CHAPTER DUA PULUH TIGA

2492 Words
Ibam keluar dari mobil setelah berhasil memakirkan mobilnya di parkiran sebuah mall. Ia menuju lift yang ada di sana untuk naik ke lantai atas. Lift itu membawanya ke lantai empat, di mana dipenuhi oleh toko-toko jam mewah dan perhiasan.            Ia berjalan pelan sambil menatap toko-toko yang berderet di sebelahnya. Toko-toko dengan pencahayaan yang lebih terang dibanding toko- toko lain. Toko-toko yang di penuhi etalase. Setelah mengamati satu persatu, Ibam memasuki salah satu toko.            Seorang pelayan yang berpakain rapi menyambutnya. Ibam hanya mengulas senyum tipis lalu melihat isi dari etalase-etalase yang ada di sana. Ia fokus pada etalese yang memajang berbagai jenis kalung.             Ibam meneliti lionting kalung itu satu persatu. Ia tidak tahu persis selera Ivi, tapi ia tahu wanita itu selalu suka barang-barang simple namun mahal. Matanya tertuju pada sebuah kalung dengan liontin yang berbetuk tiga kelopak bunga dengan sebuah permata di tengahnya.            “Coba lihat yang ini, Mbak.” Kata Pria itu pada pelayan sambil menujuk kalung yang dimaksud.            Tali kalung dan tiga kelopak itu berwana rose gold sedangkan permata ditengahnya berwarna putih. Ibam tersenyum tanpa sadar. Membayangkan benda kecil itu akan sangat cantik di kulit putih istrinya.            Suara dering ponsel membuat perhatian Ibam teralihkan. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan benda pipih di tangannya.            “Kamu di mana?” suara Ivi terdengar di ujung sambungan.            “Ngapain telepon? Kan kirim pesan bisa.” Kata Ibam dengan nada dingin.            “Idih, dendaman banget jadi orang.” Kata Ivi yang langsung membuat Ibam tertawa. Ia melihat kalung di tangannya lalu menjawab,            “Di toilet. Kamu udah sampai? Di mana? Aku yang nyamperin.” ujar laki-laki itu.            “Di depan sport stations.”            “Yaudah nanti aku ke sana.”            Setelah mematikan panggilan, Ibam menatap kalung di tangannya sekali lagi lalu berkata pada pelayan, “saya ambil yang ini, Mbak.”            Wanita itu mengambil kembali kalung itu dan membungkusnya sementara Ibam mengeluarkan kartu dari dompetnya.            Ia mendekati kasir lalu memberikan kartu dalam tangannya. Pelayan yang melayaninya memberikan kalung pilihannya yang sudah di masukkan ke dalam kotak yang terlihat mewah. Pelayan itu memastikkan pilihan Ibam lalu menaruh kembali kotak itu ke sebuah tas kain dengan tulisan nama toko di depannya. Ibam menerimanya dan menunggu si kasir menyelesaikan pembayarannya. ***            Ivi membuka air mineral yang baru saja dibelinya lalu meneguk isinya pelan. Matanya menatap sekeliling, mencoba mencari keberadaan suaminya, namun tak menemukannya. Ia mendekati sebuah bangku besi di depan toko pakaian dan mendudukan dirinya di sana.            Ia menyorot penunjuk waktu di pergelangan tangannya lalu melihat sosok Ibam tersenyum padanya dari kejauhan. Pria itu berada di eskalator lalu terlihat melambai padanya. Ia tersenyum saat melihat pria itu berjalan mendekat hingga berdiri di depannya.            “Jadi kita mau cari apa?” tanya Ibam. Ia mengulurkan tangannya dan melihat wanita itu meraihnya.            “Bikini.” Jawab Ivi. Wanita itu berdiri berjalan lebih cepat, mendahului Ibam yang tercengang. Pria itu mengejar langkah istrinya yang lebar-lebar.            “Nggak boleh. Kalau tahu kamu mau beli bikini, aku nggak bakal mau diajak ke sini.” Ibam berdiri di belakang Ivi saat menaiki eskalator.            “Yaudah. Aku bisa beli sendiri. Weks.” Ivi membalik badan lalu menjulurkan lidahnya pada Ibam yang sudah menahan geram.            “Pokoknya nggak boleh, ya.” Kata Ibam memperingatkan. Ia menggenggam tangan Ivi dengan erat.            “Lho, ngapain? Lepas, ih.” Kata Ivi saat tiba-tiba Ibam menggenggam tangannya begitu erat. Ia berusaha melepaskan genggaman itu namun tak berhasil. Pria itu sepertinya benar-benar tak ingin melepaskannya.            “Nggak boleh beli bikini. Kita nyari sandal aja.” Ibam mengambil kendali. Ia menarik tangan wanita itu untuk memastikan wanita itu tidak masuk ke toko pakaian dalam.            “Ih, jauh banget dari bikini ke sandal.” Keluh Ivi sambil mengimbangi langkah Ibam. Sekali lagi, ia mencoba melepas genggaman pria itu namun gagal.            Ibam masih menggandeng tangan istrinya saat mereka memasuki sebuah toko sandal. Pria itu bahkan tak melepas genggamannya meskipun Ivi sudah mencoba meronta dan memohon padanya.            “Kamu mau sandal yang mana?” tanya Ibam.            “Aku nggak butuh sandal. Aku butuh bikini.” Kata Ivi. Ibam menoleh lalu melotot pada Ivi yang justru mengulum senyum.            Kalau bukan di tempat umum, Ivi pasti sudah mencium pria itu karena raut wajahnya yang terlihat menggemaskan.            “Jangan sampai aku borgol, ya, tangan kamu.” kata Ibam dengan raut wajah kesal yang tidak bisa di sembunyikan. Ivi terkekeh pelan, sangat menyenangkan rasanya menggoda pria itu.            Ivi memakai sebelah tangannya yang bebas untuk mencubit sebelah pipi Ibam dengan keras hingga membuat pria itu mengaduh sakit.            Ibam melepas genggamannya lalu menyerah. Ia melepaskan wanita itu dan meminta wanita itu memilih sepasang sandal. Ia sudah berjalan ke rak lainnya dan memilih-milih.            Ivi membalik badan dan meneliti satu persatu sandal wanita di depannya. Ia mencoba beberapa lalu mengambil yang berwarna merah dan yang berwarna hitam.            “Bagusan yang mana, Bam?” tanya Ivi sambil menunjukkan dua buah sandal dengan satu tipe namun beda warna di tangannya.            “Sendal jepit doang, jangan ribet.” Balas pria itu.            “Ini sandal jepit juga mahal. Jadi aku nggak mau salah pilih.” Kata wanita itu.            “Cuma beda warna. Model dan bahannya sama.” Kata Ibam lagi.            “Tetap aja.” Ivi mulai jengkel.            Ibam berdecak lalu melihat dua buah sandal yang dipegang istrinya lalu menjawab, “merah. Yang merah bagus.” kata Ibam dengan nada yakin.            “Oke. Aku ambil yang hitam kalu begitu.”            “NGESELIN.” ***                        “Gue duluan, ya.” Fery berdiri dari duduknya lalu memakai jaket yang tersampir di kursinya. Ari dan Vanya yang masih ada di sana mengangguk lalu mengucapkan hati-hati pada Fery yang sudah membuka pintu ruangan dan sosoknya menghilang di baliknya.            Ari menyandarkan punggungnya di kursi lalu menoleh pada Vanya di sebelahnya.            “Masih lama, Van?” tanyanya.            “Sebentar lagi. Lagi nanggung.” Kata gadis itu tanpa menoleh. Matanya amsih terfokus pada layar di depannya sedang jari-jarinya menari di atas papan ketik.            Ari berdiri dari duduknya lalu mengambil gelas di mejanya yang sudah kosong dan pergi keluar ruangan. Diluar ruangan masih ada beberapa karyawan yang masih sibuk di mejanya. Ia mendekati dispenser yang ada di ujung ruangan dan menaruh gelasnya di bawah kran dispenser. Sebelah tangannya memencet tombol hingga akhirnya air keluar dan memenuhi gelasnya.            “Belum pulang?” wajah Pipit menyembul dari balik partisinya.            “Belum, Mbak.” Jawabnya. Ari masih berdiri di dekat dispenser saat Pipit mendekati meja kosong di depannya dengan tasnya.            Pipit duduk di kursi lalu mengutak atik ponselnya. Ari akhirnya ikut duduk di depannya.            “Masih ada siapa di ruangan lo?” tanya Pipit setelah ia selesai memesan ojek onlinenya.            “Tinggal Vanya.” Jawab Ari.            Pipit menatap Ari sambil tersenyum jahil, “lo sama Vanya pacaran, ya?” tanya Pipit dengan nada jahil. Ari yang sedang menyesap airnya hampir saja tersedak.            “Ya, nggak, lah.” Kata laki-laki itu, lengkap dengan gelengan kepala.            “Atau nggak, lo naksir Vanya?” tanya Pipit lagi dengan tatapan menyelidik yang langusng membuat Ari kembali menggeleng cepat. Pipit tersenyum melihat reaksi Ari yang tampak salah tingkah saat mendengar pertanyaannya yang blak-blakan.            “Yaudah, gue duluan kalau gitu.” Pipit mengambil tas yang ia taruh di kursi sampingnya lalu berdiri dan meninggalkan Ari di tempatnya.            Ari berdehem lalu menggeleng-gelengkan kepalanya. Mencoba mengusir pertanyaan-pertanyaan Pipit yang berputar di otaknya. Ia tidak tahu kenapa wanita itu bisa menanyakan hal itu. Apa begitu terlihat di wajahnya?            Ari berdiri lalu kembali ke ruangannya. Ia melihat Vanya sedang membereskan dokumen di mejanya.            “Udah selesai?” tanyanya.            “Udah.” Jawab gadis itu.            Ari ikut membereskan barang-barangnya dan keduanya keluar dari ruangan bersamaan.            “Gue antar pulang, ya.” Tawar Ari yang langsung membuat Vanya menggeleng.            “Nggak, usah. Transjakarta jam segini udah sepi kok. Gue pasti kebagian duduk.” Kata gadis itu.            “Yaudah, kalau gitu gue antar sampai halte aja.” Kata Ari tepat saat keduanya keluar dari lift.            Vanya tampak berpikir hingga akhirnya mengangguk pelan, menyetujui tawaran laki-laki itu.                  Vanya menunggu di depan kantor sementara Ari mengambil motornya yang kebetulan di parkir di belakang kantor. Setelah Vanya naik ke belakangnya, Ari melajukan motornya menuju halte transjakarta. Namun saat sampai di sana, keduanya terkejut melihat antrian yang mengular hingga keluar dari halte.            “Ada apa, ya? tumben banget.” Kata Vanya saat turun dari motor Ari. Ia sudah melepas helmnya dan mengembalikannya pada laki-laki itu.            “Coba tanya, Van.” Ari menunjuk seorang wanita yang keluar dari antrian dan memutuskan untuk keluar halte.            Vanya mendekati wanita itu lalu bertanya apa yang terjadi. “Ada kecelakaan di halte sebelumnya, jadi bus pada ketahan. Makanya antriannya rame gini.” Kata wanita itu. Setelah mengucapkan terima kasih, Vanya kembali pada Ari lalu memberitahukan yang terjadi.            “Yaudah, ayo gue antar sampai kosan aja.” Kata Laki-laki itu. Vanya tampak berpikir sebentar hingga akhir mengangguk. Ia tidak punya pilihan lain. Jika ia bersikeras mengikuti antrian itu, entah jam berapa ia sampai rumah. Sedangkan jika memutuskan untuk naik angkutan umum selain transjakarta, ia pasti akan terjebak macet di mana-mana.            Setelah Vanya naik ke belakang, Ari menjalankan motornya menuju kediaman gadis itu. Keduanya sampai di gerbang kosan Vanya kurang dari satu jam. Vanya langsung turun dan mengucapkan terima kasih pada Ari yang hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan seulas senyum.            Vanya akhirnya masuk ke dalam gerbang dan mendekati salah satu dari deretan pintu yang ada di sana. Sebelah tangannya mengaduk tasnya untuk mengambil kunci kamarnya. Setelah menemukannya, ia memasukkan ke dalam lubang kunci lalu memutarnya dua kali. Ia menekan handle pintu hingga pintu cokelat di depannya terbuka.            Vanya menaruh tasnya di atas meja lalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Kurang dari lima belas menit, ia keluar dari kamar mandi dengan handuk yang meliliti tubuhnya. Ia membuka lemarin, mengambil satu setel piyamanya dan memakainya.            Suara dering ponsel menggema. Vanya mendekati mejanya lalu mengeluarkan ponselnya dari tas. Nama ibunya tertera di layar. Ia menghela napas lalu memilih mematikan panggilan.            Ia mendekati pojok ruangan dan mengambil gelas lalu menyadari bahwa galon airnya sudah kosong. Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada penjual galon air langganannya.            +62815226548xx : Neng, saya tutup udah dua hari. Paling lusa baru buka.            Vanya menghela napas. Ia merogoh tasnya untuk mengambil uang di dalam dompet. Setelahnya ia keluar dari kosan untuk membeli air mineral botol untuk cadangan minumannya.            Ia keluar dari gerbang lalu melirik sekeliling. Jalanan masih ramai, karena kawasan itu adalah kawasan yang banyak sekali kos-kosan. Jalanan itu nyaris tidak pernah sepi. Penjual makan dan minuman berderet di sepanjang jalan, yang biasanya sangat ramai saat malam.            Ia berjalan menuju minimarket terdekat. Matanya terpaku saat melihat Ari duduk di kursi yang disediakan di depan minimarket. Sebelah tangan laki-laki itu mengutak atik ponselnya sementara tangan yang lainnya, terselip lintingan rokok. Laki-laki itu tengah fokus pada benda pipih di tangannya sehingga tak melihat Vanya melewatinya dan masuk ke minimarket itu.            Vanya mendekati kulkas yang menyimpan berbagai macam makanan siap saji. Ia meneliti kotak-kotak makan itu baik-baik lalu memilih satu kotak berisi nasi dengan lauk ayam. Setelahnya, ia menyusuri rak minuman dan mengambil dua buah botol air mineral, satu ukuran sedang dan satunya lagi ukuran besar.            Ia membawa belanjaannya menuju kasir yang saat itu kosong. Setelah menyelesaikan pembayaran, Vanya keluar dari minimarket dan melihat Ari masih duduk di tempat yang sama. Tatapan keduanya bersirobok. Ari tampak kaget semenatara Vanya tersenyum kecil.            “Lo kapan masuk?” tanya laki-laki itu saat Vanya duduk di depannya. Ia menekan putung rokoknya yang tersisa setengah ke asbak yang ada di atas meja.            “Tadi pas gue masuk, lo lagi sibuk main hp.” Kata Vanya. Ia membuka kotak makanan cepat saji yang baru saja ia beli. Uap hangat terasa saat ia membuka makanan yang tadi dipanaskan pegawai minimarket itu. “lo kenapa masih di sini?” tanyanya.            “Gue mau ngerokok dulu tadi.” Katanya. “lo sendiri? Cari makan?” tanyanya. Ia melihat tangan Vanya memegang sendok plastik lalu mengisinya dengan nasi dan potongan ayam dan memasukkannya ke dalam mulut.            Gadis itu mengunyahnya lalu menjawab, “Air galon di kosan gue abis. Langganan yang biasa ngantar tutup, baru buka lusa, gue beli air mineral.” Vanya melirik kantong plastik yang ia taruh di bawah kakinya.                        “Oh.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ari.            “Lo udah makan?” tanya Vanya.            “Belum. Masih kenyang habis ngopi.” Kata laki-laki itu.            Laki-laki itu menatap gadis di depannya. Gadis yang tengah sibuk dengan sendok plastik di tangannya. Gadis itu memakai piyama panjang dengan rambut yang dicepol ke atas. Gadis manis yang tampak sederhana.            Suara dering ponsel memecah kehehingan yang dicipatakan keduanya. Ari menatap layar ponsel Vanya yang ditaruh di atas meja. Vanya melirik Ari lalu memilih untuk meriject panggilan.            “Kenapa nggak diangkat?” tanya Ari dengan nada nada hati-hati. Ia berharap tak menyinggung gadis itu.            Vanya hanya menggeleng lalu kembali melanjutkan makannya hingga isi kotak itu habis. Tak ada yang jawaban yang bisa ia berikan pada Ari sehingga ia memilih melanjutkan makannya.            Ari melirik jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir jam sepuluh malam.            “Lo nggak dicariin nyokap lo, jam segini belum sampai rumah?” tanya Vanya setelah ia minum dari botol sedang yang tadi dibelinya.            Laki-laki di depannya terkekeh, “memangnya gue anak SD.” Katanya.            Vanya ikut tersenyum. Ia tidak pernah tahu bagaimana rasanya ada di keluarga yang utuh. Ia sudah lupa karena sudah lama sekali ibunya meninggalkannya.            “Lo mau balik kosan nggak? Ayo gue anterin.” Tanya Ari saat menyadari gadis di depannya sudah menyelesaikan makannya.            Vanya mengangguk. Sebelum pergi, Ari masuk kembali ke dalam minimarket dan melakukan transaksi di kasir sementara Vanya menunggu di samping motor laki-laki itu.            Ari keluar bersama dengan salah seorang pegawai. Pegawai itu pergi ke samping dan membawakan satu galon dan menaruhnya di samping motor laki-laki itu.            “Galon buat siapa?’ tanya Vanya dengan dahi yang berkerut dalam.            “Buat lo.” Kata Ari sambil menaruh galon itu di motor bagian depannya.            “Ih, nggak usah.” Vanya mencoba menolak.            “Nggak apa-apa. Kalau punya dua, paling nggak lo punya cadangan kalau tiba-tiba langganan galon lo tutup.” Kata laki-laki itu. Vanya tersenyum seraya berterima kasih. Entah sejak kapan, ia mulai tahu bahwa perkataan laki-laki itu tidak bisa ditentang. Laki-laki itu juga tidak akan menerima jika ia menggantikan uang laki-laki itu.            Vanya naik ke motor itu dan membiarkan Ari mengantarnya ke kosan yang letaknya tak terlalu jauh dari minimarket.            Vanya membuka gerbang dan membiarkan motor Ari masuk ke pelataran kosan. Setelah itu, Ari membantunya membawa galon ke depan kamar kosnya.            “Makasih, ya.” Kata Vanya saat Ari menaruh galon itu di depan pintu kamarnya.            “Sama-sama.” Jawabnya. Vanya kembali mengantar Ari karena harus menutup gerbang kosannya setelah laki-laki itu keluar.            Vanya kembali dan menggeret galon ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang, lalu menatap galon yang ada di depannya. Ia tersenyum, bersyukur memiliki partner kerja seperti Ari. Ia yang tak pernah memiliki teman dekat apalagi laki-laki awalnya risih saat menerima perhatian laki-laki itu. Tapi saat mencoba bergaul lebih dekat teman-teman kantornya yang lain. Ia tahu bahwa apa yang dilakukan Ari adalah hal lumrah dalam sebuah pertemanan.  TBC LalunaKia
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD