Malam Penuh Beban dan Tekad.

1067 Words
Tama menghela napas panjang, tatapannya melembut. "Sekarang, kamu harus istirahat. Kamu perlu tidur nyenyak, demi kamu dan calon anak kita. Besok akan jadi hari yang panjang dan melelahkan." ​Ia membereskan sisa bungkus test pack yang tergeletak di meja, memasukkannya ke dalam tasnya. "Aku harus pulang sekarang. Aku butuh waktu sendiri untuk menenangkan pikiran, dan mungkin ... mencari cara terbaik untuk bicara dengan Ibu." ​Aya meraih tangan Tama yang hendak beranjak. "Kamu baik-baik saja, Tam? Kamu nggak menyesal?" ​Tama tersenyum pahit, namun tulus. "Menyesal kenapa? Karena mencintaimu? Tidak. Aku hanya ... menyesal karena kita lalai. Karena aku nggak hati-hati. Tapi hasilnya, ini adalah anugerah. Dan aku akan mempertanggungjawabkannya. Kamu nggak usah khawatir, Sayang." ​Ia mencium kening Aya lama, sebuah ciuman yang menjanjikan perlindungan dan komitmen. "Tidurlah. Kunci pintu kostmu rapat-rapat. Besok pagi-pagi sekali aku jemput, kita langsung ke klinik. Ingat, Seumur Hidup Itu Lama, dan kita akan menjalaninya bersama." ​Tama pun pamit, meninggalkan Aya sendirian di kamar kost yang kini terasa jauh lebih sempit, dipenuhi janji-janji dan harapan yang baru. *** ​Perjalanan pulang terasa sangat panjang bagi Tama. Angin malam menusuk jaketnya, tapi itu tidak sebanding dengan dinginnya kecemasan yang merayap di hatinya. Tama mengendarai motornya dengan lambat, pikirannya berkecamuk dan campur aduk. ​Hamil. Kembar. Ah, belum kembar, baru satu janin, tapi tetap saja. Ia akan segera menjadi ayah. ​Tama merutuki dirinya. Bagaimana bisa ia begitu ceroboh? Gairah yang tak terkendali, rasa cinta yang membabi buta, dan kelalaiannya untuk tidak cabut di malam puncak itu, kini berbuah konsekuensi yang besar. Ia mendecak kesal pada dirinya sendiri. ​Dasar bodoh! Semua gara-gara nafsu sesaat! ​Ia sempat berpikir sejenak, andai saja ia bisa memutar waktu. Tapi itu tidak mungkin. Kenyataan di saku jaketnya—selembar test pack dengan dua garis tegas—adalah kenyataan yang tidak bisa dihapus. Tama menguatkan cengkeramannya pada setang motor. Ia harus bertanggung jawab, ia harus. Bukan hanya karena ia mencintai Aya, tapi karena ia adalah pria. ​Pikirannya kemudian melayang pada Ajeng, ibunya. ​Bagaimana aku harus bilang pada Ibu? ​Ajeng adalah ibu tunggal yang membesarkannya dengan susah payah. Ajeng pasti akan kaget, bahkan marah besar. Ajeng memiliki harapan besar pada Tama, anak sulungnya. Ajeng selalu menanamkan padanya bahwa ia harus sukses, tidak boleh mempermalukan keluarga. Ajeng tentu berharap Aya akan menjadi menantu yang sempurna dan mapan, bukan menantu yang harus dinikahi terburu-buru karena kecelakaan. ​Tama membayangkan raut wajah Ajeng yang kecewa, amarah Rita dan Tari yang mungkin akan menyindirnya. Ia tahu ia harus memilih kata-kata yang tepat. Ia harus menekankan sisi 'cinta' dan 'tanggung jawab', bukan sisi 'aib' dan 'kecelakaan'. ​Setelah Ajeng, giliran orang tua Aya. Itu yang paling berat. ​Ayah Aya adalah sosok yang berwibawa dan sangat menjaga nama baik keluarga. Tama tahu ia telah menghancurkan kepercayaan keluarga Aya. Ia akan menghadapi badai cemoohan, kemarahan, dan mungkin permintaan ganti rugi yang besar. Ia harus siap dengan mental baja. ​Tama berulang kali menarik napas panjang. Ia harus membalikkan pikiran negatif ini. ​Ini bukan akhir. Ini adalah awal. ​Ia mencintai Aya. Ia akan segera menikahinya. Ia akan menjadi Ayah. Ia harus fokus pada masa depan. Ia akan mencari kerja lembur, ia akan bekerja lebih keras. Ia berjanji akan memberikan kehidupan yang layak untuk Aya dan ... ia tersenyum tipis ... dan calon cucunya. ​"Aku harus melakukannya. Demi Aya. Demi anakku," bisik Tama pada dirinya sendiri, menguatkan tekadnya. ​Setibanya di rumah, Ajeng sudah tertidur. Tama langsung masuk ke kamarnya, duduk di tepi ranjang. Ia mengeluarkan test pack itu dan menatapnya lama. Bukti nyata. Besok, ia harus mendapatkan surat dokter. ​Malam itu, Tama tidak bisa tidur nyenyak. Ia menghabiskan malam dengan merancang skenario terburuk, lalu merancang janji-janji terbaik. Ia tahu, janji yang ia berikan pada Aya dan yang akan ia berikan pada orang tua Aya besok adalah hutang seumur hidup yang harus ia bayar. ​Seumur hidup itu lama. Dan ia harus menjalaninya dengan tanggung jawab baru. *** ​Matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi ketika Tama sudah tiba di depan kost Aya. Malam itu ia benar-benar tidak bisa tidur, dihabiskan dengan merancang strategi menghadapi Ayah Aya dan memikirkan bagaimana cara termudah berbicara dengan Ajeng. Tekadnya kini bulat: Hari ini adalah hari penentuan. ​Tama buru-buru memarkir motornya dan menenteng bungkusan bubur ayam favorit Aya. Ia sengaja tidak masuk kantor, sudah mengirimkan pesan izin mendadak kepada atasannya, begitu pula Aya. Hari ini, prioritas mereka hanyalah satu: mendapatkan bukti medis yang valid. ​"Assalamualaikum, Sayang," sapa Tama saat Aya membuka pintu kost. Wajah Aya terlihat pucat, matanya sedikit bengkak, sisa tangisan semalam. ​"Waalaikumsalam, Tam. Kamu nggak ke kantor?" tanya Aya, suaranya parau. ​"Tentu saja tidak. Prioritas kita hari ini. Sudah, jangan dipikirkan. Ayo sarapan dulu, aku belikan bubur ayam," ujar Tama, menyodorkan bungkusan itu dengan senyum paksa. Ia berusaha terlihat kuat, demi menenangkan Aya. ​Aya mencoba tersenyum, lalu duduk di tepi ranjang. Ia membuka bungkusan bubur itu. Namun, aroma kaldu panas yang menyeruak ke udara langsung membuat perutnya bergejolak hebat. ​"Aroma apa ini, Tam? Kok ...." Belum sempat Aya menyelesaikan kalimatnya, ia langsung menutup mulutnya, bangkit dan bergegas menuju kamar mandi. ​Tama terperanjat, ia segera menyusul. Terdengar suara Aya muntah keras. Tama berdiri di ambang pintu, merasa tidak berdaya. Ia merasa bersalah. Bahkan niat baiknya untuk sarapan pun justru menyiksa Aya. ​Ketika Aya keluar, ia terlihat sangat lemas. Tama segera membantunya duduk dan menyodorkan segelas air putih hangat. ​"Maaf, Sayang. Aku lupa. Morning sickness ya?" tanya Tama lembut, ia membersihkan sisa bubur yang tidak disentuh itu. ​"Aku nggak tahu, Tam. Tapi bau bubur ayamnya langsung bikin aku mual. Aku nggak bisa makan," bisik Aya, menyandarkan kepala di bahu Tama. "Bagaimana ini, aku belum sarapan." ​"Nggak apa-apa. Kita pergi sekarang. Kita cari roti tawar saja, yang tanpa aroma. Atau nanti di klinik aku carikan biskuit hambar. Yang penting kamu kuat," putus Tama, ia membatalkan semua niat sarapan mereka dan segera mengajak Aya bersiap. ​Mereka pun bergegas menuju klinik. Sepanjang perjalanan, Tama mencoba mengalihkan perhatian Aya dengan cerita-cerita lucu, meski hatinya terasa berat. Sesampainya di klinik, mereka duduk di ruang tunggu yang dipenuhi ibu-ibu hamil dengan perut yang sudah membesar. ​Aya merasa malu, ia menunduk dalam-dalam. Ia duduk di sana sebagai calon ibu hamil yang datang karena kecelakaan, sementara para wanita di sekitarnya tampak merayakan kehamilan mereka. Tama menyadari rasa malu Aya, ia menggenggam tangan Aya erat, memberikan kekuatan tanpa kata.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD