Byuuuur ....
Julian meluncur ke dalam kolam renang luas di bagian belakang mansion mewahnya. Julian memang tinggal di sebuah mansion dengan fasilitas lengkap. Dia adalah mafia yang bergelimang kemewahan.
Hanya butuh belasan detik untuk Julian melakukan sprint ringan di sepanjang kolamnya yang cukup memanjang itu, aksinya layaknya seorang atlet renang profesional. Dan setelah dirasa cukup puas dengan latihan ringannya dia angkat tubuh atletisnya dari dalam kolam lalu menepikannya di tepi kolam dengan kaki yang masih tenggelam di dalamnya.
Para pelayan baru yang belum terbiasa sampai hampir dibuat kejang-kejang oleh penampakan Julian di tepi kolam saat ini. Walau hanya melihat bagian punggungnya saja, tapi mereka sampai tak kuasa dan sibuk sendiri seperti cacing kepanasan.
"Oh my god! Oh my god!" seru mereka, ya hari ini memang ada beberapa maidservant baru yang bertugas di istana Julian Sanders.
Kaizar hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah para rekrutan barunya itu dan reaksi berlebihan seperti ini bukan hal baru untuk Kaizar yang telah bertahun-tahun menjadi orang kepercayaan Julian.
"Ngapain kalian disini?" tanya Kaizar mengagetkan, gadis-gadis berseragam itu sampai terkaget.
"Eh, Bang Kai," sapa salah satu dari gadis-gadis labil itu.
"Kembali bekerja!" titahnya tegas dan seketika pelayan-pelayan itu segera beranjak melaksanakan tugas mereka kembali.
Kaizar berjalan mendekat ke arah Julian dengan beberapa gulungan handuk di tangannya.
"Berkas-berkas Anda sudah diserahkan, tinggal tunggu tanggal resmi pemberkatan pernikahan dari pihak gereja bos!" kata Kaizar begitu dia sampai di belakang Julian yang masih terduduk menikmati hamparan kolam birunya.
"Huh, sial!" gerutunya tiba-tiba.
"Hari ini ada dinner yang harus Anda hadiri dengan Mr. Zarco dari Milan bos, beliau sudah tiba di Jakarta sejak siang tadi!" Kaizar masih melaporkan kabar dan jadwal pada Julian.
"Apa lo udah siapkan data statistik yang mau kita tunjukan sama Mr. Zarco?"
"Beres bos!"
"Ah iya, pecat para maidservant baru itu! Mereka sangat mengganggu!" titah Julian lagi lalu dia tarik handuk dari tangan Kaizar.
"Semuanya bos?"
"Ya! Mereka menyebalkan!"
"Oke, bos!"
Julian melengang pergi menuju ruangannya dan Kaizar hanya mendengus saat dia harus memecat orang-orang yang baru saja dia rekrut.
'Huh, gadis mana yang tahan kerja di sekitar lo, bos!' batinnya pasrah.
***
"Benarkah? Menikah?"
Desas desus kabar pernikahan Julian Sanders mulai merebak, tapi mereka tak tahu siapa yang akan menjadi pengantinnya.
"Pasti calon istrinya itu orang penting, atau super model asal Australia itu ya?" seseorang bergosip di salah satu sudut cafe tempat Hanna bekerja dan Hanna diam-diam mendengarkannya dengan seksama.
"Iya, pasti dia! Karena selama ini cuma Catherine Collins yang sempat terdengar dekat dengan Julian Sanders," sahut yang satunya, Hanna semakin memasang telinganya baik-baik.
"Cocok sih, dan dengan begitu issu liar tentang orientasi seksual Julian terpatahkan! Ya mau bagaimana lagi, kita harus terima kenyataan ini!"
"Beruntung banget ya bisa jadi wanita yang dicintai pria se-prestise dia! Ganteng, kaya raya, Karismatik, aaaah sampai gak kuat aku membayangkannya!"
"Heum, membayangkan aksi Julian di atas ranjang?"
"Heh, kamu ini!"
Obrolan mereka menjurus nakal dan Hanna juga sampai tak kuasa membayangkannya. Dia bergegas ke belakang cafe dengan gelas-gelas kotor yang baru saja dibereskannya lalu menyimpannya ke dalam wastafel pencucian. Dia menepi disana dan jadi membayangkan hal yang tidak-tidak.
'Catherine Collins,' batinnya dan tiba-tiba dia merasa insecure. Hanna cari profil nama yang baru saja dia sebut barusan di dalam gawainya dan dia mendapati sesosok gadis bule dengan perawakan sempurna. Cantik luar biasa, dia semakin insecure.
'Waaah, cantik banget! Ini gadis yang sempat dekat sama Julian, duh, aku sih kentang! Aaaah kenapa aku insecure gini!' batinnya dia masih asyik melihat beberapa potret supermodel paripurna itu.
'Perempuan sesempurna ini aja gak bisa menaklukan hatinya, nah apa lagi aku? Kok, aku jadi ragu yaaa, harusnya aku pikirkan keputusan besar ini baik-baik! Gimana kalau nanti aku gak bisa berbuat apa-apa di atas ranjang,'
ARRRRGGGHH, Hanna tiba-tiba berteriak histeris membuat rekan-rekannya yang kebetulan ada di area dapur sampai terkaget dan terheran-heran.
"Kamu kenapa Hanna?" tanya seseorang, Hanna tersadar dan jadi malu.
"Oh, m ... nggak kok! Ma-maaf ya." ucapnya malu-malu.
***
Hanna pulang ke rumahnya, rumah petak kecil yang selama ini dia huni bersama Bagas. Sayang beberapa hari terakhir ini Bagas harus tinggal di ruang perawatan di rumah sakit dan setiap dia pulang ke rumah Hanna merasakan kehampaan yang mendalam.
'Apa ini keputusan yang tepat? Atau akan menjadi boomerang?' batinnya lalu dia tatap sebuah potret di dinding. Ada seorang gadis kecil bergigi kelinci dengan anak lelaki yang merangkul tubuh mungilnya. Itu adalah potret kecil dirinya dan Bagas.
"Kak, kenapa aku baru tahu kalau Kakak seorang street fighter? Untuk apa kamu lakukan itu Kak?" gumamnya dan tetesan airmata tiba-tiba bergulir begitu saja melewati pipi manisnya.
Kesedihannya malam ini membawanya pergi pada satu momen di masa lalu.
12 tahun yang lalu ....
"Hanna! Han!" Seorang pemuda memanggil-manggil nama Hanna dari luar pintu rumah, itu adalah Bagas saat dia masih berumur 18 tahun. Dan tak lama seorang gadis dengan seragam putih biru keluar dari dalam rumah, dan itu Hanna yang kala itu masih duduk di bangku SMP.
"Apa sih Kak teriak-teriak?" sapanya.
"Ini gaji pertamaku! Pergilah! Beli sepatu dan tas baru!" kata Bagas bangga lalu menyodorkan beberapa lembar uang lusuh dan usang.
"Waah, sebanyak ini Kak?" tanya Hanna tak kalah bangga, lalu dia hitung uang yang sudah bau ikan laut itu. Ya, Bagas bekerja di sebuah gudang penyimpanan ikan di dekat pelabuhan. Sudah 3 tahun mereka tinggal berdua saja sebagai yatim piatu, Ayahanda dan Ibunda tercinta telah berpulang ke pangkuan Tuhan. Keduanya hilang saat melaut bersama-sama, mereka memang nelayan karena mayoritas profesi orang-orang di sana adalah nelayan.
Tragis memang, tapi sejak saat itu Bagas maupun Hanna selalu berusaha menjaga satu sama lain. Bagas selalu berusaha menjadi Kakak sekaligus Ayah yang baik untuk Hanna. Dia selalu bekerja keras demi adik semata wayangnya itu.
"Duitnya amis Kak! Malu lah kalau aku bawa ke mall!" keluh Hanna lalu dia manyun semanyun-manyunnya.
"Terima saja! Itu bau keringat Kakak, sudah ya Kakak mandi dulu, gak usah ke mall, kita cari di pasar aja ya, biar dapat murah!" kata Bagas lalu dia beranjak ke dalam rumah bersiap membersihkan tubuh lelahnya.
"Baiklah," sahut Hanna pasrah.
"Nanti Kakak usahakan dapat uang yang lebih banyak lagi deh biar kamu bisa beli barang-barang mahal macam temen-temanmu itu!" seru Bagas lalu dia benar-benar sudah memasuki kamar mandi sehingga suaranya terdengar agak sayup.
Hanna genggam lembaran uang bau amis itu dan dia bangga pada Bagas, dia adalah Kakak terbaik yang dimilikinya.
Dan sampai detik ini, Hanna maupun Bagas selalu berusaha melindungi satu sama lain. Mereka tumbuh bersama dalam keprihatinan dan ikatan yang kuat membuat Hanna memantapkan hatinya untuk mengambil keputusan gila demi menyelamatkan Bagas, Kakak terbaiknya.
***
Hanna resign?" tanya Viola, pemilik cafe tempat Hanna bekerja, dia baru saja mendapat kabar dari Ami kalau Hanna memutuskan untuk mengundurkan diri secara mendadak.
"Iya Kak," sahut Ami.
"Kenapa?" tanya Viola terheran-heran, selama ini dia mengenal Hanna sebagai pegawai yang baik dan sepertinya dia cukup menyayangkan keputusan Hanna.
"Saya kurang tahu alasannya Kak," sahut Ami lagi, orang-orang hanya belum tahu kalau hari ini adalah hari terakhir jelang pernikahannya.
Hanna memang menutup rapat-rapat kabar ini karena Banyu dan Julian memintanya untuk tidak berkata apapun tentang rencana kesepakatan ini. Hanna menurut saja dan dia berhasil mengelabui orang-orang sampai mereka sibuk mencari tahu siapa pengantin Julian Sanders.
Hari ini Hanna sedang fitting gaun pengantinnya. Walaupun nanti pernikahannya digelar tertutup dan rahasia tapi Banyu ingin Hanna tampil sebagai selayaknya seorang pengantin wanita yang cantik. Banyu berharap momen sakral nanti akan meresap ke dalam jiwa gelap Julian dengan begitu Banyu tak perlu mempersiapkan proses perceraian lagi saat nanti Hanna telah selesai dengan tugasnya. Ya, Banyu berharap Julian akan mencintai dan menerima Hanna sampai nanti, sampai maut saja yang memisahkan mereka tapi sekali lagi, hal itu adalah salah satu hal mustahil yang mungkin akan terwujud.
Dimana Hanna sekarang?
Dia sedang mencoba gaun pengantinnya.
Tak main-main, Julian memilihkan sebuah wedding dress berharga fantastis. Hanna sampai terbelalak saat melihat wedding dress yang akan dia kenakan di esok hari itu terpajang cantik di sebuah manequin di bridal pilihan Julian. Bridal ini adalah vendor favorit para selebritis dan saat ini Hanna juga akan segera mencoba gaun dengan gaya mermaid itu.
"Oh, jadi kamu pengantin rahasinya Julian Sanders?" sapa Arion, pemilik bridal mewah itu.
"I-iya," sahut Hanna sampai gugup, rasa-rasanya dia kurang deserve untuk mengenakan salah satu rancangannya.
"Oke, pertama-tama saya ucapkan selamat ya, tapi sayang seribu sayang, Julian ingin menutup rapat-rapat identitasmu! Kenapa? Bagaimana bisa kamu memikat hatinya? Tapi sayang juga ya karena pada kenyataannya Julian tak ingin orang-orang tahu siapa dirimu, hahaha!" mulut lemes designer 40 tahunan itu terus saja berbicara sampai membuat Hanna tak punya waktu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaannya.
"Oh iya Nona, persiapkan dirimu! Apa kamu sudah punya jurus-jurus andalan untuk memuaskan hasrat seorang mafia dingin dan kejam sepertinya?" bisik Arion masih dengan nada menggoda membuat Hanna makin meragu dan berpikir yang tidak-tidak.
'Memangnya aku harus berbuat apa? Jurus? Jurus apa pula, huh? Ya Tuhan, kenapa semakin waktunya dekat aku semakin merasa ragu! Aaaah!' batinnya dan rasa insecure itu kembali menyerangnya habis-habisan padahal kurang dari 24 jam lagi dia akan segera melangsungkan prosesi pernikahannya.
"Oke, saya akui kamu memang cukup manis tapi kok saya heran ya, kenapa Julian Sanders pada akhirnya memilih perempuan biasa sepertimu, masih kurang faham deh lalita!" kata Arion sembari melucuti gaun itu dari patungnya, sembari tangannya bekerja, mulutnya pun tak berhenti berbicara.
'Huh, siapa yang menyangka kalau aku hanya meminjamkan rahimku saja! Mungkin tak akan ada cinta yang terjalin di hatinya! Dan saat dia sudah mendapatkan tujuannya, aku akan kembali jadi orang biasa!' batin Hanna lagi dan lamunannya melabur memikirkan kondisi Bagas yang sampai sejauh ini masih koma.
Tapi inti dari rencana ini memang hanya untuk kesembuhan Bagas, itu saja. Hanna memang salah satu pengagum pesona seorang Julian tapi selebihnya dia hanya akan melakukan tugasnya sesuai kehendak Julian, bukan jadi istri yang bisa memiliki dan bermanja-manja dengan pria tampan berhati serigala itu.
"Ayo Mrs. Julian, kita coba gaunnya, kamu harus terlihat gergous besok! Gak boleh nggak ya!" ajak Arion dan Hanna hanya menurut saja.
Bagaimana hasilnya?
Hanna sangat berkilau, glown up! Begitu gaunnya melekat di tubuh moleknya auranya pun terpancar begitu saja. Hanna memang gadis manis dan menarik, hanya saja selama ini dia tak terlalu memperhatikan penampilannya dan sekalinya dia mengenakan pakaian istimewa, dia langsung memancarkan pesonanya.
Wedding dress bergaya mermaid itu memang style gaun yang memperlihatkan setiap lekuk tubuh yang mpunya gaun. Bagian d**a yang sedikit terbuka dan bagian punggung yang lebih rendah memperlihatkan betapa mulusnya tubuh gadis perawan itu. Pinggang ramping dan panggul Hanna yang cukup lebar menambah sensualitas dan kesan elegan yang berpadu jadi satu, no more words, Hanna benar-benar sempurna dengan wedding dressnya itu.
"Amboi amboi! Perfect!" puji Arion sembari berjalan melingkari Hanna yang merasa cukup kaku saat mengenakan pakaian indah itu.
"Well, sekarang aku tahu kenapa Julian memilihmu! Kamu memang cantik sayangku! Cantik nian," sambung Arion masih sibuk merapikan penampilan Hanna yang masih bareface, belum lagi besok dia akan berdandan tentu saja penampilannya akan semakin memukau mata.
"Hm, permisi!"
Ada seseorang masuk begitu saja ke ruang utama bridal milik Arion itu, Hanna sampai ikut menoleh, siapa yang datang.
"Aaah, Babang Kaizar! Lama tak jumpa!" sapa Arion langsung menghampiri Kaizar yang sempat terpaku saat melihat Hanna menoleh kepadanya dengan gaun pengantin itu, Kaizar terpana untuk beberapa detik.
Hanna belum tahu siapa Kaizar, dia pun kembali bersikap biasa dan tak terlalu mempedulikan kedatangannya.
"Helloooow, Babang! Babang tampan!" sadarkan Arion dan Kaizar sampai salah tingkah saat menyadari betapa terkesimanya dia dengan calon pengantin bigbossnya itu.
"Sorry," ucapnya lalu dia kembali mencoba menjaga wibawanya.
"Hayooo, ikut terpana kan lihat calon pengantin bigbossmu sendiri?" goda Arion dan Kaizar semakin tampak salah tingkah.
"Hm, saya harus segera menjemputnya pulang!" ujarnya kembali bersikap tegas dan kaku.
"Tunggu sebentar ya, aku lucuti dulu gaunnya!"
Kaizar menunggu dan ingin rasanya dia kembali mencuri pandang pada Hanna yang berlalu ke kamar pass bersama Arion.
Ada apa sebenarnya dengan Kaizar? Beberapa hari lalu dia juga sempat memperhatikan Hanna di cafe tempatnya bekerja. Ada apa dengan Kaizar? apakah dia tertarik dengan Hanna? Jika iya, hal ini bisa saja jadi konflik rumit di masa mendatang.
Kaizar menunggu sampai beberapa menit dan Hanna kembali dari ruang ganti dengan pakaian asalnya. Dia berjalan menghampiri Kai sementara Arion tengah merapikan gaunnya untuk Hanna bawa pulang ke kediaman Julian.
"Hm, permisi ... apa, saya harus ikut anda ke kediaman Julian Sanders sekarang?" tanya Hanna cukup mengagetkan, Astaga, lagi-lagi Kai agak stuck tapi setelah beberapa detik dia sadar kalau gadis manis di hadapannya saat ini adalah calon isteri bigbossnya.
"M, Iya," jawabnya lalu dia mencoba berdiri tegap kembali dan menghindari kontak mata dengan Hanna.
"Oh, baiklah!"
Ada apa dengan Kai? Sikap dan gelagatnya benar-benar masih menjadi misteri.