Tempat Ternyaman

1182 Words
"Kia, aku ingin sekali mempercepat pernikahan kita." Asher menatap Kia yang hanya tersenyum. "Apa yang kamu ragukan dariku? Siapa pria yang membuatmu ragu? Siapa pria yang cintanya lebih besar dari aku dan rela berkorban nyawa untuk menyelamatkanmu seperti yang aku lakukan?" Asher terus berusaha meyakinkan Kia. Tanpa rasa malu, ia menagih hutang budi yang sebenarnya tidak ia lakukan. Padahal, Rain yang menyelamatkan Kia saat tenggelam beberapa tahun lalu. Rain yang berkorban dan hampir kehilangan nyawa. Tapi sayangnya, Kia tidak tahu kebenaran itu. "Aku tahu kamu sudah banyak berkorban untukku. Tapi aku masih ragu padamu." Kia berkata dengan senyuman penuh arti. Atau juga berarti sindiran halus untuk Asher agar dia sadar jika kata-kata cintanya itu hanya omong kosong. Dulu iya, Asher tulus mencintainya. Tapi seiring waktu, orang akan berubah dalam sekejap mata. Asher mengepalkan tangannya dengan frustrasi yang mendalam. "Apa mau Kia sebenarnya? Padahal selama ini dunia Kia itu hanya dirinya, kenapa Kia berubah? Siapa pria yang dia maksud?" "Kapan kamu kenal pria itu? Perubahanmu itu sangat drastis. Mau dibawa ke mana hubungan kita jika kamu menolak menikah?" Asher menarik Kia dan mencengkeram pundaknya. "Apa kurangku? Bahkan saat ini, walau kamu berkata menyukai pria lain aku tetap dengan sabar menunggu jawabanmu!" Kia tersenyum melihat Asher begitu resah. Memang itu tujuannya. Dia akan membuat Asher mencari tau pria yang ia maksud. Pria yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Memang hanya dia yang bisa bersilat lidah? "Aku hanya merasa... kita berdua telah berubah. Dan aku butuh waktu untuk memikirkan semuanya." Kia dengan suara lembut namun mantap. "Pernikahan untuk selamanya, bukan sebuah permainan. Kita harus memikirkannya dengan matang!" "Apa yang berubah dari kita?" "Ya aku merasa kita berubah Asher! Kamu bukan Asherku yang dulu lagi. Dulu kamu tidak pernah kasar seperti ini!" Asher spontan melepaskan cengkeramannya perlahan, tatapannya masih penuh dengan ketegangan. Sungguh, jika bukan karena ambisi untuk menjadi pemimpin seperti yang dijanjikan oleh ayah Kia setelah mereka menikah, Asher mungkin sudah lama meninggalkannya. Kia benar, dia memang sudah bukan Asher yang dulu lagi. "Aku akan pulang. Pikirkan lagi semuanya, Kia. Setelah semua pengorbananku untukmu, apakah aku pantas diperlakukan seperti ini?" ujar Asher dengan nada tajam, lalu pergi meninggalkan apartemen Kia dengan rasa marah yang tertahankan. Kia menarik nafas panjang. Lagi-lagi, Asher membahas tentang pengorbanannya. Walau Kia sudah malas membahas kisah cinta mereka yang dulu, ia tetap saja kepikiran dan merasa bersalah. Kia merenung sejenak, berusaha mencari kedamaian dalam pikirannya yang kacau. Dia tahu bahwa hubungan mereka sudah tidak seperti dulu lagi, dan perasaannya kepada Asher sudah mati. Bahkan tidak akan bisa mekar lagi dengan cara apapun. "Sudahlah Kia, tidak usah kamu pikirkan masa lalu." Kia memijit pelipisnya. "Yang lalu biarkan saja berlalu. Toh dia juga selingkuh bersama Devina. Dia yang memulai perselingkuhan! Itu berarti, Asher yang sudah mencampakkanmu lebih dulu." Lirihnya pelan. **** Asher semakin kesal saja dengan segala hal yang terjadi padanya hari ini. Setelah bertengkar dengan Kia, dia juga harus berdebat dengan sang kakak yang marah besar karena dia membuat sebuah kesalahan di kantor. Benar-benar menyebalkan. "Kenapa sih, kakak selalu berbuat seenak kakak?! Memarahiku, menyuruhku, aku ini bukan babumu!" seru Asher dengan nada penuh amarah. "Jika kamu mampu dan mengerjakan pekerjaanmu dengan baik, aku tidak akan cerewet. Kamu bisa mimpin dengan bebas anak perusahaan kita yang sudah disiapkan khusus untukmu! Tapi jika pekerjaan simple saja kamu tidak mampu, bagaimana? Apalagi kelak kamu dipercaya memegang perusahaan keluarga Kia jika kalian jadi menikah!" balas Rain dengan tegas. "Bukan berarti kamu bisa seenaknya padaku! Aku lelah jadi pesuruhmu!" Asher membalas dengan nada tidak kalah tinggi. "Kalau begitu tunjukkan kamu bisa, jangan hanya tahu protes saja!" Rain membentaknya dengan nada yang tak kalah tinggi. Andrea yang sejak tadi memperhatikan mereka, memijit pelipisnya. Ia mengusap punggung Asher dan menariknya menjauh dari Rain. "Rain, sudahlah kamu maklumi adikmu. Kamu sudah terbiasa diajari Papa di dunia bisnis sejak kecil. Kalau adik kamu kan nggak!" "Sampai kapan dia mau manja dan tidak belajar bertanggung jawab? Mengurus diri sendiri saja tidak bisa, mau menikahi anak orang?" Rain menggerutu. "Kenapa kamu sensi sekali dan selalu bahas pernikahanku? Kamu suka sama Kia?" Asher berteriak, membuat Rain terdiam sepersekian detik. "Aku bicara fakta! Bagaimana kamu mau menikah kalau mengurus diri sendiri saja belum bisa?" Rain menatapnya dengan sangat tajam. "Perusahaan keluarga Kia bisa hancur ditanganmu jika kamu terus seperti ini!" "Rain, sudah! Kenapa kamu kasar sekali dengan adikmu? Ya kalau adikmu manja, tugas kamu buat didik dia!" Andrea memotong, mencoba menenangkan situasi. "Aku lagi? Kenapa semua tanggung jawab harus aku yang memegangnya?" Rain berteriak lebih kencang dari sebelumnya, emosinya memuncak. Dengan kemarahan yang semakin membara, Rain meninggalkan adik dan ibunya. Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kantor dan menuju tempat yang bisa memberinya ketenangan dan kenyamanan. Di sepanjang perjalanan, pikirannya terus berkecamuk. Rain mengehela napas, lagi-lagi dia yang harus mengalah. Sejak kecil mereka selalu diperlakukan berbeda. Asher bebas bermain dengan temannya, menjalani hobinya, sedangkan Rain harus hidup dengan kerasnya didikan ayah agar bisa menjadi pemimpin perusahaan. Masa kecil dan mudanya terampas. Sekarang, ibunya juga mau merampas masa-masa dewasanya pula untuk mengurusi adik tidak tahu diri seperti Asher? Rain merasa semua beban keluarga selalu jatuh ke pundaknya. Ia ingat bagaimana ayahnya memaksanya belajar keras, menjalani berbagai pelatihan bisnis sejak usia muda. Saat teman-temannya bermain bola, ia duduk di meja belajar, mengerjakan tugas-tugas yang tidak pernah habis. Ketika teman-temannya menikmati liburan, ia harus menghadiri seminar dan pertemuan bisnis. Semua itu demi masa depan keluarga, demi perusahaan. Namun, apa yang ia dapatkan sebagai balasannya? Adik yang manja dan tidak tahu diri, yang selalu mengharapkan orang lain mengurus segala masalahnya. Ibu yang selalu membela Asher, membuat Rain merasa tidak dihargai. Sesampainya di tempat tujuan, Rain mengetik kode pintu. Ia masuk ke dalam ruangan dan langsung memeluk tempat ternyamannya, dengan sangat erat. Kia, ya, dia adalah tempat ternyamannya saat ini. "Rain?" Kia bertanya dengan keheranan. Ada apa Rain datang siang-siang dengan tampang kusut seperti itu? "Biarkan aku memelukmu dan jangan banyak bertanya." Rain mengeratkannya lagi. Menyembunyikan wajahnya pada pundak Kia dan menghirup aroma menenangkan yang sangat ia rindukan. Kia merasakan kekuatan pelukan Rain, menyadari betapa dalam tekanan yang sedang dialami pria itu. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kia membiarkan Rain memeluknya erat, memberikan kenyamanan yang dibutuhkannya. Beberapa saat berlalu dalam keheningan, hanya ada suara napas Rain yang perlahan mulai tenang. Kia mengusap punggung Rain dengan lembut, memberikan dukungan tanpa kata-kata. "Aku lagi bikin cheesecake. Mau?" Kia mengalihkan fokus Rain seraya mengusap wajah tampan yang tampak lelah itu. "Cheesecake?" Rain menaikkan alisnya. "Kamu membuatnya sendiri?" "Kamu ragu?" Kia mencebikkan bibir, lalu menarik pria itu dengan kasar menuju dapur. Ia mengambil sepotong kue dan menyuapkannya pada Rain yang mulai tertawa, karena kemarahan Kia yang tampak lucu untuknya. "Bagaimana rasanya? Kue yang kamu ragukan?" Kia melipat tangannya di d**a. Menatap Rain dengan menyelidik dan penuh ancaman. Jika Rain berani berkata tidak enak, matilah dia! Namun bukannya menjawab, Rain langsung memberikan kecupan singkat padanya, lalu mengangguk pelan. "Sangat manis." Kia tersenyum, merasa lega bisa membuat Rain tersenyum lagi. "Dasar! Suka mencium sembarangan! Awas jika kamu meragukanku lagi!" Rain mengangguk sambil mengambil sepotong lagi cheesecake. "Aku tidak akan meragukanmu lagi. Tidak akan berani!" Rain memeluk Kia dari samping dan kembali memberinya kecupan. "Aku merindukanmu." ******
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD