Lucas membuang rokoknya kemudian berbaring di samping Layla. Dia merapikan rambut Layla yang menutupi wajahnya kemudian berbisik pelan.
"Layla, jangan terlalu membenciku...."
Esok harinya. Seluruh keluarga berkumpul untuk sarapan kecuali Layla yang masih tidur karena merasa tubuhnya terkoyak.
Lusi lebih diam dari biasanya, dia mengingat apa yang terjadi semalam. Dia melihat bangku kosong Layla dan pikirannya menjadi suram, dia bahkan berpaling saat dia menatap kakaknya.
Lucas jelas tidak menyukai Layla, jadi mengapa mereka menghabiskan malam panas bersama? Dan bagaimana jika Layla hamil? Bukankah menjadi semakin sulit untuk memisahkan keduanya?
Lusi tidak bisa menahan pikirannya yang kacau, dia bahkan lupa mengenai keinginannya untuk berbincang mengenai sekolahnya.
"Layla mana?" Annette bertanya sambil mencari-cari sosok Layla.
"Layla masih tidur, dia kelelahan jadi biarkan dia tidur lebih lama." Lucas menjawab dengan tenang sambil mengambil sepotong roti untuk sarapan.
"Kelelahan?"
Annette tidak bisa untuk tidak berpikir negativ, putranya pasti menghabiskan malam bersama Layla.
"Ya, aku membuatnya kelelahan semalaman jadi biarkan dia tidur lebih lama."
Annette mencibir di dalam hatinya, pantas saja Layla yang biasanya bangun lebih awal darinya dan menyiapkan sarapan untuknya tidak ada di dapur, dia kesal tetapi tidak memiliki pilihan selain menyiapkan sarapannya sendiri. Dia ingin mengumpat tetapi dia tau ini bukan waktunya dia untuk marah.
Sebelumnya dia berjanji begitu dia melihat Layla dia akan memarahinya, tetapi Layla tidak ada sekarang, dia masih tidur di kamarnya. Jadi, dia hanya bisa menahan amarahnya terutama putranya masih ada di sini. Gadis licik ini, dia pasti sengaja merayu putranya.
Annette mengamati suasana hati putranya sebelum akhirnya berbicara. "Lucas, kamu sudah menikah selama tiga tahun tetapi masih belum memiliki anak, anak teman Ibu baru menikah dua bulan dan sekarang sudah hamil. Teman-temanmu yang lain juga sudah memiliki dua anak di usiamu. Layla sudah bersamamu selama tiga tahun tetapi masih belum terlihat tanda-tanda dia akan hamil."
Lucas terdiam sesaat, dia mengambil sendok kemudian mengaduk kopi di depannya.
Dia menikahi Layla bukan karena mencintainya, jadi sedari awal dia tidak memiliki niat untuk memiliki anak dengannya. Dia berpikir pernikahannya tidak akan bertahan lama jadi jika ada anak diantara mereka, itu akan merepotkan.
Tetapi ketika dia melihat anak temannya yang menggemaskan pikirannya sedikit berubah. Mungkin tidak buruk untuk memiliki satu orang anak dan mungkin tidak masalah untuk terus bersama Layla. Akhirnya dia menyarankan untuk memiliki anak kepada Layla dan Layla juga tidak keberatan.
Karenanya dia tidak pernah menggunakan kontrasepsi lagi setiap kali berhubungan intim, dia melakukan pola hidup sehat dan melakukan hal lainnya. Dia juga yakin Layla tidak meminum pil anti kehamilan, mereka bahkan pernah melakukan program kehamilan. Sayangnya, dengan upaya yang dia lakukan Layla masih belum juga hamil.
Berkali-kali dia memeriksakan dirinya ke dokter dan dokter mengatakan tidak ada yang salah darinya. Layla juga mengatakan tidak ada yang salah di dirinya. Kesehatannya baik. Lalu, apa masalahnya hingga masih belum juga hamil?
"Bu, hamil bukan sesuatu yang bisa terjadi hanya karena ingin. Itu tergantung Tuhan yang memberikan."
Ucapan putranya tidak salah, tetapi Annette tidak begitu setuju, dia hanya memikirkan bagiamana cara menyingkirkan Layla.
"Apa yang kamu ucapkan memang benar. Tetapi bukankah kita juga harus berusaha? Kamu sudah memeriksakan dirimu ke dokter dan kamu sangat sehat, tidak ada yang salah dengan tubuhmu. Kamu juga berada di usia optimal. Tidakkah kamu berpikir ada sesuatu yang janggal? Mungkinkah di sini istrimu yang bermasalah?"
Lucas terdiam sesaat, dia menaruh cangkir kopi di tangannya. "Bu, Layla bilang dia sehat, tidak ada yang salah dengan kesehatannya. Di masa lalu ibu juga melihatnya berupaya keras agar bisa hamil. Kami juga mengikuti program kehamilan meskipun tidak berhasil."
"Itulah maksud Ibu Lucas, kamu sudah melakukan segala cara tetapi Layla masih tidak hamil, Ibu dan ayahmu sudah tua, sudah ingin meminang cucu. Kamu sudah berusia 30 an Layla juga beberapa tahun lagi berusia 30. Di usia seperti itu, akan semakin sulit untuk hamil dan jika kalian sudah berusia 40 meskipun hamil akan sangat beresiko."
Lucas terdiam dan berpikir keras. "Bu, kami masih muda, selama belum menginjak 40 tahun, kami masih memiliki peluang untuk hamil."
Annette merasa kesal, putranya terus-menerus membela Layla. "Lucas, Ibu mengerti saat kamu bersikeras untuk menikahi Layla, katamu, kamu tidak bisa membatalkan pernikahan dan undangan sudah di sebar. Pada akhirnya kamu mencari pengantin lain dan menikahi Layla untuk menyelamatkan keluarga kita. Sebenarnya Ibu tidak berpikir pernikahanmu akan bertahan lama dan sekarang sudah 3 tahun. Putraku, bukankah cukup bagimu untuk mempertahankan pernikahanmu? Tidak ada alasan lagi untuk pernikahan ini. Kamu tidak menyukai Layla dan sepertinya Layla memiliki masalah dengan kesehatannya yang dia sembunyikan darimu. Ini juga mungkin masalah kesuburannya."
Lusi yang sedari tadi diam angkat bicara, dia melupakan kekesalan sebelumnya. "Kakak, apa yang dikatakan Ibu benar, ini sudah tiga tahun, tidak ada alasan bagimu untuk terus mempertahankan Layla. Wanita itu juga tidak bersikap baik terhadap kita. Kakak tidak tau bagaimana dia bersikap sok dan memerintah. Ibu sudah lelah karena harus melayaninya. Apakah Kakak tidak merasa kasihan terhadap Ibu? Ibu sudah tua sudah waktunya bagi Ibu untuk beristirahat dan menikmati hari tua. Banyak wanita lain diluar sana yang lebih baik dan lebih masuk akal darinya. Wanita yang bisa membantumu dan memperlakukan kami dengan baik. Layla ini hanya pengangguran yang kerjanya malas-malasan di rumah."
Lucas menatap adik perempuannya Lusi, dia tau adik perempuannya tidak menyukai Layla, Lusi sangat menentang pernikahan mereka sedari awal. Tetapi dia tidak bisa di ganggu dengan rengekan adiknya. Situasi saat itu benar-benar kacau. Dia hanya ingin menyelematkan pernikahannya yang hampir gagal dan dia tidak ingin keluarganya dipermalukan.
"Jika saja kak Rania tidak mati, aku tidak perlu memiliki saudari ipar seperti Layla."
Lusi bergumam kemudian menatap ke arah Lucas. Dia melanjutkan. "Karena itu Kakak, ceraikan saja Layla, lagi pula Layla ini mandul. Dia tidak bisa memberi keluarga kita keturunan. Jadi, untuk apa orang seperti dia dipertahankan? Masih banyak wanita lain yang cocok untukmu. Wanita sehat dengan rahim yang sehat. Aku akan setuju dengan siapa pun kamu menikah selama itu bukan Layla."
Sebenarnya Lusi tidak menyukai siapapun yang merebut kakak laki-lakinya. Termasuk Rania, tetapi karena wanita itu kaya dia masih bisa mentolerir nya. Berbeda dengan Layla yang miskin, dia benar-benar tidak menyukainya.
Sudut bibir Annette terangkat sesaat, tetapi dia segera menekuknya kembali, dia menyembunyikan ekspresi senang di wajahnya.
"Lucas, Ibu dan adikmu hanya ingin kamu bahagia, Ibu bukan tidak menyukai Layla, dia gadis yang kamu pilih jadi bagaimana mungkin Ibu tidak menyukainya? Meskipun perilakunya buruk dan suka memerintah, Ibu masih bisa menahannya selama dia bersikap baik padamu dan menyayangimu. Masalah anak juga penting. Kita mungkin tidak sekuat keluarga lain dan pengaruh keluarga kita tidak besar. Tetapi, tetap saja. Aku ingin kamu memiliki seorang anak untuk menjagamu di masa depan. Layla mungkin tidak bisa memberimu anak, jadi pertimbangkan apa yang adikmu katakan."