"Julian ...."
Banyu dan Julian duduk di ruang privat sebuah club malam, mereka menikmati malam santai mereka setelah seharian mengurusi urusan mereka bersama Black Northies.
Selain deretan berbagai jenis liquor dan anggur, keduanya juga dikelilingi gadis-gadis malam berpenampilan sexy yang duduk disekitar dengan sekedar memijat-mijat pundak dan lengan mereka. Itu hal biasa, bukan hal tabu lagi.
"Apa si Bagas udah tamat?" tanya Julian, sepertinya Bagas memang salah satu orang di bawah naungan Black Northies hanya saja Hanna memang tak mengetahui dan menyadari hal itu.
"Dia koma," jawab Banyu.
"Orang-orang bilang dia gak mungkin selamat lagi."
"Ya, harusnya dia tamat seketika di atas ring!"
"Abang menyelamatkannya?" tanya Julian dan dia tak merasa tertarik sedikitpun dengan gadis-gadis berpakaian tak senonoh itu walau mereka terus menggoda dan tebar pesona.
"Ya!" jawab Banyu tegas, dan beda halnya dengan Julian Banyu bahkan membiarkan salah satu wanita malamnya duduk di atas pangkuannya.
"Heh," Julian menanggapinya dengan senyum kecut.
"Dia koma di Rumah sakit!" tegaskan Banyu.
"Kenapa? Dia sudah membuat kita rugi besar!" tanya Julian, dia sepertinya menyayangkan sikap belas kasihan Banyu. Ya, Banyu dan Julian memang dua orang yang dikenal sebagai orang-orang yang nyaris tak punya rasa empati dan rasa belas kasihan dalam hatinya.
"Ada satu alasan yang menyentuh nuraniku!" jawab Banyu membuat Julian kembali tersenyum masam. Nurani? Rasanya baru kali ini Julian mendengar Banyu bicara pasal nurani.
"Oh iya Julian, ada yang harus aku bicarakan serius denganmu saat ini!" kata Banyu mulai tak mau berbasa-basi lagi, Banyu sadar betul jika ingin bicara hal lain di luar bahasan Black Northies maka dia harus benar-benar membicarakannya di momen yang tepat.
"Bicarakan lah!"
"Kaliaan, keluar!" perintah Banyu pada gadis-gadis malam itu dan mereka tertib menuruti perintah Banyu. Setelah semuanya pergi tinggal lah Julian dan Banyu saja di ruang yang cukup kedap suara itu.
Banyu teguk minuman dalam sloki, dia ingin bicara serius masalah tawarannya terhadap Hanna tadi siang. Banyu benar-benar menginginkan penerus Black Northies dari bibit-bibit unggul dan dia pikir Hanna adalah perempuan baik yang kelak bisa melahirkan generasi bisnisnya dengan baik dan Banyu juga sangat yakin kalau dia butuh gen seorang pria berkarisma seperti Julian.
"Julian, selama ini aku hanya percaya padamu! Kamu tahu itu kan?" kata Banyu memulai dengan basa-basi kecil, Julian hanya mendengarkan.
"Aku punya 3 anak dan sayangnya aku hanya mendapatkan satu putera! Bagaimana bisa kita meneruskan kerajaan bisnis Black Northies kalau begini," lanjut Banyu dan Julian masih mencoba memahami apa maksud panutannya itu.
"Julian! Aku ini sudah tua! Sudah uzur! Cobalah pikirkan regenerasi, lupakan sejenak urusan tekhnis, pikirkan juga dirimu dan masa depanmu!"
"Apa maksudnya?"
"Pikirkan masa depanmu! Menikahlah dan berikan generasi unggulan untuk Black Northies!" ungkap Banyu mulai ke inti pembicaraan. Heh, Julian malah menanggapinya dengan senyum sinis, seperti biasa.
"Sudah kuduga! Pasti itu tanggapanmu!"
"Menikah? Itu tak ada dalam rencana saya!" tegas Julian.
"Ya ya ya, aku tahu hal itu! Tapi coba pikirkan, bisa kah kita mempercayakan apa yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun ini pada orang lain? Pada orang yang bukan titisan kita? Aaah, aku tak bisa membayangkannya!"
Julian tak berkomentar lagi, mungkin dia sedang mencoba memahami maksud kata-kata Banyu.
"Julian, aku mengerti, sulit untuk membuatmu jatuh cinta! Mustahil memang, bagaimana bisa pria tak punya hati sepertimu merasa jatuh cinta, hahaha!" Banyu menyela kalimatnya sendiri dingan tawa puas dan harus Julian akui kalau dia tak bisa merasakan manisnya cinta, itu fakta.
"Oke oke, maafkan aku! Aku bisa mengerti hal itu tapi cobalah berpikir lebih terbuka lagi, Black Northies butuh bibit unggul darimu! Cobalah tanamkan generasimu pada rahim seseorang! Itu saja, lakukan lah! Ciptakan generasi terbaik!"
Heh, lagi dan lagi Julian merasa getir mendengar kata-kata Banyu yang terasa absurd masuk ke telinganya.
"Sebenarnya aku ingin membicarakan hal ini dari tahun-tahun sebelumnya, dan semakin hari umurmu semakin bertambah! Jangan biarkan ini menjadi penyesalan di masa depan!"
"Maaf saya tak pernah memikirkan hal ini!" tegasnya.
"Ayolah Julian! Pikirkan ini baik-baik, tak banyak yang kamu lakukan! Aku sudah dapat gadis yang akan meminjamkan rahimnya untuk menampung program regenarasi ini!"
Julian memicingkan matanya, dia semakin tak mengerti dengan rencana aneh bigbossnya itu. Julian tak habis pikir, bagaimana bisa Banyu memintanya untuk memiliki anak sementara dia tak memiliki prinsip itu di dalam hidupnya.
"Ini tugas dan projek barumu! Besok aku bawa gadis itu ke hadapanmu!" titah Banyu dan Julian tahu kalau perintah Banyu adalah kewajiban mutlak untuknya walau dia masih bisa membantah tapi setelah dia pikirkan baik-baik, wacana yang Banyu cetus memang ada benarnya juga.
"Dari mana kita tahu gadis itu bisa menjalankan tugas besar ini dengan baik?" tanya Julian agak skeptis.
"Lihat saja besok, aku pikir dia tak seperti gadis-gadis yang memujamu selama ini, dia juga berhati lembut."
"Heh," lagi-lagi Julian hanya melempar senyum sinis sebagai tanggapan.
Ya, memang sulit rasanya bicara sesuatu yang sensitif seperti ini pada pria bengis seperti Julian. Yang ada di otaknya hanya Black Northies dan bisnis, hampir tak ada ruang untuk memikirkan hal lainnya.
Entah bagaimana reaksinya esok hari saat dia dipertemukan dengan Hanna untuk yang pertama kalinya. Mungkin saja akan sangat sulit menyentuh hati Julian, hatinya sudah diselimuti oleh benteng kokoh berupa dendam dan kebencian. Jangankan gadis sederhana seperti Hanna, gadis-gadis dari kalangan yang memiliki peran prestise pun sungguh sangat kesulitan meruntuhkan hatinya.
Hari sudah berganti ....
Hanna pastikan kondisi Bagas masih stabil, dia tatap layar monitor pendeteksi detak jantung di samping ranjang Kakaknya itu. Hanna harap apa yang tergambar di dalamnya adalah pertanda baik.
Hari ini dia berdandan dan tampail agak berbeda. Bisa jadi hari ini adalah hari yang istimewa untuknya, ini adalah permulaan dari tugasnya sebagai upaya pelunasan hutang-hutang Bagas kepada Banyu. Hanna tak memikirkan apapun, dia hanya ingin Bagas sembuh dan istirahat dalam damai tanpa dibebani oleh masalah utang piutang dengan Banyu, Hanna akan melakukannya, dia akan melakukan apapun demi Bagas.
"Sudah siap?" tanya Viktor di ambang pintu ruang perawatan Bagas itu.
Hanna sejenak memandangi Kakaknya yang terbujur kaku dia atas brankarnya.
"Demi kamu Kak, istirahatlah dan segeralah kembali!" gumamnya lalu setelah memantapkan hati dia segera berbalik dan menghampiri Viktor yang sudah siap untuk mengantarkannya menemui Julian Sanders.
Apakah Julian benar-benar akan menyetujui kesepakatan ini? Dan bagaimana pula nasib Hanna setelah pertemuan ini digelar?