Setelah menunggu lama—seolah waktu melambat—nama Aya akhirnya dipanggil.
Aya dan Tama melangkah masuk ke ruang periksa. Ruangan yang beraroma antiseptik itu langsung terasa mendebarkan. Dokter menyambut mereka dengan ramah, dan Tama langsung menjelaskan kebutuhan mereka: konfirmasi medis dan surat keterangan hamil untuk keperluan pernikahan yang mendesak.
Setelah mendengarkan riwayat Aya, dokter tersenyum maklum. "Mari kita periksa," kata dokter, meminta Aya berbaring dan menaikkan sedikit pakaiannya untuk USG.
Jantung Aya berdebar tak karuan. Ia menutup mata sesaat. Ini adalah pertama kalinya ia akan melihat buah hatinya.
Saat alat USG mulai bergerak di perut Aya, Tama ikut mencondongkan tubuhnya ke layar monitor kecil. Cairan gel dingin membuat Aya sedikit terkejut, namun ia fokus pada layar.
"Nah, ini dia," ujar dokter, menunjuk titik kecil di layar. "Janinnya sehat. Usia kehamilan Anda baru sekitar delapan minggu."
Aya membuka mata. Ia menatap titik kecil itu, matanya berkaca-kaca. Perasaan haru yang luar biasa menyeruak. Di balik semua masalah, ini adalah bukti cinta mereka, sepotong kehidupan yang tak bersalah. Tama meremas tangan Aya, senyum haru dan lega terpancar di wajahnya.
Dokter mulai mencetak foto USG, sementara Tama sibuk mengucapkan terima kasih.
"Tunggu sebentar," kata dokter, matanya kembali fokus pada layar. Keningnya berkerut, kemudian ia menyeringai.
"Ada apa, Dok?" tanya Tama, suaranya sedikit panik.
Dokter menunjuk titik lain di layar, sedikit tersembunyi di balik yang pertama. "Ibu Aya, Bapak Tama. Selamat ya. Anda beruntung sekali. Ternyata ... janin Anda ada dua."
Aya dan Tama sama-sama terperangah. Dua? Tama yang tadinya tegang langsung membelalak kaget.
"Kembar?" tanya Tama, suaranya meninggi tak percaya.
"Betul. Kembar," jawab dokter, tertawa kecil. "Keduanya sehat dan sedang berkembang. Anda harus mulai menjaga nutrisi ganda, Bu. Morning sickness Anda mungkin akan lebih kuat dari ibu hamil lainnya."
Aya menutupi mulutnya, air mata langsung meluncur deras. Ini adalah kejutan terbesar dalam hidupnya. Haru, bahagia, takut, semua bercampur jadi satu. Ia mendapat anugerah dua kali lipat, namun ia juga tahu tanggung jawab finansial dan mental mereka akan berlipat ganda.
"Aduh, Sayang ... kembar!" Tama yang sebelumnya sempat panik, kini melompat senang, memeluk Aya erat (setelah berhati-hati agar tidak menekan perut Aya). Kebahagiaannya meluap-luap. "Luar biasa! Kita akan punya dua anak sekaligus! Ini berkah, Aya!"
Aya membalas pelukan Tama, meskipun rasa khawatir tetap menggantung. Tama mungkin hanya melihat kebahagiaannya, melupakan betapa sulitnya nanti membiayai kebutuhan si kembar.
Dokter menyerahkan map berisi surat keterangan hamil, resep vitamin, dan dua lembar foto USG yang menunjukkan dua kantung janin. "Ini, Bapak. Bukti yang Anda butuhkan sudah ada. Tolong jaga ibunya baik-baik."
Tama menerima map itu dengan bangga. "Tentu, Dok. Terima kasih banyak. Kami akan menikah secepatnya."
Di motor, Tama terlihat sangat gembira. Ia terus memegang map itu di depan dadanya. "Dua! Aku jadi ayah kembar! Aku akan tunjukkan ini pada Ayahmu. Mereka pasti luluh melihat anugerah ini. Ini adalah bukti bahwa aku serius!"
Aya hanya tersenyum tipis, bersandar di punggung Tama. Ia tahu surat dan foto USG itu akan menjadi senjata ampuh Tama untuk mendapatkan restu yang terpaksa. Namun, di hati kecilnya, ia mulai memikirkan: Bagaimana kami akan menghidupi dua bayi hanya dari gaji Tama? Perasaan haru dan cemas bercampur, mengawali babak baru yang penuh tantangan.
***
Map tebal berisi surat keterangan hamil dan foto USG kembar itu terasa panas di d**a Tama. Bukannya langsung mengantar Aya kembali ke kost untuk istirahat, Tama membelokkan motor menuju rumahnya. Ia tahu, menunda pembicaraan dengan Ajeng hanya akan memperpanjang kecemasan.
Sesampainya di rumah yang sederhana itu, Ajeng sedang sarapan di meja makan bersama Rita dan Tari. Suasana pagi itu tampak riang, sampai ketiganya melihat Tama dan Aya masuk.
"Lho, Tama? Aya? Ada apa pagi-pagi begini? Kenapa kalian nggak kerja?" tanya Ajeng, keningnya berkerut penuh tanya. Rita dan Tari langsung menghentikan kunyahan, menatap Aya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
Tama segera mencari alibi yang paling masuk akal. "Maaf, Bu, Rita, Tari. Aku izin nggak masuk. Aya sedang kurang enak badan, mual dan lemas sekali. Aku khawatir dia sendirian di kost, jadi ku ajak ke sini sebentar, biar ada yang mengawasi," jelas Tama, menyentuh punggung Aya untuk memberi kode agar Aya ikut bermain peran.
Aya mengangguk lemah. "Iya, Bu. Mualnya parah sekali."
"Astaga, Aya. Ada-ada saja. Sini, duduk! Kamu pasti belum sarapan. Tama, kamu ini kenapa nggak beli makanan yang cocok? Ayo sarapan bareng," ajak Ajeng, menyodorkan piring kosong.
Aya segera menolak halus. Aroma masakan di meja itu terasa menusuk hidungnya yang sensitif. "Terima kasih banyak, Bu. Tapi aku tidak bisa. Aku mual sekali. Aku izin duduk di teras saja ya, menghirup udara segar," kata Aya, sebelum ia benar-benar muntah di meja makan.
Tama mengerti. Ia pun pamit mendampingi Aya. "Aku temani Aya di luar ya, Bu. Rita, Tari, cepat sarapan, nanti kalian telat."
Di teras, Tama duduk di samping Aya yang memejamkan mata. Ia membelai rambut Aya, memastikan Ajeng melihat betapa pedulinya dia. Ia harus menunggu Rita dan Tari pergi. Ia tidak ingin adik-adiknya ikut campur dalam badai yang akan segera datang.
Tak lama kemudian, Rita dan Tari berpamitan. Setelah motor mereka menjauh, Tama tahu waktunya telah tiba. Ia mengajak Ajeng bicara di ruang tamu.
"Bu, aku harus jujur," ujar Tama, menjabat tangan Ajeng. Ia mengeluarkan map dari jaketnya. "Aya ... Aya hamil. Dan bayinya kembar."
Ajeng terperangah. Wajahnya langsung memerah padam. Ia menatap map itu, lalu menatap Tama dengan pandangan tak percaya, seolah Tama baru saja menamparnya di hadapan umum.
"Apa?! Hamil?! Kalian gila ya, Tama! Belum menikah sudah begini? Kamu! Kamu yang sudah besar malah tidak bisa menjaga diri! Dan kamu, Aya!" Ajeng meluapkan amarahnya, menunjuk Aya yang duduk lemas di sofa.
"Kamu sebagai perempuan, kenapa tidak bisa menjaga kehormatanmu?! Bagaimana kalau Rita dan Tari ikut-ikutan? Kamu mencontohkan yang tidak baik!"
Ajeng kecewa berat. Ia menuduh Aya yang tidak bisa menjaga diri sebagai wanita dan berharap Rita dan Tari tidak akan seperti Aya. "Ini memalukan, Tama! Bagaimana kalau tetangga tahu?"
Tama segera membela Aya. Ia tahu, ini bukan saatnya menyalahkan Aya, apalagi di depan Aya yang sedang sakit.
"Bu, jangan salahkan Aya! Aku yang salah! Aku yang tidak bisa mengontrol diri. Kami saling cinta, Bu. Dan anak ini adalah tanggung jawab ku. Buktinya, kami sudah ke dokter. Ini surat keterangan dan hasil USG-nya. Anak kami kembar, Bu," kata Tama, suaranya tegas.
Ajeng mengambil surat itu, membacanya dengan kasar, lalu matanya terbelalak melihat foto janin kembar. Kekesalannya sedikit melunak melihat fakta kembar, tapi amarahnya tidak surut.