Jangan Bermain Api

1072 Words
Rain menatap layar komputernya, terfokus pada pekerjaan yang menumpuk. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam, namun dia masih sibuk dengan tumpukan dokumen yang harus diselesaikan. Di tengah kesibukannya, bel pintu apartemennya tiba-tiba berbunyi. Jika ada yang datang pada jam seperti ini, biasanya itu berarti adiknya atau orang tuanya. Sebab, Rain yakin dia tidak memesan wanita malam ini. Namun, ketika pintu terbuka, wajah Kia yang muncul. Tanpa ragu, wanita itu langsung berhambur ke pelukannya dan masuk ke dalam apartemen mewah tersebut. "Apa yang kamu lakukan? Kita sudah tidak ada hubungan lagi!" seru Rain, terkejut dengan kedatangan Kia. "Aku bawa makanan untukmu. Kamu pasti lembur, kan?" Kia tidak mendengarkan penolakan dari Rain dan langsung menyiapkan makanan yang ia bawa ke meja. "Kia, kita sudah sepakat," kata Rain dengan nada tegas. "Aku datang sebagai teman. Tidak boleh?" Kia tersenyum meyakinkan, menarik Rain untuk duduk bersamanya. "Kamu datang dengan pakaian seperti ini, tengah malam, di apartemen seorang pria?" Rain menarik tali spaghetti dari gaun yang Kia kenakan, lalu memberikan kecupan pada pundaknya. "Semua tergantung pada pandanganmu. Jika kamu tidak m***m, kamu tidak akan berpikir yang aneh-aneh. Ayo, cobalah masakanku!" Kia menyuapinya sesendok lasagna buatannya. Rain menerima suapan lasagna dari Kia. Ia memang kelaparan karena belum sempat memesan makan malam. "Setelah ini pergilah, biasanya aku tidak melakukan seks lagi dengan wanita yang sama. Satu wanita, satu malam." "Oh ya? Kamu lupa jika kemarin kita melakukannya di malam dan pagi hari? Itu berarti aku pengecualianmu!" Kia mengusap bekas noda lasagna di bibir seksi prianya. Membuat Rain kwalahan menghadapinya. Rain tidak pernah menyangka jika dia akan memiliki hubungan seperti ini dengan tunangan adiknya sendiri. "Kamu memang berbeda," katanya akhirnya, suaranya sedikit melembut. "Tapi kita harus tetap berpegang pada kesepakatan." Kia tersenyum, matanya berkilau penuh tantangan. "Kesepakatan itu hanya berlaku jika kita mau mematuhinya. Dan aku tidak mau mematuhinya. Aku tertarik padamu!" "Kia---" "Rain, aku sudah memutuskan untuk tidak memanggilmu dengan sebutan 'kak' jika tidak ada orang di sekitar kita!" Kia mendekatkan wajah mereka, menatap Rain dengan tajam. "Dan Rain Alistair, jangan munafik. Aku tahu kamu pun tidak akan bisa melupakanku setelah malam itu!" "Kamu terlalu percaya diri!" Rain terkekeh, meski matanya menunjukkan sesuatu yang lebih dalam. Ada rasa tak terucapkan yang mengendap di sana, sebuah campuran antara rindu dan kebingungan. Kia hanya tersenyum lebih lebar, menatapnya dengan penuh kepastian. "Percaya diri atau tidak, aku tahu perasaanmu. Kamu merasa ada sesuatu di antara kita, dan aku juga merasakannya." "Terserah jika kamu mau melanjutkan perasaanmu yang sepihak itu. Jangan sakit hati jika aku memiliki wanita lain suatu hari nanti." Rain menyanggah ucapan Kia. "Sudah jangan banyak bicara, makan dulu!" Kia kembali menyuapinya, memastikan Rain makan dengan benar. "Kamu ini seperti bayi saja, makannya selalu belepotan." Bisiknya seraya mengusap kembali noda yang ada di bibirnya, lalu memberikan kecupan kecil setelahnya. Kia juga langsung duduk di pangkuan Rain dan memeluk pria itu sembari menutup mata. "Kamu tidak keberatan jika aku menumpang tidur pada pelukanmu, bukan?" Kia tersenyum, penuh kehangatan. "Jangan berpikir m***m, aku hanya meminjam pelukanmu." Rain terkekeh saat wanita itu mulai menggodanya. Kia satu-satunya w************n yang bisa membuat Rain merasa nyaman dengan segala keusilannya, satu-satunya yang tidak membuatnya ilfeel. "Kamu tidak mau meminjamiku ranjang?" Kia mengedipkan matanya menggoda, bibirnya membentuk senyum penuh tantangan. "Astaga!" Rain terkekeh seraya memijit pelipisnya, lalu menarik dagu wanita itu dengan lembut. "Tidurlah di kamar jika kamu mau, tapi jangan membuatku repot. Ada banyak pekerjaan malam ini, dan harus selesai. Ada perebutan tender besok." "Kalau begitu, antar aku ke kamar." Kia memeluk tengkuk Rain dengan genit, suaranya merayu. "Gendong aku!" "Kia---" "Antar, atau aku akan terus di posisi yang nyaman ini!" Kia mengancam manja, memeluknya lebih erat, seolah tak ingin melepaskannya. Rain menghela napas panjang, menyerah pada kengototan Kia. "Baiklah, baiklah." Ia mengangkat tubuh Kia dengan hati-hati, memeluknya erat seolah wanita itu adalah sesuatu yang rapuh dan berharga. Kia tersenyum puas, menyembunyikan wajahnya di d**a Rain. Rain melangkah menuju kamar, setiap langkah terasa berat oleh beban perasaan yang tak terucapkan di antara mereka. Setibanya di kamar, Rain menurunkan Kia dengan lembut ke atas ranjang, mengatur posisi bantal agar nyaman untuknya. "Tidur, jangan merepokanku lagi!" ucap Rain lembut, berusaha menjaga jarak emosional meski hatinya berdebar. Namun, Kia meraih tangan Rain, menahannya. "Tunggu." Kia menatapnya dengan mata yang penuh kejujuran dan harapan. "Tetap di sini sebentar, temani aku sampai aku tertidur." "Kia, jangan sampai aku mengusirmu!" "Sebentar saja!" Kia merengek manja padanya. "Kamu mau mengusir wanita tengah malam?" "Demi Tuhan, kamu sangat merepotkan!" Rain berteriak kesal dan frustasi. Ia lalu merebah disamping wanita itu, dan langsung menyerangnya dengan ciuman panas. Kia tersenyum penuh kemenangan setelah rencananya berhasil. Kia akan terus menggoda Rain sampai pria itu tidak bisa lepas darinya. "Kamu benar-benar murahan!" bisik Rain saat Kia membuka kaos tipis miliknya, mengusap dadanya yang tegap. Kia bahkan tak segan memberinya ciuman lembut yang membuat Rain tertegun. "Tapi sikap ini hanya untukmu, Rain. Pria pertamaku yang manis!" Kia tersenyum penuh godaan, jemarinya masih menelusuri kulit Rain dengan lembut. "Kia, aku tahu kamu mendekatiku hanya untuk dendam." Rain terkekeh, meski ada kegetiran dalam suaranya. "Tubuhmu bergetar hebat. Kamu takut dan gugup, kan? Sudah, jangan memaksakan diri!" "Aku hanya belum berpengalaman. Itu tugasmu untuk mengajariku!" Kia mengarahkan jemari Rain untuk menyentuh dadanya, menuntun Rain untuk memberikan sentuhan lembut di sana. "Kia, balas dendamlah dengan caramu. Jangan melibatkanku! Biar bagaimanapun, Asher adikku. Kita hanya one night stand!" Rain mencoba mengingatkan, suaranya tegas meski hatinya gamang. "Aku tertarik padamu, ini bukan tentang balas dendam." Kia menatapnya dengan mata yang penuh kejujuran, menolak untuk mundur. "Sudahlah, jangan mengelak. Dan ingatlah Kia, aku bukan pria baik-baik. Aku tidak akan bisa dengan satu wanita saja. Kubur dalam-dalam rasa sukamu padaku." Rain berkata dengan nada serius, mencoba memutus tali perasaan yang semakin kuat mengikat mereka berdua. "Bagaimana jika aku bisa membuatmu menyukaiku?" Kia menantang, suaranya lembut tapi tegas. Ia mendekatkan wajahnya lagi, bibirnya hampir menyentuh bibir Rain. "Apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa membuatmu jatuh cinta padaku?" Rain terdiam, mencoba mengendalikan perasaannya. Kia terlalu berani, terlalu yakin. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang membuat Rain tak bisa berpaling. Sesuatu yang membuat hatinya bergetar setiap kali mereka bersama. Namun, Rain tahu bahwa hidupnya tidak bisa hanya diisi oleh satu wanita, dan Kia harus menyadari kenyataan itu. "Jangan bermain api, Kia," Rain akhirnya berkata, suaranya serak. "Kamu tidak tahu seberapa panasnya itu akan membakar." "Tidak peduli seberapa panasnya, aku akan tetap mencoba," jawab Kia dengan tegas, senyum kecil menghiasi wajahnya. "Karena untukmu, Rain, aku siap terbakar." *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD