langit seakan runtuh dan menimpa kepalaku, inilah patah hati terbesar di dalam hidupku aku kehilangan cinta pertamaku , cinta yang tulus tanpa pamrih,memberi tanpa di minta , sungguh ini terlalu berat untuk ku
dear bapak
kau cinta pertamaku, cinta yang tak akan pernah tergantikan
jika ada kata yang lebih dari terima kasih mungkin itu sudah aku ucapkan
terimakasih karena kau mencintaiku sepenuh hati
terimakasih karena kau selalu menjagaku
terimakasih karena dari keringat mu aku bisa hidup
cintamu takkan pernah tergantikan oleh siapapun
kini kau pergi meninggalkan aku
tapi kini kau pasti bahagia karena bertemu dengan belahan jiwa mu
bapak, mamah terimakasih atas segala pengorbanan dan kasih sayang kalian
semoga kita bertemu lagi di surganya Alloh
aku menyayangi kalian,maaf jika selama ini aku belum bisa membahagiakan kalian
Tak terasa sudah seminggu semenjak bapak meninggal aku masih belum percaya kalau bapak sudah tidak ada
tok...tok...tok
"teteh,, ada apa?"
" maaf teteh ganggu, di tunggu di bawah yak ada yang harus di bicarakan"
"iya teh"
akupun mengikuti langkah teh Lita menuju ruang tamu , di sana ada a Heru dan mas Egi sedang mengobrol
" duduk neng" ucap a Heru
aku pun duduk di sebelah teh Lita
" Neng inikan udah tujuh hariannya bapak, mulai besok neng ikut mas Egi pindah"
" aa ngusir neng, apa karena sekarang udah gak ada bapak terus aa gak mau ngurusin neng" lirih ku
"Neng,, neng kan udah nikah neng harus ikut suami"
" Tapi kita bisa tinggal disini kan"
" Neng, mas Egi sama neng kan sama-sama kerja kalau dari sini jauh kalian cape di jalan"
" kemarin waktu ada bapak neng bolak balik kerja dari sini gak apa-apa"
tak terasa air mataku jatuh tak tertahankan
" kalau neng pergi dari sini terus yang ngurus rumah siapa ??
teteh sama aa gak niat menjualnya kan ?? " selidikku
" astaghfirullah hal'adzimm, gak neng , aa gak mikir kesana"
" neng dengerin teteh, neng itu sekarang seorang istri dan seorang istri wajib ikut suaminya" ucap teh Lita seraya merangkul bahu ku
"terus rumah ini gimana"
"aa yang akan pindah kesini, rumah aa mau di sewakan ke orang lain"
akupun mengangguk
****
Hari ini aku pun ikut pindah bersama mas Egi
aku kira akan ke rumah ayah dan bunda, ternyata mas Egi tinggal di apartemen
tunggu apartemen ini, setahuku apartemen mahal tidak sembarang orang bisa membelinya kecuali mereka orang kaya, pengusaha, CEO , sedangkan mas Egi cuma karyawan HRD, aku tidak yakin di mampu membeli salah satu unit apartemen disini atau dia sewa yak
" masuk"
"iya"
aku semakin tercengang bahkan di dalam apartemen ini terlihat sangat mewah, aku semakin bingung apa benar dia cuma karyawan HRD, atau dia korupsi,ihhh aku bergidik ngeri masa baru nikah beberapa hari malah nanti aku di tangkap polisi
" kamu ngapain bengong disitu, ayok masuk " suara mas Egi membuyarkan lamunanku
" ehmm .... aku tidur dmn??? " ucapku
" disini cuma ada 3 kamar, itu kamar utama, itu kamar tamu dan yang itu ruang kerjaku, terserah kamu mau tidur dimana , mau sekamar dengan aku boleh, mau tidur di kamar tamu juga boleh" ucap nya sedikit ketus
" maaf mas jika di izinkan boleh aku tidur di kamar tamu" ucapku menunduk
" aku sudah bilang terserah kan, jadi gimana kamu aja" ucapnya seraya berlalu meninggalkan aku dan masuk ke kamarnya
aku masuk ke kamar tamu, begitu luas dan nyaman aku ingin bersih-bersih setelah itu aku akan memasak untuk makan malam
tok...tok.. tok... aku mengetuk pintu kamar mas Egi
" mas,,, aku udah masak kita makan"
"iya"
" maaf aku cuma masak yang ada di kulkas aja"
" kenapa gak bilang kalau mau masak, stok bahan di kulkas tinggal dikit, tadi di jalan kita bisa belanja dulu"
" maaf , tadi aku kira kita akan ke rumah bunda"
" ya udah besok kita belanja"
aku hanya mengangguk
mas Egi sedang duduk di ruang tv, dia menyalakan tv tapi tidak di tonton dia malah asyik dengan gawainya
" mas"
" heemmm"
" sekarang bapak kan udah gak ada, mas boleh menceraikan aku" ucapku tertunduk
" apa??" sorot mata mas Egi begitu tajam menatap ku
" aku gak nyangka sepicik itu pemikiran kamu"
" a-aku"
" kamu itu egois neng"
" egois,,, ini demi kebaikan kita" ucapku dengan nada tinggi
" kebaikan kita atau kebaikan kamu" mas Egi tetawa sinis
" mas kita gak tau kedepannya gimana,, aku tidak yakin dengan pernikahan kita"
" kamu egois neng, kamu cuma mikirin diri kamu sendiri, perasaan kamu sendiri, kamu gak pernah nanya perasaan ku gimana??"
aku terdiam
"kamu mikirin gak gimana perasaan bunda, ayah, a Heru, teh Lita , mikirin itu gak" dengan nada tinggi dia berbicara padaku
" kamu perempuan paling egois yang pernah aku kenal neng" dia beranjak keluar dari apartemen
sepertinya mas Egi begitu kecewa dengan ku, apa aku memang seegois itu
****
pagi ini aku menyiapkan sarapan, kamipun sarapan dalam diam,,
" selesai sarapan kita bicara" ucapnya ketus
aku hanya mengangguk tanpa menjawab
" ini surat perjanjian kita, kamu boleh baca dulu mungkin ada yang tidak setuju atau ingin menambahkan "
aku membaca dengan seksama, beberapa point' penting k*****a
1.waktu menikah satu tahun
2. kita tidur di kamar terpisah
3.tidak mencampuri urusan masing-masing
4.suami tetap memberikan nafkah lahir
" mas aku boleh menambahkan" tanyaku
"silahkan"
"selama aku menjadi istri mas aku akan mengurus semua kebutuhan mas, mulai dari menyiapkan baju, makan dan keperluan lainnya, kecuali...."
" kecuali kewajiban mu melayaniku di atas ranjang" sinisnya
aku menunduk
" tenang saja aku tidak akan menyentuh mu kecuali kamu mengijinkan, ada lagi yang di tambahkan??"
" ehmmm,,, kita kan satu kantor, bisakah kita tidak dulu bilang kalau kita sudah menikah???"
" baik kalau itu mau kamu,, mungkin kamu mau mencari orang yang mencintai kamu dan juga kamu mencintainya" ketusnya
" bukan begitu,, aku baru masuk kerja beberapa bulan dan mereka taunya aku belum menikah, kalau tiba-tiba mereka tau aku menikah aku takut di gosipkan yang tidak-tidak" lirihku
" terserah kamu saja"
" hari ini aku mau masuk kerja "
" ini kunci motor kamu, gak mungkin kita berangkat bareng kan nanti ada gosip yang tidak-tidak" sindirnya
aku hanya membuang nafas kasar,, rasanya cape kalau harus meladeni mas Egi ini terlalu pagi
"aku pergi duluan yak mas" akupun pergi dan mencium tangan mas Egi
walau bagaimanapun dia tetap suamiku, aku harus menghormatinya
*****
" Karina " teriak Keyla dan Bella
aku menoleh dan kamipun berpelukan
" apa kabar???"
" Alhamdulillah baik, kalian gimana kabarnya??"
"Alhamdulillah" ucap mereka serempak
" maaf yak, kita gak nengokin bapak kamu juga tidak melayat kami turut berdukacita yak"
" tidak apa-apa, seharusnya aku yang minta maaf keseringan gak masuk kantor jadi kalian banyak kerjaan"
" kaya ama siapa aja deh"
" yuk masuk"
" aku ke ruangan HRD dulu ketemu Bu nadia"
" lho ngapain??"
" aku kan cukup lama gak masuk, aku takutnya aku udah di pecat" lirih ku
" semoga aja enggak yak"
" aamiin"
tok...tok..tok..
" masuk" ucap Bu nadia
akupun masuk keruangan Bu nadia dengan cemas
" pagi Bu"
" pagi, Karina kamu udah masuk kerja?"
"i-iya Bu"
" ada apa??"
" maaf Bu kemarin saya terlalu lama mengambil cuti,, saya mau menanyakan, ehmmm saya tidak di pecat kan bu?"
"yak ampun Karina , kirain ada apa, kamu gak di pecat kok , beruntung perusahaan ini cukup loyal kepada karyawan tidak mempermasalahkan kalau mau ambil cuti asal alasannya jelas apalagi kamu cuti karena bapak kamu meninggal, maaf saya tidak sempat melayat turut berdukacita yak Karina " sendu Bu nadia
" terimakasih Bu" lirihku
" kamu boleh kembali keruangan kamu, selamat bekerja"
" terimakasih Bu, saya kembali keruangan saya dulu"
tiba-tiba aku teringat sesuatu
" maaf Bu"
" ya Karina ada apa??"
" ibu kenal dengan pak Egi??"
" Egi,,," Bu nadia seperti mengingat-ingat
"dia dari divisi mana???"
"HRD Bu"
" sepertinya di HRD tidak ada yang namanya Egi, mungkin kamu salah divisi"
" ohh, iya Bu mungkin, terimakasih Bu saya kembali bekerja dulu"
" ohh iya silahkan"
keluar dari ruangan Bu nadia aku terus berpikir" sebenarnya mas Egi dari divisi mana yak ?"
"heyy pulang dari ruangan Bu nadia kenapa jadi kaya orang bingung? kamu gak di pecat kan??" tanya Keyla
" Alhamdulillah enggak kok"jawabku
" terus kenapa??"
" ehmm aku mau nanya sesuatu key"
" nanya apa?"
"Ehmm"
"kalian lagi ngobrolin apa?" tanya Bella
" kamu kenapa bel?? kaya gak semangat gitu"
" kamu gak masuk kerja hampir seminggu jadi gak tau gosip deh" ucap Bella dengan cemberut
" kamu itu,, emang gosip apa sihh yang bikin Bella cemberut" ucapku
" ehhhmm, gosipnya CEO kita udah nikah "
" Nikah?"
" iya, hilang deh kesempatan aku " sedih Bella
" kan aku udah bilang kalau mimpi itu jangan ketinggian pas jatoh sakit nya luar biasa" sindir Keyla
" ihh key kan berharap gak apa-apa"
" iya harapan palsu" ketus Keyla
" udah gak usah berantem, kerja lagi yuk ntar di marahin sama pak ketu " kekeh ku
" ehh Karina, tadi katanya mau nanya, nanya apa?"
" ehmm gak jadi aku lupa " jawabku sambil nyengir
****
"assalamualaikum , mas Egi kayanya belum pulang, aku bersih-bersih dulu nanti baru masak buat makan malam" batinku
selesai bersih-bersih aku menuju dapur ingin memasak tapi aku lupa kalau belum belanja,
sepertinya ada yang masuk rumah mungkin mas Egi
" assalamualaikum"
" bunda" aku mencium tangan bunda dan bunda pun memelukku
" apa kabar sayang?"
" Alhamdulillah baik bunda, bunda sendiri apa kabar?"
" Alhamdulillah sehat, ohh iya kamu lagi apa?"
" tadinya mau masak bunda, tapi neng lupa kalau belum belanja "
" yak udah kita belanja yuk, nanti kita masak "
" Bunda tunggu di sini aja, biar neng yang belanja, bunda kan baru sampai tunggu mas Egi aja mungkin sebentar lagi pulang"
" gak apa-apa bunda ga cape kok, justru bunda seneng akhirnya ada yang nemenin bunda belanja" ucap bunda bahagia
" yak udah neng ganti baju dulu yak Bun sambil bawa tas"
aku pun bergegas untuk mengganti baju dan membawa tas
" neng, kok masuk ke kamar tamu"
" ehmm i-tu bunda"
" baju neng di kamar tamu Bun" tiba-tiba mas Egi datang
" kenapa baju neng di kamar tamu, kalian gak satu kamar ?"
" bukan gitu bunda, kitakan nikahnya mendadak, pindah kesini juga mendadak jadi mas belum sempat ganti lemari, lemari mas penuh bunda jadi sebagian baju dan barang-barang neng di taruh di kamar tamu" mas Egi menjelaskan
" udah biasa boong kali yak, jadi lancar banget boongnya" batinku
" ohh kirain bunda kalian tidur terpisah"
" yak enggak lah Bun, iyakan sayang " ucap mas egi sambil merangkul bahu ku
" cie,, bisa juga mas romantis, yuk neng kita belanja " kekeh bunda
" gak usah nyari kesempatan" ketus ku sambil memukul lengan mas Egi
mas Egi cuma tersenyum
" mas mau kemana? " tanya bunda
" nganter bunda sama neng belanja "
" wahhh, asyikk akhirnya mas mau juga nemenin bunda belanja "
kami pun berjalan menuju supermarket untuk berbelanja kebutuhan di apartemen.