POV Karina
"Saya terima nikah dan kawinnya Karina Larasati binti bapak Rohana dengan maskawin tersebut dibayar tunai " ucap mas Egi tegas dengan satu tarikan nafas
" bagaimana para saksi sah" tanya pak penghulu
"sah" jawab semua serempak
"Alhamdulillah"
pak penghulu melapalkan do'a-do'a untuk kami sebagai pengantin
" ya Alloh hari ini aku telah sah menjadi istri dari laki-laki yang di pilih oleh bapak untuk menjadi suamiku, semoga apapun kedepannya nanti tidak akan ada penyesalan untuk ku" batin ku
aku dan mas Egi menandatangani dokumen pernikahan kami, kali ini kami memang menikah secara agama karena memang mendadak, dan om erwin bilang dia yang akan mengurus dokumen untuk nikah secara negara agar kami bisa mendapatkan surat nikah.
" silahkan kalian memasangkan cincin nikah" ucap pak penghulu
kami pun saling memasangkan cincin nikah kami
" silahkan istri mencium tangang suami, dan suami mencium kening istri" ucap pak penghulu lagi
kami terlihat canggung, aku menatap bapak yang tersenyum bahagia dan mengangguk, akupun mencium punggung tangan mas Egi dan mas Egi mencium kening ku.
aku tidak tahu apa yang aku rasakan saat ini, semoga mas Egi akan menjadi suami seperti yang di harapkan bapak.
Sekarang kami sungkem kepada bapak dan orang tua mas Egi
" Alhamdulillah mas sudah menjadi suami neng, bapak nitip neng jaga dia sayangi neng" lirih bapak
" mas janji akan menjaga neng seperti bapak menjaga neng " tegas mas Egi
" Neng, nurut ke mas Egi nya, mas Egi ayeuna suami neng, neng Kedah nurut (neng, nurut ke mas Egi yak, sekarang mas Egi suami neng, neng harus nurut ke mas Egi)" ucap bapak terbata
aku hanya menganggukan kepalaku dan tak berhenti menangis
" mas, sekarang mas sudah menjadi suami, neng sudah menjadi tanggung jawab mas, jaga, sayangi neng dan jangan pernah sakiti neng" ucap om erwin
" iya yah"
" neng, sekarang neng juga anak ayah kalau mas Egi nyakitin neng bilang sama ayah, ayah yang akan membalas nya"
akupun mengangguk
" mas, bunda bahagia sekali karena mas sudah menikah dengan wanita terbaik menurut bunda,, jaga dan sayangi neng ya seperti mas jaga bunda dan mbak Risa" ucap Tante Widya
Tante Widya merentangkan kedua tangannya akupun memeluk Tante Widya
" sayang anak bunda, sekarang neng juga anak bunda, mulai sekarang neng panggil ayah sama bunda yah" ucap Tante Widya eh bunda
akupun mengangguk
" ya Alloh, betapa aku jahat karena membohongi keluarga ku dengan pernikahan ini" batin ku
kami pun melanjutkan acara sungkeman ke a Heru dan teh Lita
" mas ajakin neng pulang yak, kalian cape istirahat di rumah, bawa neng ke rumah yak mas" ucap bunda
" neng mau disini aja bunda, mau nemenin bapak "
"bunda ngerti sayang, tapi kamu juga perlu istirahat,, setelah rangkaian acara Pernikahan kalian, di sini ada bunda,ayah, teh Lita, a heru, jadi neng gak perlu khawatir"
" yang di bilang bunda bener neng, kalian pulang aja di sini ada ayah, mas bawa neng ke rumah yak, kalian istirahat" ucap ayah
" Neng mau pulang ke rumah bapak aja, gak apa-apakan?" jawab ku
"yak udah kalian pulang ke rumah bapak aja, nanti bajunya mas biar Han yang anterin ke rumah bapak"
"iya"
" bunda janji yak kalau ada apa-apa harus kabarin neng"
" iya bunda janji"
Dengan terpaksa akupun pulang meninggalkan rumah sakit,
sepanjang perjalanan kami hanya diam, tidak membicarakan apapun, sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar karena sudah ingin bersih-bersih,
selesai membersihkan diri aku keluar dari kamar, aku melihat mas Egi sibuk dengan gawai nya
" ehmm,, mas gak gerah??"
mas Egi mendongak ke arah ku tanpa menjawab pertanyaan ku lalu sibuk lagi dengan gawai nya
" kalau mas mau bersih-bersih mas boleh pake kamar mandi aku atau kamar mandi tamu"
tanpa menjawab mas Egi melengos pergi ke kamarku dengan kopernya
" tunggu kayanya mas Egi gak bawa koper tadi?? kapan ada yang anter ke sini yak, ahh sudahlah aku masak aja, jujur aku laper dan mungkin mas Egi juga sama laper" batinku
akupun bergegas masuk dapur dan menyiapkan bahan masakan yang masih tersisa di kulkas.
mas Egi pun keluar dari kamar, dia terlihat segar karena habis mandi
" ehmmm, mas aku udah masak kita makan" ucapku
lagi-lagi tanpa menjawab mas Egi pergi ke dapur dan duduk di meja makan
" nih orang kenapa sih, dari tadi di tanya ga jawab " kesalku
" mas mau di ambilin" tanyaku
lagi-lagi mas Egi tidak menjawab dan menyendok nasi dan lauknya sendiri lalu makan, aku semakin kesal sebenarnya apa maunya.
selesai makan aku coba menawarkan untuk membuatkan teh, dan lagi-lagi mas Egi tidak menjawab.karena aku kesal akhirnya aku bertanya
"mas maunya apa sih, dari tadi di tanya gak di jawab, kalau mas tidak mau menikah dengan ku kenapa mas menyanggupinya??" ucapku kesal
mas Egi berhenti melangkah dan menatap ku tajam
" karena aku menyayangi orangtuaku dan juga bapak " ucapnya ketus
" kamu tau, jika aku tidak menyayangi mereka aku tidak akan pernah mau menikah dengan wanita yang hanya ingin main-main dengan pernikahan" kesalnya
" aku gak main-main"
" kamu bilang gak main-main, terus apa maksudnya dengan pernikahan kita satu tahun?"
"aku gak yakin pernikahan ini akan bertahan lama"
"bagaimana pernikahan ini akan bertahan lama jika kamu di awal saja sudah ragu dan pesimis"
aku menggigit bibir bawahku menahan isakku
"sekarang aku tanya apa perjanjian ini hanya waktu pernikahan saja atau ada yang lain?"
aku terisak lebih dalam
" jawab neng, nangis gak akan menyelesaikan masalah"
" apa aku salah hanya ingin mempertahankan harga diriku, jika pernikahan kita tidak berhasil setidaknya aku masih punya harga diri" isakku dengan derai air mata
" jadi masih ada yang lain, oke kamu bikin perjanjian pernikahan kita, aku akan setuju dengan apapun yang ada dalam perjanjian kamu"
mas Egi terlihat sangat marah, dia pergi meninggalkan aku sendirian di rumah
"Bapak apakah dia akan sepertimu yang selalu menjaga ku, belum genap satu hari menikah kami sudah bertengkar hebat, bagaimana kelanjutan rumah tangga kami nanti" aku terus menangis memeluk foto bapak dan mamah,, entah jam berapa aku tertidur mungkin karena aku cape menangis akhirnya tertidur
aku terbangun kulihat jam sudah jam 2 dini hari,, aku teringat mas Egi apa dia tidak pulang kesini atau dia pulang k rumah orang tuanya, perlahan aku bangun dan keluar kamar ternyata mas Egi tidur di sofa ruang tamu, akupun kembali ke kamar membawakan selimut ku tutupi tubuhnya dengan selimut aku memperhatikan wajahnya,,
"suami, dia suami ku akankah kita bahagia, akankah kita seperti orang tua kita,, rumah tangga seperti apa yang sedang kita jalani, apakan janjimu untuk menjaga dan menyayangi ku itu hanya sekedar ucapan " aku berbicara dengan orang yang tengah tidur
aku beranjak dari ruang tamu dan masuk ke kamarku
*****
POV Egi
sebenarnya aku tidak tertidur saat neng keluar dari kamarnya, hanya saja ini sudah terlalu malam jika kami bertengkar,, aku tidak menyangka jika neng menyelimuti ku dan aku mendengarkan semua ucapan dia
jika kamu menganggap aku tidak benar-benar ingin menjagamu aku akan buktikan kalau aku tidak akan melepaskan kamu, persetan dengan Pernikahan satu tahun mu itu neng, aku akan membuatmu tidak ingin berpisah denganku akan kupastikan itu.
bangun tidur aku sudah mendengar kegiatan di dapur sepertinya neng sedang memasak untuk sarapan
aku beranjak ke kamar mandi untuk mandi dan segera menunaikan ibadah sholat subuh
***
"sarapannya udah siap mas"
"iya"
kami makan dalam diam tidak ada pembicaraan apapun sampai akhirnya dering hp ku menggema
" assalamualaikum a"
" wa'alaikumsalam neng, maaf aa mengganggu"
" ada apa a? bapak baik-baik saja kan?"
"Ba-pak ,,,, kritis neng "
" apa, neng ke rumah sakit sekarang"
aku pun menutup telpon dari a Heru
" ada apa??"
" bapak kritis mas" lirihku
" yak udah kita kesana sekarang, kunci motor kamu mana ?"
" hehhh,,, apa??"
" kunci motormu mana?? ini jam kantor jadi jalanan macet, kalau pake mobil lama nyampenya"
" ohh iya,, aku bawa dulu ada di kamar"
kami pun bergegas rumah sakit
" pegangan"
" hehhh apa?"
" pegangan, kamu mau jatuh?"
"gak usah nyari kesempatan" ketus ku
" hmmm,,, maaf yak saya gak nyari kesempatan kalau kamu jatuh yang repot siapa?? yang di salahin siapa? lupa kalau saya suami kamu?" jawab mas Egi tidak kalah ketus
" iya ini aku pegangan"
" nurut ke apak susahnya"
****
"gimana keadaan bapak a??"
a Heru membuang nafasnya kasar
"sedang di tangani dokter neng, kita berdo'a semoga bapak baik-baik saja"
tanpa di komando air mata ku meluncur tak tertahankan
ceklek pintu ICU terbuka
" maaf kami sudah melakukan yang terbaik tapi Tuhan berkehendak lain bapak Rohana sudah meninggal" ucap dokter dengan tertunduk lesu
" enggak dokter bohongkan " ucapku terisak
"maaf"
akupun histeris dan berlari masuk ruang ICU ,, aku melihat tubuh bapak membeku dan sudah tertutup selimut rumah sakit
aku mencoba membuka selimut yang menutupi tubuh bapak, aku mengguncangkan tubuh bapak
" bapak cuma tidur kan,, ayok bangun pak" aku terus menangis memeluk tubuh bapak yang sudah dingin
" istighfar neng,, jangan gitu kasian bapak " ucap a Heru seraya memeluk ku
aku berontak
" A, bapak cuma tidur , bapak lagi istirahat" ucap ku terbata
" Neng jangan kaya gini kasian bapak, sekarang bapak udah gak sakit lagi, bapak udah tenang, bapak ngumpul sama mamah di surganya Alloh " ucap teh Lita tak kalah pilu
aku terus menangis tanpa aku sadari aku memeluk mas Egi .