Semakin Lucas mendengarkan semakin Lucas merasa bingung. Dia terdiam tatapannya kosong dan melamun. "Aku akan memikirkannya."
Annette akhirnya puas dengan jawaban putranya. Dia tau putranya sangat berbakti padanya, dia akan mendengarkan ucapannya.
"Omong-omong adikmu ingin melanjutkan kuliahnya di Amerika, dia memiliki nilai yang cukup baik, jadi Ibu juga setuju. Meski begitu dia masih harus mendapat persetujuan darimu. Dia akan bersekolah di sekolah bisnis dan membantumu kedepannya. Jadi, bisakah kamu melakukan prosedur transfer?"
Lucas mengerutkan dahinya. "Apa yang terjadi dengan sekolahnya sekarang? Bukankah dia belajar di universitas yang bagus?'
"Memang benar, tetapi itu saja tidak cukup. Sekarang perusahaan lebih banyak menginginkan lulusan luar negeri. Ini juga demi kebaikan adikmu. Jika dia terus berada di sini, dia hanya akan tertinggal dari teman-temannya."
Lucas akhirnya mengangguk. Dia menatap Lusi kemudian berbicara. "Belajar dengan lebih giat lagi. Aku setuju dengan prosedur perpindahan mu, tetapi tunggu hingga kamu menyelesaikan kredit semester."
Lusi mengangguk dengan senang. "Aku mengerti."
Mereka akhirnya sarapan dalam diam. Dan ketika sarapan hampir berakhir, Layla terlihat turun dari lantai atas. Annette mengangkat kepalanya, menatap menantu tidak bergunanya.
Layla yang mengerti arti tatapan Annette tidak bisa apa-apa. Dia benar-benar mengantuk dan dia terkejut karena alarmnya tidak berbunyi. Dia bangun dalam keadaan panik ketika melihat waktu yang menunjukkan jam 7 pagi.
Layla segera mengalihkan pandangan dan tatapannya jatuh pada brosur yang tergeletak di lantai. Brosur itu masih berada di sana tepat di bawah meja, sepertinya orang-orang tidak menyadarinya.
Lucas menatap wajah Layla yang terlihat lebih segar dari sebelumnya, rambutnya terlihat sedikit basah dan pakaiannya masih sama jeleknya dengan sebelumnya.
"Kamu bisa tidur lebih lama..."
Layla menggelengkan kepala, jika dia tidur lagi sudah dipastikan mertuanya akan semakin marah padanya.
Layla duduk di kursinya, dia mengambil roti dan mengoleskan coklat di atasnya.
Lucas menatap setiap gerakan Layla, tiba-tiba dia ingat percakapan sebelumnya yang dia lakukan dengan ibunya.
Bercerai? Haruskah dia menceraikan Layla?
Layla tidak tau apa yang sedang dipikiran Lucas, dia menatap ke arah Lucas dan mengingat malam yang dia habiskan bersamanya. Tiba-tiba dia merasa agak malu dan menundukkan sedikit wajahnya.
Ditengah-tengah makan mereka, Annete mengangkat kepala, dia melirik Layla sekilas kemudian menatap ke arah Lucas. "Lucas, aku mendengar ada reuni sekolah yang akan segera di adakan. Apakah kamu akan hadir?"
Lucas mengerutkan dahi. Memang benar dia mendapat undangan itu. "Bagaimana ibu bisa tau?"
"Aduh kamu ini, apakah kamu lupa? Teman ibu memiliki anak yang satu sekolah denganmu, Ariana. Apakah kamu tidak mengingatnya? Dia satu kelas denganmu saat berada di kelas dua. Ketika Ibu bertemu dengan teman Ibu, dia terus-menerus berbicara mengenai putrinya dan mengatakan putrinya hendak kembali dari Amerika dan akan mengikuti reuni sekolah. Karena itulah Ibu tau. Dia juga menitip salam untukmu. Gadis itu pasti sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik. ketika dia kembali bawa dia berkeliling kota. Sudah lebih dari 7 tahun dia tidak kembali, dia pasti merindukan suasana di sini. Jadi temui dia nanti. Katanya dia menjadi perancang perhiasan dan namanya sangat terkenal."
Lucas tidak ingat jika dia memiliki teman bernama Ariana, Itu mungkin teman sekelasnya yang tidak begitu menonjol.
"Mengapa harus aku? Aku mungkin sibuk!"
Annette mendecakkan lidahnya. "Sangat tidak sopan jika kamu bersikap seperti itu. Ibu sudah berjanji dengan ibunya dan setuju. Jangan membuatku kehilangan muka ku. Ok!"
Lucas akhirnya mengangguk. "Baiklah, tapi aku tidak bisa berjanji...."
Layla terdiam mendengar ucapan keduanya. Selama tiga tahun pernikahan, Lucas tidak pernah mengajaknya pergi kemanapun, tidak pernah mengajaknya berkendara apalagi berkeliling kota. Dia menghabiskan waktunya di rumah, bekerja dan melayani ibu mertuanya.
Layla merasa iri terhadap wanita bernama Ariana ini, dia tidak pernah berada di satu kelas yang sama dengan Lucas, Lucas bahkan tidak mengingat namanya saat mengajaknya menikah. Dia hanya samar-samar mengingat bahwa Layla pernah mengikuti olimpiade Fisika bersamanya berkali-kali. Juga selama pernikahan dia tidak pernah berpergian bersamanya.
Layla merasakan rasa tidak nyaman memikirkan suaminya berkeliling kota bersama wanita lain, Lucas adalah suaminya dan pria yang dia cintai. Tapi mengingat Lucas tidak menyukainya dia tidak bisa mengeluh. Dan wanita itu adalah anak dari teman ibu mertuanya.
Jika dia meminta Lucas untuk menolak apakah dia terlalu berlebihan?
Layla merasakan perutnya bergejolak dan roti yang dia masukkan ke dalam mulutnya terasa tidak enak.
Sementara itu, tersembunyi dari pandangan semua orang, Annette berusaha sekuat tenaga untuk tidak menunjukkan senyuman menyenangkan saat dia menatap wajah pucat Layla.
Dia sengaja mengatakan itu di sini, dia ingin Layla menyadari bahwa dia Annette sudah menyiapkan wanita lain untuk putranya, dan putranya juga tidak keberatan mengenai hal itu dia bahkan tidak peduli pada Layla. Dengan begini, seharusnya Layla menyadari posisinya.
Ariana, seorang desainer perhiasan yang begitu terkenal di Amerika. Wanita seperti inilah yang cocok dengan putranya bukan seseorang seperti Layla.
Layla ini tidak lebih dari seorang pemimpi yang bermimpi memanjat ke tempat yang tinggi. Dia seharusnya menyadari tempatnya. Putranya seperti elang yang terbang di atas langit dan Layla seperti serangga yang merangkak di tanah, jadi bagaimana mungkin serangga yang merangkak bisa mencapai elang?
Lucas menatap jam di pergelangan tangannya, ini sudah waktunya bagi dia untuk pergi bekerja.
Lucas bangkit berdiri. "Aku hampir terlambat, aku harus pergi sekarang!"
Annette mengangguk. "Pergilah, jangan sampai terlambat. Hati-hati di jalan dan jangan abaikan kesehatanmu. Aku melihatmu terlalu sibuk, yang lain tidak bekerja selarut itu, aku khawatir kamu sakit."
"Tidak perlu cemas, aku menjaga kesehatanku dengan baik."
"Tunggu sebentar...."
Annette pergi ke dapur dan kembali dengan sekotak makanan untuk Lucas.
"Ini, bawa ini. Makanan diluar tidak begitu sehat, makanan rumahan jauh lebih baik, aku khawatir kamu melewatkan jam makan mu, kamu harus makan tepat waktu...."
Lucas menatap kotak makan itu sejenak, dia tidak terbiasa membawa bekal makan, bahkan saat Layla melakukannya di masa lalu, dia menolak. Dia tidak suka membawa bekal ke kantor.
"Bu, tidak perlu! Untuk makan siang, temanku mengajak makan bersama hari ini."
"Apa yang tidak perlu? Bawalah ini bersamamu." Annette menyodorkan kotak bekalnya kembali. "Aku sudah susah payah membuatnya, bawalah."
Lucas menggaruk pelipisnya, dia akhirnya mengambilnya.
Sementara itu, Layla yang juga ikut berdiri terdiam. Dia ingat mengenai pesan yang sebelumnya dia baca. Pesan yang berisi ajakan makan bersama. Dia tau itu dari seorang wanita. Kemudian, Lucas tidak pernah mau membawa bekal makan siang sebelumnya.
Dia ingat saat pertama kali pernikahan. Saat Lucas hendak pergi bekerja, Layla dengan sigap mengantar Lucas ke depan pintu sambil membawa kotak makan.
Dia ingin melayani suaminya dengan baik, jadi dia bangun lebih awal dari orang rumah, dan menyiapkan segalanya. Dia ingin Lucas tidak menyesal karena memilihnya sebagai istri.
Tetapi, sikap Lucas tidak seperti yang diharapkan, Lucas tidak mau mengambilnya kotak bekalnya, dia masih ingat tatapan Lucas saat menatapnya kemudian menolaknya.
'Layla, kamu tidak perlu melakukan hal-hal seperti ini. Aku tidak terbiasa membawa kotak bekal dan aku tidak menginginkannya. Tidak perlu berperan sebagai istri yang sesungguhnya, lakukan saja hal yang sekedarnya.'
"Layla, aku pergi dulu."
Suara Lucas membawa Layla kembali dari lamunannya.
"Ah, iya..."
"Apa yang kamu pikirkan?"
"Tidak, tidak ada...!"
Layla segera mengikuti Lucas yang berjalan keluar dan mengantarnya hingga pintu.
"Apakah kamu akan kembali ke rumah?"
Lucas menatap Layla yang berdiri menatapnya seperti anak kecil yang kebingungan.
"Aku mungkin pulang malam."
"Oh baik..... Apa yang mau kamu makan nanti?"
Melihat antusias Layla, Lucas kembali mengingat ucapan ibu dan adik perempuannya. Haruskah dia menceraikan Layla? Tidak peduli berapa kali dia melihat, Layla hanya terlihat seperti wanita bodoh yang lusuh. Dia tidak terlihat seperti wanita sok yang suka memerintah. Apakah dia benar-benar memperlakukan keluarganya dengan buruk?
Lucas tidak tau, semakin dia memikirkannya semakin bingung dirinya.
"Buat saja sesuatu yang kamu bisa, aku tidak pilih-pilih makanan."
"Baiklah ..."
Lucas berbalik, dia membuka pintu mobil tetapi alih-alih masuk ke dalamnya, Lucas berbalik kembali dan menatap ke arah Layla.
"Layla ..."
"Ya?"
Lucas terdiam sesaat, dia ragu-ragu saat dia bertanya. "Ibu ingin kita memiliki anak, tetapi sudah tiga tahun pernikahan dan kamu masih belum hamil. Kita juga sudah pernah melakukan program kehamilan tetapi tidak ada hasil. Layla... Menurutmu, bagaimana jika suatu saat kita bercerai?"