The Cruel For The Sweety

1073 Words
BRUK! Julian tuntaskan serangan terakhirnya dengan tendangan telak di area perut pria tinggi besar itu. Di ruang gelap dan pengap itu sedang terjadi prosesi eksekusi. Mungkin pria besar itu adalah target yang sedang Julian selesaikan. Setiap pekan hampir tak pernah sekalipun tangannya tak menghajar orang-orang bermasalah. JEPRET JEPRET Selesai dihajar sampai collaps, seorang anak buah Julian memotret tubuh yang terbujur kaku itu. Mungkin sebagai bukti pada si pemesan jasa bahwa Julian sudah melumpuhkan target kepada seorang pemesan jasa. "Pastikan dia masih hidup!" kata Julian santai lalu dia teguk air mineral yang disodorkan anak buahnya yang lain, ada sekitar 3 orang anak buah yang menemaninya di ruang eksekusi itu. "Masih bos! Dia masih hidup!" kata salah satunya sembari memeriksa kondisi korban. "Bawa dia ke hadapan Pak Irawan!" titahnya lalu setelah puas menghajar, dia melenggang meninggalkan ruang itu dengan santainya. Tugas kecilnya hari ini selesai. DRDDD DRDDD Ponselnya bergetar, dia ambil gawainya itu dari saku dalam blazernya yang baru saja dia kenakan kembali setelah beberapa menit lalu dia tanggalkan saat menghajar orang itu. Dia tak mau blazernya terkena percikan darah. "Temui aku!" instruksi singkat dan sambungan teleponnya berakhir begitu saja, itu pasti dari Banyu yang meminta Julian untuk mendatangi ruang pribadinya. Sesampainya di ruang kerja Banyu, Julian langsung menghadap. "Sudah selesai?" tanya Banyu. "Sudah." "Untuk satu pekan ini serahkan sebagian tugasmu pada Kaizar!" kata Banyu, Julian belum mengerti apa maksud Banyu. Selama ini tak pernah sekali pun dirinya mempercayakan pekerjaan wajibnya pada orang lain. "Fokus pada rencana pernikahanmu!" lanjut Banyu semakin membuat Julian kesal. "Apa harus ada pernikahan?" tanyanya kesal. "Ayolah Julian, kita butuh generasi yang lahir dari sebuah kebaikan! Dari rahim wanita baik yang harus terikat dalam sebuah janji suci pernikahan!" sahut Banyu dan kata-katanya malah membuat Julian muak. Rasa-rasanya kata-kata bijak Banyu agak getir saat dia dengar. "Bagus kalau dirimu bisa mencintainya sampai nanti, dengan begitu lengkap sudah kehidupanmu Julian!" lanjut Banyu semakin membuat Julian tersenyum getir. Menikah? Mencintai? Dua kata itu akan sulit sekali ditemukan dalam kamus kehidupan Julian Sanders. Kalau pun ada terselip kata cinta, cinta itu hanya dia berikan pada Black Northies dan pada dirinya sendiri saja. "Bagaimana? Apakah sudah siap?" tanya Banyu. "Tak akan ada pesta!" sahutnya tegas. "Oke, katakan lagi apa persyaratannya," tantang Banyu. "Setelah perempuan itu berhasil melahirkan satu anak laki-laki, ikatan pernikahan kami selesai!" Julian ajukan syarat yang kedua dan Banyu sudah menduga kalau Julian memang akan meminta hal itu padanya. Sulit sekali memang rasanya memikat hati mafia bengis dan berhati keras sepertinya. Tak ada wanita berkesan di matanya, semuanya tampak sama, membosankan! Hal ini lah yang menimbulkan spekulasi liar, sebagian orang menganggap kalau Julian adalah seorang gay tapi hal itu tak pernah terbukti secara faktual. Tak pernah ada yang bisa membuktikan Julian seorang penyuka sesama jenis. Mungkin benar, Julian hanya tak punya rasa cinta saja dalam hatinya, tidak sedikitpun. Apakah Hanna akan menjadi orang pertama yang memikat hati Julian? No one knows, hal itu adalah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Julian Sanders sendiri. Hanna memang cukup manis, dia gadis sederhana yang cukup mempesona. Sehari-hari dia bekerja sebagai seorang waitress di sebuah cafe kecil di area pelabuhan. Tak jarang juga dia mendapat perlakuan tak menyenangkan dari para pengunjung cafe, tapi dia selalu berusaha tetap bersikap baik. Dia tak ingin dianggap sebagai pelayan yang buruk karena dia sangat takut kehilangan pekerjaannya. "Apa Kak Bagas sudah menunjukan respon Han?" tanya Ami, rekan kerja Hanna, teman terdekat Hanna saat ini. Keduanya sedang membersihkan beberapa meja pelanggan yang sudah kosong secara bersama-sama, dengan begitu mereka bisa membersihkannya dengan cepat dan efisien. "Belum Mi," tukas Hanna dengan berat hati. "Terus kata Dokter gimana?" "Terlalu banyak benturan di kepala! Huh, aku gak bisa bayangkan gimana kesakitannya Kak Bagas waktu dia bertarung!" Ami mengelus pundak Hanna dengan lembut mencoba mentransfer kekuatan untuk sahabatnya yang tengah rapuh saat ini. Ami memang sahabat terbaik Hanna, dia selalu ada untuk menguatkan dan memberi suntikan moril untuk Hanna. "Teruslah berdo'a! Dia akan segera sadar dan pulih kembali! Kamu gak boleh berlarut-larut, kamu harus tetap kuat buat Kak Bagas!" ucapnya, lumayan memberi motivasi untuk Hanna. "Iya Mi, makasih ya." "Tapi Han, kalau boleh tahu, dari mana kamu dapat biaya perawatan Kak Bagas? Apa pihak pertandingan memberi kalian tunjangan?" tanya Ami beralih ke topik lain, Hanna masih diam dan tak buru-buru menjawab. Dia memang belum sempat membicarakan projek besarnya bersama Banyu. Hanna yakin kalau Ami pasti akan shock saat tahu kalau Hanna sedang menyepakati perjanjian gila bersama Black Northies. "M, i-iya Mi ...." sahutnya berbohong. "Huh, syukurlah," 'Huh, bagaimana bisa aku memberi tahu orang-orang tentang kesepakatan gila ini? Tapi mau gimana lagi? Ini adalah satu-satunya jalan aku bisa mendapat jaminan kesembuhan untuk Kak Bagas. Benar-benar tak ada cara lain!' pikirnya dan lamunannya melabur sampai dia tak sadar kalau ada seorang pria di pojok cafe memperhatikannya sejak tadi. Pria itu menarik sekali, dia berpakaian sangat rapi dan duduk di meja yang ada di pojok cafe dengan sebuah laptop di atas mejanya. Sejak dia masuk dan melihat Hanna beberapa menit lalu, terhitung sudah belasan kali dia mencuri pandang. Ya, Hanna memang gadis manis yang menarik dan mungkin saja Julian juga akan menyadari kecantikan dan pesonanya, mungkin saja! Ya walau harapannya tipis sekali. "Hm, permisi ...." seorang gadis dengan seragam hitam putih baru saja masuk melewati pintu cafe dan langsung menghampiri pria berkemeja biru langit itu. "Duduklah!" titahnya, sepertinya mereka memang sudah membuat janji di cafe itu. "Apa kabar Pak Kaizar," sapa gadis itu. Kaizar? Ya dia memang Kaizar, salah satu anggota Northies yang bekerja secara tekhnis. Dia adalah anggota yang memiliki intelektualitas dan integritas tinggi. Dia assisten pribadi Julian, dan dia bekerja mengurusi data sedangkan Julian lebih condong ke tindakan langsung. "Baik," sahutnya, lalu dia fokus lagi pada layar laptopnya. Di sudah tak memperhatikan Hanna lagi setelah gadis yang ada di hadapannya datang. "Saya sangat senang mendapat panggilan dari Anda," ucap gadis itu berbasa-basi. "Tugasmu nanti sangat mudah," imbuh Kai, panggilan Kaizar. " Apa saja Pak, asalkan saya bisa berpartisipasi dalam kemajuan Black Northies!" ucap gadis itu begitu meyakinkan. Memang bukan fenomena baru, hampir semua gadis bersedia bekerja jadi relawan Northies dan alasan mereka semua memang cukup klise. Mereka ingin bisa lebih dekat dengan kehidupan Julian walau hanya jadi seorang pelayan di rumahnya. Setiap gadis memang dibuat tergila-gila dan hidup dalam rasa penasaran yang amat sangat besar. Andai orang-orang tahu kalau saat ini Hanna lah yang paling berpotensi menggali sikap misterius Julian Sanders, karena tak lama lagi dia akan segera menjadi istrinya walau hanya untuk sekadar meminjamkan rahim sucinya saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD