Keputusan Cepat.

1052 Words
​"Apa yang kamu katakan, Aya?! Hamil?!" Galih meninggikan suara, emosinya tak tertahankan. "Kamu merusak nama baik keluarga kita! Kamu mencoreng wajah Ayah! Kenapa kamu bodoh sekali, Nak?! Kenapa kamu tidak bisa menjaga dirimu?!" ​Sarah mendekat, memeluk Aya yang kini menangis tersedu-sedu. "Ya Tuhan, Nak ... mengapa kamu tidak cerita?" ​Tama tahu ini adalah momen krusial. Ia harus menghadapi kemarahan ini tanpa gentar. Ia berdiri tegak menghadap Galih. ​"Om, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya mengakui semua kesalahan saya. Saya yang bersalah, bukan sepenuhnya Aya," kata Tama. "Tapi saya datang untuk bertanggung jawab. Saya sudah berjanji pada Aya, kami akan menikah secepatnya." ​Tama mengeluarkan map berisi surat keterangan dokter dan foto USG. Ia memberikannya pada Galih. ​Galih meraih map itu dengan kasar. Ia membaca surat keterangan hamil, lalu matanya terpaku pada foto USG. Amarahnya sedikit mereda, digantikan ekspresi terkejut. ​"Ini ...." Galih menunjuk foto itu. "Ada dua?" ​Sarah ikut melihat. "Dua? Kembar, Mas?" ​Kejutan kehamilan kembar itu secara tak terduga sedikit mengalihkan amarah mereka. Namun, kemarahan dan kekecewaan karena aib tetap dominan. ​"Kembar atau tidak, ini adalah aib!" ujar Galih, meletakkan map itu di meja. "Kalian berdua terlalu ceroboh dan tidak memikirkan masa depan! Kalian sudah mempermalukan keluarga. Kalian memaksa kami menerima pernikahan ini!" ​Galih mulai berdebat sengit dengan Tama. Ia mempertanyakan kesiapan finansial Tama, ia mempertanyakan moral dan etika Tama. Tama menerima semua makian dan cemoohan itu, tetap berdiri tegak, memohon ampun, dan mengulang janjinya. ​"Saya berjanji, Om. Saya akan membahagiakan Aya. Saya akan bertanggung jawab penuh pada Aya dan kedua calon cucu Bapak dan Ibu. Saya akan bekerja keras, saya akan memberikan yang terbaik," janji Tama, berlutut di hadapan Galih. ​Sarah, yang melihat ketulusan air mata Tama dan kondisi putrinya yang semakin lemas, mulai melunak. Ia tidak tega melihat putri satu-satunya menanggung malu dan berpotensi membesarkan anak tanpa ayah. ​"Mas, sudahlah," bisik Sarah pada suaminya. "Demi Aya. Demi cucu kita. Kita tidak mungkin membiarkan mereka menanggung malu ini sendiri." ​Setelah drama dan perdebatan panjang yang menguras emosi, Galih akhirnya menghela napas panjang. Kekalahan terpancar dari sorot matanya, namun itu adalah kekalahan demi kebahagiaan putrinya. ​"Baik. Saya beri restu," kata Galih, suaranya kembali rendah, namun kini penuh kepedihan. "Tapi ada syaratnya. Kalian harus segera menikah. Tidak ada pesta mewah. Segera urus semua keperluan. Dan Tama, ingat janji kamu hari ini. Jangan pernah kamu sakiti anak saya lagi. Jangan pernah buat cucu saya kekurangan. Janji kamu adalah hutang yang harus kamu bayar seumur hidup." ​Tama segera berdiri, mencium tangan Galih dan Sarah, matanya berkaca-kaca karena lega. "Saya janji, Yah. Saya akan tepati janji seumur hidup saya." ​Aya memeluk Ibunya dan Ayahnya, rasa malu dan syukur bercampur menjadi satu. Ia tahu, restu ini datang dengan harga yang mahal. Mereka harus segera mengurus pernikahan, yang kini akan segera dilaksanakan dalam kesederhanaan. ​ *** ​Restu yang didapat dari Galih, Ayah Aya, terasa seperti pedang bermata dua. Ada kelegaan yang luar biasa, namun juga ada tekanan waktu dan tanggung jawab yang mencekik. Begitu mereka keluar dari rumah orang tua Aya, Tama langsung menarik napas panjang, seolah baru saja memikul beban berat selama berjam-jam. ​"Kita berhasil, Sayang," bisik Tama, memeluk Aya erat di teras rumah. ​"Iya, Tam. Tapi ... Ayah kecewa sekali. Aku tidak pernah melihatnya semarah itu," jawab Aya, masih terbayang raut wajah dingin ayahnya. ​"Aku tahu. Tapi janjiku padanya sudah terucap. Sekarang, kita harus fokus pada pernikahan. Kita harus segera melakukannya, sesuai permintaan Ayahmu," tegas Tama. ​Maka dimulailah babak baru: persiapan pernikahan yang serba mendadak, sederhana, dan mendesak. Karena kehamilan Aya sudah memasuki bulan kedua dan risiko penundaan akan memperbesar aib, semua harus diselesaikan dalam waktu kurang dari dua minggu. ​Tama dan Aya mulai bergerak cepat. Mereka setuju untuk menggunakan semua tabungan bersama mereka—jumlah yang tidak terlalu besar, cukup untuk biaya administrasi KUA, cincin sederhana, dan sedikit jamuan makan untuk keluarga inti. Sesuai permintaan Galih, tidak ada pesta mewah, tidak ada undangan yang disebar luas. Pernikahan ini hanya untuk mengesahkan status mereka di mata Tuhan, hukum, dan kedua keluarga. ​Keputusan itu membawa kesulitan tersendiri. ​"Kita harus membatalkan semua keinginanmu dulu, Sayang," kata Tama, saat mereka memilih cincin yang paling sederhana di toko perhiasan. "Aku tahu kamu ingin yang ada berlian kecilnya, tapi kita harus memprioritaskan biaya KUA dan down payment sewa rumah kontrakan kecil. Kita harus punya rumah sendiri, tidak bisa lagi di kost." ​Aya mengangguk, hatinya sedikit perih. Ia memang memimpikan pernikahan yang indah, gaun putih, dan cincin berkilauan. Namun, realitas kehamilan dan keharusan bertanggung jawab jauh lebih penting. "Tidak apa-apa, Tam. Cincin yang ini cantik. Yang penting kita menikah." ​Tama memegang tangan Aya. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena kamu mau berjuang bersamaku. Aku berjanji, nanti kalau aku sudah sukses, aku akan belikan kamu gaun terbaik dan cincin yang paling besar." ​Proses selanjutnya adalah mengurus administrasi di Kantor Urusan Agama (KUA). Ini adalah bagian yang paling melelahkan dan penuh tekanan. Tama harus bolak-balik mengurus surat pengantar dari RT/RW, kelurahan, hingga kecamatan, sementara Aya sering mual dan lemas. Surat keterangan dokter dari klinik menjadi kunci utama yang mempercepat semua proses. Ajeng, ibu Tama, membantu seperlunya, namun tampak enggan berurusan dengan keluarga Aya yang masih kecewa. ​Suatu malam, Tama dan Aya bertemu untuk membahas rumah. Mereka menemukan sebuah rumah kontrakan kecil di dekat lingkungan tempat Tama bekerja, dengan harga sewa yang pas-pasan. ​"Aku minta maaf, Sayang. Rumahnya kecil, hanya ada satu kamar dan dapur. Nanti kalau anak-anak kita lahir, pasti akan sempit," ujar Tama, merasa bersalah saat mereka menandatangani perjanjian sewa. ​Aya tersenyum tulus. "Tidak apa-apa, Tama. Ini jauh lebih baik daripada kost. Setidaknya kita punya rumah sendiri, tempat kita bisa membangun keluarga. Kuncinya bukan besar atau kecil, tapi hangat dan penuh cinta." ​Di tengah kesibukan yang sangat mendesak itu, Tama tak henti-hentinya meyakinkan Aya. Ia tahu, meskipun Aya tampak tabah, pasti ada luka karena pernikahannya harus dimulai dengan keterpaksaan dan aib. ​"Aku tahu ini bukan awal yang kamu impikan," bisik Tama suatu malam, saat mereka sedang menata peralatan dapur seadanya di rumah kontrakan baru. "Kita mungkin tidak akan punya foto pernikahan yang bagus, tidak ada pesta dansa, atau bulan madu ke Bali. Tapi, aku berjanji, kita akan bahagia. Aku akan pastikan kamu bahagia, terlepas dari bagaimana pernikahan ini dimulai."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD