Masa Kecil

1630 Words
Kia terjebak dalam mimpi buruk yang mencekam. Di dalam mimpinya, dia merasa terombang-ambing di lautan lepas yang gelap dan dingin. Ombak besar bergulung-gulung di sekelilingnya, mengancam untuk menelannya ke dalam kegelapan tak berujung. Dia berjuang keras untuk tetap mengapung, namun semakin ia berusaha, semakin kuat lautan menyeretnya ke dalam kedalaman air yang tak terjangkau. Di tengah ketakutannya, tiba-tiba tangan yang hangat dan kuat meraih tangannya. Kia merasa ada kehangatan yang memancar dari sentuhan itu, memberinya sedikit kelegaan dan kekuatan. Dia menoleh, dan di sana, dalam cahaya samar-samar, dia melihat wajah Rain yang penuh dengan ketenangan dan keberanian. Rain menariknya dengan mantap, membawa Kia keluar dari lautan yang ganas dan mencekam itu. "Kamu aman, Kia! Kamu aman!" Kia mendengar suara Rain berbisik. Tiba-tiba, mata Kia terbuka. Dia bangun dari tidurnya dengan napas tersengal-sengal, d**a naik turun dalam irama yang cepat. Dia meraih tangannya yang masih terasa hangat, merasa syukur bahwa itu hanyalah mimpi. Trauma akan malam itu ternyata belum juga berakhir dan masih terus menghantuinya. "Kia, kamu baik-baik saja?" tanya Rain dengan lembut, suaranya menenangkan Kia dari gejolak mimpi buruknya. "Mimpi buruk?" "Aku bermimpi tentang tenggelam lagi." Kia memeluk Rain dengan erat. "Kenapa masih terus mengingatnya? Kamu sudah baik-baik saja!" Rain mencium kening dan mengusap punggung Kia agar dia merasa nyaman. "Itu menakutkan Rain. Selain melihat kamu, samar-samar aku melihat hiu---" "Kia, tidak ada hiu sama sekali. Bukan aku juga yang menolongmu." Rain menghela nafas panjang. "Sudah ya, jangan ingat-ingat lagi. Kamu harus move on!" "Entahlah, di mimpi itu selalu ada kamu. Aku bisa merasakan dengan nyata tarikan tangan kamu, pelukan, suara, itu seperti nyata terjadi. Tidak ada Asher sama sekali. Aku selalu penasaran dengan hal ini sejak lama, tapi tidak berani bertanya pada siapapun karena kita tidak dekat sebelumnya." Rain tersenyum saja seraya menyandarkan dagunya pada puncak kepala Kia yang berada dalam pelukannya. Rain senang Kia menyadarinya, walau semua orang berkata bukan dia yang menolongnya. "Atau sepertinya aku melihatmu karena sebelumnya kamu pernah menolongku. Ingat saat keluarga kita camping bersama untuk merayakan kelulusanku dan Asher di taman kanak-kanak, sedangkan kamu masuk ke SMP?" Kia bercerita dengan semangat. "Dulu aku menganggapmu bisu karena kamu tidak pernah mau bicara atau menjawab sapaanku. Malam itu waktu aku tersesat dan kamu menemukanku, itu pertama kalinya aku mendengar suaramu!" lanjutnya sembari tertawa. "Ternyata dari dulu kamu selalu merepotkanku. Kita bahkan berakhir tersesat bersama selama dua hari! Semua orang panik, sampai-sampai polisi dan tim SAR mencari kita." Rain terkekeh seraya mengacak rambut Kia. Dan karena itu, Rain jatuh cinta padanya. Cinta monyet anak-anak pada umumnya yang keterusan hingga dirinya dewasa. Bisa kalian bayangkan berapa lama Rain memendamnya? Jatuh cinta sendirian? "Kamu berburu kelinci hutan dan memanggangnya. Aku menangis seharian karena kasihan dengan kelinci itu, kamu memang psikopat!" Rain tertawa kecil, mengingat betapa lucunya Kia waktu itu. "Aku tidak punya pilihan lain, Kia. Kita harus makan sesuatu untuk bertahan hidup. Jika kita tidak makan kelinci, kita akan mati!" "Tapi tetap saja, Rain. Kamu membunuh kelinci yang lucu itu," Kia meringis, mengingat betapa emosionalnya dia waktu itu. "Aku tahu," Rain mengakui, suaranya penuh dengan penyesalan. "Aku melakukan apa yang harus kulakukan untuk menjaga kita tetap hidup. Aku minta maaf kalau itu membuatmu sedih." Kia tersenyum lemah, mengenang masa lalu mereka yang penuh tantangan namun juga kebersamaan. "Aku baru sadar jika kenangan itu sangat manis!" "Sebenarnya di saat kita tersesat aku punya satu rahasia." Rain terkekeh saat mengatakannya. "Apa?" Kia menatapnya dengan penasaran. "Kamu tahu di hari kedua, saat aku tidak bisa lagi menemukan kelinci hutan?" Rain terkekeh saat melihat wajah Kia yang begitu penasaran. "Aku berkata menemukan udang, padahal kita tersesat di hutan belantara. Sebenarnya itu bukan udang." Lanjutnya. Kia membola saat baru menyadari hal itu. Benar juga, saat itu Rain sudah mengupas rapi dagingnya di atas dedaunan. Kia percaya saja dan segera memakannya karena lapar. "Lalu apa?" Kia memukuli Rain dengan gemas. "Katak!" ujar Rain yang spontan membuat Kia menutup mulutnya. "Jadi aku pernah makan katak?" Kia merasa wajahnya merinding dan jijik. Ia langsung memukuli Rain dengan brutal karena telah berbohong padanya. Keduanya tertawa bersama di sepanjang malam, mengingat momen masa kecil mereka yang sangat menggemaskan. Rain menarik Kia lebih dekat, mata mereka saling bertaut dalam tatapan penuh kasih sayang dan kehangatan. Perlahan, Rain menyentuh pipi Kia dengan lembut, jari-jarinya menyapu kulit halusnya. Kia membalas tatapan itu dengan senyuman manis, bibirnya sedikit bergetar. Tanpa berkata-kata lagi, Rain menundukkan kepalanya dan menyentuh bibir Kia dengan lembut. Ciuman itu dimulai perlahan, lembut, seperti sentuhan sayap kupu-kupu. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, ciuman itu semakin dalam, penuh dengan gairah yang tertahan selama bertahun-tahun. Bibir mereka menyatu dalam kehangatan dan keintiman, berbagi rasa cinta yang tak terucapkan. Tangan Rain melingkari pinggang Kia, menariknya lebih dekat, sementara tangan Kia menyentuh punggung Rain, merasakan setiap lekukan ototnya. Keintiman yang terjalin di antara mereka begitu nyata, begitu mendalam. Setiap sentuhan, setiap ciuman, membawa mereka semakin tenggelam dalam lautan perasaan. "Rain," bisik Kia, suaranya penuh dengan keinginan dan cinta. Rain hanya tersenyum, menunduk kembali untuk mencium bibir Kia dengan penuh kasih sayang. Membuka apa yang menempel pada tubuh mereka satu persatu. Kia merasakan sentuhan tangan Rain di kulitnya, mengelus dengan lembut, kembali memenuhi dirinya dengan kehangatan dan hujaman-hujaman lembut. Setiap dorongan dan hentakan terasa seperti percikan api yang membakar perlahan, memabukkan mereka dalam lautan cinta yang tak berujung. Malam ini, mereka tidak hanya berbagi tubuh, tapi juga jiwa. Mereka saling melengkapi, saling memahami, dan saling mencintai dengan seluruh hati mereka. Setiap sentuhan, setiap ciuman, setiap desahan adalah bukti cinta yang tak mereka sadari. Keduanya menemukan kebahagiaan dalam kehangatan pelukan satu sama lain, dalam bisikan-bisikan lembut yang memabukkan, dalam hujaman-hujaman cinta yang penuh perasaan. Ketika akhirnya mereka berbaring di samping satu sama lain, napas mereka masih terengah, mereka tahu bahwa cinta mereka lebih kuat dari sebelumnya. Kia menatap Rain dengan penuh cinta, merasakan kehangatan dan kebahagiaan yang membanjiri hatinya. Rain membalas tatapannya dengan senyuman lembut, tangannya menggenggam erat tangan Kia. ***** Setelah berkeliling hutan tiga jam lebih, Rain menemukan Kia kecil duduk meringkuk di bawah pohon besar, menangis tersedu-sedu. "Kia!" Rain melepas jaketnya dan segera menyampirkannya pada tubuh mungil anak itu. "Kak Rain? Jadi kamu bisa bicara? Kak Rain, aku takut!" rengeknya. "Tenanglah, aku sudah menemukanmu. Aku akan hubungi Papa!" Rain mengeluarkan ponselnya. Namun ia lupa jika sekarang dirinya sudah di tengah hutan belantara, dan tak ada lagi sinyal yang terhubung. Rain mengacak rambutnya dengan gelisah. Dia pun tidak mengingat jalan pulang ke tendanya lagi. Saat ini Rain hanya berharap keluarganya bisa menemukannya. "Kak Rain, kamu sudah menghubungi Papa? Kia takut!" "Su-sudah. Mereka akan segera datang, kita harus menunggu," bohongnya. Rain semakin frustrasi saat mendengar perut Kia keroncongan karena lapar. Ia merogoh sakunya yang hanya berisi korek dan pisau lipat kecil. Rain lupa membawa permen atau biskuit saat pergi mencari Kia. "Kamu lapar? Aku akan mencarikan sesuatu." Rain menarik paksa ikat rambut Kia, lalu menggunakannya untuk membuat ketapel. Rain membuat panah-panah kecil dari kayu yang ia tajamkan menggunakan pisau lipat yang ia bawa. "Kamu tunggu di sini. Jangan kemana-mana. Mengerti? Kalau bisa, kumpulkan ranting-ranting kecil di sekitarmu untuk membuat api unggun. Apa kamu mengerti?" ujar Rain, dan Kia kecil hanya mengangguk. Kia mulai berjongkok dan mengambil ranting-ranting yang berserakan di sana. Rain juga hanya seorang remaja yang belum punya cukup pengalaman di dunia luar. Ia mengikuti instingnya untuk berburu karena sang ayah pernah mengajaknya beberapa kali. Ketika matanya menangkap seekor kelinci, Rain segera membidiknya dengan ketapel buatannya. Dengan hati-hati, Rain menarik ketapel dan melepaskan tembakannya. Kelinci itu terjatuh, dan Rain segera menghampirinya. Meskipun hatinya berat, dia tahu bahwa mereka perlu makan untuk bertahan hidup. Dengan menggunakan pisau lipatnya, Rain membersihkan kelinci dan membawanya kembali ke tempat Kia menunggu. Saat Rain kembali, Kia sudah berhasil mengumpulkan cukup ranting untuk membuat api unggun. "Bagus, Kia," puji Rain. "Sekarang kita akan menyalakan api." Dengan cermat, Rain menggunakan korek apinya untuk menyalakan api unggun. Setelah api menyala, dia mulai memanggang kelinci di atasnya. Bau daging yang terbakar memenuhi udara, membuat perut Kia semakin keroncongan. "Itu daging apa?" Kia bertanya dengan polos. "Kelinci." "Kelinci?" Mata Kia langsung berkaca-kaca dan terisak sesenggukan. "Kenapa kamu tega sekali? Kamu kan bisa mencari ikan!" "Kita tidak punya pilihan lain. Di sini tidak ada sungai! Aku saja bingung harus minum dengan apa kita nanti!" Rain berkata dengan frustrasi. "Aku membawa botol minum saat pergi mencari kupu-kupu dan berakhir tersesat." Kia menunjuk botol minum Hello Kittynya. "Syukurlah, kita harus berhemat sampai ditemukan. Kamu harus menurut padaku selama itu! Mengerti?" tegurnya, dan Kia hanya mengangguk. Setelah beberapa saat, daging kelinci sudah cukup matang untuk dimakan. Rain memotongnya menjadi potongan-potongan kecil dan memberikan sebagian kepada Kia. "Makanlah pelan-pelan. Kita perlu tenaga untuk bertahan." Kia mengangguk, mengambil potongan daging dan mulai memakannya dengan mata terpejam. Kia tidak tega, tapi dia sudah sangat kelaparan. "Terima kasih, Kak Rain," katanya dengan suara pelan, matanya masih penuh rasa takut namun kini sedikit lebih tenang. Rain duduk di sampingnya, merasa lega bisa membantu. "Kita akan baik-baik saja, Kia. Esok hari, mereka pasti akan menemukan kita." Kia mengunyah sembari tersedu-sedu. Ia memandangi daging di hadapannya dengan hati yang teriris. Hewan selucu kelinci masuk ke dalam perutnya? "Kita seperti drakula yang jahat! Kasihan sekali kelinci kecil ini!" Kia mengangkat potongan daging di hadapannya, lalu memakannya sembari menangis. Rain terkekeh seraya menopang dagunya menatap Kia kecil yang menggemaskan. Dia terus berkata kasihan, tapi mulutnya penuh dengan daging. Dasar bocah kecil yang manis. Sejak hari itu, Rain menyukai Kia. Menganggap Kia adalah cinta pertamanya, cinta monyetnya. Namun perasaannya tidak pernah terungkap. Karena mungkin hanya dia yang mengenang momen ini sebagai momen yang manis. "Kak Rain, kita tidak akan terkena karma, kan? Bagaimana jika setelah makan kelinci kita dimakan harimau?" "Entah! Tapi biasanya harimau menyukai daging gadis kecil yang cantik sepertimu." Candanya yang membuat Kia seketika menempel padanya, dan memeluknya dengan erat. Dengan tampang polosnya itu, sepertinya Kia menganggap candaan Rain sungguhan. Dan Kia, kembali menangis lebih kencang sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD