Bab 14

1577 Words
Suara adzan subuh berkumandang membangunkan kami, kami tidur di luar ruangan ugd, semalam a Heru menyuruh aku dan teh lita untuk pulang tapi kami menolak, takut terjadi sesuatu pada bapak dan kami tidak ada. begitupun mas Egi dia juga ikut menjaga bapak disini "neng, aa sama teteh sholat dulu yak, neng sama Egi tunggu di sini biar giliran" ucap a Heru " iya a" jawab ku aku dan mas Egi menunggu giliran sholat, dan kami hanya diam aku memberanikan diri bicara dengan mas Egi , Karena jujur sejak kita bicara di mall aku sedikit segan dengannya. "mas" "iya" mas Egi menjawab tanpa menoleh ku. "bisa kita bicara setelah sholat subuh?" " boleh" jawab mas Egi singkat tak lama a Heru dan teh Lita sudah kembali. " Egi, neng kalian sholat dulu terus sarapan yak, aa sama teteh udah beli sarapan tadinya mau sekalian beli buat kalian tapi kalian belum sholat jadi takut keburu dingin gak enak " ucap a Heru " gak apa-apa a, nanti Egi sama neng nyari sarapan aja, atau aa sama teteh mau nitip beli apa biar sekalian" jawab mas Egi " gak usah, makasih" ucap a Heru " yak sudah kami sholat dulu yak a, kalau ada apa-apa hubungin neng" " iya" kamipun berjalan menuju musholla rumah sakit selesai sholat kami mencari tempat sarapan juga karena aku ingin membicarakan sesuatu dengan mas Egi. setelah sarapan kami pun memutuskan untuk pergi ke taman dekat rumah sakit untuk mengobrol, kami memilih bangku paling pojok untuk berbicara supaya tidak terlalu banyak orang yang berlalu-lalang. " ada apa??" tanpa basa-basi lagi mas Egi berbicara " a-aku,,,a-aku" aku sedikit gugup untuk berbicara " kamu kenapa?" ketus mas Egi " bisa gak sih ngomongnya gak usah ketus gitu, aku lagi nyusun kata-kata jadinya ngeblank" " kamu yang ngeblank kenapa jadi nyalahin aku?" "bukan nyalahin, tapi a-aku takut" lirih ku " aku gak nyakitin kamu " "i-iya ta-tapi..." " udah sekarang intinya aja kamu mau ngomong apa?, kamu gak lupa kan kita harus segera ke rumah sakit" " iya,, a-aku mau kita nikah " " apa???" " mas gak budeg kan" kesal ku " kamu yakin??" aku mengangguk "cuma satu tahun mas" " maksud kamu???" " kita menikah cuma satu tahun, setelah itu kita akan berpisah??" ucapku sendu mas Egi geleng-geleng, aku gak tau apa yang dia pikirkan " kamu gila neng, kamu pikir nikah itu main-main hah???" " aku tau mas, aku juga ingin menikah seumur hidup sekali, makanya aku menolak perjodohan ini" " terus sekarang kenapa tiba-tiba kamu setuju" " aku belum bisa bahagiain bapak, mas bilangkan jangankan di jodohkan orang tua mas minta nyawapun akan mas berikan,, itu juga yang ingin aku lakukan jika bisa aku menggantikan posisi bapak aku rela mas hiks,,hiks,," ucapku terisak " bapak selalu bilang bapak ingin melihat aku menikah, jika memah perjodohan ini membuat bapak bahagia aku rela mas" mas Egi mengusap wajahnya frustasi " aku tau, aku egois memikirkan nasibku saja tanpa memikirkan nasibmu mas, ini demi kebaikan kita" " kebaikan yang mana neng, kita pura-pura nikah? apa baiknya buat kita? kamu tau jika orang tua kita tau kita hanya pura-pura menikah mereka pasti akan kecewa" jawab mas Egi kesal " kita gak pura-pura nikah, kita nikah beneran" " gak tau deh mas harus ngomong apa?? kita ke rumah sakit aja, nanti kita bicarakan lagi" mas Egi melengos meninggalkanku, sepanjang perjalanan kami diam setelah hampir sampai ke UGD aku mencekal lengan mas Egi dan berbicara "tolong mas bantu aku, tolong mas pikirkan" ucapku penuh harap mas Egi hanya melepaskan cekakan tanganku dan berlalu meninggalkan aku. aku menarik nafas panjang, aku tau ini berat aku jg tidak ingin seperti ini. " apa ada perkembangan kondisi bapak" teh Lita dan a heru menggeleng "neng sama teh Lita pulang dulu aja, ganti baju terus istirahat, biar aa nunggu disini" " neng gak mau pulang, neng mau disini aja" "tapi...." ucap a Heru tersendat karena teh Lita menepuk bahu a Heru "neng tuh keras kepala gak bisa di bilangin,,, teteh aja yang pulang sekalian mau liat anak-anak nanti siang teteh balik lagi kesini bawa baju ganti buat kalian" " ya udah teh makasih ya" " Gi, kamu juga kalau mau pulang boleh" " iya a, aku pulang dulu mau ganti baju sekalian nganter teh Lita, insyaallah nanti siang Egi kesini lagi" "gak usah gi, semaleman kamu disini mending kamu istirahat aja di rumah" " gak apa-apa a, insyaallah Egi nanti kesini lagi" " ya udah makasih ya gi buat semuanya" akhirnya teh Lita dan mas Egi pun pulang " a, neng boleh nanya??" " iya, kenapa??" " aa sama teh Lita tahu kalau neng di jodohkan sama mas Egi?" a Heru menarik nafas panjang " tahu" aku menoleh ke arah a Heru "kita di kasih tau pas saat bapak keluar dari rumah sakit yang terakhir kemarin, bapak bilang kalau bapak ingin menjodohkan neng sama Egi" " terus tanggapan aa gimana??" " awalnya aa juga kaget dan menanyakan kepada bapak kenapa neng harus di jodohkan, setelah mendengar alasan bapak aa sedikit setuju dengan bapak" " menurut aa mas Egi itu gimana??" " aa memang jarang sekali bertemu dengan Egi hanya beberapa kali, tapi aa rasa dia laki-laki yang baik, bertanggungjawab, sayang keluarga" "menurut aa apa dia pantas jadi suami neng???" " aa gak tau dia pantas atau tidak, tapi jika di lihat sekilas dia sudah pantas jadi seorang suami" " assalamualaikum " ucap om erwin dan Tante Widya serempak " wa'alaikumsalam" ucapku dan a Heru serempak kamipun mencium punggung tangan mereka dengan takdzim " gimana keadaan bapak?" tanya om erwin " belum ada perkembangan om" jawab a Heru " neng" Tante Widya merentangkan kedua tangannya aku pun memeluk Tante Widya erat sungguh nyaman sekali "kamu sudah makan nak" " sudah Tante" ceklek pintu terbuka bersamaan dengan keluarnya dokter kamipun berdiri dan menanyakan keadaan bapak " gimana dok keadaan bapak saya" " sudah stabil tapi belum sadar, begini saya menyarankan pak Rohana untuk di pindahkan ke rumah sakit yang lain" " kenapa dok, apa terjadi sesuatu???" " tidak, tapi kebetulan saya ada seminar di luar kota selama seminggu dan itu tidak memungkinkan kalau pak Rohana harus di tangani oleh dokter umum" ucap dokter " baik dok akan akan urus administrasinya untuk pemindahan bapak saya" " baik kalau begitu saya akan membuat surat rujukan nya " " terima kasih dok" " a, biar om yang urus semuanya kebetulan om punya temen dokter ahli dalam kita pindahkan bapak ke rumah sakit dia " " terimakasih om maaf merepotkan" kamipun memindahkan bapak ke rumah sakit pilihan om erwin, " a, kenalin ini dokter Galuh dia dokter spesialis ahli dalam" ucap om erwin " saya Heru dok anaknya pak rohana, mohon lakukan yang terbaik untuk bapak saya" ucap a Heru " insyaallah, saya akan melakukan yang terbaik " a Heru dan dokter Galuh bersalaman sampai sekarang bapak masih belum siuman, " assalamualaikum" ucap teh Lita dan mas Egi berbarengan " wa'alaikumsalam" jawab kami serempak kami terus menunggu perkembangan bapak, tiba-tiba suster dan dokter Galuh sepertinya panik " ada apa, apa yang terjadi dengan bapak ?" batin ku "pak Erwin bisa bicara sebentar??"ucap dokter Galuh om Erwin dan dokter Galuh berbicara serius, om erwin sesekali mengangguk entah apa yang mereka bicarakan, semoga tidak ada yang serius dengan bapak. " ada apa om, bapak baik-baik saja kan?" ucap a Heru panik " maaf tapi om harus bicara ini, bapak sudah sadar" " Alhamdulillah" jawab kami serempak "tapi" om erwin menjeda perkataannya " tapi apa om" tanyaku " dokter Galuh bilang, kondisi bapak sudah sangat parah, dan semua anggota keluarga di bolehkan masuk untuk melihat bapak, karena takutnya ini yang terakhir" lirih om erwin dengan menunduk aku, teh Lita dan a Heru sudah tak bisa berkata apa-apa lagi,, aku terus menangis di pelukan teh Lita begitupun teh lita. kami semua masuk keruangan UGD di sambut senyum bapak, aku berlari memeluk bapak, begitupun teh Lita dan a heru . " Heru , nitip neng sareng lita, sing akur, silih pikanyaah, silih jaga khusus na neng nya( heru, nitip neng sama teh Lita, harus akur, saling sayang, saling jaga khusus na neng yak)" a Heru hanya mengangguk " erwin, tolong jaga neng, anggap neng seperti anak erwin sendiri" " iya mas" " bapak" ucap mas Egi mas Egi mendekat ke bapak "bapak harus sembuh, bukankah bapak ingin liat neng nikah? Egi sama neng mau nikah dan bapak walinya neng, jadi bapak harus sembuh" ucap mas Egi semuanya menatapku dan mas Egi "Alhamdulillah,,,, berarti neng ada yang jagaain bapak senang mas" ucap bapak terbata " kalau bapak berkenan hari ini Egi akan menikah sama neng, disini" ucap mas Egi tegas kembali semua orang menatap mas Egi bapak tersenyum dan mengangguk ***** " mas, keluar sebentar ayah mau bicara" aku mengikuti langkah ayah keluar ruangan "mas, ayah gak suka cara mas" " maksud ayah?" " mas jangan nyari kesempatan dalam kesempitan, bukan gini caranya mas" ucap ayah sedikit marah " ayah,, ayah tau mas ga seperti itu mas sama neng memang sudah sepakat untuk menikah, mas tidak tau kalau bapak akan seperti ini , mas akan bicara sama ayah dan bunda, tapi tepat hari itu bapak masuk rumah sakit, dan mas berpikir mungkin nanti jika bapak sudah di perbolehkan pulang, tapi nyatanya bapak semakin parah, tidak ada waktu lagi ayah pernikahan ini harus segera di lakukan" ayah termenung mendengar ucapan ku " baik nanti ayah bantu persiapannya " " gak usah yah, mas udah nyuruh Han buat handle semuanya" ayah menepuk bahuku dan kembali masuk ke ruangan UGD.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD