Sepanjang perjalanan Hanna berkali-kali merapikan penampilannya. Dia pastikan wajahnya tetap fresh, rambutnya tetap rapi dan Hanna berharap Julian akan terkesan pada pandangan pertama terhadapnya.
Ya, diam-diam Hanna memang salah satu pemuja karisma seorang Julian Sanders. Dia merasa kalau misinya bersama Banyu Biru adalah satu projek kerjasama yang bisa dia nikmati dua keuntungan sekaligus. Selain bisa melunasi hutang-hutang sang Kakak yang masih terbaring koma, Hanna juga merasa berkesempatan untuk menikmati cinta seorang Julian Sanders.
Hanna memang bukan pribadi yang sempurna, jiwa liarnya tak bisa menyangkal kalau dirinya seorang pencinta sejati pria-pria penuh pesona seperti Julian. Walau sesekali dia juga merasa ragu karena keputusannya ini langkah besar dan cukup ekstrem. Bagaimana tidak? Bisa terlibat dengan dunia gelap mafia adalah pilihan yang harusnya Hanna pikirkan secara matang karena tak ada gunanya menyesal di kemudian hari, Julian si pria tanpa belas kasihan pasti tak akan segan menghukum Hanna jika suatu hari Hanna tak melakukan hal yang tak sesuai keinginannya.
Hanna sudah sampai, mobil yang ditumpanginya bersama orang suruhan Banyu sudah memasuki area Black Northies.
Huh, sudah belasan kali Hanna menghela lalu membuang nafas secara teratur. Keputusan kilatnya ini memang harus dia putuskan secara cepat, kalau tidak Hanna tak akan mungkin mendapat jaminan keselamatan untuk Kakaknya.
"Halo Hanna! Waaah, manis sekali penampilanmu hari ini!" sambut Banyu yang tiba-tiba datang, Hanna hanya mengangguk malu-malu tapi sungguh sikap lugunya itu memang ciri khasnya.
"Masuklah! Julian sudah menunggumu sejak tadi!" kata Banyu lalu dia menemani langkah Hanna menuju ruang kerja Julian Sanders.
Hanna deg-degan bukan main, lorong-lorong gelap itu dia lewati dengan langkah kakinya yang tiba-tiba meragu. Aura tak mengenakan menaungi setiap langkah yang Hanna pacu, dia gugup, takut dan perasaannya pun sangat tak menentu.
'Astaga Hanna! Apa kamu yakin? Apa kamu yakin dengan semua ini?' batinnya berkali-kali bertanya pada dirinya sendiri.
"Hanna, kamu harus tetap bersikap manis, buat Julian terkesan!" kata Banyu di tengah-tengah perjalanan, Hanna memang tamu yang cukup istimewa saat ini karena Banyu sendiri yang mengiringi perjalanannya menuju ruang pria berhati dingin itu.
"I-iya tuan," sahutnya pelan.
Dan akhirnya mereka sampai di depan ruangan Julian hampir di ujung lorong. Hanna membayangkan hal-hal terburuk, dia tahu kalau dia harus bersiap dengan sikap dingin dan sikap tegas Julian nantinya.
CKKT, Pintunya terbuka ....
Pria itu, pria berwajah tampan itu yang hari ini masih mempertahankan rambut dengan warna tak biasa itu. Dan memang itulah pesona yang telah menyihir ratusan bahkan ribuan hati gadis-gadis di luar sana.
Hanna stuck, dia tatap Julian dari ambang pintu.
'Astaga! Ini adalah radius terdekat aku bisa menatapnya! Dia memang mempesona, siapa yang bisa membantahnya?' batinnya.
"Masuklah Hanna," persilakan Banyu, Hanna pun mulai mengayunkan kakinya lagi berjalan beberapa langkah sampai membuat jaraknya dengan jarak Julian semakin dekat.
'Apa bisa aku tetap berdiri tegak di atas kakiku sendiri? Ya ampun, kenapa ada anggota mafia semanis ini?' batinnya dan sudah 3 kali Hanna curi-curi pandang pada Julian yang masih terduduk santai di kursi kerjanya, sementara itu Hanna hanya berdiri di sampingnya. Saat ini mungkin Hanna hanya berdiri beradius satu meter saja dari Julian.
"Nikmati waktu kalian yaa, jika ingin makan di luar, biar nanti aku bantu reservasi sebuah restauran agar bisa kalian booking untuk menjaga privasi kalian!" kata Banyu, hari ini dia belagak seperti pelayan yang baik yang memfasilitasi pertemuan penting antara Julian dan Hanna.
Banyu tak main-main, dia sangat mengharapkan rencananya bersama Hanna akan berhasil dan bersambut baik.
"Terimakasih banyak, Tuan!" ucap Hanna malu-malu, mendapati Hanna menyebut Banyu dengan sebutan Tuan membuat Julian cukup tertarik. Akhirnya dia mau melirik ke arah gadis manis dengan floral dress yang menyegarkan mata itu.
"Aku tinggalkan kalian berdua ya! Nikmatilah getaran itu, hahaha!" pamit Banyu dan dia masih sempat menggoda Julian dan Hanna dengan kata-kata menggelitiknya.
Akhirnya, hanya tinggal mereka berdua saja. Situasi begitu canggung dan Hanna takut sekali Julian tahu kalau saat ini dia sangat deg-degan. Bertemu bos mafia sama mendebarkannya seperti saat bertemu idola atau publik figur.
'Ya, aku merasakan getaran itu!' batinnya lagi dan lagi. Hanna memang tak berani menyapa lebih dulu, dia takut salah berucap, dia pun pasrah menunggu Julian menanggapi kehadirannya dan ini sudah lewat beberapa detik dan Julian belum mengucapkan sepatah kata pun.
'Iiih, kenapa situasinya semakin canggung! Apa yang bisa aku lakukan?' batinnya.
"Beraninya dirimu!" cetus Julian, dan dua kata yang keluar dari mulutnya malah bernada kecaman, membiat nyali Hanna semakin ciut saja.
"Ma-maaf ...." ucap Hanna penuh ketakutan.
"Kamu tahu siapa saya?" tanya Julian dengan gaya arogannya, Hanna segera mengangguk. "Tahu, sangat tahu Bos."
"Bos? Apa saya ini bosmu?"
Hanna terpojok, pertanyaan simple Julian malah seperti sebuah intimidasi untuk Hanna saat ini.
"Ma-maaf," kata maaf kedua Hanna terlontar.
"Apa motivasimu?"
"Saya, saya hanya ingin membantu Black Northies."
"Benarkah?"
"I-iya! Saya akan melahirkan anak-anak terbaik untuk Black Northies di masa depan!" imbuhnya penuh keyakinan tapi dia belum berani melakukan kontak mata dengan Julian yang masih terduduk santai di kursi kebesarannya itu.
"Apa ada motif lain?"
"Gak ada bos, ini semua karena saya ingin membalas Budi untuk Tuan Banyu Biru!" tegaskan Hanna, perlahan dia mulai mendapat kekuatan untuk menghadapi Julian yang tetap bersikap bossy dan arogan terhadapnya.
"Apa yang sudah dia lakukan untukmu?"
"Beliau sudah menyelamatkan nyawa Kakak saya di masa-masa kritis!" jawab Hanna penuh keyakinan, Julian sepertinya belum begitu sadar kalau Hanna ini adalah adik dari Bagas. Banyu memang belum sempat membicarakannya secara detail.
"Itu saja?"
"Ya bos."
Julian berdiri dari tempat duduknya lalu berdiri tepat di hadapan Hanna yang terlihat kecil saat ini. Hanna hanya setinggi bahu Julian saja.
Hanna perlahan memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan menampakan diri di hadapan bos mafia kejam itu. Julian juga menatapnya dengan sangat lekat sampai Hanna hampir lemah dibuatnya.
Matanya, setiap indra yang melelat di wajahnya adalah kesempurnaan yang nyata yang tersaji tepat di depan mata Hanna.
"Kalau buka Banyu yang memintanya, saya tak akan pernah terpikir untuk menyentuhmu, kecamkan itu!" kata Julian tegas sekali, Hanna mengerti. Mustahil memang berharap Julian benar-benar tertarik dengan gadis biasa-biasa sepertinya.
"Ya, bos!" jawab Hanna lalu menunduk lugu lagi.
"Ikuti aturan yang nanti saya tentukan buatmu!"
"Ya bos!"
"Pulanglah! Persiapkan dirimu!" perintah Julian, Hanna tak bisa apa-apa selain menuruti setiap kata-kata Julian.
Apakah Hanna mampu menjalankan tugasnya kelak? Bahkan Julian sudah jelas menegaskan kalau dirinya tampak tak senang dengan rencana aneh Banyu ini. Julian hanya mencoba menghargai Banyu, itu saja.