Penyelamatan Kakak yang Sekarat

1205 Words
"Habisin! Habisin! Habisin!" "Kill him! Kill him!" Sorak sorai menggema di sebuah basement gedung tua di salah satu sudut kota. Ada sebuah ring kecil di tengah-tengah kerumunan dan ada seorang pria nyaris sekarat di salah satu sisi ring. Ini hari jum'at, dan saat matahari mulai menyingsing ke ufuk barat pertandingan para street fighter sudah bisa digelar, bahkan petang ini sudah hampir memakan korban jiwa. "Habisin! Habisin!" Para penonton itu tak punya nurani secuil pun saat salah satu petarung mengalami collaps, mereka malah menyulut bara di hati salah satu petarung lainnya untuk menyelesaikan pertandingan ilegal ini dengan akhir yang tragis. Pria yang tengah sekarat itu adalah Bagas. Pria muda berusia sekitar 30 tahunan, dia sudah berdarah-darah, dan mungkin benar kalau saat ini dia sekarat. Dalam pertandingan ilegal seperti ini, para petarung benar-benar mempertaruhkan hidup dan mati mereka di atas ring. Tak ada jaminan keamanan, tak ada tim medis dan semuanya bergantung pada hasil akhirnya saja. Bagas sudak tak mampu mendengar apapun, pandangannya juga kabur, dia hanya menunggu malaikat maut benar-benar menjemputnya. "Aarrrrggghhh! Tolong! Tolong hentikan! hentikan!" Seorang gadis tiba-tiba hadir di tengah-tengah euforia para pria penikmat pertandingan gila ini. Dia menerobos para penonton dan berjibaku menaiki ring menghampiri Bagas yang sudah tak merasakan apa-apa. "Hey Nona! Pertandingannya belum selesai!" kata seorang wasit pertarungan, gadis itu tak peduli, dia terus mencoba memastikan bagas masih bisa bernafas dan masih bisa diselamatkan. "Cukup! Dia sekarat! Dimana letak hati kalian, huh? Selesai! Ini semua sudah selesai!" teriak-teriak gadis manis itu, dia terus memastikan Bagas masih benar-benar memililki kehidupan walau hanya tinggal beberapa persen lagi saja. Huuuu, sorak sorai bernada cemooahan merundungi gadis itu. Mungkin para penonton kecewa karena akhir pertandingan tak benar-benar selesai dan tak sesuai dengan apa yang mereka harapkan. TENG TENG TENG "Pemenangnya adalah, Jhonny!" seru pengadil pertandingan sembari mengangkat tangan pria yang telah melukai Bagas sampai separah ini petang itu. YEEEAAAAH, sorak sorai menyambut lagi dan betapa perihnya hati gadis itu saat seluruh elemen di dalam pertandingan itu bersuka cita sementara dia dan Bagas masih berjibaku tak bisa melakukan apa-apa. "Bertahanlah Kak," gumam gadis itu lalu dia mencoba meminta bantuan. Gadis itu bernama Hanna, adik perempuan Bagas. Dia panik, kalut dan sedih mendapati kondisi Kakaknya saat ini. Bahkan tak ada seorang pun yang benar-benar peduli dengan kondisi Bagas saat ini. "Toloong, toloong bawa Kakak saya ke Rumah sakit Pak, tolong!" ratap Hanna pada perangkat pertandingan tapi sungguh tak ada yang peduli padanya saat itu, benar-benar tak ada satu pun yang peduli. "Nona, kondisinya saat ini bukan tanggung jawab kami ya! Sebelum pertandingan dimulai dia dan lawan beserta penyelenggara pertandingan sudah mengucap kesepakatan secara verbal!" kata seorang pria yang hanya berdiri di hadapan Hanna dan Bagas tanpa memberi bantuan sedikitpun. "Baik, saya mengerti! Tapi tolong, tolong bantu bawa Kakak saya ke Rumah sakit!" kata Hanna dengan mata berderai airmata, dia sudah tak kuasa lagi menahan ketakutan dan kesedihannya. "Sorry, pertandingan selesai dan tugas kami juga selesai!" Hanna tak mampu berbuat apa-apa lagi, benar-benar tak ada yang peduli padanya. Dia hanya meratap di hadapan Bagas yang sudah tak bisa menampakan wajahnya lagi karena sudah berlumuran darah. Hiks, hanya tangis perih yang bisa Hanna lakukan dan dia tak tahu harus berbuat apa, dia hanya menangis membiarkan Kepala Bagas bertumpu di atas pangkuannya. "Kak, bertahanlah! Kamu gak boleh pergi dengan cara seperti ini! Tunggu ya, tunggu aku akan mencari bantuan!" kata Hanna kembali memupuk semangatnya. Dia akan mencari bantuan, dia tak ingin gelap semakin jatuh dan basement itu memang semakin gelap dan sepi. TAP TAP TAP, Hanna berlarian tak karuan, menerjang kegelapan di basement sepi nan menakutkan itu, dia berlari ke luar area mencoba mencari bantuan untuk Bagas yang dia tinggalkan sendiri di dalam arena pertandingan tadi. 'Apapun yang terjadi, aku akan menyelamatkanmu Kak, tolong bertahanlah!' batinnya di setiap derap langkah kaki seribunya. Tak akan ada kata putus asa untuknya saat ini, dia hanya memikirkan keselamatan Kakak laki-lakinya itu. "Tuan! Tuan tolooong!" Tanpa mempedulikan apapun Hanna menahan langkah seseorang yang sedang berjalan ke arah mobilnya terparkir. Hanna berharap pria yang memakai stelan jas rapi serba hitam itu sudi membantunya saat ini. Hanna mendahului langkah pria setengah baya itu, dan seketika mata pria itu tertuju pada gadis manis yang sudah berlumur darah dari Kakaknya itu. "Tuan, apa anda melihat pertandingan tadi? Apa anda salah satu penonton?" tanya Hanna lalu dia memasang mimik muka memelas di hadapannya. Dan setelah agak mengangkat topi fedoranya, ternyata itu Banyu Biru, pimpinan tertinggi Black Northies. "Ya, saya melihatnya, ada apa?" tanya Banyu lalu dia perhatikan lagi sosok Hanna yang kini agak mulai ketakutan melihat aura Banyu. "To, toloong, anda berkenan kan menolong Kakak saya? Dia sekarat, tolong selamatkan hidupnya tuan!" pinta Hanna to the point. "Sebentar lagi dia tamat, biarkan saja Kakakmu meregang nyawa! Percuma, kelihatannya dia sudah tak punya harapan hidup lagi!" BRUK, mendengar tanggapan Banyu, Hanna langsung ambruk bahkan dia berlutut di kaki Banyu. Hanna sudah tak peduli pada apapun juga dia hanya ingin memastikan Bagas masih bisa diselamatkan walau harapan hidupnya hanya tinggal beberapa persen lagi. "Gak! Dia masih bisa bertahan! Tolong Tuan, kasihani kami, tolong biarkan Kakak saya menumpang di mobil anda sampai ke Rumah sakit terdekat, tolonglah!" mohon Hanna dan dia benar-benar sudah berlutut tepat di kaki pria paruh baya itu. Entah apa yang Banyu rasakan saat ini melihat gadis manis itu memohon sampai berlutut demi keselamatan Kakaknya. Mungkin saja Banyu terenyuh karena pada akhirnya dia tampak setuju lalu mengisyaratkan dua anak buahnya untuk membawa Bagas yang tertinggal di dalam ring. "Bangunlah!" kata Banyu lalu dia menarik tangan Hanna untuk bangkit, Hanna perlahan menangkat wajahnya. "Anda mau menolong?" yakinkan Hanna. "Bangunlah!" perintah Banyu, Hanna pun bangkit dari posisi terendahnya saat ini. Sepertinya Banyu merasa tersentuh melihat betapa getirnya Hanna mencoba menyelamatkan Bagas. Banyu mungkin saja terkesan dengan aksi heroik Hanna, sejak tadi Banyu juga tak melepaskan pandangannya dari sosoknya. "Apa saya hanya perlu mengantarnya saja?" tanya Banyu, Hanna mengangguk, "Iya, tuan." "Terus, kamu sudah memiliki biaya untuk perawatan Kakakmu itu?" tanya Banyu lagi, dan ya! Hanna tak berpikir sampai sejauh itu. Dia tak memiliki cukup uang saat ini untuk biaya perawatan Bagas nanti tapi Hanna tak peduli! Dia hanya akan memastikan kalau Kakaknya akan segera diselamatkan. "Terimakasih banyak sebelumnya Tuan, terimakasih sudah mau berkenan membantu saya membawa Kakak saya ke rumah sakit." ucap Hanna penuh kesopanan, sekali lagi Banyu tatap Hanna dari ujung kaki ke ujung kepala. "Hey, apa perlu saya membiayai perawatan Kakakmu itu sampai sembuh?" tawarkan Banyu, Hanna ingin sekali meng'iya'kan tawaran itu tapi dia jadi agak ragu, Hanna tahu kalau hal itu pasti ada harganya. "Te-terimakasih Tuan, tapi ...." "Saya akan pastikan Kakakmu sembuh!" sambar Banyu, Hanna sangat berharap tapi dia masih agak ragu karena dia kini menyadari kalau Banyu sebenarnya bukan orang sembarangan. 'Apakah ini Banyu Biru? Pimpinan tertinggi Black Northies?' batin Hanna lalu dia perhatikan Banyu sekali lagi dan dia baru menyadarinya. 'Astaga! Ternyata benar, aku baru sadar kalau dia Banyu! Huh, apa setelah ini aku akan berurusan dengan dunia mafia? Tapi dia benar-benar mau membantu, apa yang harus aku lakukan Tuhan?' batinnya lagi, saat ini Hanna memang jadi sedikit skeptis saat sadar kalau yang dia mintai tolong itu adalah ketua gangster tapi semuanya sudah terlanjur dan pada akhirnya Hanna pun pasrah dengan apapun permintaan Banyu nantinya. Yang paling Hanna pikirkan saat ini hanyalah kesembuhan Kakaknya, Bagas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD