Kia membuka mata saat mendengar suara ponsel berbunyi. Ia membuka mata dan mendapati sekitarnya sudah begitu berantakan. Tangan kekar seorang pria yang bertengger di perutnya membuat Kia tersenyum. Kia membayangkan apa-apa saja yang terjadi semalam.
Asher dan Devina pikir dia akan hancur dengan permainan kotor mereka? Tidak! Secinta apapun Kia dengan seseorang, jika dia telah berhianat, Kia tidak akan memaafkannya. Kia akan membalasnya dengan lebih menyakitkan.
"Sialan! Siapa yang menelfonku pagi-pagi seperti ini?!" Gerutu Rain seraya mengangkat panggilan tersebut. Dia bahkan masih menutup matanya. Kia tersenyum melihat tingkahnya yang ajaib itu.
"Kenapa Asher, pertemuan dengan klien sesimple itu saja kamu masih butuh bantuanku? Lakukan sendiri, aku tidak ke kantor hari ini. Aku tidak enak badan!" Sentak Rain, lalu mematikan ponselnya.
Lihat, apa yang Kia banggakan dari Asher selama ini? Pria manja yang gemar mengeluh dan selalu mengandalkan kakaknya dalam segala hal.
Dulu Kia merasa kesal saat Rain selalu saja mengganggu waktu berkencan mereka dengan meminta Asher bekerja dan bekerja. Tapi sekarang Kia paham jika Ahser memang sama sekali tidak bisa diandalkan.
"Jangan memandangiku terus. Bukankah ons kita sudah selesai? Silahkan pulang! Tinggalkan apartemenku!" Rain membuka mata, menatap Kia yang masih begitu santai di posisinya.
"Kenapa kamu sok dingin begitu sih?"
"Pergilah!"
"Aku memang mau pergi! Tapi aku perlu menumpang mandi." Kia baru akan bangkit dari tempat tidur, tapi mendadak dia merasakan nyeri pada miliknya di bawah sana.
Rain terkekeh lalu menarik wanita itu kepelukannya. "Sebaiknya kamu tinggal sebentar, kamu tidak akan bisa pergi kemana-mana setelah kali pertamamu."
"Kamu tertawa setelah mengumpat semalaman hanya karena menjadi pria pertama untukku?"
"Lupakan saja, lagipula kamu benar! Kita hanya one night stand. Aku akan memberikan obat padamu untuk berjaga-jaga. Jangan sampai kamu hamil!"
"Lalu apa yang lucu? Kenapa kamu masih tertawa?"
"Ya lucu saja. Kamu bersikap seolah-olah kamu seorang pemain yang pro semalam! Tapi ternyata, aku bahkan menjadi pria pertamamu. Apa yang kamu lakukan dengan Asher selama bertahun-tahun bersama? Setelah bertunangan?"
Kia menunduk seraya meremas selimut yang menutupi tubuhnya. Ia memang selalu menolak jika Asher meminta. Kia tidak siap.
Dan setelah melihat perselingkuhannya semalam, ternyata keputusan Kia untuk menolak tidak salah. Bayangkan jika dia dihianati setelah Asher menjadi pria pertamanya. Itu akan lebih menyakitkan.
"Dasar cupu! Pantas saja Asher selingkuh. Di kota Washington yang bebas ini, pasangan mana yang tidak berhubungan intim setelah bertahun-tahun pacaran? Bahkan akan menikah?"
"Apa salahnya jika aku memilah mana yang pantas untuk jadi pria pertamaku?" Kia bangkit menindih Rain, dan memeluk tengkuknya dengan genit. Jujur, sebenarnya Kia memang cupu dan penakut. Tapi demi melindungi harga dirinya dari ledekan Rain, Kia memberanikan diri.
"Jadi aku yang pantas?"
"Ya setidaknya walau hanya one night stand, kamu cukup memuaskanku semalam!"
Di tengah obrolan mereka, pada ponsel Rain kembali berbunyi. Rain menunjukkan nama Asher di layar.
"Lihat, kekasihmu menelepon. Jika sudah begini, dia pasti membuat kesalahan. Aku akan pergi. Jika kamu mau istirahat, silakan," ujarnya sembari mengangkat telepon dari Asher.
"Kak, datanglah! Klien ini sangat rese!" Rengek Asher dengan nada gelisah dari seberang sana.
"Kamu ini bagaimana mau mengelola perusahaan cabang jika mengurus satu klien saja kamu tidak bisa?" Teriak Rain kesal. "Aku tidak bisa libur sehari saja?"
Rain melangkah masuk ke kamar mandi dengan bibir yang masih mengoceh mengomeli adiknya. Di saat ia baru akan menyentuh sikat gigi miliknya, tiba-tiba benda itu diambil oleh Kia yang menggunakannya untuk menggelung rambutnya.
Tanpa pakaian, wanita itu menyalakan shower dan membasuh tubuhnya di sana. Melihat senyum genitnya, Rain menggeleng keheranan. Wanita itu sedang menggodanya? Di saat Rain menelepon tunangannya di seberang sana?
"Tebak Asher, aku sedang bersama siapa pagi ini?!" Rain mematikan keran lalu menghampiri Kia yang sama sekali tidak takut dengan ancamannya. Justru ekspresi Kia malah semakin menantang.
"Maaf jika aku mengganggumu, Kak!" Ujar Asher dari seberang sana dengan nada menyesal. "Tapi aku tidak bisa menanganinya sendirian."
"Jadwalkan ulang pertemuannya. Aku benar-benar tidak bisa ke kantor hari ini! Aku sedang tidak bisa diganggu! Aku sedang bersama seseorang!" Ujar Rain, lalu mematikan ponselnya dan melemparnya ke wastafel.
Ia lalu menjepit Kia ke tembok kamar mandi itu dan mencium bibirnya dengan panas namun lembut. Saat belaian lidahnya yang basah merambat di lehernya, Kia seakan ingin terbang ke awang-awang.
"Bilang jika kamu mau lagi, jangan menggodaku seperti itu!" Rain tersenyum smirk seraya mengangkat Kia untuk merebah di atas wastafel tersebut. "Kamu cukup liar juga rupanya!"
Rain mengangkat satu kaki Kia dan membantunya menyatukan diri di bawah sana. Ia bergerak lembut menghujamnya. Memberi sentakan-sentakan memabukkan dan mengulangi semua adegan yang mereka lewati semalam.
"Jadi kamu tidak jadi mengusirku?" Kia mencium lehernya. "Ingat, jangan baper! Aku hanya menjadikanmu alat balas dendam."
"Dan ingat, aku juga bukan pria baik-baik yang hanya mau dengan satu wanita. Jangan berharap lebih. Ini tidak lebih dari seks yang tidak berarti."
"Aku juga hanya menggunakanmu untuk melampiaskan sakit hatiku saja. Kamu juga hanya sekedar hiburanku!"
Kia tersenyum licik saat hentakan yang pria itu berikan semakin tajam dan dalam. Ia mendesah hebat. Tentu tujuan Kia tidak hanya sekedar menjadikan Rain pelampiasan sakit hatinya.
Kia akan membuat Rain bertekuk lutut padanya. Rain harus mencintainya. Jika perlu, Kia harus hamil anaknya. Sakit hati yang Asher dapatkan harus berkali-kali lipat.
Apalagi, keluarga mereka berencana menjodohkan Rain dengan Devina.
Kia yakin, Devina yang matre itu juga berharap pada Rain. Karena semua orang tahu, Rain lah yang memegang kendali atas perusahaan dan kekayaan keluarga Alistair. Kedekatannya dengan Asher hanya untuk menyakiti Kia saja, membuat Kia hancur. Tidak lebih dari itu.
"Rain---" Kia meremas pinggangnya ketika mereka akan sampai. Dorongan kuat yang Rain lakukan membuat Kia menjerit.
"Kia!" Rain melenguh setelah mencapai puncak itu bersama. Cairan hangat tanda percintaan mereka mengalir hangat di dalam sana.
"Minumlah obat, aku tidak sempat mengeluarkannya di luar." Rain mencium bibirnya. "Aku akan menyiapkannya setelah ini."
"Hmmm." Balas Kia singkat dengan napas yang masih terengah. "Lalu kapan kamu melepaskanku?"
"Apa kamu tidak bisa merasakannya? Aku belum bisa melepaskanmu sebelum dia tertidur!" Rain mengganti posisi mereka, mencium punggung kekasih adiknya itu dengan lembut. "Kita lakukan sekali lagi!"
Rain menggenggam tubuh Kia dengan lebih erat, menggabungkan keintiman mereka menjadi sesuatu yang lebih mendalam. Ia memberi dorongan kuat hingga membuat tubuh Kia bergetar. Tampaknya Rain dibuat ketagihan dengan kenikmatan panas itu, dan Rain tidak tahu caranya untuk berhenti.
Desahan Kia semakin keras, menggema di seluruh kamar mandi. Dengan setiap gerakan, tubuh mereka saling berpadu dalam irama yang semakin intens. Rain mencium punggung Kia dengan penuh hasrat, menggoda setiap inci kulitnya dengan bibirnya yang panas.
"Kia...," desah Rain di antara ciumannya. "Kamu membuatku gila."
Kia merasakan setiap sentuhan dan desahan Rain membangkitkan gairah yang semakin menggelora di dalam dirinya. "Jangan berhenti, Rain," bisiknya serak, merasakan gelombang kenikmatan yang membawanya lebih dalam ke dalam lautan emosi yang kacau.
Rain mengubah posisinya, kini memegang kendali penuh atas momen itu. Setiap dorongan membuat Kia semakin terbuai dalam sensasi yang intens. Mereka berdua tenggelam dalam keintiman yang membuat waktu seolah berhenti.
Akhirnya, dengan sentakan terakhir yang kuat, mereka mencapai puncak kenikmatan bersama. Tubuh mereka bergetar hebat dalam harmoni, sebelum akhirnya Rain menarik Kia dalam pelukan erat, membiarkan sisa-sisa gairah mereka mereda perlahan.
Kia terbaring di atas wastafel, napasnya masih tersengal-sengal. Rain mencium punggungnya dengan lembut sebelum membantunya turun. Mereka saling memandang, mengerti bahwa meskipun hubungan mereka penuh dengan kebohongan dan rencana busuk, ada sesuatu yang lebih dalam yang mulai tumbuh di antara mereka.