Permainan Menggoda

1246 Words
Kia merasa semakin gelisah ketika ayah Rain dan Asher, Max, mengusulkan untuk mempercepat pernikahan mereka. "Kia, Asher, bagaimana? Kalian setuju? Kita langsungkan pernikahan tiga bulan kedepan. Kalian berdua sudah dekat sejak kecil, pacaran bertahun-tahun, apalagi yang ditunggu?" tanyanya penuh harap. John, ayah Kia, ikut menimpali, "Iya, apa yang kalian tunggu?" Asher, yang merasa terdesak, mencoba meredakan situasi dengan mencium kening Kia lembut. "Aku ikut Kia saja. Jika dia siap, kapanpun aku juga akan siap." Tatapannya sekilas melirik Devina yang tampak sangat kesal dengan situasi tersebut. Namun, Kia memiliki rencana lain. Dia memandangi Rain yang asyik bermain ponsel dan makan tanpa peduli dengan sekitar. Tanpa ragu, Kia menyentuh paha pria itu dengan kakinya, mencoba memancing reaksi. Walau Rain memintanya untuk tidak saling mengenal setelah percintaan panas mereka pagi ini, Kia tidak peduli. "Menurut kakak ipar, bagaimana?" Kia bertanya sambil tersenyum penuh arti. Rain terbatuk kaget saat merasakan sentuhan Kia di bawah meja, berusaha keras untuk tidak menimbulkan kecurigaan. "Iya, Kak! Bagaimana menurut kakak?" Asher ikut bertanya pada Rain yang masih terdiam. "Seperti biasa, aku terserah pada kalian. Siapa aku? Bukankah kalian yang akan menjalani pernikahan?" jawab Rain datar, berusaha menahan diri. "Lalu bagaimana dengan Devina? Dia cantik bukan? Dia cocok denganmu! Kalian bisa menikah secara bersamaan!" Andrea, ibu Rain yang selalu tampil modis, ikut berkomentar. "Bukankah putriku sangat cantik?" Lana, ibu Kia, juga menimpali, mengusap rambut putrinya dengan lembut. Tentu saja, Lana tidak mau melewatkan kesempatan untuk mendapatkan menantu kaya. Devina hanya tersenyum malu-malu, membuat Kia semakin jijik. Tapi Kia yakin, incaran Devina yang sebenarnya adalah Rain. Karena Rain sulit didekati, Devina memilih Asher sebagai cadangan. "Aku tidak mau menikah dalam waktu dekat, dan tidak mau dijodohkan," ujar Rain dengan senyum tipis. "Tidak bisa seperti itu, Rain. Kamu sudah dewasa! 32 tahun!" Andrea menegur anaknya. "Ma, tapi aku tidak mau dijodohkan. Devina terlalu muda untukku. Biarlah aku mencari wanitaku sendiri," jawab Rain tegas, sambil berusaha tetap tenang meskipun belaian kaki Kia membuatnya gelisah. "Kalian bisa berkencan sekali, lalu memutuskan!" Andrea terus membujuk. "Aku pamit ke kamar mandi sebentar!" Rain segera berdiri, melirik Kia yang terlihat mesra dengan Asher dengan kaki yan terus menggodanya. Wanita itu benar-benar di luar dugaannya. Kia terkekeh melihat wajah Devina yang memerah karena penolakan Rain. "Memang enak?" pikir Kia. Baginya, Rain hanya akan menjadi miliknya. "Maafkan Rain, dia memang seperti itu. Kalian tahu sendiri jika Rain itu memang sangat keras kepala," Max berbicara dengan nada sungkan. "Iya, Rain itu memang keras kepala!" sahut Andrea. "Aku akan memarahinya nanti!" "Tidak apa, aku tahu betul jika yang Rain pikirkan itu hanya bekerja dan bekerja," John mencoba mencairkan suasana. "Mungkin Kak Rain sudah punya pacar! Kemarin malam aku melihatnya membawa wanita," ujar Kia dengan nada iseng. "Wanita yang cantik sekali!" "Kemarin malam kamu ke apartemen?" tanya Asher terkejut. "Aku tadinya mau memberimu kejutan, tapi tidak jadi karena Anna menelfonku dan meminta ditemani. Anna sedang putus cinta!" "Kenapa tidak bilang? Kenapa tidak bertemu denganku dulu? Aku bisa mengantarmu!" Asher berusaha memastikan jika Kia memang tidak sempat masuk ke apartemennya. Kia tidak mengetahui perselingkuhannya dengan Devina, bukan? "Sayang, kamu pasti sudah tidur. Aku tidak mau mengganggu." Kia mengusap wajah kekasihnya dengan lembut. "Kamu benar-benar melihat Rain membawa wanita, Kia?" tanya Andrea bersemangat. "Dia sangat cantik, tante! Mungkin ini alasan Kak Rain menolak dijodohkan dengan Devina!" Kia tersenyum sinis. Jelas cantik, itu adalah dirinya. Dan Rain sudah pasti akan lebih memilih dirinya daripada Devina. "Anak itu benar-benar membuatku frustrasi. Susah sekali dibujuk! Syukurlah dia masih suka wanita, aku sempat takut jika dia punya kelainan!" lanjut Andrea dengan tarikan napas lega. Lana dan Devina menatap Kia dengan perasaan kesal. Apa Kia sengaja mengatakan itu agar Devina semakin malu? Devina muak sekali dengannya. "Aku ingin ke kamar mandi sebentar!" Kia bangkit berdiri dan berpamitan pada semua orang. Dia berlari ke kamar mandi untuk mencari Rain yang mungkin masih di sana. Kia ingin menyapa partner one night stand-nya. Setelah sampai di kamar mandi, Kia terperanjat saat rambutnya ditarik dengan kencang dari belakang. "Kamu sengaja mengatakan itu dan membuatku malu?" Devina menjambak Kia dengan kuat secara tiba-tiba. Ternyata anita itu ikut menyusul. "Kamu bicara apa? Aku memang melihatnya!" "Itu pasti hanya akal-akalanmu untuk membuatku malu!" Kia tertawa mendengar perkataannya. Tidak tahu malu? Bukankah dia yang seharusnya tidak tahu malu? Sudah diberi tumpangan hidup selama bertahun-tahun, malah mencoba merebut tunangan dari orang yang telah membantunya. Dasar parasit sialan! Tapi Kia harus sabar sampai rencananya berhasil. "Kenapa kamu malu, nyatanya Rain memang tidak memilihmu!" Kia membalas jambakan Devina dengan dorongan keras hingga wanita itu tersungkur. "Rain sudah memiliki wanita lain dan itu fakta. Kenapa kamu tidak terima kenyataan? Apa seingin itu menjadi menantu orang kaya?" Devina mengepalkan tangan. Lihat saja, dia akan segera membujuk Asher untuk segera memutuskan Kia. Tidak apa dia tidak berhasil menggait Rain. Tapi Devina bersumpah, dia tidak akan melepaskan Asher dan membuat Kia hancur berkeping-keping. "Kamu pikir Asher setia, pasti dia juga sudah berselingkuh darimu. Siapa yang tahan denganmu? Ibumu saja memilih mati setelah kamu lahir!" Sebuah tamparan keras langsung Devina dapatkan setelah ucapan itu keluar. Namun bukannya sedih, Devina tertawa puas melihat Kia menjatuhkan airmatanya. Saat seorang pria keluar dari kamar mandi, Devina langsung berpura-pura mengusap wajahnya yang memerah karena tamparan Kia. Ia berakting tertindas dan kesakitan. Iya benar, Rain lah yang keluar dari kamar mandi pria tersebut. Kia akan menamparnya lagi, namun Rain menahan. Ia membuka jasnya, lalu memasangkannya pada pundak Kia. Memeluknya dengan erat saat wanita itu menangis. "Kamu menamparku, dan kamu yang menangis?" Sindir Devina berakting di hadapan Rain. "Seharusnya kamu bertanya pada dirimu sendiri kenapa dia menamparmu, Devina. Bukankah mulutmu begitu jahat?" Rain membawa Kia pergi dari sana. Devina mengepalkan tangan! Lagi-lagi karena Kia, Rain melihat sisi buruknya. Rain pasti semakin enggan dijodohkan dengannya karena hal ini. "Kia, kamu benar-benar menyebalkan!" Teriak Devina dengan sangat keras. "Lihat saja, aku akan segera merebut Asher darimu! Aku akan segera merebutnya!" ***** "Kembalilah sendiri, dan bilang pada semua orang jika aku sudah pulang. Aku malas kembali." Rain berkata dengan dingin. "Kak---" Rain memagut bibirnya dengan lembut, lalu mendorongnya ke dinding tersembunyi lorong resto tersebut. Rain juga memberi ciuman pada leher Kia dengan lembut dan penuh hasrat. "Rain!" Kia mencoba menahan, namun Rain tidak mendengarnya. Ia memancing titik sensitif Kia pada dadanya, lalu memberinya gigitan kecil di sana. Setelah berhasil membuat Kia terangsang, ia melepaskannya. "Balasan atas perbuatanmu!" Bisik Rain dengan jahil saat Kia memejamkan mata frustasi karena menahan gairahnya sendiri. "Lebih baik kamu menahan gairah, daripada menahan sedih bukan? Dan lain kali, panggil aku dengan konsisten! Kak, atau Rain saja." Rain mengecup bibirnya singkat, lalu merapikan gaun dan jas yang ia sampirkan pada Kia sebelum pergi meninggalkannya. Kia tersenyum seraya memeluk jas milik Rain. Kia berdiri sejenak, mencoba menenangkan diri sebelum kembali ke ruang makan. Di sana, ia menemukan suasana yang sudah kembali normal. Semua orang sedang berbincang-bincang dan tertawa. "Kia, kamu sudah kembali?" Tanya Asher dengan senyum hangat, meraih tangan Kia dan membawanya duduk di sampingnya. "Apa kamu baik-baik saja?" Kia tersenyum tipis, mengangguk pelan. "Ya, aku baik-baik saja. Terima kasih. Tadi aku bertemu kak Rain dan dia memberiku jasnya karena kedinginan. Kak Rain juga pamit, katanya ada pekerjaan mendadak." "Apa dia mau bertemu kekasihnya?" Andrea heboh sendiri mendengar penuturan Kia. "Kamu pakai jasku saja, jangan pakai punya kakak!" Asher melepas jas milik Rain lalu melemparkannya pada sang ibu. Ia lalu memberikan jasnya pada Kia dan memeluknya dengan mesra. Semua orang tersenyum melihat kemesraan itu. Sementara itu, Devina terus mengamati Kia dengan tatapan penuh dendam. Dalam hati, ia bersumpah akan melakukan apapun untuk memisahkan Kia dan Asher. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD