam kenikmatan yang membingungkan dan membara. Bagi Kia, ini lebih dari sekadar kepuasan fisik—ini adalah bagian dari rencana besar untuk mengikat Rain.
Sedangkan bagi Rain, ini adalah kepuasan yang terbungkus misteri. Karena Rain tidak pernah bisa menjabarkan bagaimana perasaannya untuk Kia.
Mereka terus bermain dengan api, tanpa menyadari bahwa api itu semakin membesar dan siap membakar mereka kapan saja.
Setelah segala gairah mereda, Kia mengatur nafas yang berdetak cepat setelah ledakan kepuasan yang Rain berikan. Sedangkan Rain masih terengah-engah di atas tubuhnya dengan mata terpejam.
Rain menyelimuti tubuh mereka, lalu memeluk Kia dengan erat dan penuh kehangatan. Rain bahkan tidak melepaskan penyatuan itu. Ia mempertahankan kenyamanan yang tengah dirasakannya.
"Selamat malam, pengganggu hidupku." Rain mencium telinganya.
Kia tertawa pelan. "Pengganggu yang tidak bisa kamu lepaskan, kan?"
Rain menggelengkan kepala, masih dengan senyum di wajahnya. "Kita lihat saja nanti, Kia. Kita lihat siapa yang akan menyerah lebih dulu."
"Pelukanmu ini sudah cukup menjelaskan." Kia mengecup bibirnya dengan lembut. "Goodnight!" lanjutnya, lalu merapatkan diri lebih dalam kepada Rain, dan segera memejamkan matanya.
Rain masih memeluk Kia erat, merasakan kehangatan tubuhnya dan menghirup aroma yang membuatnya merasa tenang. Ia menatap wajah Kia yang kini terlelap, dan senyum kecil terukir di bibirnya. Rain memeluk Kia lebih erat lagi, merasa bahwa malam ini, di antara segala gairah dan keintiman, ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, tapi terasa begitu nyata.
"Rain!" Kia membentaknya ketika merasakan Rain kembali memberinya dorongan kecil di bawah sana. Rain memagut bibirnya, hingga Kia tidak ada kesempatan untuk protes selain menikmatinya.
Ketika Kia dan Rain hampir kembali larut dalam permainan panas di kamar itu, tiba-tiba pintu terbuka dengan tiba-tiba. Asher, adik Rain, masuk dengan santainya, menyebutkan bahwa ia hanya datang untuk mengambil beberapa dokumen penting untuk besok. Asher tampaknya tidak menyadari bahwa wanita yang sedang berada di sana adalah Kia, kekasihnya sendiri.
"Wow, kak. Sedang bermain bersama, ya?" celetuk Asher dengan nada mengolok-olok. "Siapa ini? Kekasih baru kakak?"
Rain terkejut mendengar Asher datang begitu tiba-tiba. Ia segera mencoba menutupi situasi, "Ah, ini, bukan apa-apa. Dia hanya teman bisnis." Rain menutup Kia dengan selimut, lalu segera memakai piyamanya.
"Kak----"
"Kamu tahu aku paling tidak suka kamu masuk sembarangan, bukan?"
"Maaf Kak! Aku mau mengambil dokumen untuk besok! Aku juga mau mengajak kakak minum! Kakak tau, Kia mengabaikanku! Dia marah padaku dan berkata memiliki pria lain! Aku harus bagaimana?"
"Asher, bisnis kita menunggu, aku tidak ada waktu untuk membahas kisah cintamu!" kata Rain dengan nada tegas, berusaha mengusir Asher dari kamar.
"Kak---"
"Asher!"
Asher mengangkat bahu, tampaknya sudah tidak tertarik untuk bertele-tele. "Baiklah, baiklah. Kakak bermain baik-baik ya," ujarnya sambil tersenyum sumringah sebelum akhirnya meninggalkan mereka sendiri.
Setelah Asher pergi, Rain segera menghela nafas lega.
Kia ikut tersenyum tipis melihatnya. "Kamu cukup pandai berakting!"
Rain menggeleng. "Dari pada kamu, hanya bersembunyi di balik selimut! Sekarang apa bedanya kamu dengannya?" Rain kembali merebah di atas ranjang tersebut dan menarik Kia mendekat.
"Apa kau tau, saat dia berkata khawatir dengan hubungannya denganku, dia juga sedang bercinta dengan Devina? Cek saja kamarnya saat ini! Jadi aku rasa, ini impas!'
Rain menarik Kia lebih dekat ke dalam pelukannya. "Dan sekarang kamu menyeretku di tengah lingkaran kerumitan hubungan kalian!"
"Kamu tidak menolaknya, bukan?"
"Sudah kukatakan, aku tidak akan menolak jika butuh kehangatan!"
Rain terkekeh, lalu melanjutkan permainan mereka yang terputus. Malam itu berlanjut dengan gairah yang membara, tanpa lagi gangguan dari siapapun.
Dan malam ini menunjukkan jika Rain, sudah benar-benar terperangkap dalam kail yang Kia lemparkan.