Memulai Permainan

1133 Words
"Sejak kapan kamu dekat dengan kakak?" Asher bertanya kepada Kia yang sedang menikmati es krim dan bersandar pada bahunya. "Aku? Dekat dengan Kak Rain?" jawab Kia dengan nada heran. "Kemarin Kak Rain memberimu jasnya. Kakak biasanya tidak pernah peduli dengan sekitarnya, memberikan jasnya padamu seperti sebuah keajaiban. Kalian dekat di belakangku?" Ujar Asher seraya mengusap rambut Kia dan menjepitnya di belakang telinga. Tatapan cemburu dan tak suka terlihat sangat jelas sekali. "Tanya saja pada Devina, kenapa Kak Rain bisa memberiku jasnya," kata Kia dengan senyuman sinis. "Devina melihat apa yang terjadi." "Kenapa aku harus bicara dengan Devina? Kita saja tidak saling mengenal," Asher mengatakannya dengan sedikit gelagapan. Kia terkekeh mendengarnya. Jika Kia tidak tahu fakta bahwa mereka berselingkuh di belakangnya, mungkin Kia akan percaya saja padanya. "Memangnya apa yang Devina katakan? Dia berbuat iseng lagi padamu? Dia menyakitimu?" tanya Asher mencoba mengalihkan perhatian. Kia hanya menggeleng seraya tersenyum. Padahal Asher tahu bagaimana buruknya perbuatan Devina, Kia selalu menceritakan segalanya. Tapi kenapa Asher tega berkhianat dengan Devina? "Sayang, pernahkah kamu merasa bosan dengan hubungan ini?" Tanya Kia seraya memeluk Asher dengan begitu mesra dan penuh kehangatan. Ia kini menatap Asher yang terlihat menutupi keresahannya. "Sebelum pernikahan kita dilakukan, aku ingin kamu jujur." "Kenapa kamu bertanya hal itu? Kamu bosan padaku?" Asher menangkap wajah Kia dengan lembut. "Jangan bicarakan hal-hal yang berupa omong kosong!" "Aku selalu mencintaimu," Kia berkata pelan dengan mata berkaca-kaca. "Tapi aku juga tidak mau saat kita menikah nanti, masih ada sesuatu yang mengganjal. Mari kita bedah semuanya malam ini!" Kia sengaja bertanya seperti itu untuk memberi kesempatan pada Asher agar dia jujur. Jika Asher mengatakan semuanya, tentang hubungannya dengan Devina, Kia akan memaafkannya. Kia akan merelakannya. Hubungan baik mereka terjalin sejak kecil. Kia tidak mau hal itu hancur begitu saja. "Sayang, jangan bicara seperti itu. Aku mencintaimu, mana mungkin aku bosan?! Kamu tidak akan bisa digantikan dengan siapapun! Kamu akan selalu spesial di hatiku." "Kalaupun kamu jujur, aku akan tetap menjadi sahabat---" "Kamu kenapa sih? Kamu punya pria lain? Siapa dia? Kenapa kamu bicara sembarangan seperti ini? Apa yang membuatmu ragu padaku secara tiba-tiba seperti ini? Aku tidak akan melepasmu sampai kapanpun!" Asher berteriak frustrasi. Kia lagi-lagi hanya mampu tersenyum. Lihat? Asher tidak mau jujur, dia tetap menutupi semuanya. Jangan salahkan Kia jika dia juga melanjutkan balas dendamnya. Kia sudah memberinya kesempatan, tapi Asher memilih untuk tetap berbohong. "Sayang, aku mohon jangan ragu padaku. Kamu yang paling tahu, jika aku tidak akan pernah berselingkuh! Aku tidak akan pernah bosan padamu, aku tidak akan pernah mau kehilangan kamu dan melepasmu untuk pria lain!" "Maaf sudah bicara yang aneh-aneh." Kia tersenyum lalu mengeratkan pelukan. "Aku mau pulang." "Tidak, sebelum kamu mengatakan kenapa kamu seperti ini!" "Maaf Sayang, aku hanya takut jika kamu bosan. Kita sudah bersama begitu lama. Kata orang, pria itu gampang bosan dan tidak cukup dengan satu wanita saja. Maka dari itu aku minta kamu jujur!" "Iya, mungkin aku pernah menyewa-- jalang di luar sana. Selama kita menjalin hubungan selama ini. Aku akan jujur padamu. Aku melakukan itu karena kamu selalu menolakku." Ujarnya dengan nada pelan. "Tapi kamu juga harus ingat, pria akan tetap memilih wanita paling baik untuk menjadi pasangan hidupnya. Dan untuk aku, kamulah yang paling tepat untukku!" Kia tertawa kecil mendengar perkataan Asher yang sialan itu. Jadi dia mau menikah dengan wanita baik-baik sedangkan kelakuan yang dia miliki begitu menjijikkan? "Aku mau pulang." "Kamu marah?" "Menurutmu?" Kia bangkit berdiri, lalu pergi meninggalkannya menuju pintu keluar. "Jika kamu tidak menolakku, aku tidak akan mencari pelampiasan lain!" "Jadi untukmu seks lebih penting?" Tanya Kia, lalu keluar dari sana dan membanting pintunya. Asher mengejarnya, dan menarik pergelangan Kia dengan kencang. "Aku antar, jangan pulang sendirian." Asher memaksanya walau Kia sama sekali tidak mau bicara padanya. Asher berkata jujur pada Kia walau tidak spesifik. Asher memang sering tidur dengan wanita lain di belakangnya. Asher tertarik pada Devina yang ia anggap lebih mengerti kemauannya, termasuk urusan ranjang. Tapi Asher juga jujur jika hanya Kia wanita paling baik dan tepat untuk dijadikan pasangan hidup. Hubungannya dengan Devina tidak lebih dari sekedar kesenangan, seks, dan pelampiasan saat dia merasa bosan pada Kia. Asher tidak akan pernah siap kehilangan Kia. "Sebenarnya, ada pria lain." Kia menatap Asher seraya menepis tangannya. "Ada pria lain yang lebih serius darimu. Dan dia lebih membuatku nyaman. Sepertinya, kita perlu memikirkan apakah hubungan kita lanjut ke pernikahan, atau tidak." Kia tersenyum sinis saat wajah Asher memerah. Kia akan mengajaknya bermain teka-teki, sampai dia menemukan fakta bahwa pria yang Kia maksud adalah kakaknya sendiri. "Kia---" "Aku akan pulang sendiri, sebaiknya kamu istirahat. Kamu pasti lelah, bukankah kamu selalu lembur beberapa bulan terakhir? Apa kamu lembur dengan wanita-wanita sewaanmu selama ini?" Kia meninggalkan Asher dengan tangan terkepal, rasa marah dan kekecewaan berkecamuk di dalam dadanya. Sambil melangkah pergi, pikiran Kia bergolak, mengingat kembali momen-momen ketika Asher mengatakan dia sibuk atau harus lembur. Apa selama beberapa bulan terakhir ini Asher sebenarnya bersama Devina? Mereka sudah bersama begitu lama? Setiap kali Asher beralasan tentang pekerjaannya, Kia selalu berusaha memahami dan memberikan dukungannya. Namun, kenyataan yang baru saja terungkap mengubah segalanya. ***** "Sial!" Asher menenggak alkohol berbotol-botol dengan pikiran yang begitu kacau. Pria lain? Kia didekati pria lain tanpa sepengetahuannya? "Itu kesempatan kamu buat putus dengannya. Kenapa kamu marah seperti ini?" Devina duduk di pangkuannya seraya terus mencoba membuat Asher tenang. "Bagaimana aku tidak marah? Sejak kecil, pria yang dekat dengan Kia hanya aku. Bagaimana bisa aku kecolongan dan sama sekali tidak tahu jika ada pria lain yang mendekatinya?" Asher kembali menenggak alkoholnya. Devina kesal sekali. Jika bukan karena ingin membuat Kia hancur, Devina juga enggan mengejarnya dan mengemis perhatian seperti ini. Tapi demi kehancuran saudara tirinya yang sombong itu, Devina akan melakukan apapun. "Sebenarnya apa artinya aku untukmu? Katamu kamu akan segera melepas Kia dan menikahiku. Apa itu hanya omong kosong?" "Devina mengertilah, sekalipun aku berpaling padamu Kia tidak akan bisa hilang dengan cepat dari hatiku! Dia selalu punya tempat tersendiri--" "Siapa yang bisa mengerti kamu jika bukan aku? Kamu hanya merasa terikat padanya karena berteman sejak kecil. Kamu tidak pernah mencintainya!" Devina mengecup bibirnya, membuka satu-persatu kancing kemeja milik Asher. "Aku harus tahu siapa pria itu. Aku tidak mood melakukannya, lebih baik kamu pulang!" Asher mendorong Devina menjauh, lalu mengambil ponselnya dan menekan nama Kia. Dengan pengaruh alkohol yang mulai menguasainya, dia berteriak pada panggilan itu dan terus merengek, bertanya siapa pria yang dekat dengan Kia itu. Devina mengepalkan tangannya tak terima Asher melakukan itu padanya. Ia merebut ponselnya dan membuangnya ke sembarang arah. Devina menyerang Asher dengan ciuman sepihak yang sangat panas. "Jangan munafik, kamu pasti menginginkannya. Akulah yang paling mengerti apa yang kamu inginkan. Aku yang selalu memahamimu. Lalu kenapa kamu memilih Kia?" "Iya, kamu yang paling mengerti. Tapi aku tidak bisa melepas Kia. Tidak akan pernah bisa!" Asher membawa wanita itu merebah di ranjang, lalu memulai malam yang panas bersamanya. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD