Ivi masuk ke ruangan dan melihat beberapa karyawan bergerombol di meja kosong di ujung ruangan. Alih-alih masuk ke ruangannya, Ivi mendekat ke ujung ruangan karena penasaran.
“Ada apa?” tanya Ivi tanpa basa-basi, ia mengambil tempat di samping Tyo.
“Mia sama Pak Doni lagi di panggil direksi.” Tyo berbisik. Beberapa orang yang ada di sana mengangguk. Ivi melirik jam yang melingar di pergelangan tangannya.
“Sepagi ini?” tanyanya.
“Iya…” kata Jeni. “repot kalau udah sampai direksi, mah. Udah pasti dipecat.” Katanya lagi.
Ivi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia berbalik lalu memilih meninggalkan kerumunan itu dan masuk ke ruangannya. Ia menaruh tasnya di lemari lalu duduk di kursinya. Sebelah tangannya mengambil gelas berisi air mineral dan menyesapnya pelan. Ia sedikit menunduk untuk menekan tombol pada CPU untuk menyalakan komputernya.
Ivi membuka program di komputernya lalu mengambil satu tumpuk dokumen yang ada di atas meja dan mulai mengeceknya satu persatu.
Di luar ruangannya. Beberapa karyawan masih terus membicarakan skandal di kantor itu. Semua orang bergitu menantikan kabar selanjutnya meski tahu bahwa kemungkinan keduanya dipertahankan sangat kecil.
Ivi membawa beberapa dokumen dan keluar dari ruangannya. Karyawan-karyawan yang bergerombol itu sudah kembali ke mejanya masih-masing. Mereka mulai sibuk dibalik partisinya dengan setumpuk dokumen di atas meja dan program di komputer.
Ivi masuk ke dalam ruangan direktur keuangan dan memberikan dokumen yang ia bawa untuk ditandatangani.
“Vi, jangan lupa sebelum cuti kerjaan yang urgent dioper ke Tyo, ya.” Kata Pria berkacamata itu.
“Iya, Pak.” Kata Ivi yang masih duduk di depan pria itu, dipisahkan oleh meja panjang besar di lapisi kaca di atasnya.
“Meeting bulanan juga jangan lupa Tyo suruh back- up.” Kata pria itu lagi.
Ivi hanya mengangguk. Pria itu membubuhkan tanda-tangannya di dokumen-dokumen itu lalu menyerahkannya kembali pada Ivi yang masih duduk di depannya.
“Doni sama Mia udah keluar dari ruang direksi belum?” pria itu bertanya pada Ivi dengan tatapan penasaran.
“Nggak tahu, Pak.” Jawab Ivi sambil mengulum senyum, “bapak penasaran juga?” tanya Ivi. Pria di depannya berdecak.
“Ya nggak, lah. Saya mau ke ruangan bos kalau mereka udah keluar.” Kata Haydar, pria yang memegang posisi direktur keuangan di perusaan itu. “banyak yang ngomongin, ya, di luar?” tanya pria itu lagi. Tak lagi bisa menyembunyikan bahwa ia penasaran dengan apa yang terjadi di kantor itu.
Ivi hanya menjawab dengan sebuah anggukan. Ia pamit dari ruangan itu sebelum diminta menjadi perantara gosip-gosip yang beredar di luar ruangan itu.
Sebelum kembali ke ruangannya, Ivi menghampiri meja Tyo. Ia berdiri di balik partisinya dan melihat pria itu tengah menatap ponselnya dengan fokus. Tak menyadari keberadaannya.
Selama beberapa detik Ivi menatap Tyo yang mengamati baik-baik menu chat di ponselnya hingga akhirnya memutuskan untuk mengetuk partisi itu dan membuat pria itu terlonjak kaget.
“Setan… ngagetin aja lo.” Sentak Tyo yang langsung wnaita itu mengulum senyum. Teman-teman lain yang mendengar hanya terkekeh pelan.
“Kerja… bengong mulu.” Kata Ivi. Tyo langsung meletakkan ponselnya di atas meja lalu mengisyaratkan dengan tangannya agar Ivi sedikit menunduk.
“Gue dari semalam ngirim pesan ke Pipit. Cuma dibaca aja, sampai sekarang nggak dibalas.” Tyo mengutarakan kegundahannya. “gue ada salah apa, ya?” pikir laki-laki itu, ‘atau dia memang nggak mau lanjut?” Sejak tadi, Tyo selalu berpikir apakah ada yang salah dnegan dirinya. Pasalnya, wanita itu tampak terbuka dan menerimanya dengan baik kemarin-kemarin. Ia tidak tahu apa yang terjadi denganwa nita itu sehingga memilih untuk tak membalas pesannya meski wanita itu dalam jaringan dan sudah membaca pesannya.
“Lagi sibuk kali dia.” Ivi memberi pendapat. Atau paling tidak sedikit menangkan laki-laki itu.
“Ya masa sibuk dari semalam sampai sekarang. Memang dia kerja paksa, sampai balas chat aja nggak bisa.” Kata Tyo. Ia masih bingung karena merasa tak ada yang aneh saat pertemuan terakhir mereka. Ia juga merasa tak melakukan kesalahan apapun. “udah umur segini, ya kali gue masih aja di ghosting.” Keluh pria itu. Ivi mengulum senyum.
“Ya coba aja tunggu dulu sampai hari ini. Kalau nggak dibalas juga, ya, udah nggak usah berharap lagi.” Kata Ivi. Ia lalu membicarakan perihal pekerjaan yang membuatnya mendatangi pria itu. Ia memberitahu beberapa hal yang perlu laki-laki itu lakukan selama ia cuti nanti.
***
“Bam, mau pesan makan nggak?” tanya Fery saat seorang office boy memasuki ruangan dan menanyakan apakah ada yang ingin memesan makan siang.
Ibam yang sedang fokus pada komputernya menengadah lalu berkata, “nggak deh. Makan di luar aja, yuk.” Ajaknya pada Fery yang langsung mengangguk. Pria berseragam itu kemudian keluar dari ruangan.
Ibam, Fery, Vanya dan Ari melanjutkan pekerjaan mereka. Suasana di ruangan itu hening. Yang terdengar hanyalah suara keyboard yang ditekan cepat. Vanya dan Ari sibuk mengecek lembar demi lembar surat perjanjian di atas mejanya masing-masing.
Jam menunjukkan pukul dua belas lewat lima menit saat Fery berdiri dari duduknya dan merenggangkan ototnya yang terasa kaku.
“Ayo makan siang dulu.” Kata pria itu. Ibam melihat jam di komputernya lalu menyimpan pekerjaan di komputernya dan membereskan berkas-berkas yang terserak di atas mejanya.
“Vanya bawa makan nggak?” tanya Ibam.
Vanya menoleh lalu menggeleng sambil berkata, “Nggak, Mas.”
“Yaudah ayo, makan ke belakang dulu. Lanjutin nanti lagi.” Katanya, “ayo, Ri.”
Vanya dan Ari mengikuti perintah Ibam lalu merapikan dokumen dan mengekori keduanya yang sudah keluar dari ruangan.
“Pit, makan di mana?” Ibam berteriak pada Pipit yang sedang berdiri di dekat mejanya.
“Lo mau ke belakang, ya? Gue ikut dong.” Kata wanita itu. Kelimanya turun menggunakan lift lalu berjalan beriringan.
“Mau dibuka kafe kayaknya, nih.” Kata Fery saat melihat bangunan bekas restoran kecil yang berada di samping kantor hampir selesai di renovasi. Dari luar mereka bisa melihat bangku-bangku dan meja yang sudah ditata begitu rapi. Juga etalase panjang di ujung ruangan.
“Iya. Lumayan, lah. Bisa ngopi sebelum pulang kantor.” Kata Pipit yang langsung membuat teman-teman yang lain mengangguk setuju.
Mereka menuju sebuah lahan kosong yang dipenuhi penjual makanan yang letaknya tepat berada di belakang kantor. Kelimanya memutuskan masuk ke tenda penjual soto mie bogor.
“Lo katanya mau cuti, Bam? mau ke mana lo?” tanya Pipit setelah semuanya selesai memesan.
“Mau honeymoon lagi.” Jawab Ibam dengan seringai jumawa yang langsung membuat Pipit mendesis.
“Gue bilang apa, jangan ditanya-tanyain.” Kata Fery. Mereka akhirnya membicarakan hal-hal lain sambil menunggu makanan pesanan mereka dibuat.
“Ini Ari sama Vanya udah pada punya pacar belum?” tanya Pipit yang langusng membuat keduanya terdiam karena bingung mendapatkan pertanyaan tiba-tiba seperti itu.
“Belum, Mbak.” Ari yang menjawab lebih dulu sedangkan Vanya hanya mengulas senyum tipis.
“Kalau kalian mau pacaran sama satu kantor, berguru, nih, sama Ibam. Nggak ketahuan sampai mau nikah.” Kata Pipit yang langsung membuat Ibam melotot.
“Iya, benar.” Kata Fery, “kalau niat, minta petuah aja sama Ibam, lumayan nggak perlu ada yang resign.” Kata Fery. Vanya dan Ari mengulum senyum.
“Memang biasanya kalau ketahuan itu gimana, Mas?” tanya Ari.
“Nggak tahu, pokoknya banyak mata-mata di kantor. Nanti tahu-tahu atasan udah tahu kalau ada yang pacaran.” Cerita Pipit.
“Pokonya, misal kalian pacaran, nih.” Ibam menatap Ari dan Vanya bergantian, “kalian profesional aja. Kalau kelihatan profesional nggak bakal ada yang curiga.” Kata Ibam yang langsung membuat Ari mengangguk.
Lima mangkok dan piring yang disajikan di depan mereka membuat kelimanya menghentikan kegiatan mengobrolnya. Mereka mulai sibuk dengan isi mangkok dan piring masing-masing.
“Bam, video yang viral kemarin benar karyawan dari kantor ivi?” tanya Fery. Pipit, Ari, dan Vanya ikut menatap Ibam dengan raut wajah penasaran. Mereka baru saja menyelesakan kegiatan makannya.
Ibam mengangguk dan membuat yang lainnya berdecak.
“Terus mereka dipecat, nggak?” Pipit bertanya.
“Ya mana gue tahu.” Kata Ibam.
“Ivi nggak ngasih tahu?” tanya Fery.
“Nggak penting juga kali. Dia mana peduli, sih, ada gosip apa di kantornya. Dia mah tahunya kerja doang.” Kata Ibam yang langsung membuat Pipit mengangguk setuju. Setelah mehabiskan setengah isi gelas, mereka berlima berdiri dari duduknya dan berjalan meninggalkan kawasan yang masih ramai itu.
“Lo sama Tyo gimana?” tanya Ibam saat keduanya berjalan beriringan untuk kembali kantor. Vanya, Ari dan Fery berjalan beberapa langkah di depannya.
“Nggak tahu, lah, Bam. Gue bingung. Gue nggak mau kasih harapan sama dia, sama nyokap gue juga.” Kata wanita itu. “kemarin nyokap gue tahu kalau gue diantar Tyo aja udah langsung nanya-nanya, padahal gue belum ada status apa-apa sama Tyo.” Pipit bercerita. Ibam mengangguk tanda mengerti.
Pipit dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Ia tak mau lagi gegabah karena tak ingin gagal lagi. Tapi ia jelas tak bisa menjalani hubungan dengan tenang jika ibunya selalu memberondongnya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai pria itu. Hubungan yang bahkan masih belum jelas baginya. Ia tidak ingin ibunya berharap banyak karena ia tahu akan menyakitkan jika ia dan pria itu ternyata tak cocok.
***
Ari baru saja keluar dari pantry dengan segelas cangkir berisi kopi di tangannya, saat melihat Vanya turun dari tangga dengan wajah lesu.
“Kenapa?” tanya Ari saat Vanya sampai di tangga terakhir dan berdiri di depannya, di depan pintu pantry.
“Habis dijutekin sama sekretaris.” Jawab gadis itu.
“Kok bisa?” tanya Ari dengan nada bingung.
“Gue nanyain dokumen kemarin yang gue kasih buat minta tanda tangan bos. Eh dia ngomel, katanya nanti juga kalau udah ditanda tanganin dia antar ke bawah.” Vanya menirukan raut menyebalkan sang sekretaris dan membuat Ari tersenyum.
“Katanya dia memang moodyan orangnya. Jangan diambil hati.” Kata Ari, “nih.” Ari mengulurkan cangkir kopi yang baru saja ia buat pada Vanya.
“Buat gue?” tanya gadis itu.
“Iya. Belum gue minum kok.” Kata Ari. Vanya mengambil cangkir itu dengan sebelah tangannya.
“Makasih, ya.” Vanya tersenyum pada Ari yang mengangguk. Sementara Vanya kembali ke ruangannya, Ari kembali masuk ke pantry untuk membuat secangkir kopi baru.
***
Jam menunjukkan pukul tiga sore saat Tyo masuk ke ruangan Ivi. Pria itu membawa satu bendel dokumen dan menaruhnya di atas meja dan duduk di kursi kosong yang ada di depan Ivi tanpa dipersilakan.
“Cek dulu, Vi. Habis itu tanda tangan, ya.” Kata pria itu.
“Oke.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Ivi. Matanya masih terpaku pada layar komputer di depannya.
“Pak Doni sama Ami di cut.” Tyo memberitahu akhir dari hal yang sangat ditunggu-tunggu oleh karyawan lain. Jari-jari tangan Ivi yang sedang menari di atas papan ketik langusng berhenti. Ia menengadah dan menatap Tyo yang sedang manatap jam dinding di ruangan itu.
“Udah, ah. Gue mau ngomongin mereka lagi.” Kata Ivi. Ia sudah mulai bosan saat semua orang membicarakan keduanya.
“Katanya Pak Doni juga bakal diceraikan sama istrinya.” Kata Tyo, mengindahkan kata-kata Ivi Barusan.
Ivi berdecak lalu menatap kesal pada Tyo yang langsung terkekeh pelan.
“Harusnya lo makasih, Vi, sama gue.” kata Tyo, “kalau bukan dari gue, lo mau dapat gosip dari mana lagi? Lo kan kalau udah di ruangan, nggak pernah keluar- keluar.” Lanjut Tyo, “jadi paling nggak lo sedikit update.”
“Ya tapi nggak yang itu-itu mulu yang diupdate, kali. Bosan juga dengarnya.” Kata Ivi.
Tyo baru saja hendak membuka mulut saat suara dering ponsel menginterupsi pembicaraan keduanya. Ivi melirik ponselnya yang tergetak si salah satu sisi mejanya, lalu mengambilnya dalam satu sentakan.
“Halo… ngapain telepon, sih?” sapa Ivi setelah menggeser icon answer.
“Ya ampun, kamu tuh ditelepon suami udah kayak ditelepon debt collector, galak banget.” Keluh Ibam di ujung sambungan.
“Kenapa?” tanya Ivi.
“Nanti jadi ke mall, kan?” tanya Ibam.
“Nanya itu doang? kirim pesan aja. Ngapain pakai telepon segala.”
Ibam berdecak diujung sambungan, “Ya suka-suka aku lah. Pulsa-pulsa aku juga.” Kata Ibam tak mau kalah.
Tyo yang ada di depan Ivi hanya bsia mengulum senyum. Dari nada suaranya, ia sudah tahu siapa yang berada diujung sambungan.
“Iya, jadi.” Kata Ivi setelah menghela napas.
“Langsung ketemu di mall aja, ya.”
“Kamu nggak mau jemput?” Ivi bertanya dengan sebelah alis yang terangkat.
“Iya, kan mallnya lebih dekat kantor aku. Kalau aku jemput kamu ya bolak balik dong.”
“Yaudah iya.” Kata Ivi akhirnya.
“Kamu lagi ngapain, Vi?” tanya Ibam sebelum Ivi sempat mematikan panggilan.
“Kerja, lah. Ngapain lagi?
Ibam terekekeh diujung sambungan.
Ivi menaruh kembali ponselnya di atas meja setelah mengucapkan salam dan mematikan panggilan.
“Galak banget lo sama Ibam.” Kata Tyo saat Ivi kembali fokus padanya.
“Gue nggak galak. Gue emang kayak gini.”
***
“Ivi habis makan apa, sih? Galak banget.” Keluh Ibam sesaat setelah ia mematikan panggilan. Ia menaruh ponselnya di atas meja, menengadah dan menyadari bahwa tiga pasang mata yang ada di ruangan itu tengah menatapnya sambil mengulum senyum.
“Mas Ibam lucu.” Kata itu keluar dari mulut Vanya. Ari yang ada di sebelahnya mengangguk setuju.
“Jangan heran. Mereka berdua kalau lagi error bisa kayak kucing sama tikus.” Kata Fery.
“Iya lah, kalau hubungan manis terus mah mana enak.” Kata Ibam sambil berdiri.
“Mau ke mana?” tanya Fery saat melihat Ibam membawa beberapa dokumen dan berjalan mendekati pintu.
“Ngasih laporan ke bos. Gue mau pulang cepat hari ini.” kata pria itu sambil tesenyum sumringah.
TBC
LalunaKia