Kali ini yang menjemput Hanna Kaizar, mereka sedang dalam perjalanan pulang dari Bridal milik Arion menuju kediaman Julian.
Tapi sepanjang jalan Hanna terus ingat Kakaknya, besok adalah hari pernikahannya dan Hanna tak bisa didampingi oleh Bagas yang sampai sejauh ini masih koma. Seperti biasa, diam-diam Kai memperhatikan Hanna lewat kaca spion yang ada di atas kepalanya, dia bisa melihat dengan jelas kalau saat ini Hanna sedang risau.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Kai cukup mengagetkan, Hanna kaget karena sejak tadi mereka hanya diam.
"M, ba-baik," jawabnya agak gugup.
"Apa ada sesuatu yang mau kamu lakukan sebelum kita benar-benar sampai di mansion milik Julian Sanders?" tanya Kai, Hanna agak bingung dengan maksud pertanyaannya, situasi yang kaku dan canggung malah membuat setiap pertanyaan menjadi agak bias.
"Maksudnya?"
Kai menghela nafas, dia tahu kalau Hanna tak sadar telah diperhatikan sejak tadi.
"Ke Rumah sakit? Menemui Bagas?" tanya Kai dan pertanyaannya itu seperti sebuah tawaran, Hanna semakin berdecak. Ternyata Kai tahu tentang Kakaknya.
"Kamu tahu Bagas?" tanya Hanna.
"Ya."
"M, baiklah, kalau boleh saya mau mengunjunginya sebentar."
Dan Kai pun memenuhi permintaan Hanna, calon istri bigbossnya. Mereka menuju Rumah sakit tempat bagas dirawat, dan sesampainya Hanna hanya mampu memandangi Bagas yang terbaring kaku dengan berbagai alat medis yang masih menempel di sekujur badannya.
'Kak, besok aku akan menikah, jangan marah! Kalau Kakak tahu aku menikah karena sebuah perjanjian pasti Kakak akan sangat marah! Tapi sungguh, aku lakukan ini semua demi Kakak, suatu hari aku akan kembali dan Kakak sudah terbangun dari tidur panjang ini, kita akan bersama-sama lagi!' batinnya dan tak ada respon apapun, seperti hari-hari sebelumnya.
"Apa kamu yakin dia akan sembuh?" tanya Kai lagi-lagi mengejutkan Hanna, Hanna menoleh dan jujur saja Hanna tak senang dengan nada pertanyaan yang Kai ajukan padanya.
"Saya yakin!" jawab Hanna tegas.
"Bagaimana kalau seandainya Kakakmu tetap tak selamat dan kamu terlanjur masuk dalam dunia Black Northies!"
Kata-kata Kai membuat Hanna skeptis, sebenarnya apa yang dikatakan Kai benar. Hanna terlalu cepat mengambil keputusan dan sekarang semuanya sudah terlanjur karena dia akan menikah dengan bos mafia kejam itu di esok hari, bahkan kurang dari 24 jam lagi.
"Gak! Kak Bagas pasti sembuh!" tegaskan Hanna, dia mencoba menguatkan keyakinannya dan Kai hanya bisa tersenyum hambar mendengarnya.
"Semoga," harapnya tapi dengan nada tidak yakin membuat Hanna kesal dibuatnya. Kai sudah benar-benar membuatnya meragu dan Hanna benci hal itu.
"Apa kamu kenal Kak Bagas?" tanya Hanna, dia mencoba menggali informasi. Hanna yakin kalau Kaizar adalah orang kepercayaan Julian dan bukan tidak mungkin dia juga kenal dengan Kakaknya.
"Ya."
"Kenal ... sebagai teman? Atau sebagai seorang petarung jalanan?"
"Dia bagian dari Black Northies!"
HAH, Hanna terkaget, bagian dari Black Northies? Jadi selama ini Bagas juga anggota Black Northies? Hanna benar-benar baru mengetahui fakta itu. Selama ini Bagas tak pernah bercerita atau menunjukan gelagatnya sebagai anggota gangster. Yang Hanna tahu Kakaknya itu bekerja di sebuah kapal ikan.
Hanna sempat kecewa karena dia merasa Bagas telah mengelabuinya, sejak dulu Hanna selalu mewanti-wanti Kakaknya untuk tidak terlibat dengan dunia permafiaan dan ternyata kenyataannya berbeda, bahkan kini Bagas hampir mati dan lebih-lebih lagi kini Hanna sendiri pun tertarik masuk ke dalam lingkungan Black Northies.
"Saya kira, dia cuma seorang street fighter yang tidak terikat apapun dengan Black Northies," gumam Hanna tampak kecewa.
"Selain jadi petarung andalan Black Northies, dia juga eksekutor yang menyelesaikan beberapa pekerjaan kasar Black Northies!"
Hanna semakin terkaget lagi, bagaimana bisa Kakaknya yang baik dan penyayang memiliki pekerjaan sekeras itu? Hanna menyesal karena saat ini dia tak bisa mengeluhkan kekecewaannya pada Bagas secara langsung.
'Kakak,' panggilnya lirih di dalam hati.
"Sudah selesai? Kita harus segera kembali!" kata Kai yang sudah memandangi jam tangannya sejak tadi.
"Iya."
Mereka menarik langkah dari ruang sunyi dan dingin itu, Hanna tak kuasa setelah mendengar fakta-fakta baru yang baru saja dia dengar.
***
Hanna terbaring nyaman di atas tempat tidur, dia membenamkan tubuhnya yang besok akan menjadi milik seorang mafia bengis secara mutlak. Tubuh yang dia korbankan demi menyelamatkan nyawa Kakaknya.
Hanna memandangi gaun pengantinnya yang tersimpan rapi dalam box besar di meja di sudut kamarnya yang luas. Tinggal beberapa jam lagi dan dia akan mengenakannya, setitik demi setitik airmatanya meniti membasahi bantal yang menjadi penopang kepalanya yang lelah karena terlalu banyak memikirkan banyak hal seharian ini.
Apa yang Hanna ketahui hari ini membuatnya mengingat suatu masa di masa lalu ....
"Menurut Kakak siapa yang akan lebih dulu meninggalkan dunia ini? Aku? Atau Kakak? Duh, kok aku tiba-tiba memikirkan hal mengerikan ini yaa? Ngeri banget membayangkannya," ucap Hanna di suatu sarapan di rumah mereka yang sempit.
Kala itu Hanna masih remaja dan Bagas sudah tampak sedikit lebih dewasa, setiap hari mereka makan nasi bungkus karena tak ada yang bisa mereka masak, Hanna masih terlalu dini untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan Bagas terlalu sibuk bekerja demi menghidupi diri sendiri dan adik kecilnya.
"Kenapa kamu tanya begitu?" tanya Bagas dengan mulut penuh, dia memang pekerja keras sehingga dia selalu lebih cepat menyelesaikan sarapannya.
"Aku takut, aku takut kalau nanti aku sendirian," sahutnya manja.
"Kakak akan selalu menjagamu sampai kamu dewasa!"
"Aku mau kita sama-sama selamanya!"
Bagas melempar senyum lalu mengusap rambut Hanna sampai mengacak-acaknya, mereka memang adik-Kakak yang selalu akur sejak dulu.
"Kakak akan pastikan ada pria baik yang jadi suamimu, dengan begitu Kakak akan tenang meninggalkanmu jika kelak memang Kakak harus meninggalkan dunia ini lebih dulu."
"Huh, lupakan saja, kita akan bersama-sama selamanya, Kakak dengan keluarga Kakak dan aku dengan keluargaku!"
"Heum."
"Sampai kapanpun Kakak akan selalu jadi Kakakku, tolong jaga dirimu baik-baik! Jangan lakukan hal-hal bodoh Kak."
"Hal bodoh, apa?"
"Para pemuda berbondong-bondong bergabung dengan kelompok bentukan Banyu Biru, dia kan bandar besar! Semua orang sudah tahu hal itu! Aku gak mau Kakak ikut-ikutan!" cegah Hanna, saat itu dia masih sangat belia tapi dia sudah tahu siapa Banyu Biru, dia memang dikenal sebagai seseorang yang berpengaruh di wilayahnya, tak ada yang tidak mengenal Banyu Biru dan kedigdayaannya.
"Tapi mereka dibayar dengan upah yang besar."
"Gak! Pokoknya Kakak gak boleh ikut mereka! Aku gak mau Kakak terlibat apapun dengan Black Northies!" tegasnya.
Bagas hanya tersenyum dan entahlah, mungkin saja sejak saat itu Bagas memang sudah mulai bergabung dengan dunia gangster.
***
Hanna sudah siap, mermaid dress yang tak terlalu banyak detail itu sudah melekat di tubuh Hanna yang tak kuasa menahan rasa gugupnya. Dia berdo'a dalam ketakutan, dia juga merasa sedikit menyesal karena nafsunya untuk masuk ke dalam kehidupan mafia kejam bernama Julian Sanders pasti akan menimbulkan resiko yang besar di kemudian hari.
'Tuhan, teguhkan hatiku, jadikan ini pilihan yang baik walau sebenarnya bukan! Lindungi aku apapun yang terjadi kelak,' batinnya dan dia masih ingin memejamkan matanya.
Penampilannya yang sempurna siang ini tak membuatnya merasa istimewa, siang ini dia akan mengucapkan ikrar suci di atas altar bersama Julian Sanders. Dan secepatnya dia harus mulai menjalankan tugasnya sebagai yang meminjamkan rahim untuk Black Northies dan Hanna tak kuasa membayangkan bagaimana nanti dia melakukan tugas perdananya.
"Perfect!" puji Arion saat Hanna berdiri di depan cermin besar di ruang pribadi Hanna itu, Tatanan rambut sederhana dan bubuhan make up yang tipis juga tak mengurangi kesempurnaan Hanna saat ini.
"Sudah siap?" tanya Kaizar yang sepertinya akan menjadi orang yang mengantar Hanna ke gereja, karena Julian dan beberapa orang saksi sudah stand by disana.
"Siap dong babang Kai, come on lets go!" Arion, pria kemayu itu menuntun Hanna dengan sangat hati-hati menuju Kaizar yang menunggu di ambang pintu.
Dia menatap dengan lekat, dan hari ini dia sangat tampan dengan balutan tuxedo dan sisiran rambut yang sangat rapi. Dia sudah seperti seorang pengantin lelaki yang menunggu pengantin wanitanya, sayang sekali bukan seperti itu kenyataannya.
Dengan gaya dinginnya, Kai melipat tangannya sebagai tanda Hanna harus menyelipkan tangannya di tangannya itu, Hanna menurut saja. Dan Arion membantu Hanna mengangkat bagian ekor gaunnya yang cukup panjang. Hanna berjalan bersama Kai menyusuri koridor, tangga sampai akhirnya dia sampai di pelataran mansion.
"Ya Tuhan, ini benar-benar momen bersejarah! Tak kuasa aku menahan rasa bahagia ini," kata Arion saat membantu Hanna memasukan seluruh gaunnya ke dalam mobil. Hanna hanya tersenyum getir.
'Entahlah, ini awal atau akhir untukku, kalau suatu hari dia marah padaku, apa dia akan menghilangakan aku tanpa jejak?' batin Hanna dan dia masih bergelut dengan rasa takutnya.
"Happy wedding ya! God bless you!" seru Arion saat Kai mulai tancap gas dari sana menuju gereja.
Lagi dan lagi, Kai hanya mampu menatap Hanna diam-diam lewat kaca spionnya dan hari ini Kai melihat rasa risau yang semakin jelas di mimik muka pengantin cantik itu.
"Kamu sangat cantik hari ini," ungkap Kaizar, dia sepertinya mencoba mencairkan ketegangan Hanna dan itu berhasil. Hanna tersadar dan dia jadi malu.
"Terimakasih," sahutnya pelan.
"Kamu sudah yakin? Ya, kamu harus yakin!"
"Saya yakin, demi Kak Bagas!" tegasnya.
"Bagus, semoga Julian Sanders bisa menyayangimu sebagai istrinya! Heh, tapi ...." kata Kai tapi dengan nada agak sarkas lalu dia tahan kalimatnya membuat Hanna penasaran dan bertanya-tanya.
"Tapi apa?" tanyanya antusias.
"Apa kamu gak keberatan kalau saya berkata jujur?"
"Jujur saja!"
"Jujur saja saya merasa kalau membuat seorang Julian Sanders menyayangi seseorang adalah hal yang agak mustahil, atau mungkin sangat mustahil! prinsipnya 'no love no mercy' itu artinya, dia tak punya cinta dalam hatinya kecuali hanya untuk dirinya sendiri dan untuk Black Northies!" ungkap Kai dan tentu saja hal itu menakuti Hanna secara sempurna.
"Dan No mercy, dia gak akan mengampuni siapapun yang membuatnya marah!" lanjut Kai.
"Saya mengerti," sahut Hanna pelan, dia mencoba kuat padahal dalam hati dia sangat ketakutan. Sekarang tak ada alasan untuk pergi, dia Hanya perlu melakukan semuanya sesuai kehendak sang Bigboss.
Tanpa terasa mereka sudah sampai di sebuah gereja yang sudah dijaga ketat oleh jajaran keamanan Black Northies. Hanna lihat deretan orang-orang tinggi besar berjejer dan tak lama Banyu biru datang menghampiri Hanna yang hanya diam dan berdo'a dalam hati.
Black Northies sangat merahasiakan pernikahan ini, dia juga menyembunyikan identitas Hanna dari khalayak guna menjaga keamanan dan privasi Hanna dan Julian nantinya.
Hanna sudah mendapat instruksi itu, dia tutupkan Veilnya sampai menutup dan menyamarkan wajah cantiknya. Tudung kepala atau veil itu kini melindungi wajahnya dari beberapa orang yang mungkin saja diam-diam dan mencoba candid Hanna dari kejauhan.
"Cantik sekali!" bisik Banyu lalu dia menyiapkan tangannya agar Hanna menyelipkan tangannya disana, hari ini Banyu berlaku sebagai wali pendamping untuk Hanna.
"Julian seharusnya bisa mencintaimu!" kata Banyu lagi pelan saat keduanya berjalan bersama menuju pintu gereja yang masih tertutup itu.
Hanna speechless dia tak bisa menyahut kata-kata Banyu, hatinya terlalu gugup dan takut dan begitu pintu besar itu terbuka ....
Pria itu, pria yang sebentar lagi menjadi suaminya sudah berdiri menunggunya di atas altar dengan beberapa saksi dan pastor yang akan memimpin misa pernikahan saat ini. Dia tampan sekali dengan balutan tuxedo mahal dan sisiran rambut amat rapi, hari ini Julian pamer jidat dan itu semakin menambah karismanya.
Hanna semakin gugup saat langkahnya semakin dekat pada Julian yang juga memperhatikan kedatangannya. Julian masih memperhatikan, mungkin saja dia cukup tertarik dengan penampilan Hanna yang super pangling siang ini.
"Lihat! Julian melihat ke arahmu!" bisik Banyu dan itu semakin menambah frekuensi ketegangan Hanna.
"Dia, sangat tampan!" gumam Hanna.
"Selalu, dia selalu tampan dan percayalah! Hari ini kamu juga sangat memukau!" kuatkan Banyu, Hanna percayakan hal itu, Hanna berharap Julian terkesan dengannya dan itu akan menjadi kesan pertama yang baik yang mungkin bisa jadi awal yang baik untuk Hanna.
Hanna sampai, Julian menjulurkan tangannya pada Hanna. Deg deg deg, pria sempurna itu memberikan uluran tangannya dan degup jantung Hanna semakin tak karuan.
Kini keduanya berdiri di hadapan pemimpin misa, menunduk lugu dan mengucapkan janji suci dan janji setia dengan khidmat. Hanna sampai menangis dibuatnya dan satu orang yang lekat dalam benaknya saat ini adalah Bagas yang sayangnya tak bisa menjadi saksi di hari pernikahannya ini.
Semuanya sudah mengucapkan ikrar, detik ini mereka sudah resmi menjadi sepasang suami istri yang sah di mata agama dan hukum. Julian sudah boleh memperlakukan Hanna sesuai kehendaknya.
Mereka masih berdiri di atas altar, saling berhadapan di depan para anak buah Julian yang menjadi saksi pernikahan yang penuh dengan kesepakatan dan perjanjian ini. Tapi mesti begitu, prosesinya tetap berlangsung khidmat layaknya pesta yang di gelar oleh sepasang kekasih yang saling mencintai.
Julian membuka veil yang menutup wajah Hanna, perlahan namun pasti dan dia temukan seraut wajah mempesona yang sejak tadi bersembunyi di dalamnya.
Bagaimana reaksi Julian?
Ekspressinya tetap datar tapi dia menatap Hanna dengan lekat sampai beberapa detik lamanya. Mau tak mau Hanna harus mendongakan kepalanya dan menunggu Julian mengecup bibir manisnya sebagai bagian dari prosesi pernikahan. Pengantin pria mencium pengantin wanitanya di hadapan para saksi.
Kiss, Julian agak membungkukan badannya dan Hanna juga agak berjinjit karena Julian masih terlalu tinggi untuknya. Bibir mereka saling berpagutan, sepertinya Julian sedang mencari-cari dimana hasratnya bersembunyi dan Hanna juga hanya berusaha melakukan yang terbaik untuk Julian, suami sekaligus bosnya saat ini.
Adegan itu membuat belasan pasang mata merasa hangat, baru kali ini Julian Sanders menyentuh wanita seperti itu dan ada juga yang merasa iri padanya, Kaizar! Ada apa dengan Kaizar sebenarnya?