Perangkap

1716 Words
"Kamu hebat, Rain. Kamu memenangkan tender besar hari ini, Om sangat bangga padamu!" John menepuk pundak Rain dengan bersahabat. "Ini juga berkat masukan-masukan yang Om berikan." "Kamu selalu merendah. Ayolah, ajari adikmu! Kelak dia akan aku percaya mengelola perusahaan setelah menikah dengan Kia. Sifatnya masih sangat kekanak-kanakan dan hanya tau berfoya-foya." John duduk di sofa setelah mereka sampai di ruangan milik Rain. "Andai saja kamu yang menikah dengan Kia!" Rain langsung terbatuk setelah perkataan John tersebut. Ia juga mendadak mengingat percintaan panas mereka semalam. "Om hanya bercanda, Rain!" John tertawa, lalu menatap ke arah tas kotak makan kecil yang ada di meja. "Sepertinya aku mengenal tas kotak makan ini---" John mengerutkan alis. "Kia, bukankah ini miliknya? Om hafal betul semua barang yang dia miliki." "Rain lupa bilang, Kia memberiku makan siang. Katanya sebagai ucapan terima kasih karena aku menolong dan meminjamkannya jas kemarin," ujar Rain gugup. "Apa yang terjadi padanya kemarin?" "Sepertinya karena Devina menyinggung almarhum ibunya, karena itulah pertengkaran pun terjadi. Aku hanya melerai mereka." Rain berucap semakin gugup. "Kia itu memang sensitif sekali sejak dulu, selalu kasar dengan saudara tirinya. Entah kapan mereka bisa akur." "Sebaiknya Om jangan salahkan Kia, ucapan Devina memang sangat kasar dan kurang ajar. Aku tidak begitu yakin dan percaya dengan dia dan ibunya. Biar bagaimanapun, darah lebih kental dari air. Percayalah pada Kia. Maaf bukannya Rain mau ikut campur. Rain hanya menilai dari apa yang Rain lihat," ujarnya dengan nada gelagapan. Kenapa dia bicara terlalu banyak seperti ini? Ya Tuhan Rain! "Ya, kamu benar Rain." John menarik napas panjang. "Om, maafkan aku jika terlalu ikut campur." "Tidak apa, Rain, justru o*******g ada teman berbagi cerita. Om selalu memojokkan Kia jika ada pertengkaran di antara mereka. Sepertinya aku melalukan hal yang salah selama ini." "Om sudah makan siang? Mari makan siang bersama!" Rain mengalihkan pembicaraan. Ia membuka bekal yang Kia bawakan untuknya. Kia membuatkannya pasta carbonara yang menjadi makanan favoritnya selama ini. "Biasanya Kia tidak akan mau memasak untuk sembarang orang. Dia hanya memasak untuk orang yang spesial." John menatap bekal cantik yang baru saja Rain buka. Suasana di antara mereka semakin canggung sekarang. Apalagi Rain yang tak lagi bisa berkata-kata. "Kalian dekat?" tanya John to the point. "Bukan seperti itu---" "Sebenarnya Om tidak sengaja menyadari kalian saling menggoda saat makan malam kemarin. Om datang ke sini, selain membahas pekerjaan, ingin memastikan hal itu padamu. Kalian punya hubungan?" "Ini tidak seperti---" "Om tidak akan ikut campur. Kalian sudah dewasa, kalian yang berhak memilih jalan. Om hanya memastikan, dan dari raut wajahmu, jelas menunjukkan jika kalian memiliki hubungan." Rain kini hanya bisa diam dan tak bisa mengelak. Karena dia juga tidak mungkin berkata pada John jika hubungan mereka hanya sebatas seks. John akan membunuhnya jika itu terjadi. "Jujur, Rain, Om lebih tenang jika Kia menikah denganmu. Kamu lebih dewasa, kamu lebih bisa menjaga dia." John kembali menepuk pundak Rain, lalu meninggalkan ruangan itu. Rain memandangi makanan yang Kia bawa, lalu menutup matanya dengan frustrasi. Kia, kenapa Rain harus terlibat drama bodoh bersamanya? Sekarang bagaimana? Ayah Kia mengetahui hubungan mereka. Andai John tahu jika semua itu hanya sebatas hubungan di atas ranjang, tidak lebih. Rain pun mulai memakan makanan itu. Ia melebarkan mata, tak menyangka jika wanita rese itu ternyata sangat jago memasak. Setiap suapan pasta carbonara itu mengingatkannya pada betapa kompleks dan membingungkannya perasaannya terhadap Kia. ***** Kia menatap pesan-pesan yang Asher kirimkan padanya. Ia sama sekali tidak membalasnya. Buat apalagi Kia peduli, toh dibalik sikap takut kehilangannya, dia sedang bersama selingkuhannya. Dia sudah memiliki cadangan yang siap menggantikannya kapan saja. Dia memang pria b******k yang tidak tahu diri. "Kamu di sini mau membantuku move on atau adu nasib karena kita sama-sama dihianati? Kalau kamu sedih dan tidak mood seperti itu, aku juga akan merasakannya!" Anna memeluk Kia dengan erat. "Kenapa laki-laki itu b******k sekali, Anna?" Kia meneteskan air mata. "Bahkan kenal sejak kecil sekalipun, tidak menjamin jika dia tidak akan berselingkuh." "Aku tahu perasaanmu." Anna memeluknya, ikut meneteskan air mata. Anna juga baru saja diselingkuhi, jadi Anna tahu apa yang Kia rasakan. "Kia, aku tahu apa yang kita alami sangat menyakitkan. Tapi sudah ya, jangan menangis! Jangan mengeluarkan air mata untuk hal-hal yang tidak layak! Cukup menangis sekali saja, tapi setelahnya kamu harus bahagia." "Terkadang aku hanya tidak mengerti kenapa Asher melakukan itu padaku. Sejak kecil dia selalu melindungiku, dia orang yang paling dekat dan aku percaya. Kenapa?" "Karena dia b******k dan kamu tidak melihatnya! Kamu buta! Sudah Kia, jangan lemah! Lanjutkan balas dendammu!" Anna mengambil dua gelas bir yang ada di meja, lalu mengajak Kia menabrakkan gelas dan meminum isinya hingga tandas. "Dendamku harus sempurna. Walau aku harus mengorbankan diri untuk menikah dengan orang yang tidak aku cintai." "Hei, Kakak Asher itu keren, tampan, matang, dewasa, cinta itu hanya masalah waktu!" Anna merangkulnya dengan wajah genit. "Dan sepertinya kalian jodoh! Lihatlah siapa yang sedang berpesta dengan para wanita di sana!" Anna menunjuk ke arah Rain yang sedang berpesta dengan teman-temannya dan memangku seorang wanita malam yang bekerja untuk bar tersebut. "Lihat, kelak aku harus memiliki suami yang sama brengseknya seperti adiknya." "Kia, untuk pria jomblo melakukan itu ya sah-sah saja! Siapa tahu setelah kamu menjeratnya, dia tidak akan bisa lepas darimu. Kamu itu sangat cantik, seksi, tubuh idealmu itu seperti model! Kamu hanya perlu terus menggodanya, sampai dia masuk ke dalam kail yang kamu lemparkan!" "Kamu selalu bisa menghiburku!" "Kamu mau tahu dia sudah masuk ke dalam kailmu atau belum?" Anna tersenyum licik lalu mengeluarkan sejumlah uang dari tasnya. Ia memanggil seorang pria random dan membisikinya sesuatu sembari menyerahkan uang tersebut. Kia mengerutkan alis saat pria asing itu mengangguk, lalu merangkul pundaknya. "Apa ini?" "Bilang saja jika kamu menyewa pria ini untuk bercinta dan lewatlah di hadapannya. Kita lihat reaksinya." Anna memberi ide. "Tapi---" "Gunakan kamar yang kita pesan!" "Tapi Anna---" "Mana Kiaku yang gila dan berani? Kenapa malam ini kamu lemah sekali?" "Nona, kamu tenang saja! Jika kemampuan aktingmu jelek, akan aku bantu!" Pria itu menarik pinggangnya, dan memberi Kia ciuman di pipi. "Dan tenang saja, aku tidak suka wanita." Pria itu tersenyum meyakinkan lalu menarik Kia ke arah Rain dan teman-temannya. Kia spontan memeluk pria bayaran itu dan berpura-pura mabuk. Tidak butuh waktu lama untuk Rain sadar jika Kia disekitarnya. Rain melotot melihat pria asing itu menggendong Kia yang sedang tidak sadarkan diri di hadapannya. "Aku mau pulang!" Kia merengek sembari melirik ke arah Rain yang terlihat mengeraskan rahang. "Bukankah kita sudah sepakat untuk memesan kamar? Oh ayolah! Kita akan menghabiskan malam yang panas! Kamu mau gaya apa?" Pria itu membantu Kia berakting. "Kamu bisa semua gaya?" Kia memeluk leher pria itu terus bersikap seperti orang yang sedang mabuk. Rain mendekat dengan cepat, rahangnya masih terlihat tegang. "Hei, biarkan dia. Dia jelas-jelas tidak sadar," katanya dengan nada datar namun tegas. Pria itu menoleh, masih memeluk Kia dengan erat. "Ini bukan urusanmu, kawan. Dia sudah memilih ikut denganku." Rain mengulurkan tangan dan menarik Kia dengan lembut tapi tegas dari pelukan pria tersebut. "Aku yakin dia lebih memilih pulang dengan aman," katanya sambil menatap Kia dengan tatapan tajam yang penuh arti. Kia berpura-pura terhuyung, setengah merosot dalam pelukan Rain. "Kamu siapa? Aku memilih bersamanya! Katanya, dia bisa gaya apa saja!" gumamnya sembari tertawa, berusaha mempertahankan perannya. "Lihat, dia memilih bersamaku! Serahkan dia padaku!" Pria itu masih bertahan dengan aktingnya. "Atau kamu mau bermain bersama kami?" "Pergilah sebelum kuhancurkan wajah dan mulut busukmu itu," ancam Rain tak main-main. Rain menatap pria bayaran itu sekali lagi sebelum membalikkan badan, memimpin Kia keluar dari bar tersebut. "Kamu benar-benar tahu cara membuat kekacauan, Kia," bisiknya saat mereka berjalan keluar. Sedangkan dalam pelukan Rain, Kia tersenyum penuh kemenangan. Apa ini pertanda jika Rain sudah masuk ke dalam perangkapnya? "Dasar merepotkan! Jika bukan karena keluarga kita memiliki hubungan baik, aku tidak akan peduli padamu! Semenjak kamu datang, hidupku penuh kesialan!" ujar Rain yang seketika membuat Kia menciut. Membawa kesialan? Dia? Menyebalkan sekali! "Aku membawa kesialan? Kamu yang selalu berlagak sok pahlawan malam ini, apa aku meminta bantuanmu?!" Kia berusaha menahan amarahnya. Rain menghentikan langkahnya dan menatap Kia dengan tajam. "Aku ikut campur karena kamu selalu membuat kekacauan di mana-mana. Karena kamu melibatkanku, dan membuatku masuk ke dalam hidupmu!" Kia menatap Rain dengan pandangan penuh kebencian dan frustrasi. "Kalau begitu, biarkan aku sendiri. Aku tidak butuh nasihat atau perlindungan darimu. Biarkan aku tidur bersama pria manapun yang aku mau!" Rain menatapnya sejenak, lalu melepaskan pegangan pada Kia. "Baiklah, kalau itu yang kamu mau." Rain berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Kia berdiri di parkiran itu sendiri di tengah malam yang dingin. Kia merasa hatinya semakin kosong, namun ia tahu bahwa dirinya harus tetap teguh pada rencananya. Bagaimanapun juga, dendamnya pada Asher belum usai. "Ternyata membuat Rain masuk perangkap tidak semudah yang aku kira!" lirihnya pelan. "Hei!" Kia terkejut saat mendengar suara pria asing menyapanya. Kali ini bukan pria bayaran, dia benar-benar bertemu pria asing yang kurang ajar. "Kami punya kamar kosong. Mau bergabung?" Ketiga pria itu mendekatinya, membuat Kia berjalan mundur dan ketakutan. "Menyingkirlah!" Kia berkata dengan sinis dan berusaha memberanikan diri. "Sudahlah jangan munafik!" Salah satu pria itu menarik pergelangan tangannya, sedangkan salah seorang pria lain membuka pintu mobil yang terparkir tak jauh dari sana. "Kami akan mengantarmu pulang besok! Jika dilihat-lihat, kamu sangat cocok menjadi peran utama film panas kita malam ini!" Ketiga pria itu tertawa sembari menarik Kia paksa. "Lepaskan dia, atau mayat kalian akan ditemukan mengapung di lautan besok," ujar Rain tajam. Ia sudah menduga jika wanita pembuat masalah itu tidak akan selamat jika berkeliaran sendirian. Karena itulah Rain kembali. Ketiga pria itu berhenti sejenak, menatap Rain dengan tatapan menilai. Salah satu dari mereka mencoba menantang, "Siapa kamu? Kekasihnya? Kalau begitu, kenapa kamu meninggalkannya sendirian?" Rain maju satu langkah dengan mata tajam dan penuh determinasi. "Bukan urusan kalian. Sekarang, lepaskan dia sebelum aku membuat kalian menyesal." Merasa terintimidasi, pria yang memegang tangan Kia akhirnya melepaskannya dengan kasar. "Ayo, kita pergi," katanya pada teman-temannya. Mereka pun bergegas masuk ke mobil dan melaju pergi, meninggalkan Kia dan Rain. Kia memeluk dirinya sendiri, gemetar. Rain menatapnya sejenak sebelum berkata, "Kamu baik-baik saja?" Kia mengangguk pelan, meskipun matanya masih berkaca-kaca. "Kenapa kamu kembali?" Rain menghela napas. "Karena aku tahu kamu akan berada dalam masalah jika dibiarkan sendiri." Ujarnya, lalu mengangkat tubuh Kia menuju mobil miliknya. "Kenapa sulit sekali untuk mengabaikanmu?" Bisiknya, lalu memberikan ciuman memabukkan hingga membuat Kia bertanya-tanya. Apa Rain sudah masuk dalam perangkanya? *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD