Hanna bersyukur, Bagas masih bisa diselamatkan.
Hanna benar-benar ingin berterimakasih pada Banyu karena dia telah menyelamatkan Kakaknya. Hanna pikir jika kemarin Banyu tak menolongnya maka nyawa Bagas pasti sudah berakhir di atas ring sendirian.
"Kamu pasti akan pulih kembali Kak!" gumam Hanna sembari dia genggam tangan Bagas berharap ada respon walau sedikit. Ya, saat ini Bagas mengalami koma, terlalu banyak luka dalam dan luka terbuka yang dia alami. Bahkan kepalanya bengkak karena terlalu banyak mendapatkan hantaman dari lawan bertarungnya kemarin sore.
Hanna tak bisa membayangkan bagaimana kesakitannya Bagas saat kemarin dia bertanding dan diserang habis-habisan oleh lawan tarungnya.
"Huh," dengusnya lalu dia menyeka setitik airmata yang sudah meniti di ujung matanya.
"Aku akan selalu menjagamu Kak, kamu pasti sembuh! Kamu gak boleh pergi! Saat ini cuma ada Kakak saja, kita hanya berdua, jangan tinggalkan aku secepat ini." Hanna terus mengeratkan genggaman tangannya tapi Bagas tetap senyap.
TOK TOK, ada yang mengetuk pintu ruang perawatan Bagas itu, Hanna segera bangkit dan mencari tahu siapa yang mengetuk pintu.
Banyu! Banyu Biru yang mengunjunginya saat ini, Hanna langsung memberi salam hormat. Hanna memang sudah berniat untuk melakukan apapun untuk Banyu karena dia pikir, Banyu lah malaikat penyelamat Bagas kemarin sore.
"Selamat siang Tuan," sapa Hanna lalu dia membungkukan badannya sampai membentuk sudut beberapa derajat.
"Bagaimana keadaan Kakakmu?" tanyanya lalu berjalan mendekat ke arah tempat Bagas terbaring lemah.
"Dia, koma," jawab Hanna dengan berat hati.
"Sudah saya bilangkan? Kalau Kakakmu ini sudah hampir tamat!"
"Saya yakin dia akan sembuh kembali seperti sedia kala!" sajut Hanna dengan penuh keyakinan, Banyu menatap dengan tatapan yang sangat lekat.
Entah apa yang dia lihat, tapi dia merasa melihat sesuatu yang berbeda dari sosok Hanna. Selain penampilan fisik yang menarik, Banyu juga merasa Hanna adalah orang baik yang menyayangi Kakaknya. Banyu malah mempunyai rencana, entah apa rencananya itu.
"Oke, saya hargai keyakinanmu itu! Tapi lihatlah, apa kamu yakin akan tetap membiarkan Kakakmu berada di antara hidup dan mati seperti ini? Dari pada dia tak tentu arah, sebaiknya lepaskan saja dia! Lepaskan semua alatnya dan Kakakmu pasti sudah gak ada, iya kan?"
Hanna menghela nafas dan mencoba meyakinkan hatinya kalau keyakinan yang dia pegang teguh adalah hal yang sudah semestinya dia miliki. Dia akan memupuk harapan dan do'a sampai nanti dia bisa memeluk Bagas lagi dengan hangat dan erat.
"Hey Nona, biaya perawatannya sangat besar! Saya tak akan bisa membantumu sampai Kakakmu benar-benar sembuh, coba bayangkan! Dari mana kamu akan mendapat uang untuk biaya perawatan Kakakmu ini, huh?" Banyu kembali melontarkan satu pertanyaan yang terasa menyentil Hanna.
Ya, saat ini Hanna tak punya uang cukup banyak untuk biaya Bagas bahkan dia sempat tak memikirkan hal itu. Hanna kini sadar kalau membiayai perawatan Bagas akan menjadi hal yang sangat sulit untuknya, dia tak punya pekerjaan penting yang bisa menyokokngnya untuk mendapat uang dalam jumlah yang banyak.
"Saya tahu saya terlalu naif karena bersikeras menyelamatkan Kakak saya yang sekarat dan hampir tamat, tapi saya memang harus melakukannya! Dia saudara saya satu-satunya! Satu anggota keluarga yang tersisa di hidup saya!" ucap Hanna dalam sekali, Banyu menyimak kejujuran Hanna dan dia masih menetap gadis manis itu masih dengan pandangan yang lekat.
"Oh iya, siapa namamu?" tanya Banyu.
"Hanna," jawab Hanna kembali mencoba menekan emosionalnya.
"Hanna, baiklah! Saya cukup terkesan dengan pengorbananmu terhadap Kakakmu, sebenarnya hari kemarin saya bertaruh untuknya!" akui Banyu, Hanna hanya mengerutkan kedua ujung alisnya, tak mengerti apa maksud perkataan Banyu.
"Maksud tuan, apa?" tanya Hanna penasaran.
"Sebenarnya Kakakmu ini petarung yang hebat hanya saja kemarin dia sedang nahas saja! Saya bertaruh banyak dan sialnya Kakakmu kalah! Seharusnya saya marah pada Kakakmu karena dia sudah membuat saya kalah bertaruh!" jelaskan Banyu.
Hanna baru tahu fakta itu, apa itu artinya bagas adalah joki? Joki pertaruhan seorang bos mafia?
"Hanna! Saya akan membantu Kakakmu sampai dia benar-benar sembuh tapi kamu tahu kan kalau di dunia ini semua hal ada harganya?"
Hanna terdiam, dia mencoba mencerna kata-kata Banyu. Hanna sebenarnya sudah tahu betul siapa Banyu Biru. Semua orang di wilayah pesisir utara kota Jakarta sudah mengenal sosok bengis itu. Kalau saja hari kemarin bukan karena Bagas, Hanna tak akan sudi berhubungan dengan bos mafia seperti Banyu. Tapi mau bagaimana lagi, berkat uluran tangannya Bagas kini masih bisa menyambung nyawanya walau masih dalam keadaan koma.
Hanna hanya berharap kalau harga yang harus dia bayar pada Banyu masih bisa masuk akal.
"Kalau saya mau perhitungan sama kamu, sebenarnya Kakakmu itu sudah berhutang dua kali lipat pada saya!"
"Saya akan berusaha membayarnya tuan," sahut Hanna lalu menunduk lugu.
"Oke, terimakasih atas niat baikmu ini!"
"Katakan saja tuan, apa yang bisa saya lakukan?"
"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Banyu, pertanyaannya itu diluar ekspektasi Hanna tapi kemudian pikirannya menerawang liar. Hanna berpikir kalau Banyu mungkin akan meminta Hanna membayar dengan keperawanannya.
"Be-belum tuan!"
"Apakah kamu punya pasangan saat ini?"
Hanna menyahut dengan gelengan kepala, Hanna tak bisa menentukan perasaannya. Dia pikir saat ini dia harus bersiap menyerahkan keperawanannya pada pria tua itu.
"Bagus!" kata Banyu lalu dia berjalan mendekat membuat Hanna semakin ragu dan ketakutan. Tak ada pilihan untuknya, dia harus menerima takdirnya dan menyerahkan harta paling berharganya itu demi menyelamatkan Kakaknya, Bagas.
Banyu mengangkat wajah Hanna, dia sentuh dagu Hanna dan dengan begitu dia bisa melihat kecantikan gadis perawan itu dari dekat.
"Kamu tahu siapa saya kan?" tanya Banyu, kepulan asap cerutu menyapa Hanna dan rasa gugupnya.
"Iya, saya tahu." sahutnya pelan.
"Tak ada yang berani main-main dengan saya, kamu juga tahu hal itu kan?"
"Iya, saya tahu."
"Berarti kamu harus siap sedia dan tak mengingkari permintaan saya, bagaimana?"
"Iya, saya akan lakukan semampu saya."
"Bagus! Berikan saya seorang anak laki-laki!"
DEG, sudah Hanna duga, permintaan Banyu pasti tak akan jauh dari seputaran pengorbanan keperawanannya. Hanna gamang tapi dia tahu pilihannya hanya satu, 'lakukan' atau Kakaknya akan mati.
"Baiklah!" sahut Hanna mencoba menguatkan hatinya.
"Pinjamkan rahimmu pada Black Northies!"
"Saya akan melakukannya, tapi pastikan kalau hutang-hutang kami lunas dan Kak Bagas bisa mendapat perawatan intensif sampai dia sadar kembali!" Hanna pun tak ragu mengajukan syarat untuk Banyu.
Banyu tersenyum, dia semakin terkesan dengan sikap tegas dan flexible Hanna. Dia senang karena rencananya akan berhasil, dia yakin kalau Hanna bisa menciptkan bibit baik untuk penerus Black Northies nantinya.
"Kalau begitu, persiapkan dirimu! Saya akan atur semuanya, tunggu sampai Julian Sanders menyepakatinya!" kata Banyu.
Wait, Julian Sanders?
Mendengar nama itu Hanna semakin tak mengerti, kenapa harus menunggu kesepakatan seorang Julian Sanders?
"Saya ingin calon penerus Northies dari Julian dan dari rahim perempuan baik sepertimu!"
Hanna berdecak! Julian? Julian Sanders? Apa-apaan ini? Julian adalah pria impian setiap gadis di wilayah kekuasaan Northies. Apakah Hanna termasuk dari gadis-gadis yang memuja dan mendamba seorang mafia kejam yang mempesona itu? Kalau iya, Hanna beruntung, karena dengan begitu dia bisa membayar hutang-hutangnya dan juga berkesempatan untuk bisa lebih dekat dan intim dengan seorang Julian Sanders.