Saling Bergantung

1364 Words
"Songkang!" Kia berlari ke arah kucing tuxedonya yang sedang bermain di kandang, lalu memeluknya dengan erat. Kucing kesayangannya itu ada di rumah sang ayah, bersama beberapa anjingnya. Kia sengaja tidak membawanya ke apartemen karena takut tidak bisa merawat dan menemaninya setiap hari. Kia juga sengaja menamainya Songkang, karena dia sangat tampan dan imut! Sama seperti aktor Korea favoritnya. Kia terkadang gemas sendiri saat memanggilnya. "Kia?" Panggil sang ayah terkejut mendapati putrinya pulang setelah pertengkaran hebat mereka kemarin. Kia merasa apa yang dikatakan Rain benar. Seharusnya dia menyingkirkan Devina dan ibu tirinya, bukan memusuhi ayahnya. "Kia, kamu pulang?" Lana, ibu tirinya ikut menyapa. Wanita itu memandangi Kia dengan penuh kebencian. Untuk apa dia pulang? Lana sangat berharap jika anak itu mati dan tidak mengganggu kebahagiaannya dan Devina. "Ya, aku pulang," jawab Kia dengan tenang, meski hatinya bergejolak melihat ekspresi ibu tirinya yang begitu dingin. "Aku ingin melihat kucing dan ayahku." Ayah Kia mendekatinya, mencoba menyentuh bahunya dengan lembut. "Kia, kita harus bicara. Aku tidak ingin kita terus berkonflik seperti ini." Kia menatap ayahnya sejenak, lalu mengangguk. "Baik, Pa. Tapi biarkan aku bermain dengan kucingku dulu. Dan satu lagi, suruh dia pergi!" Kia menunjuk Lana yang terlihat sangat kesal. Lana mendengus pelan, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Kia dan ayahnya sendiri. "Kucing dan anjingku dirawat dengan baik, kan?" tanya Kia, mencoba mengalihkan perhatiannya dari ketegangan yang masih terasa. Namun anehnya, ayahnya tidak lagi marah seperti biasanya. Tidak lagi memaksa Kia bersikap baik pada Lana. Ayahnya tersenyum, meski matanya menunjukkan kekhawatiran. "Dia baik-baik saja. Dia mungkin sangat merindukanmu selama ini." Kia mengusap kepala Songkang dengan lembut. "Aku juga merindukannya. Dan aku juga merindukanmu. Ya, walaupun kamu sangat menyebalkan, kamu tetap Papaku." "Papa juga merindukanmu, Kia. Maaf jika Papa bersikap buruk padamu selama ini." Kia mengangguk, matanya mulai berkaca-kaca. "Aku juga minta maaf, Pa. Aku seharusnya tidak membiarkan Devina dan Lana mempengaruhi hubunganku dengan Papa." Kia memeluk ayahnya secara spontan. Terisak pelan di sana. Kenapa selama ini dia bodoh sekali? Kenapa dia menyerah begitu saja pada dua iblis itu? "Papa juga melakukan hal yang sama selama ini. Papa tidak akan memaksamu lagi untuk menerima mereka." "Makasih sudah mengerti Pa. Tapi Kia tidak akan bisa menerima mereka sampai kapanpun!" Ayah Kia menghela napas panjang, menyadari betapa dalam luka yang telah terbentuk. "Papa mengerti, Kia. Papa tidak akan memaksa lagi. Yang penting bagi Papa adalah kita bisa memperbaiki hubungan seperti dulu." Kia tersenyum tipis, matanya masih berkaca-kaca. "Aku ingin kita kembali seperti dulu, Pa. Sebelum semuanya menjadi rumit." Ayahnya mengangguk, lalu memeluk Kia erat. "Aku juga ingin begitu, Kia. Aku akan berusaha lebih keras untuk memperbaiki semuanya." Mereka berdua kembali berpelukan dalam keheningan, merasakan perasaan saling mengerti yang lama tidak mereka rasakan. Songkang, yang masih berada dalam pelukan Kia, mengeong pelan seolah merasakan kedamaian di antara mereka. Setelah beberapa saat, mereka melepaskan pelukan dan Kia merasa sedikit lebih lega. "Aku akan sering pulang ke sini untuk melihat kucing dan anjingku, dan tentunya juga Papa." "Aku senang mendengarnya, Kia. Rumah ini selalu terbuka untukmu," jawab ayahnya dengan senyum hangat. Saat itu, Lana kembali masuk ke ruangan dengan ekspresi tidak senang. "Kia, kamu mau makan malam di sini? Aku bisa menyiapkan sesuatu untuk kita semua." Kia menatap Lana sejenak, lalu menggeleng pelan. "Tidak perlu, aku hanya ingin berbicara dengan Papa. Aku sudah makan di luar." Lana tersenyum tipis, jelas sekali tidak tulus. Lana akan sangat bersyukur jika Kia segera pergi! "Baiklah, kalau begitu. Jangan ragu untuk bilang kalau butuh apa-apa." Lana tidak suka suaminya dekat dengan anak kandungnya yang rese itu. Lana merasa jika Kia itu pengganggu kebahagiaannya dan Devina. "Terima kasih," jawab Kia singkat, kemudian berbalik kepada ayahnya. "Aku akan pulang sekarang. Terima kasih sudah mendengarkanku, Pa." Ayahnya mengangguk. "Kapan pun kamu butuh, Papa selalu ada di sini." Kia mengangguk kembali, lalu mencium pipi ayahnya sebelum berjalan keluar. Ia membawa Songkang sebentar untuk bermain di taman, kemudian mengembalikannya ke kandang sebelum pulang ke apartemen. Kia lega hubungannya dengan sang ayah membaik. Kini misinya selanjutnya adalah mengungkap topeng mereka. Membuka kebusukan mereka di hadapan ayahnya. "Jangan datang lagi!" Ucapan Lana menghentikan langkah Kia yang baru saja akan membuka pintu mobil. "Apa urusanmu? Dia ayah kandungku!" balas Kia dengan tajam. "Dan dia suamiku! Aku tidak mau dia berbagi kasih sayang dengan anak dari mantan istrinya yang sudah mati! Itu sungguh menggelikan!" Kia mendengus marah. "Kita lihat saja, pengaruh siapa yang lebih kuat!" Senyumnya penuh tantangan. "Kamu menantang kami?" Devina ikut keluar, suaranya sinis. Melihat mereka berdua, Kia merasakan kemarahannya semakin membara. Mereka bertingkah seperti nyonya besar dan ingin mengusirnya. Kia tidak akan tinggal diam! Kia akan melakukan berbagai cara untuk membuat dua iblis itu hancur. "Kita lihat saja!" Kia mendorong Devina dengan gerakan yang tegas dan tertawa kecil, merendahkan lawannya. "Kamu tidak akan bisa menang dariku! Sampai kapanpun, statusku akan lebih tinggi darimu! Buktinya sampai sekarang, akulah si pusat perhatian! Aku anak kandung Papa, aku yang dihormati semua orang!" "Tunggu saja, Kia, tunggu!" "Okey!" Kia tertawa seraya memasuki mobilnya. Namun, setelah mobilnya melaju meninggalkan halaman rumah, airmatanya mulai mengalir. Andai saja ibunya tidak meninggal, Kia tidak akan merasa sesakit ini. Selelah ini menghadapi orang-orang jahat itu! Rintik hujan berjatuhan di mobilnya, seakan tahu isi hatinya, langit pun ikut menangis sore ini. Kia mengalihkan fokus saat ponselnya berbunyi. Melihat nama Rain di sana, Kia langsung mengangkatnya. "Rain---" Kia tersedu-sedu, membuat lawan bicaranya panik. "Ada apa, Kia? Kamu di mana?" "Kenapa semua orang jahat sekali padaku?" Kia kini menangis dengan kencang, meluapkan kesedihan dan kelemahannya. Kia tahu ini bodoh, menunjukkan sisi lemahnya pada orang lain. Tapi akhir-akhir ini, hanya Rain yang Kia percaya. Mereka tidak memiliki hubungan, tapi selalu saling memberi kenyamanan. "Aku jemput, kamu menepilah," ujar Rain tanpa bertanya banyak hal. "Menyetir sambil menangis dan dalam perasaan yang tidak baik itu bahaya." "Kita bertemu saja di apartemenku." "Tidak, aku jemput. Sekarang kamu menepi dan share lokasi. Hujannya sangat deras, aku takut kamu kenapa-napa," Rain kembali membujuk. Kia spontan tersenyum mendapati perhatian yang sebegitu manisnya. Ia pun akhirnya menepi dan melakukan apa yang Rain katakan. "Sudah menepi?" Rain kembali berkata-kata dari seberang sana. "Share lokasi sekarang!" "Cepat datang!" ujar Kia manja dengan sisa-sisa isakan dan nafas beratnya. "Iya, aku ke sana sekarang," Rain berkata dengan lembut, menenangkan hati Kia yang rapuh. "Jangan tutup teleponnya." Rain kembali memberi instruksi. "Makasih, Rain," ujar Kia singkat. "Kamu selalu perhatian dalam hal sekecil apa pun!" Rain di seberang sana tersenyum seraya berkendara. Bagaimana Rain tidak perhatian, Kia adalah cinta pertamanya dari masa kanak-kanak. Cinta yang tak ingin Rain akui karena dia akan menyakiti banyak orang. "Jangan baper!" Rain berkata dengan dingin, lalu mematikan panggilan dan segera bergegas menghampirinya. Rain tersenyum sembari membayangkan betapa marahnya wanita itu saat ini. Kia pasti enggan mendapat sebutan baper darinya. "Kia, Kia, bagaimana ini? Aku semakin tidak bisa menahan diri," lirih Rain dalam hati. Setibanya di tempat Kia, Rain meninggalkan mobilnya di parkiran minimarket terdekat dan menelepon supir untuk mengambil mobilnya. Rain membeli minuman hangat di mini market tersebut, lalu mengambil payung dan segera menghampiri Kia. Dari kejauhan, Rain dapat melihat Kia duduk di dalam mobil, menunduk sambil memeluk lututnya. Hujan masih mengguyur deras, menciptakan suara gemuruh yang menenangkan. Begitu jaraknya dekat, Rain mengetuk jendela mobil, Kia pun menoleh dan membuka pintu. "Kenapa kamu mematikan telepon begitu saja?" Kia bertanya dengan nada kesal yang jelas. Rain tersenyum, menahan tawa. "Karena kamu pasti baper kalau aku terus menelfonmu. Kupu-kupu pasti berterbangan di atas kepalamu!" Kia mendengus, tapi senyum kecil terlihat di wajahnya. "Kamu memang sangat menyebalkan, Rain." "Kenapa sedih?" Rain mengecup bibirnya, lalu menempelkan minuman hangat yang ia beli pada pipi manisnya. "Untukku?" Kia tersenyum dengan wajah memerah. Telapak tangannya yang semula dingin juga menghangat karena suhu panas dari minuman tersebut. "Minumlah! Ayo kita pulang dulu, ceritakan padaku nanti! Kamu bisa sakit, udaranya dingin sekali." Rain melepas jas miliknya, lalu menyampirkannya pada Kia. Oh God! Kia mana tahan dengan perhatian semanis ini??? "Kan, aku bilang apa? Kupu-kupu pasti berterbangan di atas kepalamu. Wajahmu begitu merah seperti tomat." “Rain!” Kia memukuli pundak pria yang sedang menyetir untuknya. “Dasar menyebalkan!” Rain memeluk Kia dengan erat, membiarkan wanita itu bersandar di bahunya. Kemarin Rain yang membutuhkan Kia, sekarang sebaliknya. Sepertinya tanpa mereka sadari, mereka mulai saling bergantung sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD