Prolog

1111 Words
"Jika kamu sudah bosan dan tidak mencintainya, kenapa tidak memutuskannya?" Seorang wanita mengusap wajah pria yang saat ini merebah di sampingnya. Setelah bercinta dengan panas, mereka mengambil nafas panjang untuk beristirahat. "Kita dekat sejak kecil, hubungan keluargaku dengan ayahnya sangatlah dekat. Kamu tau itu kan? Jika aku memutuskan pertunangan begitu saja, keadaan bakalan kacau. Apalagi, jika mereka tahu aku berpaling padamu." Asher bangkit untuk mengambil rokok yang ada di meja samping tempat tidurnya. "Tapi sampai kapan kita akan menyembunyikan hubungan ini? Dia saudara tiriku! Jika hubungan perselingkuhan kita ketahuan, matilah aku! Ayahnya pasti akan menceraikan ibuku dan mengusirku dari rumah." Devina merengek manja, suaranya gemetar oleh ketakutan yang terpendam. Asher menghisap rokoknya dalam-dalam, memandangi Devina dengan tatapan yang campur aduk antara hasrat dan kebingungan. "Kalaupun itu terjadi, tenang saja, aku akan memberimu rumah dan tempat tinggal. Kamu tahu aku tidak akan membiarkanmu terdampar begitu saja," katanya dengan nada meyakinkan, lalu menghembuskan asap rokoknya di udara sebelum membungkuk untuk mencium bibir Devina. "Tapi untuk memutuskan Kia, aku belum siap," tambahnya dengan suara yang lebih lembut, namun penuh dengan ketidakpastian. "Kita harus hati-hati, Devina. Semuanya bisa hancur dalam sekejap kalau kita salah langkah." Devina menatapnya dengan mata berkaca-kaca, merasakan campuran antara cinta dan frustasi yang mendalam. "Aku hanya ingin kita bisa bersama tanpa ada rahasia lagi, Asher," bisiknya pelan. Devina sungguh tak sabar melihat Kia dicampakkan. Wanita sombong menyebalkan itu harus menderita. Dia pasti akan mengalami patah hati terbesar saat mengetahui tunangan yang sangat dicintainya, berselingkuhdan memilih bersamannya. Asher mengangguk pelan, mengusap pipi Devina dengan lembut. "Aku tahu, sayang. Aku juga ingin itu. Tapi kita harus menemukan cara yang tepat. Sementara itu, kita harus tetap bersabar." Dengan tangan terkepal, Kia melihat pemandangan dan pembicaraan itu dari ambang pintu. Airmatanya bercucuran deras. Jadi selama ini mereka menghianatinya? Kia segera pergi dengan hati-hati agar tidak ketahuan. Padahal malam ini, ia ingin memberi kejutan pada Asher jika dirinya pulang lebih awal dari liburan dan ingin mengajaknya berkencan. "Kamu benar-benar jahat, Asher. Aku telah begitu percaya padamu sejak kecil. Kamu selalu menjadi tempat perlindungan terbaikku. Tapi mengapa, Asher?" Kia terduduk lemas di depan pintu apartemen Asher, suaranya gemetar dalam isakan pelan. "Dan kamu, Devina. Tidakkah kamu ingat semua bantuan yang Papa berikan? Dari mana datang semua fasilitas yang kamu nikmati selama ini?" Kia bangkit dengan perasaan campuran antara marah dan sakit. Menghapus air mata yang mengalir di pipinya, dia melangkah menuju lift di ujung koridor. Namun, ketika pintu lift terbuka, dia bertemu dengan seorang pria yang tidak asing baginya — Rain Alistair, kakak dari Asher yang baru saja menyakitinya dengan perbuatannya. Tiba-tiba saja, Kia memiliki ide brilian untuk balas dendam setelah bertemu dengannya. "Kia? Kamu bertemu Asher?" Sapa Rain kaku. Pria itu memang tidak terbiasa menyapa atau berbasa-basi. "Dia bersama wanita lain," Kia bercerita dengan dramatis, lalu spontan memeluk Rain. "Dia berselingkuh," tambahnya, memperdramatisasi keadaan. Sejujurnya, Kia tidak pernah dekat dengan Rain. Pria itu selalu tampak dingin dan hanya fokus pada pekerjaannya. Kia bahkan tidak yakin apa-apa tentang sifat sebenarnya. Namun, ketampanan Rain yang terpampang di hadapannya tidak bisa diabaikan. Pria yang lima tahun lebih tua ini memiliki daya tariknya sendiri dengan absnya yang seksi, tangan yang berotot dan berlapis tato, rambut halus disekitar wajahnya, serta mata elang yang menawan. Kia terkesima; mengapa dia tidak pernah menyadari betapa menariknya Rain sebelumnya? Belum lagi, Rain adalah pemimpin perusahaan yang statusnya jauh di atas Asher. Jika Kia berhasil menggoda dan mendapatkannya, sepertinya balas dendamnya akan sempurna. Pembalasannya akan sepadan. Kia terperanjat saat pria itu mengangkat tubuhnya. "Jangan di sini, jika terlihat orang akan menimbulkan kesalahpahaman." Bisik Rain tepat di samping telinga Kia, hingga membuatnya merinding. Setelah Rain membantunya duduk di sofa, Kia langsung mengalihkan pandangan karena gugup. Ia kembali berdrama meneteskan airmata, kembali memeluk Rain yang kini duduk di sampingnya untuk mengambil kesempatan. "Kamu sudah melihatnya? Apa wanita itu Devina?" Tanya Rain tak heran. "Kamu tahu?" "Apartemen kita dekat, aku pasti tahu walau mereka menyembunyikannya serapat mungkin." Rain mengusap puncak kepala Kia dengan prihatin. "Maafkan adikku. Jika kamu mau memutuskan hubungan, akan kubantu bicara pada keluarga." "Jangan dulu." Kia menggeleng. "Semua keputusan terserah padamu, aku tidak akan ikut campur. Mau minum apa?" Tanya Rain dengan nada dingin. "Kak Rain---" Kia bangkit berdiri dan mencegah pria itu pergi. Kia tiba-tiba memeluknya dan mendekatkan wajah mereka. "Apa ini?" "Temani aku malam ini. Aku ingin melampiaskan sakit hatiku." "Kia, aku tidak bisa. Kamu tunangan adikku! Jika kamu ingin balas dendam, silahkan. Tapi jangan libatkan aku!" "Hanya semalam, lalu lupakan." Kia membujuknya, memberi satu kecupan kecil pada bibir Rain yang langsung memalingkan wajahnya. "Jangan libatkan aku." "Kalau begitu antar aku ke bar. Aku akan mencari pria lain." Lirihnya. "Kenapa harus dengan cara itu?" "Tidak butuh penjelasan." Kia menggeleng pelan. Ia mengalungkan tangannya pada leher Rain dan tersenyum smirk. "Aku baru sadar jika kamu sangat tampan, padahal kita sering bertemu sejak kecil." "Kamu sedang merayuku? Jadi kamu mau menjadikanku alat untuk balas dendammu?" "Kenapa? Jika kakaknya lebih menarik, kenapa harus dengan adiknya yang suka berselingkuh?" Kia memberi kecupan kecil pada bibir Rain. Memancing gairahnya dengan genit. "Lagipula jika aku menjadikanmu alat balas dendam, bukankah akan saling menguntungkan? Kamu dapatkan apa yang kamu butuhkan sebagai pria, aku dapatkan apa yang aku butuhkan untuk membalas adikmu." "Wanitaku jauh lebih banyak di luar sana, aku tidak butuh kamu." Rain tersenyum sinis. "Perbuatan Asher tidak ada apa-apanya. Kubur saja rasa tertarikmu itu. Jika kamu ingin balas dendam dengan cara mendekatiku, itu sama saja kamu masuk ke kandang macan setelah keluar dari kandang singa." "Bagaimana jika satu malam saja, setelah itu kita lupakan?" Kia memagut bibir Rain dengan lembut dan sepihak. "Jika kamu tidak bersedia, antar aku ke bar. Carikan satu pria yang menurutmu cocok untuk one night stand denganku." Tantang Kia. "Kamu benar-benar ingin melakukan itu?" "Hanya one night stand." Kia membantu Rain membuka kancing kemejanya. Mengusap dadanya yang bidang dengan sentuhan yang mendebarkan. Rain mengangkat Kia ke arah kamarnya. Menindihnya di atas ranjang tersebut lalu memagutnya dengan panas. "Hanya satu malam, lalu lupakan." Kia meremas pundak Rain kuat-kuat begitu pria tersebut bersiap di hadapanya. Nafasnya yang memburu membuat Kia yakin jika Rain sudah terbakar dengan nafsu dan gairahnya sendiri. "Jangan tegang begitu. Ini bukan yang pertama bagimu, kan?" Rain terkekeh seraya menggeleng setelah mereka berhasil melepas semua yang melekat pada tubuh mereka. Namun seketika, setelah mereka memulai, Rain memejamkan mata dengan frustasi. "Apa ini? Kenapa kamu tidak bilang jika aku yang pertama?" Ocehnya. "Why?" "Because I won't marry you!" "Siapa yang meminta dinikahi? Ini hanya one night stand!" "Tapi ini tidak---" "Tolong, jangan membahas itu dan cukup lanjutkan saja. Aku hanya ingin melampiaskan sakit hatiku, bukan menambah satu lagi rasa sakit. Apa menikah denganku seburuk itu? Sampai kamu pun berkata seperti itu?" Teriak Kia dengan frustasi. *****
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD