"Kembar? Ya Tuhan! Biaya kalian nanti dua kali lipat, Tama! Kalian mau makan apa? Kamu mau menikahinya dengan apa? Ibu tidak punya uang untuk pesta yang layak! Ibu lepas tangan soal biaya nikah!" desis Ajeng, nadanya penuh keputusasaan dan kekecewaan.
Tama tahu Ajeng tidak akan membantu secara finansial. "Tidak apa-apa, Bu. Kami tidak butuh pesta mewah. Kami akan menikah sederhana saja. Kami punya tabungan bersama. Kami akan pakai itu untuk biaya nikah. Yang penting kami sah, dan anak kami lahir di status yang jelas."
Melihat tekad Tama dan bukti yang tak terbantahkan, Ajeng akhirnya mengangguk pasrah. Ia memeluk Tama, tangisnya pecah. "Kamu anak Ibu. Ibu dukung keputusanmu untuk bertanggung jawab. Tapi janji, jangan buat Ibu malu lagi."
Setelah Ajeng tenang dan kembali ke dapur, Tama kembali menghampiri Aya. Ia melihat raut wajah Aya yang sangat sedih setelah dimarahi Ajeng.
"Maafkan Ibu, Sayang. Ibu hanya kaget dan kecewa," bisik Tama, mengusap air mata Aya.
"Aku mengerti, Tam. Apa yang Ibu katakan memang benar. Aku yang tidak bisa menjaga diri," jawab Aya lemah.
"Tidak. Jangan ulangi kata-kata itu. Ini adalah kesalahan kita berdua. Jangan salahkan dirimu sendiri," tegas Tama. "Yang penting sekarang, Ibu sudah tahu. Jadi satu beban sudah terangkat."
Kini, tinggal rintangan terbesar: orang tua Aya.
"Kita sudah punya surat dokter. Kita sudah dapat lampu hijau dari Ibu. Sekarang, bagaimana? Kita ke rumah orang tuamu sekarang?" tanya Tama.
Aya menggeleng pelan. Ia bersandar di sofa, terlihat sangat lemas. Perdebatan dan rasa mual di pagi hari telah menguras tenaganya. "Aku lemas sekali, Tam. Aku takut kalau aku muntah lagi di depan Ayah, beliau akan semakin marah. Besok saja ya, Tam?"
Tama melihat kondisi Aya. Ia tidak bisa memaksakan Aya. Kesehatan Aya dan calon anak-anak mereka lebih penting dari apa pun.
"Baiklah, kita tunda besok. Hari ini kita kembali ke kostmu. Kamu harus istirahat total," putus Tama.
Kemudian Tama dan Aya pamit pada Ajeng. Tidak ada ucapan semanis dulu yang mengatakan 'Hati-hati ya.' atau 'Besok main lagi ya ke sini.'. Aya paham betul kalau calon ibu mertuanya itu masih kecewa.
"Ayo, hati-hati. Jangan banyak bergerak," katanya, memakaikan jaket dan helm pada Aya dengan sangat teliti.
Di perjalanan menuju kost, Tama berhenti di minimarket. Ia membeli biskuit hambar, beberapa bungkus roti tawar, dan s**u hamil, menggantikan bubur ayam yang gagal. Ia bertekad, Aya harus mendapatkan nutrisi yang terbaik, apalagi kini janinnya kembar.
Sesampainya di kost, Tama memastikan Aya sudah berbaring dengan nyaman. Ia menyelimuti Aya, meletakkan biskuit dan air minum di sampingnya. Ia memegang kening Aya.
"Kamu istirahat. Aku akan pulang, nanti kita berkabar lagi ya. Aku akan izin tidak masuk kantor besok pagi. Besok adalah hari H. Kita hadapi badai itu bersama-sama, ya," janji Tama.
"Terima kasih banyak, Tam. Kamu sangat baik," bisik Aya, air matanya menetes lagi, namun kali ini air mata haru karena perhatian besar Tama. Ia merasa dicintai dan dilindungi.
Tama mencium kening Aya, lalu mencium perut Aya, mengucapkan janji pada calon anak-anaknya. "Ayah akan datang besok untuk menjamin kalian. Istirahat yang cukup, Sayang."
Meninggalkan kost Aya, Tama mengendarai motornya pulang dengan perasaan campur aduk. Ia lega karena Ajeng telah setuju. Ia juga merasa bangga karena bisa membela dan menunjukkan perhatiannya pada Aya. Namun, rasa cemas kembali menyergapnya ketika memikirkan Ayah Aya. Ia tahu, konfrontasi dengan Ajeng tidak sebanding dengan kemarahan Ayahnya Aya.
Tama mempererat genggaman pada setang motor. Ia harus mempersiapkan diri. Ia akan mengulang semua janji tanggung jawabnya dan ia akan memenuhi janji itu, demi Aya dan kedua anaknya.
***
Pagi itu, suasana di kost Aya terasa tegang dan hening. Tama datang tepat waktu, membawa sebotol air mineral dan sandwich hambar, memastikan Aya mendapatkan energi sebelum menghadapi hari paling menentukan dalam hidup mereka.
"Kamu siap, Sayang?" tanya Tama, memakaikan jaket tebal pada Aya.
Aya mengangguk, namun matanya memancarkan rasa takut yang tak terhindarkan. "Aku hanya takut melihat kekecewaan Ayah, Tam."
"Kita hadapi. Ingat, kita datang dengan tanggung jawab, bukan melarikan diri," janji Tama, menggenggam tangan Aya. "Kita punya dua janin yang harus kita perjuangkan."
Perjalanan menuju rumah orang tua Aya di pinggiran kota terasa jauh dan sunyi. Rumah itu terasa begitu damai, kontras dengan badai yang dibawa Tama dan Aya.
Setibanya di sana, rumah itu tampak tenang. Aya melangkah masuk, dan begitu melihat Ibunya, Sarah, di ruang tamu, pertahanan Aya langsung runtuh.
Sekuat tenaga Aya mencoba menahan air matanya, namun isakan tak tertahankan lolos dari tenggorokannya. Ia berlari kecil menghampiri Sarah, memeluknya erat-erat, dan menumpahkan segala rasa malu, takut, dan penyesalan yang ia pendam selama ini.
Sarah terkejut. Ia membalas pelukan putrinya dengan erat, namun ia bingung melihat Aya menangis tanpa jeda.
"Nak, ada apa? Kenapa kamu menangis begini? Ada masalah apa?" tanya Sarah, mengusap punggung Aya.
Galih, Ayah Aya, keluar dari ruang kerja. Galih adalah sosok yang berwibawa, tidak banyak bicara, namun pandangan matanya bisa terasa menusuk. Melihat putrinya menangis histeris, raut wajahnya langsung mengeras. Ia melirik Tama yang berdiri kaku di belakang Aya.
Sarah segera mengajak Aya duduk di ruang keluarga. "Tama, duduklah. Aya, tenang dulu. Ceritakan pelan-pelan, ada apa sebenarnya?"
Setelah beberapa saat, isakan Aya mereda. Ia mengambil napas panjang, didampingi Tama di sampingnya. Mata Aya kini sembab, tapi ia mencoba berbicara setenang mungkin.
"Ayah, Ibu ... kedatangan kami hari ini ... Tama ingin menikahi Aya," ucap Aya, suaranya bergetar.
Galih langsung menoleh ke arah Tama. Raut wajahnya tidak menunjukkan kegembiraan. Ia sudah mendengar desas-desus kedekatan mereka, tapi Galih selalu menjaga jarak, mengamati calon menantunya.
"Menikahi?" tanya Galih, suaranya rendah dan dingin. "Tama, saya tahu kamu anak baik. Tapi sejujurnya, dengan kondisi kamu yang baru merintis karir, saya belum yakin kamu sudah mapan untuk membawa putri saya. Menikah itu butuh kesiapan, bukan hanya cinta. Dan kenapa begitu mendesak?"
Tama hendak membuka mulut, namun Aya mendahuluinya. Ia tahu, menunda kejujuran hanya akan memperburuk situasi.
"Ayah, Ibu ... Aya sudah hamil," bisik Aya, air matanya kembali tumpah. "Ini anak Tama."
Ruangan itu mendadak hening, terasa lebih dingin daripada suhu di luar. Sarah terkesiap, tangannya menutup mulut, ekspresi kagetnya bercampur sakit. Galih, yang selama ini terkenal tenang, kini bangkit berdiri. Matanya memancarkan amarah yang sulit dideskripsikan.