Contract Of Marriage

2152 Words
Tangan yang sudah menghajar ratusan orang itu kini melekat erat di pinggang ramping pengantin wanita yang juga berpegangan pada pundak kokoh Bos Mafia kejam itu. Sudah lewat puluhan detik dan bibir mereka masih saling berciuman di hadapan belasan pasang mata. Banyu sungguh sangat bahagia melihat bagaimana Julian begitu bernafsu mencium Hanna di atas altar. Momen seperti ini lah yang dia tunggu sepanjang hidupnya. Senang sekali rasanya melihat Julian telah mematahkan stereotapenya sendiri tentang issue liar yang menyatakan kalau seorang Julian Sanders itu tak menyukai lawan jenis. Sebenarnya sudah jelas kalau hal itu dikarenakan dirinya tak punya rasa cinta dalam hatinya yang gelap dan dingin dan baru kali ini Julian menampakan citra berbeda, sepertinya dia sudah siap jadi seorang suami, ya walau hanya untuk sementara sampai dia mendapat seorang putera yang kelak akan menjadi kebanggaan dan menjadi penerus tahtanya sebagai pimpinan Northies di masa mendatang. 'Astaga! Apa ini nyata? Apa ini nyata? Kenapa ini masih seperti mimpi?' batin Hanna selama dia masih melayani frenchkiss yang Julian lancarkan. Sesaat Julian melepaskan bibirnya, dia tatap Hanna sejenak dan sungguh, seperti ada tombol pause yang menghentikan detak jantung Hanna, Hanna hampir-hampir tak bisa bernafas saat Julian yang baru saja mengecup mesra bibirnya di hadapan banyak orang sampai puluhan detik lamanya. Dan Hanna tahu setelah ini hal yang lebih besar lagi akan segera terjadi, dia akan melayani pria sempurna di hadapannya itu di atas ranjang. Sungguh tak terbayang lagi bagaimana rasanya jadi seorang Hanna saat ini. Selepas dari gereja, Hanna dan Julian pergi bersama dengan mobil pribadi Julian. Hanya ada mereka dalam mobil, entah kemana Julian akan membawa Hanna setelah ini, apakah mungkin membawa pulang kembali ke mansion mewahnya? "Sudah siap?" tanya Julian sembari dia fokus mengemudi dengan kecepatan tinggi, dia memang raja di jalanan, kendaraan lain akan menyingkir jika Julian ada di jalanan. "Su-sudah!" jawabnya gugup. Hanna tak berani mengangkat wajahnya, dia tak ingin semakin jatuh dalam pesona sempurna pria arogan itu. "Kita harus buat kesepakatan lagi!" "Iya, bos!" sahut Hanna, Bos? Apa Hanna akan tetap menyebut sebutan itu untuk Julian yang siang ini sudah resmi menjadi suaminya. "Heh, apa kamu masih akan menyebut sebutan itu?" tanya Julian dan dia merasa sangat tergelitik dengan hal itu. "Apa ada sebutan lain yang lebih pantas dari itu, bos?" tanya Hanna pelan, sungguh saat ini dia merasa sangat gugup dan canggung setengah mati. "Heh, terserah!" 'Bos yang kini jadi suamiku, suami dalam tanda kutip dan semua ini berjalan begitu cepat, bisakah aku menjalani kegilaan ini dengan baik Tuhan? Bisakah aku untuk tidak mencintainya di kemudian hari? Lihat betapa sempurna raga makhluk ciptaanMu ini Tuhan!' batin Hanna meracau di sepanjang perjalanan. Perasaan itu semakin tak menentu, entah berapa jam lagi dia akan segera menyerahkan keperawanannya pada Bos Mafia penuh pesona itu. "Kita akan pergi ke Malibu!" cetus Julian semakin membuat Hanna stuck! Kejutan yang tak putus-putus dia dapatkan. "Malibu? USA?" yakinkan Hanna hampir-hampir tak percaya, rasanya rencana honeymoon ke luar negeri adalah satu hal yang tak terpikirkan olehnya sebelumnya. "Ya!" 'Oh my God!' hentaknya dalam hati, kini perasaannya bercampur jadi satu. Rasa gugup, excited, ketakutan dan ketegangan bercampur membuatnya tak percaya. Saat ini perasaan Hanna seperti sedang menaiki wahana roller coaster terekstrim di dunia. Up and down, berputar-putar! sungguh sulit sekali digambarkan secara gamblang. Mereka sampai di depan rumah, seluruh pelayan menyambut kedatangan Hanna dan Julian. Mereka turut merasakan kebahagiaan yang keduanya coba nikmati walau tak sedikit juga pelayan yang merasa iri dengan posisi Hanna saat ini. Julian membukakan pintu Hanna lalu meraih tangannya seperti seorang pangeran yang meraih tangan pasangannya, Hanna benar-benar merasa sangat istimewa lalu kemudian dia selipkan tangannya di antara lengan dan tangan kokoh Julian. Mereka berjalan bersama menuju ke dalam rumah, di sambut dan disaksikan belasan pelayan yang merasakan aura manis dan positif yang rasanya baru kali ini mereka lihat dari seorang Julian Sanders. "Astaga! Beruntungnya gadis itu!" gumam salah satu pelayan, posisi Hanna saat ini adalah posisi impian setiap gadis yang mengenal baik seorang Julian Sanders. Langkah mereka terus berpacu sampai akhirnya tiba di ruang pribadi Julian. Hanna cukup ketakutan, interior ruangannya sangat tidak biasa. Gelap dan dingin, seperti pemiliknya. Saat masuk Hanna di sambut dengan beberapa barang tak biasa. Ada kepala rusa bertanduk besar di dindingnya dan Hanna juga melihat satu toples jari-jari manusia di salah satu rak yang melekat di dinding kamar, Hanna ngeri sekali melihatnya. 'Apa itu jari-jari yang diawetkan?' batinnya dan sungguh dia merasa ngeri, ternyata Julian ini memang sosok yang kejam dan bengis. "Banyu sudah bicara padamu?" tanya Julian membuyarkan rasa takut Hanna, Hanna mencoba mengingat apa yang Banyu katakan padanya. "Masalah, kesepakatan?" tanya balik Hanna, dia hanya ingin memastikan dan tak ingin salah bicara. "Ya!" Julian duduk di ujung tempat tidurnya dan Hanna hanya berdiri di depannya hanya berjarak beberapa inci saja. "M, sudah!" "Sebutkan poin-poinnya!" titah Julian tegas, Hanna bersiap menjawab, dia hela nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya secara teratur, dia ingin tampak lugas di depan suaminya. "Saya akan melayani apapun kehendak Anda! Saya akan memberikan seorang anak lelaki dan setelah tujuan itu terwujud saya akan pergi tanpa tuntutan apapun!" jawab Hanna lugas dan jelas. "Bagus! Ingat kesepakatan itu, atau harus saya buatkan surat kontrak resmi?" "Saya akan mengingatnya!" "Ya memang seharusnya begitu! Semua yang kamu lakukan harus atas seizin saya! Kamu tak bisa go public sembarangan! Identitasmu harus tetap tersimpan baik di rumah ini!" jelaskan Julian cukup panjang lebar. Hanna mengangguk pelan, Hanna sangat mengerti saat ini. Hanna harus menuruti semua kehendak suaminya itu, Hanna mencoba menerimanya walau mungkin kelak Julian akan mengurung kebebasannya sampai tujuan mereka tercapai. "Saya bukan suamimu! Status ini hanya karena saya ingin mendapatkan putera dari sebuah ikatan yang baik, mengerti?" "Iya, bos, saya mengerti!" "Dan kamu tahu apa akibatnya kalau suatu hari kamu membuat saya marah?" tanya Julian dengan nada mengecam, Hanna kembali merasa sangat tegang. "Ap-apa yang akan mu-mungkin terjadi?" tanya Hanna penuh kegugupan. "Tamat!" jawabnya singkat, padat dan jelas dan itu menguatkan tekad Hanna untuk menuruti semua apapun yang akan Julian tentukan padanya nanti. Hanna harus terima kenyataan kalau saat ini dia hanyalah boneka Julian, bukan isterinya. Hanna sebenarnya merasa menyesal karena terlanjur masuk dalam permainan Julian dan Black Northies. Tapi kemudian dia ingat Bagas lagi, semua ini dia lakukan demi Bagas. "Berkemaslah! Pesawatnya take off 3 jam lagi!" kata Julian, dan Hanna mengangguk, dia akan turuti apapun perintah Julian. Walaupun hari ini mereka berencana melakukan perjalanan ke luar negeri tapi rasa takut Hanna masih cukup besar sampai membuatnya tak se-semangat sebelumnya. Drama baru akan dimulai, bisakah Hanna menjalankan tugasnya sampai akhir? Sampai tujuan mereka terwujud? *** Butuh waktu sekitar 18 jam untuk sampai di Santa Monica Aitport California, Hanna mengalami jetleg karena jujur saja ini adalah perjalanan udara pertamanya. Sedari awal terbang sampai transit dan kembali melanjutkan perjalanan, Hanna sudah tak tahan ingin menumpahkan rasa mualnya tapi sungguh, rasa takut dan segannya terhadap Julian lebih besar sehingga dia bisa menahannya hampir seharian penuh di dalam pesawat. Sebuah minibus menjemput sepasang pengantin baru itu, Hanna sampai takjub karena sepertinya Julian sudah mempersiapkan liburan mewah ini secara matang. Bahkan ada seorang tour guide asal Indonesia yang menemani keduanya. "Selamat datang kembali di Malibu Tuan Julian Sanders dan selamat atas pernikahan kalian yaa," sapa tour guide itu saat mereka sudah mulai melakukan perjalanan menuju villa yang sudah Julian reservasi secara exclusiv untuk acara honeymoonnya ini. Julian tak menyahut apa-apa, dia hanya diam dan hanya Hanna yang menyambut ucapan selamat itu dengan senyuman manis walau sebenarnya berat sekali untuk sekedar tersenyum saja. 'Jadi ini yang namanya California? Heum, ngalamin juga pergi ke luar negeri! Kalau bukan karena pernikahan dadakan ini, mana mungkin aku sempat menginjakkan kakiku di Amerika seperti sekarang ini!' batinnya dan dia nikmati perjalanan darat menyusuri jalanan lengang, tak seperti di Jakarta. "Anda dan isteri akan menginap di Malibou lake mountain, di sebuah villa yang menghadap danau dan di kelilingi pegunungan asri. Villa kecil itu selalu jadi pilihan para selebritas untuk sekedar menghabiskan waktu di akhir pekan." Hanna membayangkan, Villa yang menghadap langsung ke danau? Sudah tak terbantahkan lagi bagaimana asrinya tempat menginapnya nanti. "Itu dia, itu tempat menginap kalian!" tunjuk sang tour guide ke sebuah bangunan yang terletak di atas bukit yang menghadap langsung ke Malibou lake. Hanna takjub, hamparan danau buatan yang terletak di dekat bukit Agoura, California itu benar-benar menyejukan rasa penatnya. Liburan pertama yang sungguh sangat menakjubkan. Sejenak Hanna lupakan beban-bebannya, dan dia akan mulai menikmati peran barunya saja sebagai isteri Mafia kaya raya itu. "Kamu menyukainya?" bisik Julian secara tiba-tiba sampai membuat Hanna sedikit terkaget, Hanna menoleh dan Julian menatap menunggu jawabannya. "Su-suka Bbb ...." jawab Hanna, dan hampir saja dia keceplosan menyebut nama Julian dengan sebutan bos di depan tour guide dan drivernya itu. Tapi beruntung dia masih bisa kontrol. Dan akhirnya mereka sampai .... Hanna semakin takjub, rumah kayu adalah tempat istirahat terbaik. Hanna lupa akan rasa lelahnya, sebelum masuk ke dalam rumah kayu itu Hanna melangkah beberapa langkah ke tepi tebing memandang langsung pada hamparan danau yang tersaji tenang di depan matanya. 'Ini indah sekali!' teriaknya dalam hati. sementara tour guide dan sopirnya menurun-nurunkan barang-barang Julian dan Hanna, Julian malah berjalan menghampiri isterinya di tepi tebing itu. "Liburan ini adalah hadiah pertamamu!" ujar Julian lagi-lagi mengagetkan Hanna, Hanna kembali merasa tegang. Pria tinggi itu kini berdiri tepat di belakangnya. "Terimakasih bos," ucapnya pelan. "Kamu bisa saja mendapatkan apapun yang kamu inginkan!" kata Julian seperti sebuah penawaran menarik untuk Hanna. "Terimakasih," tapi Hanna hanya mampu mengucap terimakasih, dia takut salah berucap. "Lakukan yang terbaik!" "Pa-pasti bos! Saya akan menuruti semua perintah bos!" sahut Hanna, tak ada lagi yang dia pikirkan selain hal itu. Saat dia ada di dekat Julian, semuanya jadi terasa kaku dan tegang. "Tatap mata saya!" titahnya, secepat kilat Hanna membalikan badannya lalu dia tatap kedua mata pria bermata cokelat itu. Julian juga memuaskan matanya dengan menyasar wajah manis pengantinnya itu. "Kenapa takut?" tanya Julian, Hanna sampai berdecak! Ternyata Julian tahu saat ini dia sangat ketakutan. "Ha?" "Apa saya ini sangat menakutkan?" tanya Julian lagi membuat Hanna tak tahu harus bersikap bagaimana lagi, sungguh tak ada yang mengerti bagaimana perasaannya saat ini. "Bagaimana bisa nanti malam kamu melayani saya di atas ranjang kalau kamu ketakutan seperti ini?" tanyanya dan dia melangkah semakin mendekat, Hanna mematung, tak mungkin dia menarik langkahnya dan menghindari Julian yang semakin mendekat itu, sepertinya permainan akan segera dimulai. "Maaf sebelumnya," ucap Hanna pelan. "Maaf kenapa sayang?" tanya Julian lalu dia berucap manis bahkan dia menyelipkan rambut Hanna di balik telinga gadis yang sudah gugup setengah mati itu. 'Wait, sayang? Dia manggil aku sayang? Kerasukan apa nih suamiku ini? Baru saja kemarin mengancam, sekarang dia panggil aku dengan sebutan semanis itu?' batin Hanna dan Julian tak melepaskan tatapannya dari wajah Hanna yang masih ketakutan. "Jangan takut! Jujur saja, permainan kecilmu di atas altar cukup membuat saya penasaran!" bisik Julian, dan Brrrrr, Hanna dibuat merinding olehnya. Julian sedang menjelma jadi pria romantis, dan tak pernah sekalipun Hanna menyangka kalau Julian akan melakukan ini padanya. "Syukurlah, kalau bos suka," sahutnya pelan lalu dia menunduk mencoba menghindari pandangan Julian. "Tapi sayangnya, saya tidak ingin kamu lama-lama ada dalam hidup saya!" cetus Julian, lagi dan lagi, Hanna merasa sang mafia sedang menarik ulur perasaannya. "Saya, saya akan laksanakan tugas saya dengan baik sampai tujuan kita tercapai!" sambut Hanna, dia takut kalau Julian menganggapnya hanya main-main. "Well, kita lihat saja nanti! Kita lakukan! Sampai saya berhasil menanamkan benih di rahimmu itu! Setelah itu, kamu urus dan rawat kandunganmu dengan baik! Jangan sampai calon puteraku memiliki cacat sedikitpun! Dia harus sehat sejak dalam kandungan! Mengerti?" Kata-kata Julian meresap sampai ke jiwa Hanna, ada rasa ragu tiba-tiba menyelinap begitu saja ke dalam dirinya. Dia kini malah meragukan kemampuan dirinya sendiri. "Ya, bos!" "Dirimu kini ada dibawah kendali saya!" "Iya, saya mengerti!" "Jangan tuntut apapun! Saat anak itu berumur 40 hari, kamu harus merelakannya pada Black Northies dan lupakan kalau dia adalah anakmu!" lanjut Julian, Hanna tak kuasa, ternyata berat sekali apa yang akan terjadi nanti. Melupakan anak yang terkandung dalam rahimnya selama 9 bulan nanti, apakah Hanna akan mampu melakukan hal itu? Tapi dia tatap lagi sosok Julian, bagaimana bisa dia membantah kehendak pria arogan itu. Baru saja dia bertindak manis pada Hanna dan kemudian dia kembali memberi kecaman-kecaman yang menekan mental Hanna. "Jadi, tugas saya selesai saat anak kita nanti berumur 40 hari?" tanya Hanna dengan sorot mata yang seolah-oleh tengah meronta. "Anak kita? Kamu harus ingat satu hal! Setelah 40 hari, anak itu adalah anak saya! selesai! Kamu pergi dan kamu tak perlu mengharapkan apa-apa lagi dari anak itu, mengerti?" Sejenak Hanna diam dan membayangkan, betapa getirnya apa yang akan dia hadapi nanti. Tapi, ini sudah terlanjur, dia tak bisa mengelak lagi atau dirinya akan tamat. "Saya mengerti," "Bagus! Ayo, persiapkan dirimu! Saya ingin proyek regenerasi ini cepat selesai!" ujarnya, ringan sekali lalu melengos meninggalkan Hanna yang kembali merasakan pahit dan getir nasibnya saat ini. 'Mungkinkah bisa? Mana bisa aku melupakan darah dagingku sendiri nanti? Ternyata permainan baru dimulai, tolong aku Tuhan! Tolong adikmu ini Kak Bagas!' batinnya dan mimpi buruk itu akan segera dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD