"Aku mau belajar memimpin perusahaan, Pa!" Kia tersenyum seraya menatap semua orang yang sedang fokus dengan makanan masing-masing.
"Kia?" Asher bertanya dengan kening berkerut. Sedangkan Kia melirik ke arah Rain yang mengangguk pelan. Memang Rain yang memintanya demikian. Rain ingin Kia mengambil alih kekuasaan ayahnya, menjadi wanita mandiri yang sukses agar tidak ada yang meremehkannya. Termasuk ibu dan saudara tirinya yang terus mencoba menyingkirkannya.
"Kamu serius? Kenapa sayang? Kamu bisa menikah dengan Asher dan biarkan dia yang melakukannya!" Ujar Lana dan Devina ikut mengangguk. Lana juga mendukung rencana Asher untuk menguasai perusahaan suaminya. Karena Asher juga telah berjanji akan membuang Kia dan menikahi Devina setelah semuanya terwujud. Hanya dengan cara itu dia bisa memiliki kekuasaan. Suaminya tidak akan mungkin memberi Devina warisan. Dia harus merebut dan mengusahakan bagian itu sendiri.
"Kemarin saat Kak Rain mengantarku pulang, aku bicara tentang bisnis dengannya. Perusahaan Papa di bidang makanan, aku lulusan Ahli Gizi. Aku memiliki beberapa planning menarik untuk perusahaan. Aku harap Papa memberiku kesempatan." Kia memberi berkas kepada sang ayah.
"Asher juga sudah disiapkan anak perusahaan sendiri, dia diajar oleh Kak Rain untuk menjadi pemimpin. Aku hanya ingin setara dengannya." Kia tersenyum manis, menipu semua orang dengan raut sok polosnya yang menyimpan sejuta rencana.
"Kak Rain, aku harap kakak juga membantuku!" Kia tersenyum penuh arti pada kekasih gelapnya yang asyik memakan steak dengan raut santainya.
"Kamu contohlah semangat Kia! Dia saja yang perempuan mempunyai semangat memimpin. Kamu ditegur Rain sedikit langsung meledak!" Max menegur Asher. "Ayo presentasikan di depan kami Kia, Om juga ingin mengetahui apa idemu!"
Kia bangkit dari kursinya dengan penuh percaya diri. Ia membuka berkas yang telah dipersiapkannya dan mulai menjelaskan rencananya.
"Kia telah mempelajari pasar dan kebutuhan konsumen. Dengan latar belakang kuliah sebagai Ahli Gizi, Kia melihat peluang besar untuk mengembangkan produk-produk yang tidak hanya lezat tetapi juga sehat. Kia ingin memperkenalkan lini produk baru yang fokus pada kesehatan tanpa mengorbankan rasa. Selain itu, saya memiliki beberapa strategi pemasaran yang bisa kita terapkan untuk memperluas jangkauan pasar kita."
Kia melanjutkan dengan presentasi yang terstruktur dengan baik, menunjukkan diagram, data pasar, dan contoh produk yang ia pikirkan. "Dengan pendekatan ini, kita bisa menjangkau segmen konsumen yang lebih luas, termasuk mereka yang sangat peduli dengan kesehatan. Kia yakin, dengan dukungan Papa dan tim yang solid, kita bisa mencapai kesuksesan yang lebih besar."
Max terlihat sangat tertarik dengan ide-ide Kia. Begitupun dengan John, sang ayah, yang terlihat sangat bangga padanya.
"Ide kamu sangat bagus, Kia. Sangat inovatif dan sesuai dengan tren pasar saat ini. Papa setuju, kamu layak mendapat kesempatan untuk memimpin. Papa akan berikan kamu kesempatan!" John berkata dengan penuh kebanggaan.
Asher terdiam, merasa tersaingi dan terpojok. Sementara itu, Lana dan Devina saling pandang dengan ketidakpuasan yang jelas terlihat di wajah mereka. Mereka tidak menyangka Kia bisa tampil sehebat ini.
Rain menyembunyikan senyumnya, bangga melihat Kia mampu menghadapi keluarganya dengan berani dan cerdas. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain mendukung Kia untuk bertumbuh menjadi lebih kuat. Karena kelak, Rain tidak tahu apakah dia bisa memiliki serta menjaga Kia atau tidak.
"Rain, kamu mau membimbing putriku? Dulu aku pernah menawarinya, tapi dia menolak. Berkat kamu, Kia memiliki dorongan seperti ini. Sepertinya hanya kamu yang bisa---"
"Aku akan mendukung Kia sepenuhnya, Om. Dia punya potensi besar dan ide-ide yang sangat baik. Dengan senang hati, aku akan membimbing dia." Rain langsung mengiyakan permintaan John dengan tatapan yang menunjukkan kode rahasia di antara mereka. Karena saat ini, hanya John yang telah mengetahui hubungan gelapnya bersama Kia.
John mengangguk. "Baiklah, Kia. Kamu bisa mulai bekerja sama dengan Rain dan tim untuk mempersiapkan semua ini. Aku ingin melihat progres dalam beberapa bulan ke depan."
Kia tersenyum lega. "Terima kasih, Pa. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Sementara itu, Asher menatap Kia dengan pandangan yang sulit dibaca, merasa posisinya semakin terancam oleh tunangannya sendiri.
"Lihat Asher, seharusnya kamu malu," tegur Max. "Ayolah jangan main-main terus! Calon istrimu saja memiliki keinginan untuk maju!"
"Devina juga mau!" Devina tiba-tiba ikut berbicara. "Kak Rain, aku juga mau diajari!"
"Kamu sekolah modeling, tekuni saja dunia model. Aku sudah mengasuh dua bayi besar itu, aku tidak sanggup jika ditambah satu!" Rain tertawa dan menyembunyikan ketidaksukaannya kepada Devina.
"Iya, Devina, kali ini biarkan Kia dulu ya?" John tersenyum pada putri tirinya itu. "Kamu juga punya potensi besar di bidangmu. Kita semua punya peran masing-masing."
Devina mendengus kesal, namun akhirnya mengangguk. "Baiklah, Pa."
Lana ikut kesal melihat Kia tersenyum penuh kemenangan. Kia pasti merasa merasa menang saat ini. Awas saja, Lana tidak akan membiarkannya berhasil mewujudkan rencananya itu! Akan Lana buat Kia hancur!
Setelah pertemuan selesai, Asher menarik Kia ke dalam mobil dan menatapnya tajam.
"Apa-apaan ini? Hanya bersama kakak sehari saja kamu memutuskan memimpin perusahaan?"
"Kakakmu punya pandangan luas, Asher. Dia memberiku banyak sekali saran dan motivasi. Aku tidak mau menikah dengan cepat, aku ingin membangun karir terlebih dahulu!"
"Asher menelan ludah, merasa terpojok. "Kia, toh nanti semuanya aku yang akan—"
"Tidak, Asher. Aku akan mengurus perusahaan Papa. Kamu juga, urus perusahaan keluargamu dengan benar. Ayo kita jadi setara dalam segala hal. Aku sudah memutuskan untuk tidak menjadi wanita manja lagi." Kia tersenyum, meski hatinya terasa berat.
"Kamu tidak percaya padaku?" Asher bertanya, suaranya bergetar dengan emosi yang tertahan.
"Banyaknya kasus perselingkuhan membuatku takut. Apalagi, wanita yang selalu menjadi korban dan dirugikan. Aku ingin menjadi setara dulu denganmu sebelum menikah. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi ke depannya."
Asher seketika terdiam saat Kia membicarakan tentang perselingkuhan. Dia tidak tahu apa yang Asher lakukan bersama Devina, bukan? Kenapa Kia berubah sedrastis ini? Sejak kapan seorang Kia yang hanya tahu liburan, belanja, berleha-leha mau memikirkan perusahaan ayahnya?
"Kamu menuduhku selingkuh, sedangkan kamu mempertimbangkan pria lain padaku?"
"Apa kamu mau kita berakhir?" Kia menantang, tatapannya tajam.
"Kia—aku hanya tidak mengerti kenapa aku merasa kamu begitu jauh dariku. Apa kamu lupa semua pengorbananku padamu? Aku hampir mati malam itu! Aku memiliki gangguan tidur karena kamu! Aku menyelamatkanmu dari maut!"
"Kamu tulus atau tidak sebenarnya?" Kia berkaca-kaca, suaranya bergetar.
"Aku hanya merasa kamu tidak tahu diri!" Bentak Asher, suaranya keras dan penuh emosi.
"Lalu apa yang bisa aku lakukan untuk membayar hutang itu?" tanya Kia, suaranya lemah.
"Menikah denganku, jadilah Kia yang dulu."
"Kia yang penurut dan bodoh?" Kia tersenyum seraya menjatuhkan air matanya. "Jika kamu cinta, kamu seharusnya mendukungku bertumbuh menjadi lebih baik."
"Bukannya aku tidak mendukung kamu! Aku bisa menjaga kamu, aku tidak akan mungkin berkhianat! Dengan kamu seperti ini, itu berarti kamu meremehkanku sebagai kekasihmu!" Asher berteriak, suaranya penuh frustasi.
"Aku akan tetap mencoba. Jika aku gagal, aku akan mendengarkanmu. Tapi jika aku berhasil, dukung aku sepenuhnya!" Kia tersenyum sendu. Kia sebenarnya masih heran. Sejak kapan Ashernya berubah sejauh ini?
Asher menatap Kia, mencoba mencari jejak dari gadis yang dulu ia kenal. "Kia, aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Aku ingin melindungi dan menjaga kamu."
"Tapi kamu tidak bisa melindungiku dari diriku sendiri, Asher. Aku harus menemukan jalanku, dan aku butuh kamu untuk memahami itu." Kia membuka pintu mobil, langkahnya mantap. "Aku ada meeting dengan Kak Rain dan Papa. Aku harap kamu tidak cemburu yang berlebihan nantinya, jangan kekanakan!"
Kia keluar dari mobil dengan bibir melengkung penuh kelicikan. Lihat dan tunggu saja sampai hubungannya dengan Rain terbongkar. Permainan sepertinya akan semakin seru!
Saat Kia masuk kembali ke gedung hotel tempat mereka makan malam, ia melihat Rain sudah menunggunya di lobi. Pria itu tersenyum tipis, mengisyaratkan bahwa mereka harus segera naik ke ruang meeting yang telah di sewanya bersama John. Mareka akan bicara serius tentang rencana-rencana Kia sebagai pemimpin baru perusahaan mulai bulan depan.
"Kamu datang tepat waktu," ujar Rain sambil menyodorkan beberapa berkas kepada Kia.
"Tentu saja, Kak. Aku tidak ingin membuatmu menunggu." Kia menatap Rain dengan penuh arti, matanya berkilat dengan kecerdikan. Ia bersikap formal di hadapan semua orang agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Namun saat baru saja memasuki lift dan pintu tertutup, keduanya langsung saling berpagutan dengan panas, melampiaskan kerinduan yang terpendam. Rain mencecap bibir Kia dengan gairah yang menggebu, membuat mereka saling kehabisan nafas untuk sepesekian detik.
"Sekarang kita punya alasan untuk selalu bersama. Bukan begitu?" Kia berbisik di samping telinga Rain, suaranya begitu menggoda.
Rain merasakan getaran hangat dari bisikan Kia, membuatnya semakin tak bisa menahan diri. "Ya, sekarang kita punya alasan yang sangat kuat," balasnya dengan suara serak, penuh hasrat.
Keduanya tenggelam dalam momen itu, menikmati keintiman yang sudah lama mereka nantikan. Dentingan kecil lift yang bergerak naik seolah menjadi musik latar yang semakin menguatkan emosi mereka.
Mereka berdua tertawa pelan, menikmati momen kebersamaan singkat namun sangat menggairahkan. Saat lift berhenti di lantai tujuan, mereka berdua kembali beralih ke mode profesional.