CHAPTER DUA PULUH EMPAT

2351 Words
Ivi dan Ibam melanjutkan perjalanannya menuju supermarket untuk membeli beberapa keperluan untuk mereka bawa saat liburan. Ivi pergi ke rak perlengkapan mandi sementara Ibam mengekor di belakang dengan sebuah keranjang di tangannya.            Ivi mengambil sebotol sabun cair, pasta gigi lalu shampoo ukuran kecil.            “Vi, kayaknya kita nginepnya di gili meno aja, deh.” Kata Ibam saat Ivi tengah meneliti barisan handbody di rak di depannya.            “Kenapa?” tanyanya tanpa menoleh. Ia mengambil satu merk dan mencium wanginya.            “Di sana lebih sepi kayaknya.”            “Liburan mau sepi, mah, di kuburan aja.” Lagi-lagi Ivi menjawab tanpa menoleh.            “Ya tapi mana enak juga kalau liburan tempatnya rame.” Kata Ibam. Ivi menaruh satu merk handbody ke keranjang lalu menatap Ibam sambil tersenyum dan mengangguk.            Dahi Ibam berkerut, ia menatap istrinya yang sudah mambalik badan dan punggungnya menjauh darinya untuk menyusuri rak lainnya.            “Tumben nggak ngajak ribut?” tanya Ibam setelah ia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Ivi yang langsung tersenyum.            “Harusnya kamu bersyukur dong kalau aku setuju sama pilihan kamu.” kata Ivi.            “Nggak. Ini aneh.” Kata Ibam. Ivi menoleh lalu melingkarkan lengannya pada lengan Ibam dengan posesif.            “Kok aneh?” tanya wanita itu.            “Aneh, lah.” Kata Ibam. Ivi tersenyum lalu menatap keranjang, setelah menemukan semua kebutuhannya, ia mengandeng tangan Ibam dan pergi menuju kasir.            Setelah keluar dari supermarket, Ivi dan Ibam kembali berkeliling. Mereka memasuki beberapa toko dan membeli beberapa baju, hal yang sudah sangat lama tidak mereka lakukan berdua saking sibuknya dengan pekerjaan. Di akhir pekan keduanya memilih menghabiskan banyak waktu di rumah.            Ivi masih menggandeng tangan Ibam saat melihat sebuah toko yang khusus menjual pakaian dalam wanita. Wanta itu tersenyum lalu menyeret laki-laki itu ke sana.            “Kan aku bilang, nggak.” Pria itu berhenti lalu melihat istrinya tersenyum manis. Sangat manis. Senyum yang ia tahu selalu ada maksud dibaliknya.            “Yaudah aku beli yang lain aja.” Kata Ivi sambil menarik tangan Ibam yang masih tak bergerak dari posisinya.            “Apa?”            “Lingerie.” Jawab Ivi.            “Nah ayo, beli, beli yang banyak.” Ibam menuntun tangan istrinya untuk masuk ke dalam toko dengan semangat. ***            Pipit turun dari ojeknya dan terpaku melihat sebuah mobil parkir di depan rumahnya. Mobil yang terasa tak asing buatnya. Ia berdecak lalu setengah berlari masuk ke dalam rumahnya yang pintunya terbuka setengah.            Ia terpaku di ambang pintu dan melihat Tyo terduduk di ruang tamu rumahnya. Ayah dan ibunya juga ada di sana, duduk di sofa di depan Tyo.            Pipit menghela napas, ia menatap Tyo yang mencoba tersenyum kaku ke arahnya.            “Kenapa baru pulang? Teman kamu nungguin dari tadi.” Suara Murni memecah keheningan.            “Bisa ngomong diluar?” Pipit mendekat lalu berdiri di samping Tyo. Pria itu langsung berdiri dan mengangguk. Pipit kembali keluar rumah. Tyo mengekor di belakangnya.            Murni menatap anaknya dengan cemas.            “Gue tadinya cuma nunggu lo di mobil karena semua pesan gue nggak lo balas. Tapi adik lo tahu dan nggak lama nyokap lo datengin gue, minta gue masuk ke rumah.” Tyo menjelaskan sebelum Pipit salah paham. Ia tidak ingin dianggap lancang karena datang tanpa pemberitahuan. Padahal ia tidak punya maksud apapun.            Pipit mengambil kunci dari tangan Tyo dengan paksa lalu membuka kunci mobil dan mengisyaratkan laki-laki itu untuk naik ke kursi penumpang. Tyo menurut, sementara Pipit melesak di belakang kemudi.            “Pit, jangan salah paham, ya,” kata pria itu saat Pipit menyalakan mesin dan melajukan kendaraan roda empat itu menyusuri komplek perumahannya yang sudah sepi.            “Gue cuma mau tahu kabar lo. Soalnya pesan gue nggak dibalas-balas.” Kata pria itu lagi. Pipit masih diam. Sibuk dengan kemudinya hingga berhenti di taman komplek yang agak ramai. Tenda-tenda penjual makanan berderet di sepanjang jalan.            Pipit mematikan mesin lalu menoleh ke arah Tyo yang menunjukkan raut wajah cemas. Wanita itu menatap kemeja Tyo lalu bertanya, “lo suka banget warna pink, ya?” tanyanya.            “Hah?” Tyo kebingungan. Ia melihat Pipit mengulas senyum tipis.            “Kemeja lo.” Pipit memperjelas.            “Oh. Iya, gue suka warna pink.” Kata laki-laki itu. Tyo menatap kemejanya yang berwarna soft pink. “gue mau mendobrak standar. Banyak orang mengira merah muda itu warna perempuan. Padahal warna nggak punya gender.” Jelas laki-laki itu. Pipit mengangguk setuju.            “Jadi, lo nggak marah?” tanya Tyo.            “Nyokap gue ngomong apa aja?” tanya Pipit tanpa menjawab pertanyaan laki-laki di sebelahnya. Ia melihat Tyo tampak berpikir lalu menggeleng pelan.            “Nggak ngomong apa-apa. Ya cuma nanya gue kenal lo dari mana, gitu.” Jawab Tyo. Pipit masih menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut laki-laki di sebelah. Tatapannya memandang Tyo dengan tatapan menyelidik.            Biasanya laki-laki yang dekat dengannya akan langsung diberondong pertanyaan macam-macam oleh ibunya. Ibunya akan menceritakan segala macam yang baik-baik tentang dirinya seperti ajang promosi. Hal yang membuat si lelaki tak nyaman dan membuatnya malu. Itu adalah alasan kenapa ia tak pernah lagi mengenalkan laki-laki yang dekat dengannya jika mereka belum memasuki tahap serius.            “Beneran. Nyokap lo cuma nanya itu doang.” Tyo memperjelas dan mencoba meyakinkan saat melihat Pipit seperti tak puas mendengar jawabannya. “kenapa memang?” tanya Tyo. Pipit menggeleng. Tak ingin menceritakan apa yang biasa terjadi jika ibunya bertemu dengan teman dekatnya.            “Lo udah makan?” tanya Pipit.            “Belum.” Tyo menjawab. Ia melihat Pipit keluar dari mobil. Ia mengikuti. Wanita itu berhenti sebentar lalu melangkah menuju tenda penjual nasi goreng. Tyo mengekor hingga duduk di depan wanita itu.            “Kenapa chat gue dari kemarin nggak di balas?” tanya Tyo akhirnya. Ia tidak akan lupa tujuannya mendatangi rumah wanita itu. Ia ingin mendengar penjelasannya. Jika memang wanita itu memutuskan untuk tak lagi sejalan dengannya, ia akan menerimanya. Ia hanya perlu kejelasan.            “Gue bingung.” Kata itu keluar dari mulut Pipit setelah ia memesan dua porsi nasi goreng pada si penjual.            “Bingung kenapa?” Tyo tak kalah bingung mendengar jawaban wanita itu.            “Gue dalam kondisi susah percaya sama laki-laki karena pernah dikecewakan, sedang nyokap gue dalam posisi ingin gue buru-buru nikah.” Pipit tersenyum miris, “gue nggak mau kenalin laki-laki yang dekat sama gue karena nyokap gue akan berharap banyak, padahal gue sama laki-laki itu belum tentu cocok.” Kata Pipit. “gue lagi berpikir apakah gue harus lanjut sama lo atau nggak. Gue dengar dari Ivi soalnya lo diburu-buru nikah juga sama nyokap lo.” Jelas Pipit, “gue nggak mau kasih harapan ke nyokap gue, ataupun sama lo. Gue belum siap buat serius.”            Tyo terdiam. Dua piring berisi nasi goreng di sajikan di depan keduanya.            “Gue nggak masalah kok kalau lo butuh waktu.” Kata Tyo. “gue akan nunggu sampai lo percaya sama gue dan yakin.” Lanjutnya.            Pipit mengambil sendok yang ada di atas meja lalu mengaduk nasi gorengnya hingga uap panas keluar dari dalam nasi goreng.            “Kalau lo mau, kita bisa mulai pelan-pelan. Ayo mulai tanpa intimidasi dari nyokap lo atau nyokap gue.” ujar Tyo.            Pipit yang hendak memulai suapan pertama terdiam, ia kembali menaruh sendoknya di piring lalu menatap Tyo baik-baik. Laki-laki itu tampak bersungguh-sungguh.            “Ayo mulai dari kita berdua.” Kata Tyo lagi. Mencoba meyakinkan wanita di depannya.            Setelah berpikir, Pipit mengulas senyum tipis hingga akhirnya mengangguk pelan. Mata Tyo membulat saat melihat respon wanita itu.            “Jadi hari ini kita jadian?” Tyo menegaskan hubungan keduanya.            “Jalanin aja dulu.” Kata Pipit.            “Ya tapi kita pacaran, kan?” tanya Tyo lagi.            “Jalanin aja dulu.”            “Iya itu artinya kita pacaran kan.”            Pipit terkekeh melihat respon pria di depannya. Raut wajah pria iu tampak lucu saat meminta pengakuan.            “Ayo buruan makan.” Kata Pipit. Ia memulai suapan pertama. Tyo mengikuti dengan senyum mengembang di bibirnya.             ***            Ivi keluar dari kamar mandi dan langsung menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Ibam duduk di lantai dengan koper besar di depannya. Laki-laki itu tengah menyicil packing untuk kepergian mereka lusa nanti.            “Baju yang baru udah dimasukin mesin cuci, Bam?” Ivi bertanya.            “Sudah, Nyah.” Jawab Ibam dengan nada patuh yang langsung membuat Ivi terkikik geli.            “Kamu marah?” tanya Ivi.            “Nggak.” Ibam menjawab tanpa menoleh. Ia masih sibuk memilih beberapa kaos lalu memasukkannya ke dalam koper berwarna hitam itu.            “Kan aku beneran beli lingerie.” Kata Ivi.            “Tapi kamu beli bikini juga.” Ibam menatap Ivi dengan kesal. Bibirnya mengerucut kesal.            Ivi mengulum tawa lalu melihat Ibam menutup koper dan menyimpannya di sisi kosong samping lemari. Laki-laki itu ke kasur lalu berbaring membelakanginya. Ivi mendekat lalu memeluk suaminya dari belakang.            “Gitu aja marah.” Bisik Ivi.            “Kamu nggak pernah dengerin aku, sih.” Balas Ibam, masih dengan nada jengkel yang tidak bisa disembunyikan.            Ivi mengeratkan pelukannya. “Kamu mau tidur belakangin aku gini?” Ivi menggerutu.            Ibam terdiam. Tak merespon pertanyaan istrinya.              “Tapi aku mau dipeluk.” Bisik ivi dengan nada manja.            “Nggak mau. Aku lagi marah.” Jawab Ibam dengan nada tegas.            Ivi mengerucutkan bibirnya lalu melepas pelukannya. Ia bangun dari tidurnya lalu berkata, “yaudah aku tidur di kamar sebelah aja.” Wanita itu berdiri lalu membawa guling dan pergi keluar kamar. ***                        Pipit kembali ke rumahnya setelah menyelesaikan makannya. Tyo mengantarkan sampai ke depan rumah. Ia masuk dan menemukan orangtuanya masih berada di ruang tamu, namun kali ini adiknya, Gita, juga ada di sana.            “Mama nggak ngomong macam-macam, lho, Pit, sama Tyo.” Kata Murni saat Pipit masuk dan duduk di sebelahnya. Ia sudah sangat tahu watak anaknya yang tak suka jika ia memberondong teman laki-lakinya dengan pertanyaan macam-macam.            “Iya, Pipit, tahu.” Jawab gadis itu.            “Kamu nggak marah, kan, sama Mama?” tanya wanita itu.            Pipit hanya menggeleng. Ia lalu melirik Gita yang langsung menunduk.            “Mama yang ngelihat teman kamu ada di depan, makanya Mama ajak masuk. Bukan Gita yang ngasih tahu.” Murni menjelaskan. Ia tahu bahwa Pipit akan marah jika Gita terlalu sering memberitahuan hal-hal yang tak seharusnya tak ia beritahu, termasuk soal Tyo.            “Tapi kan Gita yang udah lihat Tyo. Mama mana tahu kalau itu teman Pipit kalau Gita nggak ngasih tahu.” Jelas wanita itu.            Gita masih menunduk di samping ayahnya. Menyadari bahwa ia salah. Ia yang cerewet jelas tak pernah tahan menyimpan rahasia. Apalagi pada ibunya.            “Pokoknya kamu jangan marahin Gita.” Tegas Ibunya.        ***            Jam menunjukkan pukul dua belas lewat saat Ibam bergerak gelisah di atas ranjangnya. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya dan melirik sisi sebelahnya yang kosong. Ia menghela napas kasar, lalu berdiri dan berjalan keluar kamar. Ia masuk ke kamar sebelahnya tanpa mengetuk pintu, lalu melihat Ivi sedang meringkuk seperti janin di atas ranjang.            Pria itu berjalan pelan nyaris tanpa suara lalu naik ke atas kasur dengan gerakan lembut. Ia mendekati istrinya lalu memeluk wanita itu dari belakang.            “Lagi marah malah ditinggalin. Ngeselin banget.” Bisik Ibam yang langsung membuat Ivi tersenyum tipis. Ibam mengeratkan pelukannya lalu menempelkan wajahnya ke leher wanita itu lalu tertidur pulas. ***            Kedua kelopak mata Ibam mengerjap saat merasakan sinar matahari menerpa wajahnya. Perlahan, ia membuka matanya dan melihat Ivi duduk di tepi ranjang. Wanita itu sudah berpakain rapi.            “Bangun, udah siang.” Ujar wanita itu. Ibam menguap lalu bangun dari posisinya dan terduduk di ranjang. Ia melirik jam dinding dan melotot saat melihat jam menujukkan pukul tujuh lewat.            “Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Ibam. Ia menyibak selimut yang menutupi kakinya.            “Aku udah bangunin kamu daritadi. Tapi kamu nggak bangun-bangun.” Kata Ivi. Ia berdiri lalu melipat selimut menjadi dua.            “Ya makanya dicium biar aku bangun.” Kata Ibam sambil berdiri.            Ivi tertawa, “kamu pikir kamu Putri tidur?”             ***            Tyo : Aku tunggu di depan komplek, ya. Kita berangkat bareng.            Pipit yang sedang menunggu ojek di ruang tamunya menatap layar ponselnya baik-baik. Membaca pesan yang masuk pelan-pelan dan meyakinkan diri bahwa Tyo memang menjemputnya di depan komplek perumahannya.            Pipit : Aku udah pesan gojek.            Tyo : Yaudah anterinnya sampai depan komplek aja.            “Kamu kenapa belum berangkat?” tanya Murni pada Pipit yang masih duduk di ruang tamu saat kakak, adik, dan ayahnya sudah pergi sejak pagi-pagi sekali.            “Lagi nunggu gojek.” Jawabnya.            “Buruan, ah. Mama mau bersih-bersih, nih.” Kata Murni.            “Ya Mama bersih-bersih aja. Apa hubungannya sama Pipit di sini.” Keluh wanita itu.            “Mama nggak bisa bersih-bersih kalau masih ada orang. Menganggu.”            Pipit menggaruk lehernya yang tidak gatal lalu terpaku saat mendengar suara klason di luar rumah. Ia mengecek ponselnya dan melihat bahwa ojek pesanannya sudah sampai. Ia mencium tangan ibunya lalu berpamitan dan keluar dari rumah.            “Bang, sampai depan komplek aja, ya.” Kata wanita itu pada pengemudi ojek yang sudah sangat dikenalnya karena seringnya laki-laki itu mengambil orderan Pipit.            “Kenapa emang, Neng.” Tanya laki- laki itu.            “Nggak apa-apa.” Jawab Pipit singkat.            Motor matic itu berhenti tepat di depan gerbang komplek perumahan. Pipit turun dari motor lalu membayar sesuai dengan ongkos di aplikasi. Pengemudi mengucapkan terima kasih lalu melihat Pipit mendekati sebuah mobil yang terpakir tak jauh dari sana.            Pipit masuk ke dalam mobil lalu menatap Tyo yang hari itu memakai kemeja biru muda yang tampak cerah. Rambut pria itu di sisir rapi.            “Ngapain pakai jemput?” tanya Pipit.            “Ya nggak apa-apa.” Jawab pria itu. Ia mulai menyalakan mesin mobilnya saat Pipit memakai safety belt.            Mobil itu membelah jalanan ibukota yang pagi itu tampak padat. Sebuah lagu Korea mengalun pelan.            “Kamu suka dengerin lagu Korea?” tanya Pipit. Tyo mengangguk sambil tersenyum.            “Ketularan Ivi, sih, kalau ini.” kata Tyo. “dia jago banget kalau ngeracunin orang. Ini malah aku ketularan lagi nonton dramanya.”            Pipit terkekeh pelan, “kamu lucu banget.” Katanya. Mobil sedang berhenti di lampu merah saat Pipit mengatakan itu. Tyo menatap Pipit yang tertawa. Jika biasanya beberapa orang menganggap sedikit aneh karena kerap memakai kemeja berwarna merah muda, juga suka mendengarkan lagu Korea dan sekarang malah menonton drama negara tersebut, wanita di sebelahnya malah menganggapnya lucu dan tampak tak ilfeel dengan kebiasaan-kebiasaan yang banyak orang berpikir identik dengan perempuan.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD