Sudah denting ponsel berbunyi. Ivi mengambil poselnya yang berada di atas meja. Suasana kafe masih ramai, bahkan lebih ramai saat waktu beranjak malam.
Ibam: Aku udah di depan.
Ivi membaca pesan yang dikirimkan Ibam lalu menoleh pada Natalie yang berada di sampingnya. “Gue duluan ya, gue udah dijemput.” Katanya.
Wanita itu mengangguk dan berkata, “Oke. Hati- hati, ya.”
Ivi menatap Natalie sebelum beranjak dari duduknya. Ia memajukan tubuhnya, memeluk wanita itu lalu mengusap pundaknya pelan. Ia tahu tidak ada yang bisa ia lakukan selain memberitahu wanita itu bahwa hidup harus terus berjalan. Ia percaya wanita itu bisa bangkit dari keterpurukkannya dan menjalani hidup yang lebih baik. Wanita itu pantas mendapatkan laki-laki yang jauh lebih baik dan menjalani hidup baru dengan bahagia.
Natalie tersenyum lalu menatap Ivi yang berdiri dari duduknya dan berjalan menjauhinya. Wanita itu mendekati pintu hingga sosoknya menghilang di balik pintu kaca kafenya.
Hujan sudah berhenti, menyisakan genangan di beberapa tempat. Ia menghampiri mobil Ibam yang berhenti di samping trotoar. Sebelah tangannya terulur untuk membuka pintu dan ia menghempaskan tubuhnya ke jok empuk itu.
“Kenapa nggak di tempat biasa?” tanya Ibam sambil melirik plang kafe tempat istrinya keluar. Ia kembali melajukan mobilnya.
“Kemarin pas di gym, aku kenalan sama orang. Dia owner di kafe itu dan minta aku mampir.” Ivi bercerita.
“Cewek apa cowok?” tanya Ibam dengan nada posesif.
“Cewek, lah.” Jawab Ivi sambil memasang safety beltnya.
“Vi, video yang lagi viral itu karyawan di kantor kamu, ya?” tanya Ibam saat mengingat video yang disiyalir karyawan di kantor istrinya. Sepanjang hari, semua teman-temannya membicarakan video itu.
“Iya. Kamu udah nonton juga?” Ivi menoleh pada suaminya yang mengangguk.
“Gila banget, sih.” Kata Ibam tak habis pikir. “padahal kalau dilihat, istrinya jauh lebih cantik.” Katanya lagi.
“Iya. Udah gitu istrinya wanita karir juga, berpendidikan tinggi. Aku bingung istrinya kurang apa sampai bisa- bisanya dia selingkuh sama Mia.”
“Katanya udah punya anak, ya?” tanya Ibam lagi.
“Udah dua.” Jawab Ivi. Mobil masih terus melaju membelah jalan yang tak terlalu padat. Lampu-lampu jalan berpendar, trotoar tampak mulai ramai orang-orang yang berlalu-lalang. Antrian halte-halte transjakarta terlihat ramai hingga mengular. Ivi dan Ibam masih terus membicarakan video yang tengah viral di media sosial.
“Tapi aku suka adegan siram-siramannya.” Kata pria itu sambil terkekeh pelan, “keren banget. Udah kayak disinetron-sinetron.” Lanjutnya. “kira-kira gimana tuh karir dua orang itu selanjutnya?” ia menoleh pada istrinya yang ada di sebelahnya.
“Dengar-dengar, sih. Dua-duanya bakal dipanggil HR.” kata Ivi. “ada kemungkinan dipecat juga.” Kata Ivi.
“Kamu udah lihat akun media sosial perusahaan kamu belum? Banyak yang protes juga di kolom komentarnya?” Ibam memberitahu.
“Iya.Warganet memang luar biasa, ya. Jadi nyebar ke mana-mana.” Ujar Ivi. Mobil memasuki komplek perumahan hingga akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis dengan gerbang berwana hitam.
Tanpa disuruh, Ivi melepas safety beltnya lalu turun dari mobil, membuka gembok, lalu membuka gerbang lebar-lebar hingga Ibam bisa memasukkan mobilnya ke garasi. Setelahnya, ia kembali mengunci gerbang.
“Tumben nggak pakai drama dulu.” Ibam keluar dari mobil lalu menghampiri Ivi yang sedang membuka kunci rumah. Setelah pintu rumah terbuka, keduanya masuk ke dalam rumah dan sama-sama mengempaskan diri di atas sofa ruang tamu. Loki menghampiri keduanya dan menyerukkan keningnya ke kaki Ivi.
Ivi menunduk lalu mengambil kucing Persia itu dan mengusap bulu halusnya. “teman aku yang tadi, dia lagi proses cerai sama suaminya.” Kata Ivi. Ibam yang berada di sebelahnya menoleh. Pria itu melihat raut wajah Ivi yang tampak sedih.
“Kenapa?” Tanya Ibam dengan nada penasaran.
“Suaminya selingkuh karena teman aku mengalami keguguran berulang sehingga sampai sekarang belum punya anak.” Lirih Ivi. Ia menoleh dan menatap suaminya.
“Padahal suaminya selalu bilang kalau itu bukan masah besar. Suaminya selalu bilang kalau dia akan terus ada di samping dia, suaminya juga bilang bahwa kalau meraka nggak diberi kesempatan untuk punya anak pun, dia nggak apa-apa.” Ivi menarik napas panjangnya. “tapi suaminya ternyata malah selingkuh dan akan punya anak dari perempuan lain.” Ivi tersenyum sinis. “aku sakit hati banget dengarnya.” Lanjutnya dengan raut wajah sedih yang begitu ketara.
Ibam mendekatkan duduknya lalu memeluk istrinya. “Kamu takut aku kayak gitu?” tanya Ibam. Ia tahu apa yang ada dipikiran istrinya. Ia tahu bahwa istrinya berpikir bahwa ia mungkin akan seperti pria itu. Istrinya berpikir bahwa mungkin ia akan menyerah pada Ivi dan akhirnya mengingkari semua janjinya. Ia tahu semua ketakutan yang kini berputar di otak kecil istrinya.
Ibam merasakan Ivi menggeleng dalam pelukannya. Pria itu mengurai pelukannya dan menatap istrinya tepat ke manik matanya. Bola mata cokelat yang dibingkai mata bulat yang selalu menbuatnya gemas.
Ibam mengangkup wajah Ivi denga kedua tangannya. Ia memajukan wajahnya untuk mencium kening wanita itu, lalu ke kedua pipinya, ke hidungnya, ke dahinya dan terakhir ke bibirnya.
“Nggak usah mikir macam-macam, ya.” Kata Ibam. Sebelah tangannya mengusap rambut istrinya pelan.
“Aku nggak mikir macam-macam. Aku percaya kok sama kamu. Aku yakin kamu nggak akan seperti itu.” kata Ivi. Ia menatap suaminya yang menarik garis bibirnya membentuk senyuman. Sebelah tangan pria itu terulur untuk mencubit hidungnya.
“Terus kenapa raut muka kamu begitu?” tanya Ibam. Ia menggenggam tangan Ivi dengan kedua tangannya.
“Aku sedih aja. Aku nggak ngebayangin kalau jadi dia.” Lirih Ivi.
“Nggak suah dibayangin karena kamu nggak pernah ngalamin kayak gitu.” Kata Ibam dengan nada yakin. “inget, ya, kata dokter. Kamu nggak boleh stres. Nggak usah mikirin hal-hal kayak gitu.” tambhanya. Ivi menurut, ia menganggukkan kepalanya.
“Natalie, teman aku, tadinya nggak mau nuntut harta gono-gini karena udah nggak mau berurusan sama suaminya. Tapi aku bilang kalau harta gono-gini itu lebih baik atur sebagaimana mestinya. Masa dia mau keluar gitu aja dari rumah dan membiarkan simpanan suaminya menikmati harta bersama dia dan suaminya.” Kata Ivi dengan nada sewot, “akhirnya aku kasih kartu nama Ayah. Biar ayah atau anak buahnya bisa bantu perjuangin harta gono- gini dia.” Lanjutnya.
Ibam mengangguk sambil tersenyum. “Betul. Suami kayak gitu memang harus dibikin miskin biar tahu rasa.” Tambah Ibam yang langsung membuat Ivi terkekeh.
“Udah ajuin cuti?” tanya Ibam. Ivi mengangguk.
“Udah di ACC?” sekali lagi, Ibam melihat wanita di depannya mengangguk.
“Bam, aku beli bikini baru, ya?” tanya Ivi. Kedua mata di depannya langsung melotot tajam.
“Apa-apaan pakai beli bikini. Nggak boleh. Kamu nggak boleh pakai bikini.”
“Ih, kan aku mau berenang di pantai.” Bujuk Ivi. “kita pasti snorkeling kan?”
“Ya nggak usah pakai bikini juga kali.” Omel Ibam.
“Kenapa?”
“Aku nggak suka lah badan kamu dilihat orang lain.” Sembur Ibam yang langsung membuat Ivi tertawa.
“Tapi aku mau pakai bikini.” Gumam wanita itu tak mau kalah.
“Nggak usah jadi liburan kalau kamu mau pakai bikini.” Ibam berdiri lalu berjalan menuju kamar.
Ivi mengulum senyum, ia setengah berlari mengejar Ibam lalu melompat ke pundak pria itu hingga dahi pria itu terantuk pintu kamar saat tubuhnya berhasil naik ke punggungnya.
“Iviiiiii.” keluh Ibam. Ia mengusap dahi yang terasa sakit.
“Sorry.” Bisik Ivi tepat di telinga suaminya. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher pria itu.
Pria itu membuka pintu kamar dan berdiri di samping ranjang. Tapi Ivi tak mau melepas pegangannya. Tubuhnya masih menempel di punggung pria itu.
“Turun.” Suruh Ibam.
“Bolehin pakai bikini dulu.” Kata Ivi. Ia makin mengeratkan lengannya pada leher suaminya yang terlihat menarik napas panjang.
“Nggak. Turun, ih. Aku mau mandi.” Kata Ibam dengan nada sewot.
“Yaudah, aku juga gak mau turun.” Balas Ivi.
Ibam menarik tangan Ivi yang mengalungi lehernya namun tak berhasil. Ia mengoyang-goyangkan tubuhnya dan Ivi masih bertahan di posisinya. Kedua kaki wanita itu melingari pinggangnya dengan erat.
“Vi…turun, gak?” perintah Ibam dengan nada sarat tekanan.
“Nggak mau. Bolehin pakai bikini dulu.”
“Oke, tapi pakai bikininya di kamar aja. Nggak usah di luar.” Kata Ibam.
“Dih, masa gitu?”
“Ya kan yang penting kamu pakai bikini, kan?” Ibam tak mau kalah.
“Tapi aku mau pakainya di pantai.” Desak Ivi yang membuat Ibam menghela napas berat. Pria itu menggeleng pelan.
“Nggak, ya, sekali aku bilang nggak boleh, ya nggak boleh.” Ibam kekeuh pada pendiriannya.
“Kamu suka nggak kalau lihat cewek lain pakai bikini?” tanya Ivi.
“Ya suka, lah.” Kata Ibam sambil terkekeh.
“Tuh, kan, curang.” Ivi menjewer telinga suaminya. “ya, ya, ya, boleh, ya?” kata Ivi dengan nada memohon.
Tak memedulikan rengekan istrinya. Ibam masuk ke kamar mandi dan berdiri di bawah shower.
“Mau turun, gak?” tanya Ibam sekali lagi.
“Nggak.” Ivi menjawab tegas. Ia masih tetap pada pediriannya smapai pria itu memberinya izin untuk memakai bikin saat liburan nanti.
Ibam mengarahkan tangannya ke kepala kran dan membukannya hingga air pancuran membasahi keduanya. Ivi masih melingkarkan kedua tangannya di leher Ibam.
“Bam, dingin.” Lirih Ivi.
“Ya makanya turun.” Kata Ibam.
Ivi berdecak. Perlahan ia menginjakan kakinya di lantai marmer kamar mandi. Ibam menoleh, ia menarik tangan Ivi dan menyandarkan punggung wanita itu di dinding kamar mandi.
Ibam mendekatkan wajahnya hingga dua bibir itu bersentuhan. Ibam melumat bibir tipis istrinya. Sebelah tangannya membuka kancing kemeja Ivi dan menyusup ke balik pinggangnya lalu menariknya agar lebih dekat.
***
Pipit tengah berkumpul bersama keluarganya di ruang tamu. Di depannya, layar besar tengah menampilkan sebuah series barat dan tatapan empat pasang mata itu tertuju pada gambar yang di tampilkan di layar.
“Assalamualaikum.” Empat pasang mata menatap ke arah datangnya suara. Pintu yang terbuka menampakkan seorang wanita dan seorang pria yang mengekor di belakangnya.
“Waalaikum salam.” Mereka menjawab salam secara bersamaan. Dua orang yang baru saja masuk menyalami semua orang yang berada di ruang tamu.
“Sehat, Mam?” ibu Pipit bertanya pada Imam, pacar Zia, anak keduanya.
“Baik, Tan. Alhamdulillah.” Imam duduk sebentar di samping Zia lalu memilih pamit karena sudah malam. Pria itu berkembali bersalaman dan keluar dari rumah. Zia mengantarkannya sampai depan rumah.
“Pit, cowok yang waktu itu Gita bilang, siapa?” tanya Murni, Ibu Pipit.
Pipit menghela napas berat, “teman, Ma.” Jawab Ivi. Gita dan papanya saling pandang dengan raut wajah penasaran. Namun keduanya tahu bahwa merkan tidak akan mendapatkan informasi apapun. Pipit tidak akan begitu saja menceritakan siapa pria itu jika memang tak memiliki hubungan yang serius.
“Teman apa?” tanya Murni lebih spesifik.
“Teman biasa.” Jawab Pipit yang membuat Murni justru semakin penasaran.
“Namanya siapa?” tanya Murni lagi.
“Cuma teman biasa, Ma. Mama nggak perlu tahu namanya.” Jawab Pipit tak acuh. Matanya masih menatap layar yang ada di depannya dan mencoba untuk tak terganggu dengan pertanyaan itu.
Murni menatap anak bungsunya yang tampak tak acuh. “kemarin Imam ngomong lagi sama mama sama papa, kapan kira-kira bisa melamar Zia.” Cerita Murni.
“Yaudah, sih, Ma, biarin aja mereka nikah. Ngapain juga pakai nungguin Pipit.” Celetuk Pipit, “Pipit kan dari awal nggak masalah kalau dilangkahin. Jangan sampai mereka ngira Pipit yang halang-halangin mereka nikah.”
“Mama, tuh, takut kamu makin jauh jodoh kalau dilangkahin sama Zia. Makanya mama minta Zia tunggu kamu nikah dulu.”
Pipit menghela napas, “Ma, jodoh itu Allah yang atur. Pipit nggak mungkin mendahulukan Tuhan. Kalau memang Zia yang dapet jodoh duluan, ya biarin aja. Niat baik itu kan harus disegerakan.”
“Kamu tuh nggak ngerti banget, sih, Pit.” Murni mulai terdengar kesal.
“Iya, Pipit memang nggak bisa ngertiin mama. Mama membingungkan tahu, nggak?” kata Pipit. Wanita itu menghela napas lalu memilih untuk masuk ke kamarnya tepat saat Zia kembali masuk ke dalam rumah. Sekali lagi, Gita dan papanya saling pandangan dan suasana tiba-tiba berubah begitu mencekam.
***
Ibam duduk di belakang Ivi. Wanita itu membelakangi suaminya dan duduk menghadap meja rias di depannya. Sebelah tangan Ibam memegang pengering rambut dan sebelahnya lagi memegang sisir. Pria itu menyisir rambut istrinya pelan.
“Sebel, ih.” Keluh Ibam. Ivi menatap kaca lalu mengerutkan keningnya.
“Kenapa, sih?”
“Rambut kamu pendek. Nggak enak di sisirnya.” Kata Ibam. Ia merasa lebih menyukai menyisir rambut Ivi saat rambut wanita itu panjang.
“Nggak enak? Siapa yang nyuruh kamu makan.” Kata Ivi sambil mengulum senyum.
“Pokoknya jangan potong pendek lagi.” pinta pria itu.
“Lah suka-suka aku dong. Rambut-rambut aku juga.” Wanita itu menggerutu.
“Ish…” Ibam mendesis. Ivi mengulum senyum, masih fokus melakukan night skincare routinennya yang bisa makan waktu lebih dari setengah jam.
“Itu semua kamu pakai di muka, Vi?” tanya Ibam sambil melongok ke arah meja yang ada di depan Ivi. Di mana berderet botol-botol skincare yang tak Ibam mengerti apa fungsinya.
“Ya nggak semua. Rutinnya ya tujuh step. Make up remover, pembersih, toner, essense, eye krim, serum, sama pelembab, jadi ganti-ganti merknya aja tiap malam.” Jelas Ivi.
“Ribet banget.” Keluh Ibam. Ia menaruh sisir dan pengering ke atas meja rias. “aku mau juga dong.” Kata Ibam akhirnya.
“Ngapain? Kamu kan katanya bakal tetap ganteng meski nggak mandi seminggu.” Ujar Ivi.
“Kali aja kalau aku pakai itu, aku bisa kelihatan dua puluh tahun lebih mudah.” Kata Ibam.
Ivi tergelak, “Nggak tahu diri banget, sih. Kelihatan lima tahun lebih muda aja susah, ini minta dua puluh tahun lebih muda lagi.” Ia memindai semua botol skincare yang ada di depannya lalu mengambil satu toner dan menuangkannya ke kapas. Ia menyuruh Ibam menarik kursi ke sampingnya lalu mengusapkan kapas berisi cairan itu ke wajah suaminya secara merata. Setelah memastikan toner itu sudah menyerap di kulit, ia mengambil botol essense dan menuangkan isinya beberapa tetes di telapak tangan lalu menepuk-nepuk pelan ke wajah pria itu. Setelah itu, ia mengambil serum dan meratakan isinya ke wajah Ibam.
“Udah.” Kata Ivi.
“Kok cuma tiga lapis?” kata Ibam keheranan.
“Mau ratusan? Makan Tanggo sana.”
TBC
LalunaKia